Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Kembali ke ASTON Bogor, Setelah Sembilan Tahun

Review ASTON Bogor

Anak-anak sudah besar semua. Masing-masing punya kesibukan. Yang satu kerja, yang satu kuliah. Kini, mencari waktu untuk bisa pergi bersama rasanya tidak semudah dulu. Jadi, ketika akhirnya ada kesempatan untuk berkumpul dan liburan bersama, rasanya ingin menyimpan momen itu baik-baik.

Lewat foto, lewat tulisan. Karena begitulah cara saya menyimpan waktu.

ASTON Bogor menjadi salah satu tempat yang membawa kami kembali pada masa ketika anak-anak masih kecil.  


 
Sembilan Tahun Kemudian di ASTON Bogor

Waktu itu anak-anak masih bocil. Menginap di hotel bagi mereka rasanya seperti mendapat hadiah. Begitu masuk kamar, langsung loncat-loncat di kasur, lari-larian, dan begitu melihat kolam renang, langsung minta berenang. Kalau sudah jebar-jebur di air, hebohnya bukan main. Makan pun masih berantakan, dan taman hotel rasanya seperti lapangan bermain yang tidak ada habisnya.

Yang paling pecicilan tentu saja si anak perempuan. Kakaknya waktu itu sudah mulai agak kalem. Jadi kalau ada suara anak lari-lari, teriakan, atau bunyi kaki kecil yang entah sedang mengejar apa, kemungkinan besar sumbernya ya adiknya.

Sembilan tahun kemudian, kami kembali lagi ke tempat yang sama.

Anak-anak sudah besar. Sudah jangkung. Sudah bisa diajak ngobrol macam-macam. Si anak perempuan yang dulu paling heboh kalau melihat kolam renang sekarang malah santai saja. Tidak ada lagi acara buru-buru ganti baju lalu minta jebar-jebur.

Baca juga: Liburan longweekend di ASTON Bogor

2017 di taman ASTON Bogor

2026 di taman yang sama di ASTON Bogor

Saya jadi banyak melihat-lihat.

Bukan cuma hotelnya, tetapi juga anak-anak yang sekarang berjalan di tempat yang sama dengan versi mereka yang sudah berbeda. Rasanya aneh juga. Taman yang dulu seperti arena bermain, sekarang dilewati begitu saja. Kolam renang yang dulu susah sekali ditolak, sekarang tidak menjadi tujuan utama.

Dan saya masih ingat semuanya.

Ada beberapa sudut yang rasanya seperti tombol pemutar waktu. Begitu melihatnya, kepala saya langsung membawa kembali potongan kejadian sembilan tahun lalu. Saya teringat mereka berlarian di taman, bermain, berenang, lalu berpindah lagi ke tempat lain dengan energi yang seolah tidak pernah habis.

Oh, dulu di sini.

Kalimat itu beberapa kali muncul sendiri di kepala saya. 

Di Bale-Bale ASTON Bogor 2017


Di Bale-Bale yang sama tahun 2026
 

Saya kemudian membuka foto-foto lama. Mencari foto yang diambil di tempat yang sama, melihat wajah anak-anak ketika masih kecil, lalu menengok ke sekitar untuk mencari sudut yang kira-kira masih serupa. Kadang ketemu. Kadang tidak. Tapi justru di situlah serunya, karena saya seperti sedang mempertemukan dua waktu dalam satu tempat.

Dulu saya sibuk memastikan mereka tidak jatuh ke kolam. Sekarang malah sibuk mencari foto lama dan mengabadikan anak-anak yang sudah besar.

Lucu juga.

Tempatnya mungkin tidak banyak berubah, tetapi cara saya melihatnya sudah berbeda. Dulu saya datang sebagai ibu yang sibuk mengurus dua anak kecil. Sekarang saya datang bersama dua anak yang sudah punya kesibukan dan kehidupannya masing-masing.

Mungkin itu yang membuat kunjungan kali ini terasa begitu personal.

Bukan karena saya ingin kembali ke masa ketika mereka masih kecil. Masa itu sudah lewat, dan memang seharusnya begitu. Anak-anak tumbuh, lalu perlahan punya dunia sendiri. Yang dulu setiap diajak pergi hampir selalu bisa, sekarang harus mencari celah di antara pekerjaan, kuliah, dan kesibukan masing-masing.

2017. Di jembatan penghubung antara lobi dan tower kamar hotel ASTON Bogor, di atas Sungai Cipinang Gading

2026. Di jembatan yang sama, sembilan tahun kemudian

Jadi ketika akhirnya kami bisa pergi bersama lagi, saya rasanya ingin menyimpan semuanya. Foto sebanyak-banyaknya. Tulisan juga, tentu saja. Biar nanti kalau sembilan tahun lagi saya kembali membaca cerita ini, siapa tahu saya kembali berkata dalam hati, “Oh, dulu di sini.”

Dan semoga saat itu, anak-anak masih mau diajak liburan bersama. 

Saya jadi mellow.

Bukan mellow karena masa kecil mereka hilang, tetapi karena saya pernah memilikinya. Pernah menyaksikan mereka tumbuh dari anak-anak yang pecicilan, berlarian, berebut ingin berenang, sampai menjadi dua manusia dewasa yang sekarang sudah punya kesibukan dan jalan hidupnya sendiri.

Rasanya seperti mendapat kesempatan melihat album kehidupan dalam keadaan hidup.

Saya tinggal membalik halamannya pelan-pelan. 

Suamiku pada tahun 2017 di taman Hotel & Resort ASTON Bogor

Suami yang sama (ya iya dooong haha) di masa kini 2026, di ASTON Bogor.
Tetep ganteng Bapak!!! 😂

Mengapa ASTON Bogor Bikin Betah?

Kalau ditanya apakah saya mau menginap di sini lagi, jawabannya tentu saja mau. Ada hotel yang sekali datang rasanya sudah cukup. Tapi ASTON Bogor bukan salah satunya.

Dari pengalaman saya, hotel ini memang menyenangkan untuk liburan bersama keluarga. Tidak harus punya banyak agenda di luar hotel. Karena kalau mau menghabiskan waktu di dalam kawasan saja, sudah cukup banyak yang bisa dilakukan.

Yang paling terasa sejak datang adalah suasananya. Kawasannya luas, banyak pepohonan dan ruang terbuka, sehingga meskipun ini hotel dan resort, rasanya tidak seperti sedang berada di bangunan hotel yang padat.

Kawasan ASTON Bogor (Sumber gambar: website ASTON Bogor)

Untuk keluarga yang membawa anak-anak, ada kolam renang, playground, taman, dan berbagai fasilitas lain yang bisa membuat mereka betah. Anak-anak bisa sibuk sendiri. Orang tua pun bisa bernapas sedikit.

Sedikit saja.

Karena punya anak tetaplah punya anak.

Untuk orang dewasa, suasananya juga enak untuk santai. Ada taman yang teduh, suara air yang mengalir, sungai di tengah kawasan, serta bebek-bebek putih yang sesekali terlihat bermain di pinggirnya. Mau duduk-duduk bisa. Jalan kaki bisa. Makan bisa. Bengong juga bisa.

Kadang liburan memang tidak perlu terlalu banyak agenda. Bisa duduk sambil melihat air mengalir selama lima belas menit tanpa merasa harus buru-buru pindah tempat pun sudah merupakan kemewahan tersendiri.

Dan karena lokasinya berada di dalam kawasan Bogor Nirwana Residence, suasananya cukup tenang. Jauh dari keramaian jalan utama. Rasanya seperti benar-benar sedang pergi berlibur, meskipun sebenarnya masih berada di Kota Bogor.

Area depan dan pintu masuk hotel ASTON Bogor (Sumber gambar: website ASTON Bogor)
 

Baru Masuk, Sudah Terasa Luas

ASTON Bogor berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar, dengan empat tower dan total 223 kamar. Di dalam kawasan ini juga terdapat restoran, kolam renang, ruang pertemuan, taman, dan berbagai fasilitas lainnya.

Kesan luas itu bahkan sudah terasa sejak pertama masuk. Area parkirnya outdoor dan sangat lega. Saya malah suka model parkir seperti ini. Tidak terasa sumpek dan tidak langsung membuat hati deg-degan mencari tempat kosong.

Tahu kan rasanya masuk hotel saat musim liburan, lalu melihat parkiran penuh dan mulai menghitung kemungkinan harus parkir di kabupaten sebelah? Nah, di sini kesan pertamanya tidak seperti itu.

Lobby dan area resepsionisnya juga terbuka. Dan ada satu hal menarik yang baru saya sadari kembali ketika berada di sini: area yang menjadi pintu masuk utama dari jalan raya sebenarnya adalah lantai 3.

Bukan karena bangunannya berdiri setinggi tiga lantai dari permukaan jalan, tetapi karena kontur tanah di kawasan ini memang menurun. Jadi lantai 3 berada sejajar dengan jalan raya. Semakin turun ke bawah, baru kita menemukan lantai 2 dan lantai 1. Dan di bagian paling bawah kawasan hotel itu mengalir sebuah sungai, Sungai Cipinang Gading namanya.

Dari kiri: Dua jembatan penghubung ke tower kamar, Tower lobi, Restoran Batu Tulis tempat tamu menikmati sarapan.


Dari kiri: Tower 3, Tower 2, dan Tower 1, seluruhnya merupakan tower kamar tamu ASTON Bogor.
 
Dua jembatan penghubung antara tower lobi dan tower 1.

TOWER 2. Di tower inilah kamar Condotel kami berada. Tapi sayangnya kamar kami nggak menghadap kolam renang 😂

Ada Sungai di Tengah ASTON Bogor

Sungai inilah yang menurut saya membuat tata kawasan hotel terasa berbeda. Sungainya bukan sekadar berada di belakang hotel sebagai pemandangan. Ia justru mengalir di tengah-tengah kawasan.

Karena sungai ini membelah area hotel, bangunannya berada di dua sisi. Di sisi pertama ada area masuk, mulai dari parkiran, lobby, restoran, dan taman. Sementara di seberang sungai terdapat Tower 1, Tower 2, dan Tower 3 yang menjadi area kamar.

Jadi kalau mau menuju kamar, kita seperti menyeberangi sungai. Tentu saja bukan menyeberang sambil menggulung celana dan menjinjing sandal. Hehe.

Ada jembatan utama yang menghubungkan kedua sisi kawasan dan jembatan ini berada di dalam bangunan. Jadi mau hujan atau panas, tetap aman untuk dilewati.

Saya justru suka bagian ini. Ada sensasi kecil seperti sedang berpindah area setiap kali menuju kamar. Dari lobby dan taman, kemudian melewati jembatan, lalu masuk ke kawasan tower tempat kamar-kamar berada.

Sungai Cipinang Gading di dalam kawasan hotel ASTON Bogor

Sungai Cipinang Gading di bagian tengah kawasan hotel


Jembatan penghubung ke kamar hotel, di atas Sungai Cipinang Gading

Seringkali jembatan ini jadi spot foto favorit para tamu

Condotel 1 Bedroom yang Serasa Apartemen

Kali ini kami tinggal di kamar di lantai 5 Tower 2, tepatnya tipe Condotel 1 Bedroom. Di website ASTON Bogor, kamar ini dibanderol Rp1.227.330 nett. Luasnya 42 m² dan tata ruangnya lebih menyerupai apartemen kecil daripada kamar hotel biasa.

Buat keluarga, model seperti ini menurut saya menyenangkan. Itu sebabnya saya memilihnya.

Di dalam kamar terdapat satu kamar tidur, ruang untuk menonton, meja makan, pantry, kulkas, microwave, dan kamar mandi. Jadi tidak semua kegiatan harus dilakukan di area tempat tidur. Mau makan bisa di meja makan. Mau duduk-duduk santai bisa di ruang tengah.



Kulkasnya juga bukan kulkas mini yang biasanya ditemukan di kamar hotel. Tapi kulkas satu pintu ukuran sedang, sehingga cukup banyak barang yang bisa dimasukkan. Buat keluarga yang membawa makanan atau minuman sendiri, ini lumayan membantu.

Apalagi kalau membawa anak. Entah kenapa urusan makanan dan minuman anak kalau bepergian itu kadang seperti sedang membuka cabang minimarket pribadi.


Ada pula balkon dengan dua kursi dan sebuah meja kecil. 

Sayangnya, kamar kami tidak mendapatkan pemandangan ke arah taman atau kolam renang. Balkon menghadap ke luar kawasan hotel, dengan pemandangan rumah dan jalan.

Mungkin itu juga yang membuat kami akhirnya jarang duduk di balkon. Bukan karena balkonnya tidak nyaman. Hanya saja, setiap kali sedang santai, kami malah lebih sering keluar kamar. Jalan-jalan di taman, melihat fasilitas-fasilitas, duduk di lobby, atau sekadar berkeliling melihat suasana hotel terasa lebih menarik.

Ada pemandangan apa di luar jendela?

Oh adanya ini 😁

 
Tak Ada Botol Air di Kamar

Ada satu hal kecil di kamar yang menurut saya menarik. ASTON Bogor tidak menyediakan air minum dalam botol plastik sekali pakai di kamar. Sebagai gantinya, tersedia beberapa dispenser air minum di lorong kamar dan tamu bisa mengambil air kapan saja sesuai kebutuhan.

Di dalam kamar sudah disediakan teko yang bisa digunakan untuk mengambil air dari dispenser tersebut. Menurut saya ini cukup praktis, terutama kalau menginap bersama keluarga. Tidak perlu menunggu air habis lalu meminta botol baru, atau menyimpan beberapa botol sekaligus hanya karena takut kehabisan. Tinggal bawa teko ke dispenser, isi, lalu kembali ke kamar.

Saya malah suka cara seperti ini. Mungkin kelihatannya sepele, hanya soal air minum. Tapi dari hal kecil seperti ini, saya merasa ada kebiasaan yang sedang dibentuk: mengambil secukupnya, menggunakan seperlunya, dan tidak meninggalkan terlalu banyak sampah setelahnya.

Bukan sesuatu yang kemudian membuat kita harus merasa sedang melakukan hal besar. Justru karena caranya sederhana, kebiasaan itu terasa lebih mudah dilakukan. Dan buat saya, pilihan kecil seperti ini cukup menyenangkan untuk ditemukan di sebuah hotel tempat kita sedang menikmati liburan.

Area makan dengan kitchenette kecil yang dilengkapi wastafel, microwave, kulkas, dan perlengkapan untuk membuat minuman.
 

Nyaman untuk Liburan Keluarga?

Selama menginap, saya cukup sering berpapasan dengan tamu lain yang menuju lantai 5. Rata-rata datang bersama keluarga. Ada yang membawa anak-anak kecil, ada pula yang anaknya sudah lebih besar seperti anak-anak saya.

Melihat ukuran dan tata ruangnya, saya ngerti kenapa tipe kamar ini cukup menarik untuk keluarga. Luas 42 m² membuat kami masih bisa berkumpul tanpa merasa terlalu sempit.

Hanya saja, kalau datang berempat seperti kami, urusan tempat tidur memang perlu sedikit diperhitungkan karena kamar ini pada dasarnya memiliki satu tempat tidur utama.

Kalau anak-anak masih kecil, tempat tidur yang ada sebenarnya masih bisa dipakai bertiga. Satu orang dewasa bisa menggunakan sofa di ruang menonton. Bantalan sofanya dapat dilepas dan disusun sehingga bentuknya menyerupai tempat tidur, dan menurut saya cukup nyaman kalau digunakan untuk tidur.


Kalau ingin lebih lega, bisa memesan extra bed. Tarifnya Rp588.000 per malam dan sudah termasuk sarapan untuk satu orang.

Kalau melihat angkanya memang lumayan juga. Kurang lebih sudah seperti separuh harga kamar Superior, hehe. Tetapi karena sudah termasuk sarapan satu orang, masih bisa dipertimbangkan kalau memang ingin semua anggota keluarga tidur lebih nyaman.

Untuk additional adult atau tambahan sarapan, tarifnya Rp218.000 nett. Anak usia 6–11 tahun dikenakan Rp109.000 per orang nett, sedangkan anak usia 1–5 tahun gratis.

Kebetulan saat kami datang, sepanjang bulan Agustus juga ada promo diskon 20%, jadi biaya tambahan sarapan menjadi lebih ringan.

Kalau anak masih kecil, menurut saya tidak harus buru-buru memesan extra bed. Satu anak bisa tidur bersama orang tua, sementara satu lagi bisa menggunakan sofa. Tapi kalau anak-anak sudah besar seperti punya saya, extra bed tentu lebih masuk akal supaya semua bisa tidur dengan nyaman.

Toh, kami juga tidak terlalu lama berada di kamar.

Kalau beruntung, bisa dapat kamar yang menghadap ke kolam seperti ini.

Dulu Berebut Berenang di ASTON Bogor

Kalau bicara tentang ASTON Bogor dan anak-anak, saya jadi ingat kolam renangnya. Bukan cuma karena kolamnya memang salah satu fasilitas yang menarik perhatian anak-anak, tetapi karena di sinilah perbedaan antara kunjungan kami dulu dan sekarang terasa paling nyata.

Pada 2017, kami punya waktu tiga hari dua malam untuk menikmati hotel. Sekarang hanya dua hari satu malam. Ritmenya tentu berbeda.

Dulu, kolam renang adalah salah satu tempat yang paling ditunggu. Saya masih punya foto anak perempuan saya sedang berenang di sini. Waktu itu tubuhnya masih kecil, rambutnya masih dikuncir, dan ekspresinya benar-benar menunjukkan betapa senangnya dia berada di air.

Aisyah 2017

Dulu berenang

2017, selama tiga hari di hotel berenang teruuus

Tahun ini kami kembali ke kolam yang sama. Bedanya, tidak ada lagi anak kecil yang buru-buru mengganti baju lalu minta berenang. Anak perempuan saya malah lebih banyak berada di kamar, atau ikut berjalan-jalan melihat suasana hotel.

Kolamnya masih ada. Airnya masih sama-sama basah, tentu saja.

Tapi anak yang dulu begitu bersemangat menceburkan diri ke dalamnya, sekarang sudah bisa duduk santai dan melewatkannya begitu saja.

Dan saya?

Malah mencari foto sembilan tahun lalu. Mencari foto anak kecil yang dulu berlari-lari di tempat ini, lalu membandingkannya dengan perempuan muda yang sekarang berdiri di tempat yang sama.

Ternyata begini ya rasanya kembali ke tempat yang sama setelah sembilan tahun. Yang berubah bukan cuma usia anak-anak. Yang berubah juga cara saya melihat semuanya.


Tiba di ASTON Bogor Saat Malam Hari

Saya nggak nyangka, ternyata kali ini kami kembali ke ASTON Bogor di bulan Agustus yang sama dengan sembilan tahun lalu. Dulu kami datang tanggal 18 Agustus, dan menginap tiga hari dua malam. Sekarang tanggal 22 sampai 23 Agustus, cuma semalam. Bulannya sama, tempatnya sama, tapi ceritanya sudah berbeda.

Padahal semua itu tidak pernah direncanakan. Sepertinya memang sudah Allah atur, supaya staycation rasa napak tilas ini punya cerita sendiri.

Cara kami datang kali ini juga benar-benar jauh dari kesan orang yang sedang mau liburan. Pagi-pagi saya masih ke rumah sakit menyelesaikan urusan kontrol rutin keluarga, lalu makan siang di rumah, salat Zuhur, dan baru setelah itu mulai berkemas. Santai sekali. Toh cuma ke Bogor dan menginapnya juga cuma semalam. Rasanya nggak perlu packing tujuh hari tujuh malam seperti hendak pindah kewarganegaraan. 😄

Kami baru berangkat selepas Ashar. Di perjalanan masih sempat mampir makan malam yang kesorean, beli jajanan, lalu lanjut lagi setelah urusan perut selesai. Sampai ASTON Bogor sudah selepas Isya, hampir jam delapan malam. Masuk kamar, duduk sebentar, lalu tidur.

Benar-benar staycation dalam arti yang paling sederhana: pindah tidur.

Tapi ada satu hal yang baru saya ketahui setelahnya. Waktu sedang melihat-lihat foto lama, saya iseng mengecek tanggal kedatangan kami sembilan tahun lalu.

Tanggal 18 Agustus 2017.

Dan ternyata, kami juga sampai malam.

Bisa sama begitu, ya?

Saya sampai merasa sedang melihat pengulangan kecil yang entah sengaja atau tidak sedang dimainkan waktu. Tempat yang sama. Bulan yang sama. Tiba malam hari juga. 

Parkiran ASTON Bogor Penuh, Kirain Ada Kondangan

Sampai di hotel, saya sebenarnya sudah lupa-lupa ingat seperti apa bagian depannya. Begitu masuk, bukannya langsung bertemu lobby, kami malah masuk ke area parkir yang luas sekali. Dan malam itu parkirannya penuh.

Penuh banget.

Saking banyaknya mobil, saya sampai berpikir, “Ini di dalam sedang ada resepsi pernikahan, ya?” Dalam pikiran saya, mungkin mobil sebanyak itu milik tamu kondangan yang sedang datang ke pesta. Ternyata bukan.

Semuanya tamu hotel.

Masya Allah. Seramai itu.

Foto parkirannya gak jelas banget haha. Kameranya oleng kawan! 😂
 

Maklum, kami datang saat weekend. ASTON Bogor memang banyak dipilih untuk liburan keluarga, apalagi lokasinya juga dekat dengan The Jungle Waterpark Bogor. 

Jadi saya tidak terlalu heran kalau akhir pekan begini tamunya ramai. Yang saya herankan cuma satu: kok bisa parkirannya sampai sebegitu penuhnya. 

Meskipun kelihatannya sudah hampir penuh, alhamdulillah kami tetap mendapatkan tempat parkir. Bahkan masih cukup dekat dengan arah lobby, jadi tidak perlu berjalan jauh. 

Kami juga tidak minta diantar sampai drop-off karena bawaan masing-masing cuma satu tas. Tidak ada koper segede kulkas, tidak ada kardus, tidak ada barang yang membuat kami perlu memanggil bala bantuan. Jadi jalan saja.


Kalau datang membawa keluarga dengan banyak barang, sebenarnya ASTON Bogor juga menyediakan buggy car service gratis untuk mengantar tamu berkeliling kawasan hotel. 

Maklum, areanya memang luas. Buat yang kamarnya agak jauh dari lobi seperti di Tower 2 dan 3, atau yang membawa anak kecil dan barang bawaan lebih banyak, fasilitas seperti ini lumayan membantu daripada harus jalan kaki sambil menggendong tas, menggendong anak, dan menggendong kesabaran sekaligus. 


Check-in Cepat, Dapat Voucher Liburan Sekalian

Check-in-nya pun gampang. Tidak pakai ribet dan prosesnya cepat. Informasi yang disampaikan juga jelas, sehingga kami tidak perlu berdiri lama-lama di depan meja resepsionis sambil menunggu petugas mencari-cari data reservasi.

Mas-mas dan mbak-mbak di resepsionis juga masih ramah dan kelihatan segar, meskipun malam sudah cukup larut dan tamu yang baru datang masih ramai. Saya membayangkan kalau saya yang berdiri di sana dari sore sampai malam, mungkin senyum saya sudah masuk kategori dekorasi lobi. 

Saat check-in kami juga mendapat dua voucher dengan harga khusus untuk bermain di The Jungle Waterpark, plus satu voucher diskon untuk Taman Safari Indonesia. Lumayan banget. Jadi kalau mau menjadikan ASTON Bogor sebagai basecamp untuk liburan keluarga, dari hotel pun ternyata sudah ada pilihan untuk melanjutkan jalan-jalan ke tempat wisata sekitar Bogor. 

Free voucher Taman Safari dan Jungle Water Park

Free voucher foto keluarga
 
Oh iya, untuk kebutuhan ibadah, tersedia juga musholla di area hotel yang bisa digunakan oleh tamu. Jadi kalau sedang seharian beraktivitas di kawasan ASTON Bogor, urusan mencari tempat untuk salat juga tidak perlu membuat kita keluar hotel.

Sarapan di ASTON Bogor yang Bikin Saya Mau Kembali

Pagi hari, agenda kami sebenarnya sederhana saja: sarapan dengan santai. Tapi sarapan di ASTON Bogor bukan perkara sederhana buat saya. Saya masih ingat betul pengalaman sarapan sembilan tahun lalu. 

Pilihan makanannya banyak dan beragam. Menu untuk anak dan dewasa tersedia lengkap, dari makanan Indonesia sampai hidangan mancanegara. Dulu saya benar-benar puas mencoba macam-macam.

Mungkin karena waktu itu kami menginap tiga hari dua malam, jadi ada kesempatan sarapan dua kali. Bisa mencoba lebih banyak menu tanpa harus merasa dikejar waktu. Dan sampai sekarang, pengalaman sarapan itu masih saya ingat.

Saya termasuk orang yang cukup pelit memberi predikat “istimewa” untuk sarapan hotel. Bukan berarti saya tidak suka sarapan hotel, ya. Banyak yang enak. Banyak juga yang lengkap. Tetapi biasanya ada satu atau dua makanan yang benar-benar menarik perhatian saya, sementara yang lainnya biasa saja.

Nah, kalau di ASTON Bogor, saya malah bingung mau memilih. Hampir semua yang saya coba enak, dan rasanya sayang kalau dilewatkan. 


Kalau sampai saya memberikan pujian seluas dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, berarti memang ada sesuatu. 

Hotel besar dan ternama memang wajar kalau punya standar yang baik. Tapi urusan sarapan, buat saya tidak cukup hanya dengan banyak pilihan dan nama hotel yang sudah terkenal. Ada yang kelihatannya lengkap, tetapi selesai makan ya sudah. Tidak sampai membuat saya kepikiran ingin makan lagi.

Nah, sarapan di ASTON Bogor memang meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Sampai sembilan tahun kemudian, saya masih ingat rasanya dan bahkan punya alasan untuk kembali.

Iya. Salah satunya demi sarapan.

Kami pindah tidur semalam, yang dicari malah makan pagi.

Yang lain? Bonus. Hahaha. 

Sarapan saya pagi itu

Serba glutten-free 

Dulu Mengurus Anak, Sekarang Mengurus Bapaknya

Hal yang paling berbeda pagi itu tentu saja bukan cuma menu sarapannya. Anak perempuan saya yang dulu paling pecicilan sekarang sudah duduk tenang di meja makan. Tidak ada lagi acara minta ini, minta itu, ambil ini, ambil itu seperti dulu, ketika melihat meja buffet rasanya semua makanan harus dicoba sebelum waktu sarapan habis.

Sekarang dia mengambil makanan yang memang ingin dimakan. Duduk, ngobrol sedikit, lalu menikmati sarapannya pelan-pelan. Tidak buru-buru. Tidak lapar mata. Buffet hotel rupanya sudah tidak lagi dianggap sebagai kesempatan terakhir umat manusia untuk makan. 

Saya pun sudah tidak perlu ikut mondar-mandir bersamanya. Tidak perlu menemani mengambil makanan, tidak perlu melihat-lihat isi piringnya, apalagi memastikan apakah semuanya habis. Dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri.

Ada rasa lega melihatnya tumbuh seperti itu. Anak yang dulu ke mana-mana harus ditemani, sekarang sudah punya dunianya sendiri. Tapi di balik rasa lega itu, tetap ada sedikit rasa kangen pada masa ketika urusan sarapan saja bisa menjadi cerita panjang.

2017. Sarapan dengan para bocah


2017. Ketika anak-anak sarapan masih harus diawasi dan ditemani

Restoran Batu Tulis 2017

Dulu saya sibuk mengurus anak-anak.

Sekarang malah sibuk mengurus bapaknya. 😂

Masa memang berganti. Yang perlu diperhatikan sudah berganti orang juga.

Dulu saya sering berpikir, “Bapaknya kan sudah gede. Anak-anak lebih perlu diawasi.” Sekarang anak-anak sudah gede, eh, bapaknya malah mulai menunjukkan gejala ingin diperlakukan seperti bocil.

Ya sudah.

Sekarang gantian. Wkwk. 

9 tahun kemudian, sarapannya udah sendiri-sendiri gak perlu diawasi

Restoran Batu Tulis 2026

 
Pagi di ASTON Bogor, Menikmati Suasana dari Ketinggian

Pagi itu kami tidak buru-buru ke mana-mana. Dari balkon restoran Batu Tulis ASTON Bogor di lantai 3, saya menikmati udara pagi Bogor sambil melihat kawasan hotel yang mulai hidup. Di bawah sana ada sungai yang mengalir, pepohonan yang memenuhi taman, kolam renang, dan deretan tower hotel yang terlihat di antara hijaunya kawasan.

Enak juga ternyata sarapan sambil melihat pemandangan seperti ini. Tidak perlu pemandangan laut, tidak perlu gedung tinggi, tidak perlu sesuatu yang heboh. Udara Bogor yang masih segar, suara air dari sungai, dan suasana hotel yang perlahan mulai ramai sudah cukup membuat pagi terasa menyenangkan.

Kami duduk cukup lama. Makan pelan-pelan, ngobrol, sesekali melihat ke bawah. Tidak ada agenda yang harus dikejar pagi itu.

Dan mungkin memang itu yang paling saya suka dari pagi di ASTON Bogor kali ini. Bukan cuma makanannya, tetapi kesempatan untuk duduk tenang dan menikmati suasana tanpa harus buru-buru ke mana-mana. 

 
Pagi Santai, Berdua Mengelilingi ASTON Bogor

Seusai sarapan, rencananya kami mau menjalani pagi dengan agenda masing-masing. Alief dan papanya tadinya mau ke gym, sementara Aisyah ingin berenang. 


Saya sendiri bebas saja, mau ikut siapa pun. Kecuali berenang, tentu. Sedang haid soalnya. 😄 Jadi cukup jadi penonton dari pinggir kolam.


Ternyata rencana suami berubah. Bukannya ke gym, beliau malah mengajak saya turun ke area paling bawah kawasan hotel, tempat berbagai aktivitas tamu berlangsung. Saya ikut saja. Toh, pagi itu tidak ada agenda penting. Staycation memang enaknya begitu. Tidak harus buru-buru mengejar apa-apa. 




Di area bawah ini ternyata cukup ramai oleh berbagai fasilitas. Ada kolam renang, spa dan fitness, jogging track, Bale Sawarga, Kids Club, mini golf, rumah kelinci, kolam ikan, Annathaya Spa, sampai bird cage. 


Mini golf letaknya cukup dekat dari Tower 2 tempat kami menginap. Tinggal turun sampai area drop-off tower, lalu jalan kaki beberapa langkah. Di lobby juga ada meja biliar, meskipun pagi itu kami tidak tertarik main.  Suami sudah punya tujuan lain, kolam renang.



Pagi yang Ramai di Kolam Renang ASTON Bogor


Begitu sampai di area kolam, ternyata suasananya sedang ramai sekali. Ada Kids Carnival. Anak-anak bermain games, ada hiburan, dan yang paling menarik perhatian pagi itu tentu saja pesta busa.


Suami saya langsung senang melihatnya. Entah kenapa, melihat anak-anak mandi busa ternyata bisa membuat bapak-bapak ikut bahagia. Beliau malah sibuk memotret keseruan mereka bermain. Saya memperhatikan dari samping sambil senyum-senyum sendiri. 


Mereka bukan anak kami. Tapi melihat anak-anak kecil yang berlarian, tertawa, dan bermain air pagi itu, saya jadi teringat Aisyah dan Alief sembilan tahun lalu.


Apalagi dulu Aisyah juga pernah ikut Little Chef Cooking Class di sini. Saya masih punya fotonya. 


Lucu juga melihatnya sekarang. Dulu dia masih kecil, ikut bermain masak-masakan dengan serius sekali. Sekarang sudah kuliah. Entah kalau dikasih kesempatan ikut cooking class lagi masih mau atau tidak. Jangan-jangan malah bilang, "Ma, aku mau tidur aja."  


2017. Little Chef Cooking Class

 
Event Kids Carnival hari itu sangat meriah.

Saya senang melihat anak-anak begitu menikmati kegiatan mereka. Ada yang bermain, ada yang tertawa, ada yang mandi busa sampai entah bentuk rambutnya masih bisa disebut rambut atau sudah menjadi bagian dari dekorasi acara. 

Buat orang tua, acara seperti ini juga lumayan melegakan. Anak-anak punya dunia kesibukannya sendiri, sementara bapak ibunya bisa duduk santai tanpa harus setiap lima menit bertanya, "Mau ngapain lagi?" 





Menyusuri Pinggir Sungai di ASTON Bogor


Setelah cukup lama melihat keramaian di kolam, saya dan suami berjalan menuju area sungai. Suaranya langsung berbeda. Dari yang ramai oleh suara anak-anak dan kegiatan pagi, kami masuk ke bagian yang lebih sepi.


Ada bebek-bebek putih yang terlihat bermain di pinggir sungai. Tamu memang tidak diperbolehkan turun ke sungai. Jadi cukup dilihat dari atas.


Padahal pagi itu airnya sedang dangkal dan dasar sungainya juga terlihat. Tapi ya sudah, aturan tetap aturan. Mungkin demi keamanan. Kami juga tidak perlu sok berani turun ke sungai hanya untuk membuktikan bahwa airnya dangkal.  



Kami berjalan pelan sambil melihat-lihat. Suami sempat menengok ke gym. Katanya sedang ramai juga. Akhirnya batal.


Olahraga kalah.


Jalan-jalan menang. Hahaha.


Kami kemudian pindah ke sisi lain sungai. Sebelum benar-benar menyeberang, kami berhenti di sebuah tempat duduk untuk bersantai. Dari sana jembatan hotel terlihat cukup cantik sebagai latar. Cahaya matahari pagi juga sedang bagus-bagusnya, membuat suasana di sekitar sungai terasa hangat.


Ya sudah. Foto dulu.


Namanya juga blogger. Tempat bagus sedikit, kamera keluar.  



Bale Sawarga, Taman, dan Pagi yang Tenang di ASTON Bogor


Dari sana kami berjalan lagi menuju taman yang berada di bagian bawah, masih di pinggir sungai. Ada bangku-bangku besi berwarna putih, beberapa bale-bale, dan dua kandang burung punai.


Suami saya kembali menemukan hiburannya.


Beliau berdiri mendekat ke kandang burung, lalu mulai bersiul-siul. Seolah-olah sedang mencoba mengajak burungnya ngobrol. Saya cuma melihat dari samping sambil berpikir, burung punai ini ngerti nggak sih disiulin begitu? 


Tapi ya sudah. Biarin.


Namanya juga bapaknya anak-anak. Hiburan pagi tidak selalu harus mahal. Kadang cukup burung, taman, dan sedikit siul-siulan. 

Kandang burung. Ya masa kandang sapi 😂


Ada lorong panjang semi tertutup di latar belakang, penghubung jalan ke taman Bale Sawarga dan taman di seberang sungai (yang ada kolam renangnya)


Bangunan di belakang itu biasanya digunakan untuk tempat acara rombongan yang punya akses ke taman pinggir sungai.

 

Setelah puas di sana, kami berjalan lagi menuju taman yang lebih jauh dari area kolam. Banyak pohon tumbuh di sekitarnya. Ada Bale Sawarga dengan bangunan bergaya kolonial yang terlihat klasik dan anggun. Di sebelahnya terdapat deck yang menjorok ke arah sungai, lengkap dengan tulisan ASTON Bogor.


Tapi yang membuat kami betah bukan tulisan itu.

Pemandangannya.


Dari deck, sungai terlihat mengalir di bawah. Suara gemericik air terdengar pelan. Udara pagi masih sejuk. Area ini juga cukup jauh dari kolam renang dan kegiatan anak-anak, jadi suasananya benar-benar tenang.


Kami duduk di sana cukup lama.


Ngobrol santai. Hal-hal ringan saja. Tidak ada pembicaraan yang harus menghasilkan keputusan besar. Tidak ada agenda yang harus dikejar. Cuma duduk, ngobrol, melihat air sungai, sesekali melihat orang lewat.


Dan ternyata menyenangkan. 


 





Anak-anak sedang sibuk dengan dunianya masing-masing. Sementara pagi itu, saya dan suami punya waktu untuk duduk berdua tanpa harus memikirkan siapa yang mau makan apa, siapa yang mau berenang, atau siapa yang harus diawasi.


Dulu kami datang ke hotel membawa dua anak kecil.


Sekarang anak-anak sudah besar dan kami malah punya waktu untuk jalan berdua lagi.

Ya, begitulah. Kadang yang berubah bukan tempatnya.

Kita saja.




Gratis Foto di ASTON Bogor, Membawa Pulang Satu Jejak Kenangan

Ternyata fasilitas yang kami dapat di ASTON Bogor belum selesai sampai di situ. Sebelum check-out, kami masih punya satu voucher foto gratis yang bisa digunakan untuk berfoto bersama fotografer hotel. Lumayan. Pulang tidak cuma membawa tas dan oleh-oleh, tetapi juga membawa foto keluarga yang nanti entah akan disimpan sampai berapa tahun.


Tapi voucher ini tidak bisa langsung dipakai begitu saja. Kami harus mendaftar lebih dulu untuk mendapatkan jadwal, karena rupanya cukup banyak tamu yang ingin ikut sesi foto. Fotografernya juga lumayan banyak, kalau tidak salah ada lebih dari lima orang. Counter pendaftarannya berada di area lobby, di tempat khusus untuk sesi foto.


Saya memilih jadwal pukul 11.30. Anak-anak saya minta sudah siap sebelum jam tersebut karena sekalian check-out. Jadi setelah meninggalkan kamar, kami tidak perlu naik lagi. Semua barang sudah dibawa turun. 




Ada satu permintaan khusus yang saya sampaikan kepada fotografer.


Saya ingin beberapa foto dibuat semirip mungkin dengan foto kami sembilan tahun lalu.

Alhamdulillah, kesampaian.


Bedanya, kali ini kami memilih taman di bagian atas, di sekitar Bale Sawarga. Sembilan tahun lalu kami tidak sampai ke area ini. Jadi sekarang kami punya foto keluarga dengan pose yang kurang lebih sama, tetapi tempatnya berbeda.


Siapa tahu sembilan tahun lagi bisa diulang lagi.


Entah nanti anak-anak masih mau diajak foto keluarga atau sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Bisa jadi sudah bekerja, sudah menikah, atau malah sudah punya anak sendiri. Kalau masih diberi umur panjang dan kesempatan, siapa tahu nanti kami kembali lagi ke sini dalam formasi yang sudah bertambah. 



Sesi fotonya sendiri berlangsung sekitar 15 menit di area outdoor hotel. Setelah itu foto diproses dan diedit terlebih dahulu. Untuk voucher gratis, kami mendapat satu foto cetak ukuran 15 x 21 cm lengkap dengan bingkai. File digital tidak termasuk.


Kalau mau membawa pulang file digitalnya, ada biaya tambahan mulai dari Rp150.000 per foto. Lumayan juga, ya. Satu file Rp150 ribu. Tapi ternyata ada paket bundle yang lebih hemat, dan saat itu saya memilih mengambil paket 10 file seharga Rp200 ribu.


Saya rela.


Bukan karena saya tidak bisa hidup tanpa sepuluh file foto itu. Tapi kesempatan mendapatkan foto keluarga yang diambil fotografer dengan kamera yang bagus, di tempat yang punya cerita sembilan tahun, rasanya sayang kalau dilewatkan. Foto seperti ini buat saya bukan cuma soal hasil fotonya bagus atau tidak.


Ada kenangannya. Dan orang-orangnya.


 

Aisyah Belanja oleh-Oleh untuk Gurunya

Sebelum sesi foto, ada satu hal lagi yang menarik perhatian kami. Di area depan restoran dekat lobby sedang ada pameran UMKM yang menjual berbagai produk craft dan perhiasan.


Aisyah langsung tertarik.


Satu per satu stand didatangi. Dilihat. Dipilih. Lalu dibeli. 😄 Beberapa barang dia beli untuk dipakai sendiri, tetapi ada juga yang sengaja dibeli untuk diberikan kepada gurunya ketika nanti bertemu.


Di salah satu stand, dia bahkan sempat berfoto dengan ibu yang menjual produknya. Katanya, ibu itu membuatnya teringat pada gurunya waktu SMA.


Jadi dibelilah sesuatu untuk dibawa pulang.


Saya senang melihatnya. Bukan karena anak saya belanja, tentu saja. Hahaha. Tapi karena ternyata di tengah jalan-jalan dan melihat barang yang lucu-lucu, dia masih sempat memikirkan gurunya.


Anak saya memang manis kalau sedang begini. 

 

Menunggu Foto Sambil Dikerjai Es Krim Turki

Setelah selesai berfoto, kami kembali menunggu di lobby. Foto kami masih dalam proses cetak, kurang lebih sekitar 20 menit, dan kebetulan ada es krim Turki gratis.


Ya sudah.


Nunggu sambil makan es krim.


Aisyah mendapat hiburan tambahan. Cara mengambil es krimnya dibuat seperti penjual es krim Turki pada umumnya. Cone sudah di depan mata, tetapi es krimnya tidak kunjung sampai ke tangan. Diambil sedikit, ditarik lagi. Mau dipegang, ternyata masih dikerjain.


Aisyah ketawa.

Saya ikut ketawa.


Memang begitu rupanya. Es krim Turki bukan sekadar makanan, tetapi juga ujian kesabaran kecil-kecilan.  




Sementara kami menunggu, foto keluarga kami selesai dicetak. Satu foto sudah masuk ke dalam bingkai dan siap dibawa pulang.


Selesai sudah.


Foto keluarga, es krim Turki, sedikit belanjaan Aisyah, lalu barang-barang dari kamar yang sudah kami masukkan ke mobil. Setelah itu kami meninggalkan ASTON Bogor.


Staycation dua hari satu malam kami pun berakhir. 

Tempat foto-foto dicetak. File foto dijual dengan harga paket.

Sambil menunggu foto selesai dicetak dan file dikirim, kami duduk santai dulu di Katulampa Lounge & Bar. Ngobrol sambil minum, sebelum akhirnya benar-benar pamit dari ASTON Bogor.

Agenda kami memang sederhana sekali. Datang malam, tidur, sarapan, jalan-jalan, melihat anak-anak bermain, berfoto, makan es krim, lalu pulang. Tidak ada itinerary yang padat sampai harus melihat jam setiap beberapa menit.


Tapi justru itu yang saya suka.


Kami tidak sedang mengejar banyak tempat. Kami cuma sedang menikmati waktu yang kebetulan bisa kami punya bersama.


Sembilan tahun lalu kami datang ke ASTON Bogor dengan dua anak yang masih kecil. Sekarang kami kembali lagi dengan dua anak yang sudah besar, lalu membawa pulang satu foto baru untuk disandingkan dengan foto lama.


Entah sembilan tahun lagi bagaimana.


Mungkin anak-anak sudah punya kehidupan masing-masing. Bungsu kami Aisyah sudah bekerja, sudah menikah, atau mungkin malah sudah punya anak. Kalau masih diberi umur panjang dan kesempatan, siapa tahu nanti kami kembali lagi ke sini dalam formasi yang sudah bertambah. 


Foto yang sekarang ini mungkin nanti akan jadi foto lama juga.


Dan saya membayangkan, suatu hari nanti saya akan membuka album ini lagi, melihat wajah mereka yang sekarang, lalu bilang, “Oh, waktu itu masih begini rupanya.”


Ya ampun.

Cepat sekali.


Dari staycation yang sejenak ini...

Sungguh, saya jadi makin cinta, makin bersyukur, dan makin bahagia melihat begitu banyak hal yang Allah titipkan dalam hidup saya. Anak-anak yang tumbuh besar, keluarga yang masih lengkap, kesempatan untuk kembali ke tempat ini, dan begitu banyak hal kecil yang ternyata layak disyukuri.

Semoga Allah masih dan terus memberikan anugerah-Nya sepanjang sisa usia.

Aamiin.