Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Pertama Kali ke Gresik: Menginap di Hotel Front One, Bertemu Teman, dan Sebuah Kejutan

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut saya pagi-pagi. Kaget, bingung, dan sedikit bergidik karena sungguh tak pernah terpikir akan menemukan benda yang kemudian, demi kepentingan humor, saya beri berbagai nama: Tameng Hidup, Benteng Intimasi, Armor Cinta, Pelindung Takdir, Penjaga Generasi, sampai Barikade Nafsu. Wkwk.

Silakan pilih mana yang terdengar paling gagah.

Tapi kalau semua nama itu malah bikin bingung, ya sudah, kita sebut saja dengan nama yang dipahami semua orang: KONDOM.

Tepatnya, kemasan kondom bekas. Kosong.

Bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di kamar tempat kami menginap?

Nah, sabar.

Ceritanya bermula dari perjalanan pertama saya ke Gresik.  

 
Pertama Kali ke Gresik

Tanggal 27 Februari 2024, saya dan suami berangkat dari BSD, Tangerang Selatan, menggunakan mobil dan menyetir sendiri. Tujuan utama perjalanan ini memang bukan liburan. Suami memiliki agenda kerja, sedangkan saya ikut menemaninya.

Perjalanan dibuat santai karena jadwal suami baru dimulai keesokan harinya. Saking santainya, berangkat pagi dari BSD, kami baru tiba di Gresik pukul 23.30 WIB. Tinggal setengah jam lagi sudah ganti tanggal. Untung hotelnya masih di Gresik, bukan ikut berganti kota.

Malam itu Gresik terasa tenang. Sesekali truk-truk besar melintas, mengingatkan bahwa kami sedang berada di kota industri. Memang bukan kota yang langsung sibuk memamerkan tempat wisata di depan mata. Justru kesan itulah yang saya suka. Rasanya seperti bertemu orang pendiam yang ternyata menyimpan banyak cerita.


Menginap di Hotel Front One Gresik

Selama berada di Gresik, kami menginap di Front One Hotel Gresik yang berada di Jalan Veteran, salah satu ruas jalan utama di Gresik. Hotel ini memiliki beberapa pilihan kamar, mulai dari Superior, Deluxe, hingga Executive. Kami memilih kamar Deluxe Queen.

Tiba menjelang tengah malam membuat standar kebutuhan kami saat itu sebenarnya sederhana saja: kamar bersih, kasur nyaman, mandi, lalu tidur. Tidak ada energi tersisa untuk inspeksi ala hotel reviewer

Kesan pertama cukup baik. Stafnya ramah. Saya juga suka mendengar bahasa dan intonasi Jawa yang mereka gunakan. Halus sekali. Rasanya seperti sedang disambut di lingkungan keraton. Bedanya, tidak ada prajurit membawa tombak. Yang ada resepsionis dengan senyum ramah.


Masuk ke kamar, kondisinya bersih dan cukup nyaman. Kamar Deluxe Queen yang kami tempati luasnya sekitar 20 meter persegi. 

Tempat tidurnya nyaman, kamar mandinya lega, tersedia AC, televisi, air panas, perlengkapan mandi, air mineral, serta teko untuk membuat kopi atau teh. Fasilitas yang sebenarnya standar, tetapi justru itulah yang dibutuhkan setelah seharian di perjalanan.

Ada pula meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan hospitality tray berisi air minum kemasan, teh, kopi, gula, dan dilengkapi dengan kettle.

Meja yang kelihatannya biasa saja.

Nampannya juga biasa saja.

Setidaknya, begitulah pikiran saya malam itu.

Besok paginya, pendapat saya tentang nampan itu sedikit berubah.

Tapi nanti kita sampai ke sana. 😄




Jendela kamar menghadap ke area pabrik Semen Gresik. Memang bukan tipe pemandangan yang membuat orang spontan berkata,  "Mas, jangan tutup gordennya, aku mau foto buat wallpaper." 

Tapi pemandangan itu justru seperti memberi pengingat kecil bahwa kami sedang berada di Gresik, kota yang denyut kehidupannya memang lekat dengan industri.

Dan kesan sebagai kota industri itu makin terasa keesokan paginya.

 

Sarapan di Tengah Para Pekerja

Waktu pertama kali turun untuk sarapan, saya cukup kaget.

Ramai.

Pagi-pagi, area restoran yang menyatu dengan lobi dan resepsionis sudah dipenuhi tamu. Dari pakaian beberapa orang yang mengenakan wearpack, saya menduga sebagian adalah pekerja dari kawasan industri di sekitar Gresik, mungkin juga dari kawasan JIIPE Manyar.

Kebetulan, salah satu perusahaan yang beroperasi di kawasan itulah yang menjadi tujuan suami untuk bertemu dengan beberapa orang selama kunjungan kerja kali ini.

Melihat suasana pagi itu, saya jadi berpikir, jangan-jangan hotel ini memang cukup populer di kalangan tamu perjalanan bisnis dan pekerja industri. Saya datang menemani suami bekerja, lalu turun sarapan dan bertemu banyak orang dengan "seragam tempur" masing-masing. Bedanya, mereka siap berangkat ke lapangan. Saya siap menghadapi piring sarapan. Sama-sama perjuangan, hanya beda medan. 

Nah, soal sarapan ini saya justru menemukan kejutan lain.

Tenang.

Bukan "kejutan" yang ada di bawah nampan itu.

Yang ini bisa dimakan. 🤣

 

Menu sarapannya cukup beragam dan terasa autentik. Ada Nasi Kemangi Teri, Oblok Daun Singkong, dan beberapa hidangan lain yang menjadi pengalaman kuliner baru buat saya. Beberapa bahkan belum pernah saya coba sebelumnya, dan ternyata saya menyukai cita rasanya.

Buat saya, keberanian menyajikan menu seperti ini menarik. Sebab, kadang menginap di hotel dengan kelas lebih tinggi pun sarapan paginya masih berputar-putar di lingkaran pertemanan yang sama: nasi goreng ketemu mi goreng, mi goreng ketemu nasi goreng.

Aman memang.

Tapi hidup juga butuh sedikit variasi, ye kan? 

Makanya, menemukan Nasi Kemangi Teri dan Oblok Daun Singkong di meja sarapan menjadi kejutan kecil yang menyenangkan. Selain mengisi perut sebelum memulai aktivitas, saya sekalian bisa mencicipi rasa yang sebelumnya belum pernah saya kenal.



 
 
Di luar jam sarapan, tamu masih bisa memesan minuman dan makanan sederhana seperti mi instan. Tinggal request kalau mau ditambah telur, cabai rawit, dan daun sawi. Lumayan kan kalau malam-malam perut tiba-tiba protes, sementara badan sudah telanjur mager keluar hotel.

Dalam kondisi begitu, idealisme kuliner biasanya runtuh dengan sendirinya. Tidak perlu fine dining. Semangkuk mi instan panas dengan telur dan cabai rawit sudah cukup membuat hidup kembali terasa punya arah. 🤣


Fasilitas yang Praktis untuk Tamu Bisnis

Semakin lama menginap, saya merasa Front One Hotel Gresik memang menawarkan fasilitas yang lebih mengarah pada kebutuhan praktis tamu. Ada Wi-Fi, area parkir, lift, restoran, layanan resepsionis 24 jam, serta fasilitas pertemuan. Tidak ada kolam renang atau fasilitas rekreasi yang membuat kita tergoda menghabiskan waktu seharian di hotel, tetapi kebutuhan utama untuk beristirahat dan bekerja tersedia.

Buat kami yang datang karena urusan pekerjaan, justru itu yang dibutuhkan.

Kebetulan, tanggal 29 Februari 2024, saya punya jadwal menjadi pembicara melalui Zoom dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri. Saat itu saya diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar dunia blogging, termasuk perjalanan saya menulis tentang travel dan pariwisata. Jadi, di sinilah kualitas Wi-Fi hotel benar-benar saya buktikan. Koneksi internet yang stabil jelas menjadi kebutuhan utama, dan syukurlah selama acara berlangsung semuanya lancar tanpa kendala berarti. Dalam perjalanan kerja, Wi-Fi stabil memang punya kasta tersendiri. View bagus boleh saja, tetapi kalau Zoom putus-putus saat kita sedang bicara, pemandangan secantik apa pun mendadak tidak ada gunanya. 😄

Ada lift juga. Kelihatannya sepele, sampai suatu hari kita harus menyeret koper ke lantai atas lewat tangga. Pada titik itu, keberadaan lift bisa terasa seperti salah satu pencapaian terbaik peradaban manusia.

Secara keseluruhan, pengalaman menginap kami cukup nyaman. Kamar bersih, tidur nyaman, kamar mandi lega, sarapan menyenangkan, dan internet bisa diandalkan. Hal-hal sederhana yang justru paling dibutuhkan ketika sedang bepergian.

Sampai di sini semuanya berjalan normal.

Hotel nyaman. Sarapan enak. Wi-Fi lancar.

Tidak ada yang aneh.

Sampai keesokan paginya, saya mengangkat nampan berisi teko dan gelas yang sejak malam sebelumnya berada di sana.

Dan...

Nah.

Di situlah cerita tentang Perisai Kejantanan yang saya sebut di awal artikel benar-benar dimulai. 🤣


Sebuah Temuan Tak Terduga

Karena tiba larut malam, kami langsung beristirahat.

Esok paginya saya mulai merapikan barang bawaan dan menata perlengkapan kerja suami. Di kamar hanya ada satu meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya diletakkan nampan berisi teko, dua gelas, serta air minum kemasan yang disediakan hotel.

Kebetulan meja itu akan kami gunakan untuk meletakkan laptop dan perlengkapan kerja. Jadi, nampannya saya angkat untuk dipindahkan.

Nah, inilah detik-detik saya menemukan sesuatu yang tak terduga.

Begitu nampan diangkat, ada satu benda tergeletak di bawahnya. Warnanya cukup mencolok sehingga langsung terlihat.

Tiga bungkus kondom! Sebungkus kemasan kondom bekas, dua bungkus belum terpakai. 

Saya langsung melongo.

"Hah... apa itu?"

Awalnya saya pikir mata belum sepenuhnya login karena baru bangun tidur. Saya mendekat lagi. Dilihat sekali. Dua kali.

Ternyata benar.

Suami yang saat itu sedang bersiap mengajak sarapan langsung saya panggil.

"Maaaaas, kenapa ada alat PERISAI KEJANTANAN di sini???"

Suami cuma menjawab kalem, "Ya udah, buang saja. Bersihkan mejanya pakai tisu basah. Terus cuci tangan."

Begitulah suami saya. Bukan tipe orang yang mudah ngegas.

Sedangkan saya beda lagi. Buang, bersihkan, lalu selesai rasanya belum cukup. Bukan karena ingin memperpanjang masalah, tetapi menurut saya kejadian seperti ini perlu disampaikan supaya tidak terulang kepada tamu berikutnya.


Tak lama kemudian saya menghubungi pihak hotel. Respons mereka cepat dan baik. Mereka langsung meminta maaf sekaligus berterima kasih karena sudah diberi tahu.

Setelah dipikir-pikir, mungkin memang ada dua kelalaian yang bertemu di pagi itu. Ada seseorang yang meninggalkan sesuatu di tempat yang bukan semestinya, lalu ada nampan yang terlalu setia berdiri di tempatnya sampai bagian bawahnya luput saat kamar dibersihkan.

Namanya manusia, kelalaian bisa terjadi.

Yang saya apresiasi, pihak hotel menerima laporan tersebut dengan terbuka dan meresponsnya secara profesional. Bagi saya, itu yang penting. Ketika ada sesuatu yang kurang tepat, disampaikan baik-baik, diterima baik-baik, lalu dijadikan evaluasi.

Karena itulah pengalaman ini saya tulis. Bukan untuk menyalahkan atau menjelekkan siapa pun. Setiap perjalanan memang selalu punya cerita yang tidak direncanakan, dan kebetulan perjalanan pertama ke Gresik memberi satu cerita yang level kejutannya agak berbeda.

Untung yang tertinggal cuma kemasannya.

Kalau yang tertinggal masih lengkap isinya....

Sudahlah. Imajinasi punya batas. Saya memilih berhenti di situ.

Di luar kejadian tersebut, pengalaman menginap di Hotel Front One Gresik tetap berjalan nyaman.

Hospitality tray. Masih di posisi semula, sebelum diangkat dan mengungkap sesuatu yang tak terduga di bawahnya.

Bahagia Bertemu Sahabat Lama

Kalau ada bagian yang paling menghangatkan hati selama berada di Gresik, jawabannya adalah bertemu teman-teman sesama blogger.

Salah satunya Mbak Zulfa, pemilik blog Emak Mbolang. Kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan pernah melakukan perjalanan bersama selama sembilan hari di Maluku Utara.

Sudah lama tidak bertemu, tetapi begitu berjumpa rasanya seperti melanjutkan obrolan yang hanya sempat dijeda, bukan diakhiri. Cerita mengalir begitu saja, diselingi tawa dan kenangan perjalanan dulu.

Yang membuat saya semakin senang, Mbak Zulfa datang ke hotel sampai dua kali. Pertama pada 28 Februari, kemudian datang lagi pada 1 Maret, sehari sebelum kami meninggalkan Gresik menuju Surabaya dan lanjut ke Kediri.

Dibawakan makanan pula.

Masya Allah.

Padahal saya tidak membawa apa-apa untuk Mbak Zulfa. Beliau malah datang berkali-kali membawa makanan. Saya mulai curiga, jangan-jangan wajah saya memang terlihat seperti orang yang belum makan sejak berangkat dari BSD ha ha ha.

Mungkin beginilah bentuk persahabatan yang usianya sudah panjang. Tidak banyak basa-basi, tidak perlu acara yang dibuat-buat. Datang, mengobrol, tertawa, lalu pulang sambil meninggalkan rasa bahagia.

Sederhana, tetapi membahagiakan.

Terima kasih, Mbak Zulfa.

Blogger Gresik. Kiri: Septi. Kanan: Mbak Zulfa

Dari Instagram Story, Akhirnya Bertemu Septi

Rasa hangat itu ternyata belum selesai.

Selama di Gresik saya sempat mengunggah beberapa Instagram Story. Rupanya story itu dilihat oleh Septi, seorang blogger yang tinggal di Gresik. Kami sama sekali tidak membuat janji sebelumnya. Tak lama kemudian ia menghubungi dan mengajak bertemu.

Tanggal 29 Februari, Septi datang ke hotel.

Membawa cake dan roti.

Jujur, saya senang sekali.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Di media sosial pun tidak sering mengobrol. Tapi semangatnya untuk datang menemui saya benar-benar terasa. Septi masih muda, ramah, manis, dan menyenangkan diajak mengobrol.

Yang paling membuat saya tersentuh justru satu hal.

Ternyata dia mengenal saya lebih banyak daripada saya mengenalnya.

Kadang tanpa kita sadari, ada orang yang mengikuti perjalanan kita, membaca tulisan yang kita bagikan, lalu menyimpan kesan tertentu di hatinya. Kita mungkin tidak tahu siapa mereka sampai suatu hari ada kesempatan untuk bertemu.

Begitulah rasanya ketika bertemu Septi.

Cake cantik dari Septi


Sementara saya sendiri tidak menyiapkan apa-apa. Lha, memang awalnya nggak ada rencana mau ketemuan. Saya cuma posting Instagram Story kalau sedang berada di Gresik. Eh, yang melihat story malah benar-benar datang ke hotel sambil membawa cake dan roti. Sedangkan yang didatangi? Modal senyum lebar dan ucapan terima kasih. 

Untung setelah duduk dan ngobrol, urusan siapa bawa apa langsung terlupakan. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu langsung dan sebelumnya pun jarang ngobrol di media sosial. Anehnya, pas ketemu malah nggak terasa seperti baru pertama kali.

Saya jadi makin senang karena pertemuan yang tadinya sama sekali nggak direncanakan itu akhirnya benar-benar terjadi. Bermula dari satu Instagram Story, berlanjut dengan sebuah pesan, lalu tahu-tahu kami sudah duduk mengobrol bersama di hotel.

Makasih ya, Septi. Sudah melihat story, menyapa duluan, lalu benar-benar meluangkan waktu untuk datang. Cake dan rotinya tentu dengan senang hati saya terima. Tapi yang paling saya ingat dari hari itu tetap pertemuan kita.

Mencicipi Kuliner Ayam Bakar Pak D di Gresik

Di sela agenda suami, kami sempat keluar untuk mencari makan. Pilihan kami jatuh pada Ayam Bakar Pak D cabang Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas, Gresik.

Namanya memang Ayam Bakar Pak D, tetapi pilihan menunya rupanya tidak berhenti pada ayam saja. Ada ayam, bebek, hingga aneka ikan dengan beberapa pilihan olahan. Kami sendiri malah datang ke restoran bernama Ayam Bakar Pak D, lalu memesan gurami dan bebek bumbu rujak. Ayamnya? Tidak dipesan. Begitulah manusia kalau sudah berhadapan dengan daftar menu. Niat awal kadang tidak punya kekuatan hukum tetap. 😄

Kedua menu yang kami pesan cocok di lidah. Apalagi disantap saat sedang lapar-laparnya. Gurami dan bebek bumbu rujak menjadi teman makan yang menyenangkan sekaligus salah satu pengalaman kuliner yang kami nikmati selama berada di Gresik.




Mampir ke Ayam Bakar Pak D juga menjadi kesempatan untuk menikmati waktu santai berdua di sela urusan pekerjaan. Perjalanan ke Gresik kali ini memang bukan agenda khusus wisata kuliner. Tidak ada daftar panjang tempat makan yang harus didatangi satu per satu, apalagi target lima tempat makan sehari. Perut juga punya jam kerja. 

Buat saya, mengenal sebuah kota memang tidak selalu harus dimulai dari tempat wisatanya. Kadang perkenalan itu terjadi begitu saja di meja makan. Lewat sepiring nasi hangat, lauk yang baru datang, dan obrolan tentang agenda berikutnya yang entah kenapa selalu terasa lebih ringan setelah perut kenyang.

Namanya juga perjalanan sambil menemani suami bekerja. Target utamanya memang bukan berburu kuliner. Tapi kalau di sela-selanya bertemu makanan enak, masa iya harus ditolak? Itu bukan menyimpang dari agenda. Anggap saja bagian dari riset lapangan. 😄

 
Bekerja dari Kamar Hotel

Tanggal 29 Februari, hampir seharian saya berada di kamar hotel karena harus menjadi pembicara dalam sebuah pertemuan melalui Zoom. Sejak pagi sudah bersiap, sementara suami berangkat visit ke site untuk menemui timnya yang sedang bertugas.

Rasanya cukup unik. Baru pertama kali datang ke sebuah kota, tetapi sebagian hari justru dihabiskan bekerja dari kamar hotel.

Untung koneksi Wi-Fi di hotel berjalan lancar. Acara Zoom bisa berlangsung tanpa kendala. Dalam kondisi seperti ini, barulah terasa betapa Wi-Fi yang stabil kadang jauh lebih membahagiakan daripada pemandangan kamar yang Instagramable.

Sempat Mampir ke Hotel ASTON Gresik

Di sela kegiatan, kami juga sempat mampir ke Hotel ASTON Gresik. Tujuannya bukan untuk menginap, melainkan karena suami ingin melihat langsung lokasi sekaligus memesan tempat untuk kegiatan seminar dan pelatihan yang rencananya akan diadakan pada kunjungan berikutnya.

Jadi, kunjungan ke ASTON kali ini semacam survei kecil-kecilan. Lihat tempat, cek kebutuhan acara, sekaligus memastikan semuanya cocok untuk kegiatan nanti. Kalau rencana itu terlaksana, kemungkinan besar kami akan kembali lagi ke Gresik dan mungkin sekalian menginap di sana.

Berarti, boleh jadi perjalanan pertama ini bukan sekaligus yang terakhir. Masih ada kemungkinan datang lagi ke Gresik dengan agenda berbeda dan menginap di tempat yang berbeda pula.

Siapa tahu, pada kunjungan berikutnya saya punya lebih banyak waktu untuk melihat sisi lain Gresik yang belum sempat dijelajahi kali ini. Sebab selama perjalanan pertama ini, waktu kami memang lebih banyak mengikuti agenda pekerjaan. Jadi, rasanya masih banyak bagian dari Gresik yang belum sempat saya kenal.






Oleh-Oleh Terbaik dari Gresik

Tanggal 2 Maret pagi, sekitar pukul enam, kami check out dan meninggalkan Gresik untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, kemudian ke Pare, Kediri, sebelum akhirnya kembali ke BSD, Tangerang Selatan.

Kalau mengingat perjalanan pertama ini, tentu saya masih ingat kemasan kondom yang sempat membuat bengong di pagi pertama. Bagaimana tidak? Itu pengalaman yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar hal-hal yang mungkin saya temukan di kamar hotel. 😄

Tapi perjalanan ke Gresik tentu bukan hanya tentang kejadian itu. Ada Mbak Zulfa yang sampai dua kali datang menemui saya, Septi yang berawal dari melihat Instagram Story lalu menyempatkan diri datang ke hotel, obrolan-obrolan yang membuat waktu terasa cepat, gurami bakar dan bebek bumbu rujak yang kami nikmati di Ayam Bakar Pak D, serta hari-hari sederhana menemani suami bekerja di kota yang baru pertama kali saya datangi.

Ternyata perjalanan memang seperti membaca sebuah novel. Ada bagian yang mengejutkan, ada yang membuat tertawa, dan ada bagian-bagian sederhana yang justru paling lama tinggal dalam ingatan.

Begitu juga dengan perjalanan pertama saya ke Gresik.

Kejutan itu hanya satu halaman. Selebihnya adalah cerita tentang pertemuan, persahabatan, dan orang-orang baik yang membuat kota yang tadinya asing terasa lebih dekat.

Dan itulah oleh-oleh terbaik yang saya bawa pulang dari Gresik.

Sampai bertemu lagi.

Pengalaman Menginap di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Mudik Lebaran 2026 kali ini kami jalani tanpa terburu-buru. Niatnya cuma berhenti semalam di Lampung sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumatera Selatan. Ternyata, singgah sebentar itu malah melahirkan cerita yang tidak kami rencanakan sejak berangkat dari rumah. 


Mudik Lebaran 2026, Transit Semalam di Lampung

Mudiknya memang direncanakan, tapi singgah semalam di Lampung sama sekali bukan bagian dari rencana. Makanya setelah semuanya kejadian, saya malah sempat mikir, "Kok bisa ya, kami malah nginap di Lampung dulu?"

Kalau diingat-ingat lagi, semuanya bermula karena kali ini saya nggak mau berangkat pagi-pagi banget demi mengejar kapal pagi. Nggak kebayang kalau harus buru-buru dari rumah cuma supaya nggak kepanasan pas nyeberang. Tapi di sisi lain, saya juga nggak mau kami kemalaman tiba di Palembang.

Pokoknya perjalanan kali ini penginnya santai. Nggak pakai gaspol, apalagi ngejar buka puasa di rumah.

Jadi pada dini hari tanggal 17 Maret 2026, saya langsung bilang ke suami, "Berangkat santai aja, ya, Pa." Maksudnya, nunggu selesai salat Subuh, mandi, lalu mobil selesai dicuci dulu. Nggak usah berangkat jam dua pagi terus sahur di jalan sekitar Serang atau Cilegon. Sahur di rumah aja.

Ternyata semua setuju. Rasanya memang lebih enak memulai perjalanan tanpa terburu-buru. 

Anak-anak baru siap sekitar jam delapan, sementara perjalanan benar-benar dimulai sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh. Kalau berangkat dari BSD jam segitu, ya jelas nggak mungkin sampai Kabupaten Muara Enim pas buka puasa.

Di situlah muncul ide untuk menginap semalam di Lampung. Besok paginya tinggal melanjutkan perjalanan lagi, dan sebelum tengah hari rasanya kami sudah masuk Sumatera Selatan. Dari sana, Muara Enim tinggal beberapa jam lagi.

Tinggal satu urusan lagi.

Cari hotel.

Nggak perlu yang mewah. Nggak harus berbintang. Buat kami, hotel transit cukup sederhana kriterianya: nyaman, dekat jalur yang akan kami lewati, dan harganya ramah di kantong.  

Saya Yakin Ini Hotel yang Pernah Saya Inapi. Ternyata Salah.

Tiba-tiba saya ingat penginapan milik Mas Iqbal yang dulu pernah saya inapi bareng teman-teman blogger saat diundang meliput sebuah festival wisata. Nama yang langsung muncul di kepala waktu itu cuma satu: Granny's Nest.

Kalau penasaran seperti apa tampilan Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung yang saya ceritakan di artikel ini, saya sempat membuat video singkatnya di YouTube Shorts berikut: 

 

Saat itu juga saya langsung mencarinya di Instagram. Akunnya langsung muncul. Begitu melihat nama Mas Iqbal ada di daftar followers, saya makin yakin.

"Wah, nggak salah lagi. Ini hotel yang dulu saya inapi."

Dari DM Instagram, obrolannya lanjut ke WhatsApp. Saya mulai tanya-tanya soal ketersediaan kamar. Sekalian saja saya basa-basi bilang kalau dulu pernah menginap di sana. Bertahun-tahun yang lalu.

Belakangan baru kepikiran.

Waktu itu adminnya pasti bingung.

Saya mengaku pernah menginap hampir satu dekade lalu, padahal hotel ini baru mulai beroperasi pada akhir tahun 2025. Untung adminnya baik. Nggak langsung membalas, "Bu, yakin nggak salah hotel?" Hahaha.

Keyakinan saya mulai goyah ketika kami sudah masuk Lampung dan mencari lokasi hotel. Di kepala saya, tujuan kami adalah hotel yang dulu pernah saya tempati di Bandar Lampung. Padahal alamat yang dikirim admin jelas-jelas tertulis di Jalan Ryacudu, Sukarame. Jelas bukan lokasi yang saya ingat. Tapi entah kenapa, otak saya tetap menghubungkannya dengan hotel yang lama.

Begitu keluar tol dan mengikuti Google Maps menuju lokasi, titik tujuan mulai terlihat dekat. Saya menoleh ke kiri, lalu melihat sebuah bangunan dengan tulisan besar Granny's Nest

"Lho... itu Granny's Nest. Kok udah sampai? Tapi kok beda, ya? Perasaan dulu masuk ke dalam, bukan di pinggir jalan besar begini."

Semakin dilihat, saya malah semakin nggak yakin. Akhirnya saya menelepon pihak hotel.

"Iya, Bu. Sudah sampai kok."

Lho...

Jangan-jangan hotelnya pindah?

Begitu masuk ke lobi, saya langsung menuju meja resepsionis. Dengan wajah antara penasaran dan nahan malu, saya bertanya,

"Mas, ini Granny's Nest? Bukan yang di Bandar Lampung ya? Udah pindah atau gimana?"

Petugasnya tersenyum, lalu menjawab,

"Iya, Bu. Yang Ibu maksud mungkin Omah Akas. Kalau Granny's Nest yang dulu itu memang nama restorannya, bukan hotel. Hotelnya Omah Akas. Kalau hotel Granny's Nest ini baru buka."

Oalah...

Gituuu.

Hahaha.

Baru di situ saya sadar. Yang selama ini saya ingat ternyata nama restonya, bukan nama hotelnya. Bertahun-tahun saya menyimpannya sebagai satu ingatan yang utuh, padahal diam-diam sudah ketuker.

Pantas saja sejak awal rasanya ada yang nggak nyambung.

Ini Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny's Nest. Dokumentasi 2016.

Ada saja cara Allah mengingatkan kalau umur memang nggak makin muda. Bahkan ingatan pun mulai suka bercanda.

Tulisan tentang Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny Nest itu dapat di baca di postingan lama saya di sini: Omah Akas Lampung.

Pesan Granny's Nest Lewat Agoda, Ternyata Lebih Hemat

Kalau melihat riwayat chat WhatsApp, ternyata saya baru menghubungi admin Granny's Nest sekitar pukul 12.22 WIB. Saat itu mobil kami sudah berada di atas kapal yang akan menyeberang dari Pelabuhan Merak menuju Lampung. Dadakan banget, kan? Makanya saya bilang dari awal, keputusan menginap ini memang benar-benar lahir di tengah perjalanan.

Awalnya saya berniat memesan kamar langsung ke hotel. Pikiran saya sederhana, yang penting masih kebagian kamar dulu. Soal harga belakangan. Lewat WhatsApp saya bilang kalau kami membutuhkan satu kamar untuk empat orang.

Admin lalu menawarkan kamar tipe Deluxe seharga Rp470.000. Kalau menginap berempat tinggal menambah dua extra bed, masing-masing Rp150.000. Saya memang belum sempat melihat seperti apa kamarnya. Tapi begitu admin bilang satu kamar masih cukup untuk queen bed ditambah dua extra bed, saya langsung membayangkan ukurannya.

"Berarti kamarnya lumayan luas."

Soalnya saya paling nggak suka kalau kamar hotel sudah penuh kasur, tapi ruang geraknya jadi sempit. Apalagi ini cuma hotel transit. Yang kami butuhkan sebenarnya sederhana, tempat istirahat yang nyaman sebelum melanjutkan perjalanan mudik keesokan harinya. 


Pas udah tinggal transfer, kok ya kepikiran buka Agoda dulu.

Siapa tahu lebih murah.

Eh... 

ternyata memang lebih murah.

Setelah dipotong diskon, ditambah pajak dan biaya layanan, total yang saya bayar cuma Rp307.127.

Lumayan juga.

Selisihnya hampir dua ratus ribu.

Rezeki orang yang iseng sebelum bayar, ternyata. Hahaha.


Karena waktu itu masih bulan Ramadan, yang pertama saya tanyakan justru bukan soal fasilitas hotel, melainkan sarapan. Kata pihak hotel, sarapan bisa diantar ke kamar saat waktu sahur, lengkap dengan pilihan menunya. Nah, ini pas banget. Nggak perlu turun ke restoran sambil masih setengah melek.

Setelah urusan itu beres, barulah saya mantap memesan satu malam di Granny's Nest. 

Mudik Lewat Lampung, Perjalanan yang Jauh Lebih Lancar dari Perkiraan

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami sempat kelewatan hotel karena saya masih yakin hotel yang dituju ada di Bandar Lampung. 

Kejadiannya sekitar pukul 15.18 WIB, persis seperti yang terekam di riwayat chat dengan pihak hotel.

Baru setelah semuanya selesai, saya sadar kalau perjalanan hari itu ternyata lancar banget. Berangkat dari BSD sekitar pukul sembilan pagi, lalu sekitar jam tiga sore kami sudah sampai di Lampung.

Yang paling bikin bersyukur justru waktu menyeberang dari Merak. Dari rumah saya sudah siap mental kalau harus antre panjang. 

Namanya juga mudik. Apalagi jalur Merak-Bakauheni hampir selalu identik dengan antrean kendaraan.

Eh, ternyata begitu sampai pelabuhan kami langsung diarahkan masuk kapal.

Rezekinya nggak berhenti di situ.

Kapal yang kami naiki ternyata kapal cepat. Padahal waktu itu sudah nggak ada lagi pilihan kapal express karena semua tiket dijual sebagai kapal reguler. 

Jadi ceritanya kami bayar tarif reguler, tapi yang datang malah kapal cepat. Ya... beginilah rezeki di jalan. Kadang datangnya diam-diam.

Baru malam harinya saya dapat cerita dari Alief, teman yang juga mudik ke Muara Enim dari BSD pada hari yang sama. Bedanya, dia baru tiba di Merak menjelang Magrib. Hasilnya? Antre lebih dari lima jam, lalu tetap menyeberang dengan kapal reguler.

Baru di situ saya benar-benar sadar.

Kalau saja pagi itu kami berangkat sedikit lebih siang, mungkin ceritanya bakal berbeda. Bisa jadi yang saya tulis di artikel ini bukan pengalaman menginap di Granny's Nest, melainkan cerita antre berjam-jam di Pelabuhan Merak.

Masya Allah, kadang keputusan yang awalnya terasa sederhana ternyata membawa kami ke perjalanan yang sama sekali berbeda.

Akhirnya Sampai di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Oalah... jadi selama ini saya memang ketuker. Yang saya ingat ternyata nama restonya, sedangkan hotel tempat saya pernah menginap dulu adalah Omah Akas.

Begitu rasa penasaran itu terjawab, saya malah lega. Apalagi setelah tahu Granny's Nest Boutique Syariah Hotel ini memang masih baru karena resmi beroperasi pada Desember 2025. Pantas saja sejak awal rasanya asing.


Begitu membaca nama lengkapnya, Granny's Nest Boutique Hotel & Café, imajinasi saya langsung jalan sendiri. Kalau embel-embelnya sudah boutique hotel, saya biasanya langsung membayangkan kamar-kamar yang desainnya nggak seragam. Ditambah lagi ada kata & Café, makin senanglah saya.

Ingatan saya pun langsung melayang ke Granny's Nest yang dulu pernah saya datangi bareng teman-teman blogger. Kafenya bergaya shabby chic, makanannya enak, dan suasananya nyaman buat ngobrol lama-lama. Tanpa sadar, saya langsung bikin rencana baru.

"Nanti buka puasa di kafe hotel aja, ya. Nggak usah cari tempat lain."

Waktu itu saya benar-benar mengira rencana tersebut bakal berjalan mulus.

Ternyata...

Nggak juga.

 
Kesan Pertama Melihat Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Begitu turun dari mobil, barulah saya benar-benar memperhatikan bangunan hotel di depan mata.

Kesan pertama yang muncul, tampilannya beda.

Dominasi warna hijau olive dipadukan bata ekspos langsung mencuri perhatian. Bagian tengah bangunan dibuat simetris dengan bingkai putih bergaya klasik, sementara tulisan Granny's Nest berwarna emas berdiri cukup mencolok di atas pintu masuk.

Semakin dilihat, semakin terasa nuansa hotel butik yang ingin dibangun. Jendela-jendela melengkung di sisi kanan, hingga perpaduan warna putih, hijau, dan merah bata membuat tampilannya terasa elegan tanpa terlihat berlebihan.

Saya memang bukan orang yang paham arsitektur. Tapi waktu itu sempat kepikiran, "Hotel ini fotogenik juga, ya." Rasanya baru berdiri di depannya saja sudah pengin motret beberapa sudut bangunannya.

Masuk ke Lobby Granny's Nest, Sederhana tapi Tetap Elegan

Begitu masuk, kami langsung disambut meja resepsionis. 

Saat itu ada dua petugas yang menyambut, satu perempuan dan satu laki-laki. Proses check-in juga cepat. Saya tinggal menyelesaikan pembayaran extra bed, lalu kunci kamar langsung disiapkan.

Yang justru membuat saya memperhatikan adalah area lobbynya. 

Cermin di lobby

Di sana nggak ada sofa besar seperti yang biasa ditemui di hotel-hotel lain. Sempat juga saya melirik kanan-kiri. "Lho, kalau nunggu di mana, ya?"

Nggak lama kemudian baru sadar, ternyata lobby langsung terhubung dengan area kafe yang dipenuhi kursi dan sofa. 

Kalau dipikir-pikir malah lebih enak. Daripada duduk di lobby sambil bengong, sekalian saja ngopi atau pesan camilan. Lobby pun tetap terlihat rapi dan nggak dipenuhi orang yang sedang menunggu.

Kiri: teras depan Granny's Nest Cafe. Kanan: Pintu masuk hotel.

Di sisi kiri lobby ada sebuah kolam kecil dengan dua bangku menghadap ke arahnya. Nah, ini yang bikin saya penasaran.

Kolam renang atau kolam ikan, ya?

Kalau kolam renang, kok mungil banget. Rasanya kalau semua tamu hotel berenang bareng, ya... selesai sudah. Hahaha.

Tapi kalau kolam ikan juga nggak kelihatan ikannya. Airnya biru jernih, isinya kosong. Sampai akhirnya saya menyerah menebak-nebak.

Kalaupun memang itu kolam renang, saya kok langsung minder duluan. Letaknya persis di depan lobby, dekat resepsionis, dan semua tamu yang keluar masuk hotel pasti lewat situ. Rasanya berenang di sana sekalian saja jadi tontonan. Hahaha.

Kolam renang di lobby, dekat resepsionis

Setelah urusan check-in selesai, kami langsung naik ke kamar lewat tangga. Hotel ini memang belum memiliki lift, tapi buat bangunan tiga lantai rasanya masih wajar. Apalagi kalau barang bawaan banyak, pihak hotel juga siap membantu membawakannya.

Sepanjang jalan menuju kamar, mata saya malah sibuk melihat-lihat interiornya. Mulai dari area tangga, mezzanine, sampai lorong kamar, semuanya terasa sederhana tapi manis. 

Nggak banyak ornamen yang mencolok, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa hangat dan enak dipandang.

Tangga hotel dan lorong kamar

Kamar Deluxe yang Luas dengan Pemandangan Kota dan Gunung

Begitu pintu kamar dibuka, kesan pertama saya langsung, "Wah, lega juga." 

Ternyata dugaan saya benar. Kamarnya memang cukup luas untuk ditambah dua extra bed

Setelah semua kasur terpasang, masih ada ruang yang cukup buat lalu-lalang tanpa harus jalan menyamping atau saling ngalah. 

Buat keluarga berempat seperti kami, rasanya pas.

Queen Bed dan TV

Di sisi kiri pintu masuk ada wastafel yang menyatu dengan area minibar lengkap dengan ketel listrik, gelas, serta perlengkapan membuat teh dan kopi, lalu lemari pakaian, rak penyimpanan, dan meja memanjang di bawah televisi. 

Queen bed diletakkan menghadap TV, sementara di sampingnya ada jendela besar yang bisa dibuka lebar. 

Kamar mandinya juga terasa lega, bersih, dan masih terlihat baru.

Minibar dan wastafel (bukan di kamar mandi)

Selama menginap, semua fasilitas yang kami gunakan berfungsi dengan baik. 

AC cepat dingin, televisinya tinggal dinyalakan tanpa ribet, air hangat mengalir lancar, dan perabotannya pun masih terlihat baru. 

Sprei serta sarung bantalnya bersih dan wangi. 

Sebagai hotel syariah, di dalam kamar juga sudah tersedia sejadah dan mukena untuk tamu yang ingin beribadah.

Kamar mandi dan cermin di kamar

Ada satu hal kecil yang sempat kami temui. Handle pintu kamar mandi ternyata copot saat digunakan.

Begitu kami melapor, staf hotel langsung datang mengeceknya. Mereka bahkan sempat mencoba memperbaiki saat itu juga. Hanya saja, menurut staf, hasilnya akan lebih baik kalau dikerjakan oleh teknisi.

Kami sebenarnya ditawari untuk langsung diperbaiki. Tapi karena baru saja tiba dan badan sudah lumayan capek setelah perjalanan jauh, saya memilih menundanya dulu. Jujur saja, sore itu rasanya lebih pengin rebahan daripada ditemani suara obeng. Haha.

Masalahnya, habis itu kami malah keluar cari tempat berbuka puasa. Begitu kembali ke hotel, kami sama-sama lupa kalau handle pintu kamar mandi tadi belum jadi diperbaiki. Sampai besok check-out pun akhirnya tetap begitu. Bukan karena pihak hotel mengabaikan, tapi memang kami sendiri yang sudah tidak menghubungi mereka lagi.

Mudah-mudahan handle itu segera diperbaiki, supaya tamu berikutnya bisa menikmati kamar ini dalam kondisi yang lebih baik.

Saya juga nggak menyesal memilih menambah dua extra bed dibanding memesan dua kamar. Kalau dihitung-hitung, biayanya memang sudah mendekati harga satu kamar lagi. Tapi buat kami, tidur dalam satu kamar justru lebih praktis. Apalagi besoknya harus bangun sahur. Kalau sudah urusan membangunkan suami dan dua anak yang masih nyaman bergelung di balik selimut, rasanya lebih enak kalau semuanya masih dalam satu ruangan. Tinggal panggil sekali, yang dengar langsung tiga orang. Efisien. Hahaha.

Masih cukup lapang untuk ekstra bed

Ada satu hal lagi yang benar-benar di luar dugaan saya. Pemandangan di balik jendelanya ternyata bagus.

Dari balik kaca terlihat deretan atap rumah yang memenuhi kota, lalu siluet pegunungan yang berlapis di kejauhan. 

Langit sore waktu itu juga sedang cantik-cantiknya, biru terang dengan awan putih yang bersih. Begitu jendelanya dibuka, angin sore langsung masuk ke dalam kamar. Saya jadi berdiri cukup lama di depan jendela sambil menikmati pemandangan itu.

Pemandangan di balik jendela
 
Tadinya saya sudah membayangkan buka puasa di kafe hotel. Tapi entah kenapa, setelah melihat langit sore dari balik jendela, kok jadi pengin keluar lagi. Rasanya sayang kalau sore seindah itu dilewatkan begitu saja di dalam kamar.

Dan ternyata, keputusan spontan itulah yang membawa kami ke sebuah kafe di atas bukit untuk menikmati waktu berbuka.

Berbuka Puasa di Sky Garden Café Lampung, Sunset yang Tak Jadi Datang

Saya sebenarnya nggak punya daftar kafe yang pengin didatangi kalau sedang ke Lampung. Jadi sebelum berangkat, saya sempat bertanya ke Mbak Alya soal tempat buka puasa yang punya pemandangan dari ketinggian. Kalau bisa sekalian menghadap laut.

Mbak Alya sempat merekomendasikan beberapa tempat di kawasan Bukit Aslan. Tapi entah kenapa, pilihan kami akhirnya justru jatuh ke Sky Garden Café & Resto yang berada di Jalan Batukalam No. 113, Langkapura, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Dari hotel jaraknya sekitar 11 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Niatnya cari laut. Yang didapat justru city view Kota Tanjung Karang dari ketinggian.

Tapi ya... ternyata nggak buruk juga.

Kiri: Pemandangan sore. Kanan: City light

Saya memang penasaran sama Sky Garden karena banyak yang bilang pemandangan sunset dan city light dari sana bagus. Makanya kami sengaja berangkat sore. Eh, hari itu malah kebagian hujan.

Sebelum berangkat saya sempat menghubungi pihak Sky Garden lewat WhatsApp. Nomornya saya dapat dari Instagram mereka. Karena waktu itu lagi gerimis, saya tanya apakah ada area indoor. Adminnya bilang semua tempat duduk di sana outdoor.

Saya lanjut tanya lagi, "Kalau hujan gimana, Mbak?"

Jawabannya, "Aman, Bu. Tinggal pindah ke dalam."

Nah, di situ saya langsung bingung.

"Lho... kalau bisa pindah ke dalam, berarti ada area dalam juga dong?"

Ya sudahlah. Nanti lihat sendiri saja pas sampai.

Waktu orang hotel bilang Sky Garden lumayan jauh, saya cuma senyum. Lah, jaraknya cuma sekitar 11 kilometer. 

Buat kami yang biasa tinggal di Jabodetabek, itu masih dekat. Di Jakarta mah, sejam perjalanan kadang belum tentu keluar dari satu wilayah. Hahaha.

Kami berangkat sekitar pukul 15.50 WIB. Google Maps bilang sekitar 30 menit. Nyatanya kami baru sampai pukul 17.40 WIB.

Hampir dua jam.

Hari itu Google Maps benar-benar PHP.

Bilangnya setengah jam, kenyataannya hampir dua jam.

Jalannya makin lama makin sepi, tanjakannya juga makin curam, lalu hujan turun lagi. Untung saja Innova kami tetap kuat sampai atas.

Ngabuburit di Sky Garden Café, lantai 2 berkonsep semi outdoor. Saat hujan (foto kiri), tirai pelindung dipasang agar air tidak tampias. Begitu hujan reda (foto kanan), tirainya dibuka kembali sehingga suasana terasa lebih terbuka.

Begitu sampai, saya baru paham maksud admin tadi. Area yang dimaksud ternyata berada di lantai dua dengan konsep semi outdoor. Tetap beratap, tapi sisi-sisinya terbuka. Jadi aman dipakai waktu hujan, sekaligus tetap bisa menikmati pemandangan dari atas.

Udaranya juga enak banget. Sejuk, bahkan cenderung dingin.

Pas kami datang, gerimis sempat berhenti dan langit mulai agak cerah. Saya sampai sempat berharap, "Wah... jangan-jangan masih kebagian sunset nih."

Eh, nggak lama kemudian mendung datang lagi. Gerimis turun lagi. Matahari pun batal muncul.

Yasudah, gantian city light Kota Tanjung Karang yang pelan-pelan mulai menyala.

Waktu naik ke lantai dua, pengunjungnya masih sepi. Baru ada satu keluarga yang sedang duduk di sana. Kami dipersilakan memilih meja sendiri, kecuali satu meja yang katanya sudah direservasi. Setelah dapat tempat, kami langsung memesan makanan dan minuman karena waktu berbuka sudah tinggal sebentar lagi.

Beberapa menit kemudian datang staf lain yang meminta kami pindah meja karena meja yang kami tempati ternyata juga sudah ada yang reservasi. Saya jelaskan kalau kami juga datang dengan reservasi lewat WhatsApp dan sudah dikonfirmasi sebelumnya. Tetap saja diminta bergeser ke meja lain.

Ya sudah.

Daripada ribut menjelang buka puasa, kami pindah saja.

Menu berbuka.
 
Yang bikin saya sedikit heran, sampai kami pulang ternyata meja yang pertama tadi tetap kosong. Nggak ada juga yang menempatinya. Entahlah, mungkin memang ada miskomunikasi di internal mereka.

Pesanan makanan juga datang lumayan lama. 

Beberapa kali makanan untuk meja lain diantar lebih dulu, padahal kami datang lebih awal dan sudah memesan sejak pertama duduk. 

Akhirnya pas azan Magrib berkumandang, kami berbuka dulu dengan minuman yang sudah datang. Makanannya menyusul satu per satu setelah itu.

Selesai makan, kami turun ke bawah untuk membayar.

Sekalian saya menyampaikan masukan soal perpindahan meja tadi. Bukan buat komplain panjang lebar, cuma menceritakan apa yang kami alami, termasuk fakta kalau meja yang semula kami tempati ternyata sampai kami pulang tetap kosong.

Pihak Sky Garden menerima masukan itu dengan baik dan menyampaikan permintaan maaf.

Waktu kami pulang, hujan masih belum benar-benar berhenti.

Sunset yang kami tunggu sejak berangkat dari hotel akhirnya memang nggak muncul.

Ya sudah.

Mungkin sore itu memang jatahnya menikmati gerimis dan lampu-lampu Kota Tanjung Karang dari atas bukit.


Sahur di Hotel Sebelum Melanjutkan Mudik

Pulang dari Sky Garden, kami sepakat langsung kembali ke hotel. Sempat terlintas ide mampir ke toko oleh-oleh khas Lampung buat bekal pulang. Suami dan anak-anak sih ayo aja. Eh, giliran dipikir-pikir lagi, saya sendiri yang langsung bilang, "Udah deh, pulang aja." 

Saya yang ngide, saya juga yang pertama kali membatalkannya. Hahaha.

Memang badan rasanya sudah capek. Sejak tiba di Lampung belum sempat benar-benar istirahat. 

Check-in, lanjut jalan lagi ke daerah perbukitan Bandar Lampung buat ngabuburit dan berbuka puasa. Begitu kenyang, rasa ngantuk langsung datang. Yang ada di kepala cuma satu, cepat-cepat rebahan.

Granny's Nest Cafe
 
Sebelum tidur, saya sempat menghubungi pihak hotel untuk memastikan sarapan diantar saat waktu sahur. Karena saya dan Aisyah sedang berhalangan puasa, kami hanya memesan dua porsi untuk suami dan anak.

Pilihan menunya ada nasi goreng, nasi ayam teriyaki, dan nasi ayam asam manis. Minumannya bisa pilih kopi atau teh. 

Sarapan dijadwalkan diantar sekitar pukul 03.30 WIB, menyesuaikan waktu imsak hari itu. Saya malah sekalian minta semua varian nasinya. Alhamdulillah, suami dan anak saya bilang rasanya enak dan cocok di lidah mereka.

Saya dan Aisyah memang nggak ikut sahur. Akibatnya, nasi yang sudah diantar sejak dini hari baru kami cicipi beberapa jam kemudian. Ya jelas saja sudah dingin, bahkan mulai agak mengeras. Tapi itu bukan salah makanannya. Salah kami sendiri yang makannya kesiangan. Hehe.

Menu minimalis sahur

Pagi itu suasana hotel masih terasa tenang. Setelah salat Subuh nggak ada lagi yang lanjut tidur. Kami langsung beberes, memasukkan barang-barang ke mobil, lalu bersiap melanjutkan perjalanan mudik ke Palembang. Sekitar pukul tujuh pagi kami check-out, lalu kembali melanjutkan perjalanan.  

Sebelum Berangkat, Belanja Oleh-Oleh Dulu di Toko Citra

Senang juga akhirnya memutuskan menginap di Granny's Nest. Baru sadar ternyata di sekitar hotel ada beberapa pilihan toko oleh-oleh khas Lampung. 

Jadi begitu check-out sekitar pukul tujuh pagi, kami nggak langsung masuk tol, tapi mampir dulu ke Toko Oleh-Oleh Citra yang beralamat di Jl. Ryacudu No. 11, Harapan Jaya, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung. 

Begitu masuk, tujuan saya sudah jelas. Cari banana cake dan kopi Lampung. Alhamdulillah dua-duanya masih ada. 

Banana cake yang saya incar bahkan tinggal sedikit karena memang jadi salah satu oleh-oleh favorit. 

Suami langsung sibuk memilih beberapa varian kopi Lampung. 

Anak-anak nggak ikut masuk. Mereka nunggu di mobil sambil nitip pie susu PISU Factory. Ya sudah... masing-masing punya titipan sendiri. Hahaha.

Pagi itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palembang dengan bagasi yang bertambah isi. 

Awalnya cuma berniat mencari tempat singgah semalam. Ternyata bonusnya, pagi-pagi masih sempat belanja oleh-oleh tanpa perlu memutar jauh dari jalur mudik. Buat kami, itu sudah lebih dari cukup. 

Hotelnya nyaman, harganya ramah di kantong, lokasinya dekat akses Tol Trans Sumatera, dan di sekitarnya juga mudah mencari oleh-oleh khas Lampung sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Kadang, satu malam singgah di tengah perjalanan ternyata cukup untuk membuat sebuah mudik punya cerita yang berbeda.