Tampilkan postingan dengan label wisata bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata bengkulu. Tampilkan semua postingan

Enjoy Bengkulu City Tour

Pantai Panjang Bengkulu hari itu panas bukan kepalang. Saya datangi di waktu pagi, kulit bagai ditusuk-tusuk jarum. Saya kunjungi siang apalagi, terik matahari seakan hendak membakar tubuh. Meskipun gerah luar biasa saya mencoba untuk tetap kuat keliling kota, menuntaskan jalan-jalan singkat sebelum kembali ke Jakarta.
Pantai Panjang Bengkulu

Ke Bengkulu Untuk Acara ASUS Blogger Gathering

Saya hanya punya waktu 2 hari di Bengkulu. Berangkat Sabtu pagi (16/4/2019) pulang Minggu sore (17/4/2019). Jadi ini bukan acara khusus jalan-jalan, tapi acara Asus dulu, setelah itu baru jalan-jalan.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan terdahulu, silakan baca di sini: ASUS ZenBook Blogger Gathering Bengkulu, saya berangkat bersama Anjas Maradita. Dari pergi sampai pulang, kami barengan. Jadi, semua kegiatan berwisata yang akan saya ceritakan di sini saya lakukan bersama Anjas, termasuk foto-foto, beberapa diambil oleh Anjas. 

Saya tidak berdua saja dengan Anjas karena ada Liem Dan, driver mobil yang kami sewa. Liem Dan ini masih muda, dia antar dan jemput kami pakai Honda HRV, sejak hari pertama sampai kami pulang. Orangnya baik dan nyenengin, kami jadi mudah akrab. Saya kenal Liem dari Dewi, salah satu blogger Bengkulu yang merekomendasikan mobil sewaan kepada saya.

Hari Sabtu kegiatan saya full untuk acara Asus. Tak ada waktu sedikitpun untuk acara lain. Kelar acara sudah malam, saya sudah lelah, sampai hotel langsung tidur. Sisa buat jalan-jalan hanya hari Minggu, sebelum kami balik ke Jakarta. Pergi ke mana saja di sedikit waktu yang ada? Sekarang saya ceritakan. 
Benteng Marlborough

Benteng Marlborough

Benteng tua peninggalan Inggris ini merupakan ikon wisata Bengkulu yang terkenal. Didirikan pada tahun 1714-1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet, sebagai benteng pertahanan. Bangunan benteng menghadap ke Kota Bengkulu, dan memunggungi Samudera Hindia. Saya sangat tertarik pada fisik benteng yang masih lestari, serta nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Karena itu, Benteng Marlborough saya pilih sebagai lokasi kegiatan ASUS Blogger Gathering Bengkulu.

Kami bukan menggelar acara di benteng, melainkan sekadar berkunjung sebagai bagian dari kegiatan. Acara blogger gathering dilakukan di Grage Hotel terlebih dahulu. Setelah pembukaan, perkenalan, dan presentasi, baru ke benteng rame-rame pakai kendaraan pribadi, sewa, dan beberapa taksi online.

Selama di benteng, kami melakukan sesi foto. Foto-foto itu untuk diikutkan kompetisi dengan cara diposting di media sosial masing-masing peserta. Kenapa harus di Benteng Marlborough? Idenya untuk mengenalkan laptop yang sedang kami promosikan dengan latar objek wisata Bengkulu. Sehingga, ketika media sosial Instagram ramai oleh hestek laptop #ZenBook, maka ramai pula oleh penampakan Benteng Marlborough. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Sekali tampil di medsos, laptop dan benteng serentak terangkat.
Di benteng tua 3 abad

Cuaca di Bengkulu saat itu sangat panas. Kami datang ke benteng siang jelang sore. Matahari seperti tak kenal ampun, bersinar setajam-tajamnya, menyengat siapa pun yang melintas di bawahnya. 

Saya sangat tidak betah, tetapi kegiatan harus terus berjalan sampai selesai. Badan mandi keringat, mata memicing menahan silau, saya sungguh tidak bisa menikmati kunjungan. Jangankan santai menilik sejarah yang ada, untuk berfoto pun susah payah.

Meski tidak mendapatkan satu pun cerita dari guide, atau pun petugas jaga museum, saya masih bisa menikmati kebersamaan dengan rekan-rekan blogger. Perkara sejarah, saya lanjutkan dengan membaca artikel-artikel yang bertebaran di internet. Nah, kamu pun bisa membacanya, salah satu sumber yang bisa dibaca ada di Wikipedia Benteng Marloborough

Di antara banyak hal yang saya sukai dari benteng ini adalah kebersihannya yang sangat terjaga. Membuat mata begitu nyaman untuk melihat-lihat. Meskipun terik, namun angin rajin bertiup. Hembusannya lembut menyapu wajah, seakan hendak menahan agar saya tak lari buru-buru meninggalkan benteng. 

Jika tak terik, bangku-bangku yang tersusun rapi di atas hamparan rumput hijau taman, akan terasa menyenangkan sekali diduduki. Saya membayangkan berada di sana saat teduh, menatap barisan meriam yang masih terpancang di tempatnya, lalu terlempar ke masa lalu, dan melihat apa yang terjadi 3 abad silam.
Menyimpan banyak sejarah
Wajib dilestarikan

Rumah Fatmawati di Bengkulu
Saksi Sejarah Merah Putih 

Nama Bengkulu terukir indah dalam kisah-kisah bersejarah bangsa Indonesia. Selain memiliki benteng peninggalan kolonial Inggris, juga terdapat peninggalan Soekarno semasa diasingkan di Kota Bengkulu yaitu Rumah Fatmawati dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Saya akan mulai dari Rumah Fatmawati.

Liem Dam menanyai saya akan kemana dulu, saya bilang mampiri yang paling dekat, atau yang bakal dilewati jika akan menuju ke tempat paling jauh. Nah, Rumah Fatmawati adalah jarak terdekat setelah kami meninggalkan Grage Hotel. Enaknya sewa mobil begitu ya, kita bebas minta diajak kemana dulu. Jika dengan kendaraan umum, kita yang harus menyesuaikan rute. Oh ya, harga sewa mobil di Bengkulu Rp 350 ribu per 12 jam. Kalau hanya 2-3 jam saja, tentu bisa dapat harga lebih murah. 

Terus terang selama di Kota Bengkulu saya tidak melihat ada angkot atau bis melintas. Boleh jadi saya tidak memperhatikan, tapi keberadaan trasportasi umum memang tidak mudah saya jumpai di kota ini. Ojek online dan taxi online jelas sangat berguna, meski saya dengar saat itu antara ojol maupun taxi online dengan angkutan umum dan ojek biasa tidak akur. Bahkan, mereka ribut.

Saya pun, saat dijemput di bandara diminta untuk tidak berlagak seperti pelanggan taksi online, tapi bersikap seolah dijemput oleh keluarga sendiri. Anjas sampai harus duduk di depan, supaya terlihat seperti berkerabat. Kenapa? Biar tidak dicurigai oleh taksi-taksi konvensional. Situasi begini terjadi tahun lalu, April 2019. Entah kalau sekarang, mungkin sudah berbeda.
Rumah Panggung Unik dan Artistik

Rumah Fatmawati terletak di Jalan Fatmawati, Penurunan, Kec. Ratu Samban, Kota Bengkulu. 

Rumah mungil namun kokoh, berbentuk panggung dengan tiang semen berukuran pendek. Tangga semen lebar di bagian depan buat naik rumah, berlapis keramik warna putih terang. Kontras dengan lantai dan dinding rumah yang materialnya full kayu, termasuk pagar teras dan tiang-tiang penyangga. 

Dari segi ukuran, rumah yang menjadi saksi sejarah merah putih ini terbilang kecil. Tapi tentu saja punya sejarah besar bagi bangsa.

Saat masuk, seorang bapak tua meminta pembayaran, semacam tarif masuk mungkin ya. Saya bayar saja, per orang Rp 10,000. Sebenarnya, menurut keterangan teman-teman blogger Bengkulu, masuk rumah ini gratis. Kalau diminta bayaran, ya seikhlasnya saja. Karena memang tidak ada tarif tertentu.

Mengetahui fakta sejarah Rumah Fatmawati Soekarno telah menambah khazanah pengetahuan saya tentang sejarah bendera merah putih yang berawal dari Kota Bengkulu. Tanpa jasa seorang Fatmawati, bendera merah putih tidak akan berkibar dengan gagah sampai saat ini. 
Foto dan lukisan Fatmawati terpampang di ruang tamu, beserta mesin jahit dan selembar bendera sebagai pelengkap
Di salah satu kamar terdapat mesin jahit kuno yang dipakai Fatmawati menjahit bendera pusaka yang dikibarkan pertama kali pada tgl. 17 Agustus 1945. Di dinding kamar terpajang foto-foto bersejarah pada masanya
Foto Soekarno yang kharismatik terpajang di ruang tamu. Lantai dan dinding kayu rumah tampak mengkilap, berhiaskan ornamen cantik, suasana rumah yang tenang, membawa kita ke masa lampau.
Kamar Fatmawati dengan ranjang besi serta kelambu dan sarat kesan vintage


Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah bersejarah ini sudah lama ingin saya kunjungi. Maka, ketika kesempatan ke Bengkulu ada, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar wajib kunjung.

Saya suka mengenal sejarah yang berkaitan dengan kemerdekaan bangsa. Di antaranya sejarah Presiden pertama RI Soekarno sebagai sosok paling berjasa bagi negara ini karena membawa Indonesia merdeka seperti sekarang.

Karena itu, setelah Rumah Fatmawati, mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di Anggut Atas, Kec. Ratu Samban, Kota Bengkulu membuat kegiatan saya berwisata sejarah di Kota Bengkulu jadi lebih afdol.

Berbeda dengan Rumah Fatmawati yang berhalaman sempit dan tak punya area parkir yang aman, di Rumah Pengasingan Bung Karno justru sebaliknya. Bila datang dengan kendaraan pribadi, bisa parkir dengan leluasa di bagian depan.  
Rumah Pengasingan Bung Karno
1938-1942
Cuaca terik tak berubah sedikitpun. Begitu keluar mobil, udara sejuk langsung berganti panas. Tak ada payung dan topi yang bisa saya gunakan untuk melindungi diri. Dari  luar pagar, sambil menahan panas, saya memandangi Rumah Pengasingan Bung Karno, tampak kecil bila dibandingkan dengan halamannya yang luas. 

Di tengah cuaca sangat panas, rumah itu jadi terasa jauh untuk dicapai. Sebab, tak ada satupun pohon tinggi dan rindang yang dapat membuat teduh jalan setapak. Berjalan menuju rumah, bagai hendak melewati lautan api. Saya sampai berlari-lari kecil kepanasan. Coba  ada pohon besar dan rindang, bukan hanya jadi asri, tapi juga jadi teduh dan bikin nyaman ya kan? 😃

Ada tiket masuk yang harus dibayar, per orang Rp 3.000. Saat masuk kami harus lepas sepatu. Berbeda dengan Rumah Fatmawati, rumah satu ini bukan panggung. Arsitektur rumah memiliki sentuhan gaya Eropa di bagian depan. Warna cat putih mendominasi keseluruhan bidang bangunan. Lantainya ubin mengkilap. Material dinding rumah bagian dalam berupa semacam pelat baja yang dilapisi tembok yang keras. 

Meskipun tidak besar, namun rumah memiliki ruangan inti yang lengkap, terdiri atas lima ruangan, yaitu 1 ruang kerja di bagian depan, 1 ruang tamu, 1 kamar tidur tamu, dan 2 kamar tidur keluarga. 
Di rumah inilah, sang proklamator untuk pertama kali bertemu dengan Fatmawati


Kami datang ke rumah ini hari Minggu. Penjaga rumah yang biasanya bertugas memberi penjelasan ke pengunjung sedang pergi, katanya tak lama. Kami ditemani oleh yang lain, namun ybs minim informasi. Jadi saya tak mendapatkan banyak informasi penting yang bisa saya bawa pulang. Karena itu, untuk melengkapi tulisan ini saya mengutip dari artikel yang saya baca di travel Kompas. 

Dikatakan bahwa, Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Sebelumnya, ia bersama istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami, Bung Karno berlayar dari tempat pembuangannya di Flores ke Pulau Jawa. Ketika tiba di Bengkulu, Bung Karno hanya seorang diri. Keluarganya baru menyusul beberapa minggu kemudian. Sementara waktu sambil menunggu rumah pengasingannya diperbaiki, Bung Karno ditempatkan di Hotel Centrum. Hotel itu kini sudah tidak ada lagi. Posisi hotel itu diketahui berada tepat di seberang kantor Bank Indonesia Bengkulu.

Rumah pengasingan yang ditempati Bung Karno sekeluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat. Pada tahun 1940-an, rumah dengan dua kamar tidur itu berada agak di pinggir kota. Dahulu, Bengkulu dipilih sebagai lokasi pengasingan Bung Karno karena aksesnya yang sulit dan terpencil. Namun, kini seiring perkembangan kota, rumah pengasingan itu persis berada di jantung Kota Bengkulu.

Suatu saat, di rumah pengasingan itu, Bung Karno bersama Inggit Garnasih menjamu keluarga Hassan Din, tokoh Muhammadiyah asal Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Ketika itulah, untuk pertama kali Bung Karno melihat gadis belia putri Hassan Din, Fatmawati, yang sengaja dibawa.

Di rumah itu juga pada akhirnya Fatmawati ikut menumpang. Tak perlu waktu lama, Fat, begitu ia dipanggil, menjadi sahabat Ratna Djuami. Tak hanya tidur di kamar yang sama, mereka juga sama-sama sekolah di RK Vakschool Maria Purrisima yang merupakan sekolah tertinggi di Kota Bengkulu milik sebuah yayasan Katolik.

Singkat cerita, Bung Karno pun menaruh hati pada Fatmawati dan akhirnya menikahi Fatmawati. Dari pernikahan itu Bung Karno dikaruniai 2 putra dan 3 putri, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. 

Waktu terus berjalan dan sejarah pun terus terukir. Megawati menjadi Presiden Ke-5 RI. Sementara rumah pengasingan yang pernah ditempati kedua orangtua Megawati masih begitu-begitu saja. 

Silakan baca penjelasan lengkapnya di link berikut ya: Rumah pengasingan, Saksi Bisu Cinta Soekarno
Foto bersejarah yang terpajang di ruang kerja Soekarno 

Ruang Kerja sebelah kanan, Ruang Tamu sebelah kiri
Kursi dan meja tamu sejak Soekarno masih ada
Di papan berkaca ini ada penjelasan tentang Rumah Pengasingan Bung Karno yang bisa dibaca sebagai bahan informasi

Sepeda Bung Karno

Kuda di Pantai Panjang Bengkulu

Saya kembali mendatangi Pantai Panjang. Kali ini di tempat yang ada tulisan "PANTAI PANJANG". Kata teman-teman di Bengkulu, baru sah ke Pantai Panjang kalau singgah di tempat ini. Di sini banyak tempat jajan, jualan souvenir, dan orang-orang yang piknik.

Namanya juga pantai, keadaan di siang hari umumnya panas. Kalau mau teduh sepanajng hari, pergi saja ke gunung. Ya nggak? Tapi Pantai Panjang hari itu benar-benar kelewatan panasnya. Sewaktu masih di hotel, saya dan Anjas datang di waktu pagi. Itu saja matahari sudah menggila. Nah, apalagi siang. Rasanya seperti dipanggang. Kalau ke sini mesti banget pakai sunblock, payung atau topi, dan kaca mata. Kalau enggak, astaga kebayang efeknya pada kulit. 

Di sini saya melihat banyak sekali penjual, dari makanan dan minuman, topi, hingga aneka souvenir. Jika saya masih sempat larak-lirik tajam pada deretan topi pantai warna-warni, maka Anjas ngebut ke tenda penjual buah kelapa muda he he

Saya bertiga bersama Anjas dan Liem akhirnya dapat tempat yang langsung menghadap ke laut. Meski di bawah tenda saya gak bisa melihat dengan benar karena silaunya matahari kebangetan. Duduk saja jadi tidak betah. Sambil menunggu kelapa muda disajikan, kerjaan saya cuma memandangi pantai yang sepi dari orang-orang. Di pantai hanya ada kuda delman dan kusirnya. Saya agak kaget melihat ada wisata kuda di pantai. Di bawah terik matahari yang amat tidak bersahabat itu, apa si kuda tidak kepanasan menginjak pasir? Saya pakai alas kaki saja masih merasa kepanasan. 

Jujur, saya pribadi tidak setuju ada wisata kuda di pantai. Mempekerjakan hewan selalu melahirkan rasa tidak tega di hati. Bukan hal menarik untuk digunakan di kegiatan pariwisata.

Suara ombak menderu, sederas suara angin. Laut di tempat ini bukan tempat yang aman untuk berenang-renang senang, sebab airnya tak tenang, pun tak nyaman untuk duduk berlama-lama di siang hari yang panas. Usai menghabiskan 1 buah kelapa muda, kami bergegas pergi. Bau kotoran kuda sepertinya sukses mengusir kami 😃
Kuda kepanasan
Anjas kepanasan
Topi buat bantu usir panas di kepala

Kuliner Pindang 77

Citarasa istimewa membuat aneka menu pindang di Rumah Makan Pindang 77 begitu nikmat untuk dicecap. Saya dan Anjas Maradita memuaskan selera dengan makan siang menu Pindang Patin, Pindang Tulang, dan Tempoyak Patin. Sedapnya juara! 

Sebetulnya saya hampir kehilangan semangat untuk kulineran. Badan terasa sangat lelah paska acara ASUS di hari Sabtu yang digelar sejak siang sampai malam. Iya, lelah sekali hari itu. Begitu masuk kamar royal suite di Grage Hotel sudah tak ingin kemana-mana lagi selain tidur. Tapi ternyata, keesokan pagi di hari Minggu, semangat kulineran itu membara lagi. Pasalnya, Anjas menyebut ulang soal Pindang 77 di jam-jam rawan lapar. Auto semangat dong. Begitu GRAB yang dipesan Anjas datang, kami langsung meluncur ke Rumah Makan Pindang 77.

Bila melihat namanya, mungkin kita berpikir menu rumah makan Pindang 77 didominasi oleh pindang. Nyatanya tidak, ada 2 menu pindang saja yaitu Pindang Tulang dan Pindang Patin, lainnya selain pindang. Meski sedikit, saya yakin Pindang adalah menu primadona di rumah makan ini.
Pindang 77 Bengkulu

Buku menu di rumah makan ini unik. Terbuat dari papan kayu berukuran sekitar 40 cm x 20 cm. Ketebalannya kira-kira 2 cm. Nama menu tertulis besar-besar di papan. Nah, ini dia menu khas Pindang 77: Pindang Patin, Pindang Tulang, dan Tempoyak Patin. Buat yang nggak suka patin (karena berlemak), ada Sop Buntut/Iga, Ayam/Nila Rica, Ayam/Nila Goreng, Nila Bakar, Ayam Bakar Madu, Tahu Ikan, dan Tempe Mendoan. Untuk sayurnya ada Cah Kangkung. Sedangkan untuk minumannya ada Es Teh/Jeruk dan aneka jus. 

Ini nih yang penting banget buat diinformasikan. Rumah makan Pindang 77 halal. Jadi aman ya buat yang muslim. Insha Allah.

Kami makan enak di sini dengan harga yang cukup terjangkau. Oh ya, harga tidak tercantum dalam buku menu ya. Jadi kalau mau tahu harus tanya pelayannya. Nah, kemarin saya sempat cemas lho, jangan-jangan pas ditagih jumlahnya juta-jutaan he he. Jadi ingat makan di Anyer, makan 2 orang menu sederhana banget, bayarnya hampir sejuta. Anjas sempat minta saya buat cek dulu sih. Si mbaknya lalu ke kasir, cek harga. Pas disebut, ah legaaa tak ternyata tak seberapa.

Berikut adalah harga yang saya bayar untuk menu yang kami pesan:

Pindang Patin Rp25.000,-
Pindang Tulang Rp35.000,-
Tempoyak Patin Rp25.000,-
Cah Kangkung Rp15.000,-
Nasi putih Rp 7.000,-
Es Jeruk Rp12.000,-

Cerita kulineran di rumah makan Pindang 77 ini dapat dibaca pada tulisan berikut, klik di : Pindang 77 Kuliner Sedap di Bengkulu yang Wajib Dicoba

Sentra Oleh-Oleh Bengkulu

Aneka oleh-oleh khas Bengkulu bisa didapatkan di Jalan Soekarno Hata, Kota Bengkulu. Liem Dan yang mengajak saya ke tempat ini. Di sini ada berbagai macam oleh-oleh buatan UMKM yang tersebar di Kota Bengkulu. Di antaranya makanan/minuman, barang kerajinan, hingga produk fashion seperti baju dan perhiasan etnik.

Ada sejumlah toko yang bisa dikunjungi, rata-rata menjual produk yang sama dengan harga yang tak berbeda. Jadi, kita bisa masuk ke toko mana saja untuk berbelanja. Saya membeli  kue bolu, lempok, dan beberapa makanan kering seperti keripik, kerupuk, dan snack-snack tradisional yang memiliki rasa asin, manis, dan rempah. 

Senang sih bisa ke sini, pilihan oleh-olehnya lumayan banyak. 
oleh-oleh Bengkulu
oleh-oleh Bengkulu
oleh-oleh Bengkulu


Grage Hotel Bengkulu

Grage Hotel Bengkulu dulunya bernama Grage Horizon Hotel. Didirikan pertama kali pada tgl. 7 Agustus 1991. Hotel yang luasnya mencapai 27,567m2 ini disebut-sebut sebagai hotel tua. Kesan tua itu ada mungkin karena kamar-kamarnya masih menggunakan gedung lama. Dari luar pun, tampilan bagian depan tampak jadul.

Sebenarnya, sejak tahun 2017 Grage Hotel sudah mempunyai gedung baru dan modern setinggi 5 lantai. Letaknya di bagian belakang dan menghadap ke Samudera Hindia. Gedung baru tersebut akan terlihat saat kita melintasi jalan raya yang berada di pinggir Pantai Panjang. Dari sana Grage Hotel terlihat megah dan modern. Nggak ada kesan tuanya.

Gedung baru Grage Hotel Bengkulu terdiri dari 30 kamar, termasuk di dalamnya ada Royal Suite Room yang saya tempati. Total ada 89 kamar yang dimiliki Grage Hotel. Dengan jumlah tersebut, Grage Hotel disebut sebagai hotel terbesar di Bengkulu.

Terdapat 4 ada tipe kamar yang bisa dipilih sesuai kebutuhan yaitu Superior, Deluxe, Junior, Ocean View, dan Grage Royal Suite. 


Semua tipe kamar masih menempati gedung lama kecuali Ocean View dan Royal Suite. Grage Royal Suite merupakan kamar paling top di Grage Hotel. Seperti apa rasanya menginap di kamar Royal Suite? Sebagaimana yang saya rasakan, kesan tenang dari hotel ini memang juara, padahal hotel berada di kota dan dikelilingi oleh rumah warga. Jalan umum yang ada di bagian depan maupun belakang hotel bukan jalan yang terlalu ramai dilintasi kendaraan. Sungguh suasana kota yang berbeda dari kota pada umumnya.


Yang tak kalah menyenangkan adalah bagian belakang hotel menghadap langsung ke pantai. Sehingga kapan pun bisa menikmati pemandangan ke laut. Meski dekat pantai, letak hotel berada di ketinggian, membuat jangkauan penglihatan jadi lebih luas. Kalau sejajar pantai, mungkin pemandangan ke laut akan terhalang oleh rimbunnya pohon-pohon pinus. Kecuali, dapat kamar di lantai atas ya.

Pengalaman saya menginap di Grage Hotel Bengkulu dapat dibaca selengkapnya di link berikut, klik : Mencicipi Royal Suite Room Grage Hotel Bengkulu.

Grage Hotel Bengkulu

Tidur di sini, Royal Suite Room

Ada ruang makan dan nonton

Kamar terluas di Grage Hotel Bengkulu


Waktu saya teramat singkat di Kota Bengkulu, jadi masih sangat sedikit yang bisa saya bagikan di tulisan ini. Semoga yang sedikit ini bisa berguna sebagai rekomendasi untuk kegiatan city tour teman-teman ya :)

Saya ingin suatu hari nanti kembali lagi ke Bengkulu untuk melihat lebih banyak tempat menarik, mencicipi lebih banyak kuliner lokal, dan tentunya saya ingin menjelajahi Bengkulu lebih jauh, ke pelosok-pelosok desa dan hutan, ke tempat-tempat yang menawarkan hal-hal baru dari Bengkulu.


Bengkulu yang dulu saya tak tahu apa yang membuatnya menarik untuk didatangi, ternyata setelah sekali datang, saya rindu untuk kembali.




Mencicipi Royal Suite Room Grage Hotel Bengkulu, Kamar Terbesar Dari Hotel Terbesar di Bengkulu

Royal Suite Room Grage Hotel Bengkulu - Ketika berkunjung ke Bengkulu untuk acara ASUS ZenBook Blogger Gathering pada tgl. 6 - 7 April 2019 lalu, Grage Hotel Bengkulu menjadi pilihan saya sebagai tempat menginap. Hotel yang dulunya bernama Grage Horizon ini paling banyak direkomendasikan oleh teman-teman blogger Bengkulu. Pertama, karena fasilitas dan kenyamanannya. Kedua, karena lokasinya strategis, dekat Pantai Panjang dan mempunyai ocean view yang menakjubkan. 
Grage Hotel Bengkulu

Saya tertarik pada Grage Hotel dan akhirnya memesan 2 kamar Superior, untuk saya dan Anjas Maradita. Bagaimana pengalaman saya tidur di kamar Superior? Oh, tidak ada. Pasalnya, saya tidak jadi tidur di Kamar Superior.

Atas pertimbangan tertentu, kamar saya di-upgrade oleh pihak hotel ke tipe Royal Suite Room. Selain merupakan kamar paling baru, Royal Suite adalah kamar paling mahal di Grage Hotel. Harganya Rp 3,7 juta per malam.

Wow… Rejeki banget bisa mencicipi Royal Suite Grage Hotel!

Baca dulu: ASUS Blogger Gathering Bengkulu
Grage Hotel Bengkulu

Hotel Paling Direkomendasikan di Bengkulu

Saya baru pertama kali ke Bengkulu. Lantas bagaimana cara mencari hotel sekaligus tempat acara? Cara paling mudah yang saya lakukan adalah dengan gugling dan tanya teman. Situs-situs online booking hotel biasanya bisa dijadikan rujukan. Di dalamnya ada banyak info dan ulasan. Cara kedua lewat blogger-blogger Bengkulu, mereka bisa dijadikan sumber informasi paling valid, apalagi kalau pernah acara di sana.

Kriteria pencarian saya hanya meliputi 3 hal pokok, yaitu lokasi strategis, makanan enak, dan fasilitasnya memadai untuk acara blogger. Alhamdulillah dapat Grage Hotel, berkat rekomendasi dari Relinda, salah seorang blogger Bengkulu. Relinda pernah acara di Grage Hotel, jadi dia punya pengalaman. Blogger-blogger lain juga merekomendasikan hotel yang sama. Ok sip. Jadi mantap deh pilih Grage Hotel. 

Selanjutnya saya berhubungan dengan Mbak Lia, Sales exclusive Grage Hotel untuk melakukan pemesanan. Bisa punya kontak Mbak Lia juga dari Relinda lho. Nah, dengan mbak Lia saya dapat informasi lebih banyak terkait keperluan untuk acara gathering. Dari Mbak Lia juga saya jadi tahu soal Royal Suite Room dan akhirnya berkesempatan mencicipinya satu malam.  
Ke Bengkulu untuk ASUS Blogger Gathering, bareng Anjas Maradita

Hotel Terbesar di Bengkulu

Grage Hotel Bengkulu dulunya bernama Grage Horizon Hotel. Didirikan pertama kali pada tgl. 7 Agustus 1991. Hotel yang luasnya mencapai 27,567m2 ini disebut-sebut sebagai hotel tua. Kesan tua itu ada mungkin karena kamar-kamarnya masih menggunakan gedung lama. Dari luar pun, tampilan bagian depan tampak jadul.

Sebenarnya, sejak tahun 2017 Grage Hotel sudah mempunyai gedung baru dan modern setinggi 5 lantai. Letaknya di bagian belakang dan menghadap ke Samudera Hindia. Gedung baru tersebut akan terlihat saat kita melintasi jalan raya yang berada di pinggir Pantai Panjang. Dari sana Grage Hotel terlihat megah dan modern. Nggak ada kesan tuanya.  
Gedung lama Grage Hotel Bengkulu
Gedung Baru Grage Hotel Bengkulu

Gedung baru Grage Hotel Bengkulu terdiri dari 30 kamar, termasuk di dalamnya ada Royal Suite Room yang saya tempati. Total ada 89 kamar yang dimiliki Grage Hotel. Dengan jumlah tersebut, Grage Hotel disebut sebagai hotel terbesar di Bengkulu.

Terdapat 4 ada tipe kamar yang bisa dipilih sesuai kebutuhan yaitu Superior, Deluxe, Junior, Ocean View, dan Grage Royal Suite. 

Semua tipe kamar masih menempati gedung lama kecuali Ocean View dan Royal Suite. Grage Royal Suite merupakan kamar paling top di Grage Hotel. Seperti apa rasanya menginap di kamar Royal Suite? Simak terus tulisan ini ya. 
Gedung lama dan gedung baru dipisah oleh kolam renang ukuran semi olimpiade

Tenang dan Memiliki Pemandangan Menyegarkan

Tenang dan memiliki pemandangan bagus adalah judul testimoni untuk Grage Hotel Bengkulu yang paling banyak saya jumpai dalam situ-situs online booking hotel. 

Sebagaimana yang saya rasakan, kesan tenang dari hotel ini memang juara, padahal hotel berada di kota dan dikelilingi oleh rumah warga. Jalan umum yang ada di bagian depan maupun belakang hotel bukan jalan yang terlalu ramai dilintasi kendaraan. Sungguh suasana kota yang berbeda dari kota pada umumnya.

Yang tak kalah menyenangkan adalah bagian belakang hotel menghadap langsung ke pantai. Sehingga kapan pun bisa menikmati pemandangan ke laut. Meski dekat pantai, letak hotel berada di ketinggian, membuat jangkauan penglihatan jadi lebih luas. Kalau sejajar pantai, mungkin pemandangan ke laut akan terhalang oleh rimbunnya pohon-pohon pinus. Kecuali, dapat kamar di lantai atas ya.

Pemandangan Samudera Hindia dari balik jendela kamar Royal Suite Room yang saya tempati
Taman di bagian bawah hotel, sebelah kiri keluar pagar jalan ke arah pantai

Hotel Terbaik Untuk Menginap dan Meeting

Dengan ketenangan dan pemandangan lautnya, cukup recommended buat dipilih jadi tempat menginap selama liburan atau pun ke Bengkulu untuk bekerja. Ditambah fasilitas dan kenyamanan yang ada, jadi makin menarik. Buat yang ingin mengadakan acara-acara seperti wedding, meeting, atau gathering, terdapat 3 ruang pertemuan yang bisa dipesan sesuai kapasitas kebutuhan yaitu Krakatau Ballroom (400-800 orang), Halekoa, dan Ratu Samban. 

Nah, untuk acara ASUS blogger gathering kemarin saya tidak memesan tempat di ruang pertemuan, melainkan di Restoran Raflesia. Kenapa? Karena saya ingin acaranya berlangsung lebih santai. Kalau di ruang meeting biasanya suasananya agak kaku. Restoran Raflesia tempatnya asyik. Dekat lobby, mudah diakses. Apalagi, dindingnya full kaca, dapat pemandangan langsung ke kolam renang dan pantai. Ada pintu keluar buat ambil udara segar kapan saja. Bikin peserta nggak ngantuk yekaaan? hehe. 

Sekedar info, Raflesia Restaurant berkapasitas 80 orang, dan restoran ini dilengkapi dengan fasilitas AC dan Wifi Gratis. Cocok banget buat kami acara kemarin. Acara blogger di resto, makannya juga langsung di resto.

Baca juga: Pesonna Hotel Malioboro Yogyakarta
Ini adalah Restoran Raflesia tempat kami acara gathering
Acara ASUS Blogger Gathering Sabtu 6 April 2019

Semalam di Royal Suite Room 

Ekspektasi Superior Room, realitanya Royal Suite Room. Itulah yang terjadi. Jadi ingat dulu naik Lion Air kursi ekonomi, eh tiba-tiba disuruh pindah ke Batik Air, kelas bisnis pula. Rejeki nomplok namanya.

Senang aja sih akhirnya bisa mencicipi kamar paling top di Grage Hotel Bengkulu. Royal Suite Room dibanderol IDR3,7juta / malam. Apakah sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan? Yuk kita lihat.

Royal Suite Room memiliki luas 80.00 m2. Besar dan panjang, terdiri dari 3 ruangan. Saya agak terpana juga ketika pertama masuk.

Ruang Tamu & Ruang Makan dengan private balcony

Yang pertama saya jumpai adalah ruang makan yang menyatu dengan ruang tamu. Ruangan multi fungsi ini dilengkapi kamar mandi dan balkon yang menghadap ke pantai. Ada meja makan dengan 4 kursi, ruang duduk dengan sofa dan TV, telpon, mini pantry, dan kulkas. 
Ruangan pertama: Dining room dan guest room
Di sini ada mini pantry dan kamar mandi
Tiap ruang ada TV, total ada 3 TV

Kamar Tidur Besar

Ruangan kedua adalah kamar tidur. Ukurannya tentu saja sangat luas. Setara dengan ruang pertama. Terdapat tempat tidur dengan bed besar (ukuran double). 1 meja kerja, 1 meja rias, lemari, 2 sofa, telpon, TV, dan jendela yang langsung menghadap ke pantai. 

Saking luasnya, kamar tidur ini bisa muat 2 bed besar lagi jika kita order ekstra bed. Jadi kalau bawa anak-anak yang udah besar pun - seperti 2 anak saya - masih bisa tidur dalam satu kamar. Andai nggak pesan ekstra bed pun, banyak sofa yang bisa digunakan buat tidur. 

Kamar tidur
Double bed
Luasnya 80.00 m2
Kamar Mandi Besar 

Ruangan ketiga adalah kamar mandi. Nah, ukuran kamar mandinya pun nyaris sama besar dengan ukuran kamar. Wastafelnya panjang, menghabiskan 1 bidang dinding. Untuk mandi bisa menggunakan shower dan bathub. 

Kerennya nih, bathub berada tepat disisi dinding dan jendela kaca. Jika tirai dibuka, pemandangan luar ke laut bisa langsung terlihat. Di kamar mandi juga ada TV. Siapa tahu kan sedang berendam manja di bathub mau sambil nonton TV juga hehe. Total ada 3 TV di Royal Suite ini. Ya, walaupun kadang kita jarang banget buka TV. Masuk kamar pinginnya langsung tidur. 

Oh ya, kamar mandinya jauh dari pintu. Jadi kalau ada yang ketuk-ketuk kamar nggak bakal kedengaran. Lha iya wong terpisah oleh ruang depan dan kamar tidur gitu. Pokoknya Royal Suite ini room-nya gede banget!
  
Dua kloset, bathub, shower
Bathub dan shower

Fasilitas Royal Suite Room

Secara keseluruhan, inilah fasilitas yang terdapat di Royal Suite Room:

Hot and cold water, Shower, Hair Dryer, Internet Connection, Mini Bar, Cable TV, Air-Conditioning, 24 hours room service, 2 LCD TV, 32" Flatscreen TV with 30 channels, AC, Alarm Clock, Balcony, Bathtub and shower room, Bathtub or shower, Cable TV.

Complimentary food basket, Complimentary fruit basket & snacks, Complimentary mineral water, Complimentary tea and coffee.

Connecting guest room and bedroom, Daily newspaper, Desk, Dining Room, Guest Room, International Direct Dialling Telephone, Laundry service, LCD TV, Living Room, Mini pantry, Minibar & refrigerator, Ocean View, Ocean view and pool view balcony, On-hand Grage / Personal service, Private Living Room, Recreation View, Separated shower & bathtub, Tea / Coffee Maker, Toiletries.

Royal Suite Room

Tidur Nyenyak Penuh Kenyamanan

Fasilitas serba lengkap dan suasana tenang yang membuat nyaman, memang selalu berhasil membuat kita betah tinggal di suatu hotel. Ada kualitas ada harga. Dan kadang orang berani bayar mahal untuk mendapatkannya agar liburan jadi makin berkesan. Kalau belum bisa bayar mahal? Ada pilihan kamar dengan harga yang bisa disesuaikan dengan kantong kok :)

Semalam di Royal Suite Room memberi saya pengalaman manis dan berkesan. Bagus buat diceritakan kepada siapa saja yang butuh penginapan saat berkunjung ke Bengkulu. Terutama buat keluarga dengan anak-anak. Kapasitasnya yang besar bisa ditempati 4-5 orang. Buat pasangan honeymoon juga cocok kok, bisa main kejar-kejaran dalam kamar 😂



Di sini ada kolam renang semi olimpic, ukurannya besar dan punya pemandangan bagus ke laut. Berenang dan berendam cocok buat mengisi aktivitas selama liburan. Di bawah ada taman yang dilengkapi jogging trek, bisa buat olahraga atau sekedar jalan santai.

Untuk keperluan makan dan minum, di hotel ada Restoran Raflesia yang menyediakan makanan berat, Kafe Moanna untuk makanan dan minuman ringan, dan Anaktu Coffee buat ngopi-ngopi cantik di hotel.

Anaktu Coffee
Beberapa menu makan siang di Restoran Raflesia
Sarapanku di Restoran Raflesia 😃

Kue-kue dalam menu sarapan

Pantai Panjang 

Seperti yang saya ceritakan di awal, Grage Hotel Bengkulu sangat dekat dengan Pantai Panjang. Inilah alasan kenapa saya memilih Grage Hotel, biar main ke pantainya dekat. Tinggal turun hotel, keluar pagar, jalan kaki 20 meteran udah sampai pantai.

Dinamakan Pantai Panjang karena panjangnya mencapai 7 KM dengan lebar pantai sekitar 500 meter. Pantai Panjang adalah ikon wisata di Bengkulu. Jadi, ketika saya ke Bengkulu, pantai ini sudah pasti masuk list wajib kunjung. Kapan kami main ke pantai? Hari Minggu! Yes. Hari Sabtu (6/4/2019) sama sekali nggak sempat ke pantai karena sibuk acara Asus dari siang sampai lepas magrib.



Cerita Lompat Pagar Pada Suatu Pagi

Hari Minggu pagi, inginnya sih ke pantai sebelum matahari jadi garang. Tapi apa mau dikata, sejak jam 6 pagi sudah panas terik. Mau pagi atau siang, sama saja. Ya sudah saya santai sarapan dulu, abis itu baru jalan sama Anjas. 

Kata resepsionis, kalau mau ke pantai keluarnya lewat taman di bawah saja. Ada pintu keluar, tinggal buka. Kenyataannya pagarnya digembok! Aduh, sudah di bawah mau naik ke atas lagi kok ya males. Kalau harus keluar lewat pagar depan alangkah jauhnya jalan kaki, mesti naik mobil or motor.

Akhirnya, saya dan Anjas nekat loncat pagar 😂😂
Kami bergantian naik pagar. Saya duluan, Anjas belakangan. JANGAN DITIRU YA!! 

Jika di situ ada CCTV, pasti bakal kelihatan aksi kami seperti maling. Lagian pagarnya digembok sih. Nyusahin aja. Untunglah sepi, hanya ada sesekali motor dan mobil melintas. Kalau banyak orang pasti jadi perhatian. Apalagi kalau yang liat wartawan, atau netizen, bisa-bisa muncul berita “Travel Blogger dan Youtuber Indonesia Ketahuan Loncat Pagar Demi ke Pantai Panjang” haha.

Coba lihat, pagar mana yang kami loncati demi ke pantai? Jangan ditiru ya! 😂

Jalan Kaki Balik Ke Hotel

Banyak pohon pinus di sepanjang tepi pantai Panjang. Nggak tinggi, tapi rimbun. Terasa sangat berguna sekali buat berteduh dari tajamnya sengatan matahari. Untunglah saya bawa kaca mata hitam anti badai, jadi nggak silau-silau amat. Kami tak lama di pantai, hanya ambil beberapa foto, abis itu pulang.

Pagi itu panasnya benar-benar parah. Tenggorokan cepat haus. Untung di pinggir jalan ada warung-warung jualan es kelapa muda. Kami belok dong, nongkrong bentar. Eh, ternyata baru ingat kami pada nggak bawa dompet. Huhuhu nyebelin banget kan. Ya udah karena nggak jadi beli minum, akhirnya kami pulang. 

Nah, kali ini kami nggak mau lagi pulang ke hotel lewat pagar tadi. Nggak mau loncat-loncat lagi kayak maling wkwkw. Akhirnya kami jalan kaki, muter. Lumayan jauh, ada kali 1 kilometer. Yah daripada loncat pagar mending jalan aja, walau badan bercucuran oleh keringat. 
Panas bukan main

Yang penting foto dulu hehe (photo by Anjas)

Lain kali kalau ke Bengkulu lagi, dan nginap di Grage Hotel lagi, harus berkoordinasi dengan pihak hotel untuk memastikan bahwa pintu pagar belakang benar-benar telah dibuka. Biar jalan ke pantainya mudah. Sayang sudah dekat tapi pagarnya digembok. Eh tapi pasti ada alasan baik ya kenapa pagar belakang itu digembok, biar nggak ada sembarang orang masuk kawasan hotel. Maklum di belakang dekat taman itu sepi, tamu jarang main ke sana. Tamu kebanyakan pada sibuk di atas, kalau nggak di kamar ya di kolam renang atau di restoran.

Wisata di Bengkulu

Selain Pantai Panjang, masih ada banyak objek wisata yang bisa dikunjungi di Kota Bengkulu. Beberapa di antaranya yang masuk daftar wajib kunjung adalah Rumah Pengasingan Soekarno, Rumah Fatmawati, dan Benteng Fort Marlboroguh. Saya dan Anjas mengunjungi tempat-tempat itu di hari Minggu, saat dalam perjalanan pulang menuju bandara, kecuali Fort Marlborough kami kunjungi hari Sabtu. 

Waktu kami buat jalan-jalan memang sangat terbatas. Hanya bisa caw ke objek wisata yang ada di kota saja. Mampir pun hanya sebentar, lihat-lihat, ambil foto seperlunya, lalu pergi. Sempat kulineran pindang di Pindang 77 dan beli oleh-oleh di sentra oleh-oleh Bengkulu di Cita Rasa yang terletak di Jalan Soekarno Hatta. 

Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu

Terakhir, sebelum menuju bandara kami mampir ke Pantai Panjang. Kali ini di titik wisata Pantai Panjang. Di sana ada tulisan besar Pantai Panjang yang biasanya sering dijadikan spot foto. Jadi katanya belum sah ke Pantai Panjang kalau belum berfoto di tulisan itu. Tempatnya ramai, banyak pedagang. Dari pedagang makanan/minuman hingga pedagang souvenir. Di pantai ada kuda-kuda yang disewakan untuk ditunggangi buat jalan-jalan di pantai. Saya lihat kudanya kok malah kasihan ya. 

Di pantai ini saya bersama Anjas dan Daniel cuma istirahat sesaat sambil minum es kelapa muda. Entah kenapa nggak ada asyik-asyiknya saat itu. Mungkin karena cuaca sangat terik. Udara panas dan mata silau. Gerah nggak ketulungan. Saya heran lihat orang-orang main di pantai tanpa topi dan kaca mata bisa kuat. Mungkin sudah biasa. Saya, secinta-cintanya sama pantai, kalau panasnya dahsyat banget seperti saat itu, mundur dulu deh hehe. Makanya, kami nggak lama di sana. Air kelapa abis langsung berangkat ke bandara. 

Memang mesti agak lamaan di Bengkulu kalau mau puas. Kalau waktunya banyak berwisatanya bisa santai. Bisa sekalian main yang jauh, melihat wisata alam lainnya yang katanya menakjubkan. 

Sesaat di Pantai Panjang Bengkulu

Grage Hotel Pilihan Tepat Untuk Menginap

Dua hari saja di Bengkulu dan saya belum banyak kemana-mana, tentu saja masih sangat penasaran. Masih ingin balik lagi suatu hari nanti, dengan waktu yang lebih lama, biar puas jalan-jalan. Kalau bisa sama keluarga, biar lebih seru. Dan tentunya, saya akan memilih Grage Hotel Bengkulu lagi buat tempat menginap.

Kenapa Grage Hotel lagi? Karena hotel ini memenuhi kebutuhan untuk sebuah liburan yang menyenangkan. Fasilitasnya lengkap, kamarnya nyaman, suasananya tenang. Lokasinya pun strategis untuk berbagai kegiatan. Dekat dari bandara, mudah buat kemana-mana selama di kota. 

Paling recommended Royal Suite Room nya. Sangat cocok untuk liburan dengan keluarga. Besar dan lengkap, menjamin sebuah kepuasan 😊


GRAGE HOTEL BENGKULU
Jl. Pantai Nala 142, Anggut Bawah,
Bengkulu, 38223
Bengkulu - Indonesia.
P : (0736) 217 22
F : (0736)  220 72
E : info@gragehotelbengkulu.co.id
IG: https://www.instagram.com/gragehotels/