Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Menginap di Swiss-Belresidences Kalibata Pakai Voucher yang Nyaris Kedaluwarsa

Review Hotel Swiss-Belresidences Kalibata

Staycation di Swiss-Belresidences Kalibata pada akhir April ini awalnya bukan sesuatu yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Ada dua voucher menginap yang masa berlakunya sama, sampai penghujung April 2026. Sebetulnya lagi enggak pengin nginap, tapi kalau vouchernya sampai hangus kok sayang, ya. Ya udah deh, akhirnya dipakai. Walaupun sudah benar-benar mepet.

Satu malam saja. Tapi ternyata, ada saja hal-hal kecil yang membuat malam itu tidak berjalan persis seperti yang dibayangkan.

 

Sebetulnya saya memang hampir lupa kalau punya voucher menginap di hotel Swiss-Belresidences Kalibata. Kan dapatnya sudah dari akhir Januari. Masuk Februari sudah mulai puasa Ramadan, dan selama Ramadan fokusnya lebih banyak ke ibadah dan keluarga. Ada juga beberapa prioritas lain yang waktunya lumayan menyita. Setelah itu masuk persiapan Lebaran dan mudik.

Pulang mudik, semua orang di rumah sudah ditunggu agenda masing-masing. Anak bungsu juga sedang kelas 12, jadi jadwal sekolah menjelang lulus cukup padat. Jadilah sepanjang Maret sampai April enggak kepikiran mau menginap.

Sampai akhirnya voucher itu teringat lagi gara-gara melihat postingan teman yang baru saja menginap di sana. "Oh iya, aku kan ada voucher nginep di sana?"

Begitu cek masa berlakunya, lah, akhir bulan ini! Langsung buru-buru hubungi hotel untuk booking kamar. 

Ulasan Hotel Swiss-Belresidences Kalibata

Booking di Ujung Masa Berlaku Voucher

Di sinilah mulai deg-degan. Pemesanan kamar menggunakan voucher ternyata tidak bisa dadakan. Setidaknya harus dilakukan sekitar satu minggu sebelum jadwal menginap. Sementara waktu itu booking-nya sudah kurang dari seminggu sebelum tanggal 30 April. Jadi, tidak terlalu berharap banyak. Kalau ternyata tidak bisa dipakai, ya sudah, pasrah aja. Namanya juga voucher yang sudah hampir kedaluwarsa.

Masalahnya, bukan cuma ingin sekadar menggunakan voucher sebelum masa berlakunya habis. Maunya kedua voucher itu dipakai sekaligus di hari yang sama, karena rencananya mau ngajak dua keponakan perempuan menginap bareng Aisyah.

Kalau bisa, kamarnya juga connecting. Kalaupun enggak dapat connecting room, setidaknya masih satu lantai. Nanti di satu kamar ada anak-anak, sementara saya dan suami di kamar sebelah. Jadi dari awal memang ada sedikit permintaan tambahan selain sekadar, "Masih ada kamar enggak?"

Alhamdulillah, ternyata masih ada. Bahkan connecting room yang diinginkan juga masih tersedia. Lumayan lega, karena kalau sudah sampai di tahap voucher hampir kedaluwarsa begini, rasanya dapat kamar saja sudah senang. Dapat dua kamar yang connecting sekaligus? Ya, lebih senang lagi.

Staycation berlima menempati dua kamar tipe Deluxe Room (connecting)

Akhirnya Menginap di Swiss-Belresidences Kalibata

Tepat tanggal 30 April, berangkatlah kami ke Swiss-Belresidences Kalibata. Kali ini yang ikut ada lima orang, yaitu saya, suami, Aisyah, dan dua orang keponakan perempuan. Alief tidak ikut karena sedang kerja di luar kota. 

Dua keponakan berangkat dari rumah di Depok, dianter oleh adik, sementara saya, suami, dan Aisyah berangkat dari BSD. Jadi, janjian ketemunya langsung di hotel.

Sebetulnya Swiss-Belresidences Kalibata bukan tempat yang asing buat kami. Hampir setiap tahun acara kumpul halal bihalal keluarga besar Mas Arif diadakan di salah satu meeting room hotel ini. 

Terakhir, sempat juga diundang ke sini bersama teman-teman komunitas untuk acara Ramadan. Jadi kalau soal lokasi, suasana tempat, sampai makanannya, sudah cukup familiar. Yang belum pernah dilakukan justru menginapnya. Selama ini datang ke hotel, ya untuk acara, makan, lalu pulang. 

Foto kedua dalam artikel ini, dijepret dari jendela kamar yang terletak di lantai 5 ini

Kalau pengalaman menginap di jaringan Swiss-Bel sendiri, sudah beberapa kali juga. Ada Swiss-Belhotel di Serpong dan Pondok Indah, kemudian Swiss-Belinn Modern di Cikande dan Swiss-Belcourt Bogor. 

Pengalaman saya dan keluarga menginap di hotel-hotel tersebut semuanya cukup baik dan berkesan. Makanya kali ini ada sedikit harapan, semoga pengalaman menginap di Swiss-Belresidences Kalibata juga sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dari BSD kami berangkat sore dan baru sampai hotel menjelang magrib. Perjalanan hari itu lumayan menguji kesabaran karena macetnya justru terjadi di sekitar rel kereta dekat hotel. Hujan pula. 

Berempat sama anak dan ponakan-ponakan di Swiss-Belresidences Kalibata

Sebelum Check-in, Berburu Bakso Legend yang Ternyata Sudah Tutup

Nah, sebelum sampai hotel tuh tadinya suami ngajak makan bakso di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata. Kata suami, itu tempat makan bakso legend dan beliau sudah dari dulu jadi pelanggan di sana. Dalam hati, kenapa baru sekarang cerita? Dulu makan sama siapa sih beliau? Apa sama pacarnya zaman SMA? Wkwk.

"Mama inget gak dulu pernah papa ajak makan bakso rusuk di sini (Kalibata)?"

Gubrak! Ternyata saya pernah diajak makan di situ. Tapi kok saya lupa, ya? Kapan dah itu?

"Yaaah, udah tutup, Ma. Ituu..." ucap suami sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

Kaget juga saya, tahu-tahu sudah melewati tempatnya. Saya sempat melihat tulisan nama warungnya di salah satu ruko. Di depannya memang sedang ada kegiatan renovasi, jadi kami pikir tempatnya tutup karena sedang direnovasi. Tapi setelah dicek di Google, ternyata tutup permanen.

Alhasil, sore itu enggak jadi makan bakso. Tapi kalau sekiranya jadi pun, kami mungkin sampai lebih lama lagi di hotel. Jadi ya sudah, mungkin memang baksonya belum berjodoh dengan kami sore itu.

Pengalaman menginap di beberapa hotel Swiss-Bel sebelumnya juga pernah saya tulis di blog ini. Kalau mau baca ceritanya, ada beberapa tulisan yang bisa dilihat di sini:




Sementara foto-foto dokumentasi berikut ini merupakan momen halal bihalal keluarga besar suami pada tahun 2023 dan 2025 yang berlangsung di Swiss-Belresidences Kalibata. Foto tahun 2024 tidak ada karena waktu itu kami memang berhalangan hadir. Meski begitu, acara halal bihalal keluarga tetap berlangsung di hotel ini.

 
Berturut-turut mengadakan family gathering dalam rangka halal bihalal Lebaran di hotel ini, rasanya sudah cukup menjelaskan kenapa kami terus kembali ke Swiss-Belresidences Kalibata. Berarti memang ada kecocokan dan kepuasan yang kami dapat selama beberapa kali acara di sini.

Meeting Dadakan di Tengah Waktu Makan

Ada jadwal meeting online lewat Teams pukul 19.00 saat kami menginap. Jadwal ini sebenarnya bukan jadwal semula. Seharusnya meeting berlangsung sehari sebelumnya, tetapi karena ada peristiwa kedukaan, jadwalnya diundur. Jadwal penggantinya ternyata jatuh tepat pada malam kami menginap.

Jam makan malamnya mepet dengan jadwal meeting, sementara kalau sudah lapar, urusan makan enggak bisa ditunda-tunda. Setelah salat Magrib, kami langsung menuju restoran di lantai 2 dengan harapan bisa makan dulu, lalu secepatnya kembali ke kamar sebelum meeting dimulai.

Malam itu ingin pesan tom yum. Tapi kata pelayannya, waktu pembuatannya agak lama, kurang lebih 15–20 menit baru jadi. Buat kondisi biasa mungkin masih oke, tapi saat itu waktunya mepet. Saya pilih soto ayam yang katanya bisa lebih cepat.

Soto ayam dan gado-gado yang kami pesan porsinya ternyata cukup besar. Begitu makanan datang, saya langsung makan buru-buru sambil sesekali lihat jam. Waktu yang tersedia memang enggak banyak karena sebentar lagi harus naik ke kamar untuk meeting. Soal harga, sudah lupa persisnya berapa, tapi total makan bertiga kurang lebih Rp400 ribuan, sudah termasuk minum. Yang masih teringat justru harga air minum kemasan 600 ml, sekitar Rp38 ribuan dan nasgornya Rp148 ribuan.

Soto Ayam

Gado-gado

Sambil makan sebenarnya bisa saja ikut meeting. Tinggal buka HP, matikan kamera, beres. Tapi rasanya kurang pas. 

Kalau sudah menyangkut urusan yang serius, saya lebih nyaman duduk dengan laptop di ruang yang tenang, supaya bisa fokus dan mengikuti pembicaraan dengan baik dari awal sampai selesai.

Waktu makan yang sudah mepet ternyata enggak cukup untuk menghabiskan makanan. Baru separuh soto masuk perut, saya sudah harus meninggalkan meja. 

Aisyah dan papanya tetap lanjut makan, sementara saya buru-buru naik ke lantai 5 menuju kamar, buka laptop, dan bersiap mengikuti meeting. Rencananya sih, nanti setelah meeting selesai mau turun lagi dan melanjutkan makan.




Sementara itu, dua keponakan yang dianter oleh adik akhirnya tiba di hotel. Nah mereka ini ternyata sudah pesanan makanan. Jadi setiba di hotel tinggal makan. Gak ketinggalan jajan dulu di Alfamart yang ada di lantai dasar, masih di area hotel dan residence.

Alfamart yang Jadi Penyelamat

Nah, soal Alfamart ini menurut saya memang penyelamat banget. Kalau butuh jajan macam-macam, tinggal turun. Enggak perlu keluar dari kawasan hotel dan residence, apalagi harus mencari minimarket di luar. Buat tamu hotel tentu membantu, apalagi buat yang menginap bareng anak-anak.

Malam itu keberadaan Alfamart jadi sangat berguna karena anak-anak bisa beli makanan dan camilan untuk dibawa ke kamar. Mungkin karena di kawasan ini juga ada residence dengan banyak penghuni, keberadaan minimarket seperti ini memang terasa penting. Buat kami yang cuma menginap semalam, manfaatnya langsung terasa.

Setelah meeting, tadinya mau balik lagi ke resto untuk makan. Tapi begitu lihat jajanan anak-anak, kok jadi kepingin. Dari yang awalnya cuma kepingin, akhirnya ikut nyemil. Eh, lama-lama malah kenyang. Gak jadi makan lagi. Hahaha.

Connecting Room Deluxe untuk Keluarga

Malam itu anak-anak saya taruh di kamar yang satu bed supaya bisa tidur bareng dalam satu kasur. Sementara saya dan suami memilih kamar dengan bed terpisah alias twin bed. Hahaha. 

Ya enggak apa-apa gak satu kasur, cuma semalam ini, kaaan. Masa mesti satu kasur terus. Daripada anak-anak yang tidur di kamar satu bed, nanti malah bingung yang satu tidur di mana. Kasurnya memang besar, tapi mereka bertiga juga enggak gede-gede amat badannya, jadi masih cukup.

Buat yang suatu hari mau pesan connecting room di Swiss-Belresidences Kalibata, ada baiknya sekalian tanyakan konfigurasi tempat tidurnya. Waktu itu saya sempat request supaya kedua kamar sama-sama queen bed, tetapi katanya tidak tersedia kalau connecting. Kalau mau queen bed semua, justru kamarnya tidak connecting. Mungkin memang karena konsep connecting room lebih banyak ditujukan untuk keluarga dengan anak-anak, jadi salah satu kamar dibuat dengan twin bed. Buat kami waktu itu enggak masalah juga. Yang penting dua kamar bisa tersambung dan anak-anak bisa tidur bareng di kamar sebelah.

Deluxe room Swiss-Belresidences Kalibata

Queen bed Deluxe Room Swiss-Belresidences Kalibata

Malam itu, selain ada meeting dadakan, datang juga kabar yang bikin saya gelisah. Alief mengabari kalau dia kurang enak badan dan mungkin besok mau pulang ke BSD. 

Karena sedang tinggal di luar kota untuk bekerja, saya tanya apa dia sanggup nyetir sendiri. Katanya kalau tidak memungkinkan, dia akan disetiri oleh temannya yang kebetulan bekerja di kota yang sama dan orang tuanya juga tinggal di BSD. Teman lama Alief sejak SD sampai SMP, dan kebetulan saya juga kenal.

Agak lega karena berarti ada yang bisa menemani perjalanan pulangnya. Tapi tetap saja hati tidak tenang malam itu. Badan di hotel, pikiran jauh ke luar kota.

View malam tiga tower Swiss-Belresidences Kalibata

Sarapan Pagi di Swiss-Café

Pagi-pagi banget sih enggak. Sarapan di Swiss-Belresidences Kalibata mulai pukul 06.00, tapi kami baru turun sekitar pukul 08.00. Tempatnya di lantai 2, masih di area dining yang sama dengan restoran tempat makan malam sebelumnya. Ada area di dalam ruangan, tapi ada juga pilihan duduk di luar, di area balkon yang menghadap ke taman dan kawasan residence.

Untuk dua kamar yang kami tempati, jatah sarapannya sudah termasuk untuk empat orang. Karena kami berlima, tentu saja ada satu orang tambahan yang harus bayar. 

Soal pilihan sarapan, cukup banyak. Konsepnya buffet dengan pilihan makanan Indonesia, Asia, sampai menu internasional, jadi tinggal pilih sesuai selera. Ada makanan berat, roti, telur, buah, sampai dessert. Pagi itu kami juga enggak berlama-lama karena setelah sarapan mau buru-buru berenang.

Lumayan, Dapat Diskon Sarapan

Nah, pas urusan sarapan ini malah ditawarin daftar SBEC Benefits, program loyalty dari Swiss-Belhotel. Daftarnya gratis dan kalau daftar sebagai tamu hotel bisa mendapatkan level Red Explorer dengan benefit diskon 20% untuk kamar dan dining. Lumayan juga karena keanggotaannya bisa dipakai di hotel-hotel Swiss-Bel lainnya.

Sarapan tambahan yang tadinya sekitar Rp150 ribu per orang, waktu itu saya bayar Rp105 ribu saja. Lumayan, kan. Jika ada tambahan sarapan beberapa orang, diskonnya jadi makin terasa.

Nah, ada satu hal lagi yang baru saya tahu pagi itu. Kalau makanan yang sudah diambil masih belum habis, bisa minta dibawakan ke kamar. 

Bukan tamunya yang membawa sendiri, tapi nanti staf hotel yang mengantarkan. Kebetulan makanan anak dan keponakan masih ada, terutama dessert-nya. 

Bukan karena sengaja mau dibawa ke kamar, tapi karena kami mau buru-buru berenang. Daripada dessert-nya ditinggal jadi mubazir, lebih baik dilanjutkan saja di kamar. Ternyata bisa.


Nyobain Kolam Renang Swiss-Belresidences, Cocok Buat Anak-anak dan Remaja Tanggung

Untuk berenang, kami turun ke lantai 3. Di lantai ini ada kolam renang hotel, spa, dan playground. 

Playground-nya berada di area terbuka dengan lantai beralaskan karet. Jadi kalau anak-anak jatuh, enggak langsung berhadapan dengan lantai keras yang bikin sakit atau bikin lutut baret. 

Ada perosotan juga, sementara orang tua bisa duduk berteduh di teras yang beratap sambil menunggu anak bermain.

Kalau cuaca sedang cerah, area playground ini memang cukup panas. Duduk di sini lumayan bikin keringetan. Tapi pemandangannya enak karena menghadap ke taman yang rimbun di area tengah antara hotel dan residence. Jadi meskipun panas, mata tetap dapat pemandangan hijau.

Playground di lantai 3 dilihat dari kamar kami di lantai 5

Tempat duduk di sebelah playground

Kolam renang hotel letaknya persis di sebelah playground. Kolamnya tidak terlalu dalam, sepertinya memang lebih ditujukan untuk anak-anak dan remaja tanggung. Kalau orang tua mau ikut masuk, paling enak ya berendam atau menemani anak. Buat berenang serius, kurang cocok.

Menariknya, di bawah area taman yang rimbun tadi ada lagi kolam renang khusus residence. Ukurannya lebih luas dan ada bagian untuk orang dewasa. Jadi kawasan ini punya dua pilihan kolam dengan suasana yang berbeda. Kalau menginap di hotel bersama anak-anak, kolam di lantai 3 sudah cukup praktis karena tinggal keluar kamar dan turun sedikit. Sementara kolam residence lebih cocok kalau ingin area yang lebih luas. Tapi, sepertinya tamu hotel nggak boleh deh ke kolam renang residence.

Untuk fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada kamar bilas dan handuk bersih sudah disediakan. Jadi enggak perlu repot membawa handuk dari kamar. Tinggal turun, ganti pakaian, lalu berenang.




Pagi di Kalibata, Pikiran ke Luar Kota

Pagi itu anak-anak menghabiskan waktu dengan berenang. Saya enggak ikut masuk ke kolam, lebih banyak berjalan-jalan santai di sekitar area sambil melihat mereka berenang dan menikmati suasana pagi. Kolam renang hotel sendiri memang buka sejak pukul 06.00 sampai malam, dan handuk sudah disediakan di area kolam. Jadi tinggal turun saja, enggak perlu repot bawa handuk dari kamar.

Meski anak-anak asyik berenang, sesekali perhatian tetap tertuju ke HP. Menunggu kabar Alief dan memastikan rencananya pulang ke BSD berjalan aman. Sementara itu, anak-anak tetap menikmati waktu mereka di kolam.

Sambil menunggu mereka, saya bisa melihat suasana Jakarta Selatan dari ketinggian. Dari area hotel juga sesekali terlihat kereta melintas di jalurnya. Pemandangan seperti ini enak diperhatikan sambil menunggu. Kota tetap sibuk di bawah sana, kereta datang dan pergi, sementara di lantai atas anak-anak menikmati pagi di kolam renang.

Playground

View gedung-gedung tinggi Jakarta Selatan dan jalur KRL di balik rimbunnya pepohonan. 

Habis Renang, Waktunya Beberes

Setelah cukup berenang, anak-anak kembali ke kamar. Dilanjutkan dengan mandi, bebersih, beberes pakaian, lalu menghabiskan camilan dan dessert yang tadi dibawa ke kamar dari sarapan. Namanya juga habis berenang, urusannya bukan cuma mandi. Ada baju basah, pakaian yang harus dibereskan, barang-barang yang mulai keluar dari tas, dan sisa makanan yang tadi belum selesai. Waktu pun berjalan tanpa terasa.

Mau Makan atau Jajan, Tinggal Turun

Urusan makan selama menginap di sini juga cukup gampang. Kalau lapar, tinggal pesan ke restoran karena tersedia layanan in-room dining 24 jam. Mau pesan makanan dari luar juga enggak ribet. Waktu itu kalau pesan lewat GoFood, makanan diantar sampai ke satpam di luar. Setelah diberi tahu, tinggal turun mengambil pesanan.

Ditambah staf hotel yang ramah dan cukup membantu selama kami menginap, beberapa urusan kecil jadi terasa lebih praktis. Mau makan enggak harus keluar hotel, mau jajan dan beli berbagai kebutuhan ada minimarket, mau pesan dari luar juga tinggal ambil di bawah. Untuk menginap bersama keluarga, kemudahan-kemudahan seperti ini lumayan terasa.

Tangga ini sering jadi spot foto tamu hotel 😀


Waktunya Pulang

Tahu-tahu sudah mendekati waktu check-out. Padahal rasanya baru saja selesai sarapan, berenang, dan beberes kamar. Tapi memang begitulah kalau menginap cuma semalam. Baru mulai menikmati suasana, sudah waktunya memasukkan barang lagi ke koper.

Alhamdulillah, kondisi Alief ternyata tidak parah. Dia tetap bisa pulang ke BSD dengan mobilnya, meski disetiri temannya. Setelah istirahat dan diperiksa ke dokter, kondisinya membaik. Kebetulan waktu itu sedang long weekend, jadi ada waktu beberapa hari untuk beristirahat sebelum akhirnya kembali bekerja ke luar kota saat hari kerja dimulai.

Sebagai orang tua, mungkin memang begini. Sedang berada di tempat yang menyenangkan, anak-anak menikmati waktu mereka, mestinya suasana hati ikut senang. Tapi begitu ada kabar salah satu anak kurang sehat dan posisinya jauh dari rumah, pikiran langsung terbagi dua. Badan tetap di hotel, sementara sebagian perhatian ikut pergi ke luar kota.

Di taman hotel, 2023.

Di lobby hotel, 2026

Dari Kalibata Lanjut ke Depok Makan Mie Ayam dan Bakso Si Bakso

Siang itu setelah check-out, kami mengantar dua keponakan pulang ke Depok. Karena sudah masuk jam makan siang, sekalian saja cari tempat makan. Dari perjalanan tadi sudah mulai menimbang-nimbang mau makan apa. Pilihan anak-anak jatuh pada bakso dan mi ayam.

Rumah makan Si Bakso ini sebenarnya kami temukan tanpa sengaja. Dalam perjalanan menuju Depok, saya memang sambil memperhatikan tempat-tempat makan di sepanjang jalan. Siapa tahu ada yang cocok, bisa langsung mampir. Banyak yang kelihatan menarik, tapi belum ada satu pun yang membuat anak-anak bilang, "Iya, aku mau ituuu..."

Sampai ketika lewat Lenteng Agung, saya melihat kedai Si Bakso. Dari luar tempat parkirnya kelihatan cukup lapang. Di sebelahnya ada Soto Kudus Menara, masih dalam area yang sama. Begitu melihat tempatnya, anak-anak langsung kompak memilih Si Bakso. Ya sudah, kami belok, parkir, lalu masuk.

Gagal makan bakso rusuk legend di Bakso Rusuk Sunan Giri Kalibata, akhirnya malah makan di Si Bakso di Lenteng Agung.
 

Keputusan yang enggak kami sesali. Bakso dan mi ayamnya ternyata sama-sama enak. Alhamdulillah, pilihan mendadak ini justru menyenangkan.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Sore sebelumnya kami gagal makan bakso rusuk yang katanya legend di Kalibata karena tempatnya sudah tutup permanen. Besok siangnya malah menemukan Si Bakso di perjalanan menuju Depok. Cabangnya juga ada di Juanda dan Sawangan, Depok.

Cerita soal makan di Si Bakso ini bisa dilihat pada postingan Instagram yang saya sematkan berikut ini:

Dan begitulah cerita satu malam di Swiss-Belresidences Kalibata. Awalnya cuma ingin menyelamatkan dua voucher yang hampir kedaluwarsa. Ternyata malah dapat kesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga, tidur di dua kamar yang connecting, makan malam sambil mengejar meeting, sarapan santai, berenang, sampai sibuk memantau anak yang sedang berada jauh di luar kota. Banyak kejadian kecil dalam waktu yang sebenarnya singkat.

Dari pengalaman kali ini, yang paling terasa justru kemudahannya. Mau makan tinggal turun ke restoran atau pesan ke kamar, mau jajan tinggal ke Alfamart, mau berenang ada kolam dan playground, sementara dari beberapa sudut hotel masih bisa menikmati pemandangan kawasan Jakarta Selatan dan kereta yang sesekali melintas. Semuanya cukup mudah dilakukan tanpa harus banyak keluar dari kawasan hotel.

Di Swiss-Belresidences Kalibata dari masa ke masa. Kiri: Foto tahun 2023. Kanan: Foto tahun 2025
 
Swiss-Belresidences Kalibata berada di Jl. Kalibata Raya No. 22, Jakarta, Indonesia. Lokasinya juga dekat dengan Kalibata Plaza dan Stasiun Duren Kalibata.

Kalau nanti ada voucher Swiss-Bel lagi yang hampir kedaluwarsa, mudah-mudahan enggak sampai kejadian lupa seperti yang satu ini. Tapi kalau akhirnya malah membawa kami kembali menginap, ya mungkin bukan masalah juga.

Menginap di Swiss-Belcourt Bogor, Niatnya Cuma Pindah Tidur dan Kulineran

"Effortless and Convenient Getaway in Bogor"

Begitu slogan Swiss-Belcourt Bogor. Dan memang kurang lebih begitu alasan kami menginap di sini. Gak ada rencana liburan yang disusun jauh-jauh hari, gak ada tempat wisata yang sedang kami kejar, bahkan gak ada keperluan khusus. Niatnya cuma mau pindah tidur, makan enak, lalu pulang. Tapi ternyata yang nyaris tanpa agenda begini pun tetap aja ada dramanya. 

Menginap di Swiss-Belcourt Bogor

Ini pengalaman pertama keluarga kami menginap di Swiss-Belcourt Bogor. Kalau Swiss-Belcourt di kota lain sih sudah pernah, tepatnya Swiss-Belcourt Cikande. Pengalaman menginap di sana cukup bagus, jadi nama Swiss-Belcourt sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru buat kami.

Tapi kalau yang di Bogor, ini pertama kalinya. Dan sebenarnya gabut banget nginep di sini, karena cuma mau numpang pindah tidur aja, nyobain menu sarapannya, sekalian kulineran di Bogor dan sekitarnya. Gak ada keperluan khusus, gak ada pula agenda wisata yang sudah disiapkan.

Mungkin memang ada masanya pergi itu gak harus punya agenda. Rumah lagi baik-baik saja, kami juga gak sedang butuh healing dari apa-apa. Cuma pingin keluar rumah, makan di tempat lain, lalu tidur di tempat lain. 

Gak pula ada rencana mau review hotel.

Kalau sampai akhirnya saya tulis, ya karena pingin nulis aja. Walau fotonya seadanya dan banyakan bukan foto landscape, sebagaimana idealnya foto untuk blog. Jadi kalau nanti fotonya ada yang berdiri tegak sendirian di tengah tulisan, harap maklum. Waktu motret memang belum tahu kalau mereka bakal dapat pekerjaan tambahan jadi ilustrasi artikel. 

Review hotel Swiss-Belcourt Bogor
Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com
 

Libur Sekolah, tapi Gak Punya Rencana Liburan

Kami menginap saat musim libur sekolah. Tapi liburnya sendiri waktu itu sudah berjalan lebih dari seminggu. Aisyah masih sekolah dan ini adalah libur kenaikan kelasnya menuju kelas 12, tahun lalu, 2025.

Nah, kami tuh memang gak pergi ke mana-mana. Sama sekali gak bikin rencana mau liburan ke mana.

Soalnya udah hafal banget kalau pergi berwisata di musim libur itu banyak dramanya, terutama drama macet yang banyakan capeknya daripada menikmati wisatanya. Tempat wisatanya mungkin cuma dinikmati beberapa jam, perjuangan pergi dan pulangnya bisa jadi acara utama. 

Jadi, gak ke mana-mana saat liburan bukan hal menyedihkan buat kami. Malah momen terenak buat di rumah aja. Dalam kota pun biasanya lebih lengang, rasanya santai dan tenang.

Toh liburan gak selalu harus dibuktikan dengan pergi jauh. Kadang bisa bangun tanpa buru-buru, gak terjebak macet, dan menikmati kota yang mendadak lebih sepi saja sudah enak.

Tapi rupanya setelah lebih dari seminggu menikmati ketenangan itu, muncul juga keinginan keluar rumah.

Bukan mau liburan jauh.

Mau makan. 😄

 
Dari Mau Kulineran Seharian, Malah Cari Hotel

Ide menginap di Swiss-Belcourt Bogor ini sebenarnya dadakan aja.

Awalnya cuma mau ngajak keluarga nyari tempat makan di Bogor yang belum pernah kami coba. Bogor ya, bukan Puncak. Bisa ke Sentul, bisa juga di Kota Bogornya.

Apalagi dari BSD sekarang gampang banget ke sana sejak ada Tol Cinere yang tembus ke Jagorawi. Kalau dulu ke Bogor bisa 2 jam lebih, sekarang sekitar 55 menit aja udah sampai.

Rencana awalnya kami mau kulineran seharian. Makan dari pagi, siang, sore, sampai malam, lalu pulang.

Kedengarannya menyenangkan sampai kami mulai menghitung waktunya.

Kalau pergi pagi dan pulang setelah makan malam, waktunya mungkin bakal banyak habis di jalan. Belum lagi kalau ketemu macet. Niatnya mau santai nyobain beberapa tempat makan, malah bisa jadi seharian sibuk mengejar waktu supaya berangkat cukup pagi dan pulang gak terlalu malam.

Makanya muncul ide, gimana kalau nginep aja?

Akhirnya semua setuju.

Begitulah rencana yang awalnya cuma mau makan-makan di Bogor mendadak punya biaya kamar hotel. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Ternyata Ada Tiga Swiss-Bel di Bogor

Saya pun mulai nyari hotel. Pastinya cari yang bukan ke Bogor atas alias naik-naik terus ke Puncak yang selalu macet itu.

Lalu saya keinget Swiss-Bel yang hotelnya ada di berbagai kota, termasuk Bogor. Nah, ajaibnya nih, ternyata ada tiga jaringan Swiss-Bel di Bogor, tapi beda-beda merek. Ada Swiss-Belinn Bogor si hotel bintang tiga, Swiss-Belhotel Bogor yang bintang empat, dan Swiss-Belcourt Bogor yang budget friendly.

Pilihan saya jatuh ke Swiss-Belcourt Bogor yang beralamat lengkap di Jl. Raya Baru No. 1, Bukit Cimanggu City, Bogor, Indonesia 16320.

Hotel ini memiliki 220 kamar dengan sejumlah fasilitas seperti Sky Ballroom, ruang pertemuan, Swiss-Bistro, bar & lounge, kolam renang, dan gym. Lumayan lengkap untuk hotel yang membawa konsep budget friendly, walaupun selama dua malam menginap kami gak sampai mencoba semuanya. Wong tujuan awalnya aja cuma pindah tidur dan cari makan. 

Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Slogannya Effortless and Convenient Getaway in Bogor. Sementara konsepnya budget friendly.

Tapi kamarnya gak budget tuh. Haha.

Saya pesan dua malam family room, totalnya sekitar Rp1,6 jutaan lewat Agoda, gak ada diskonnya. Kalau lewat hotel langsung malah lebih mahal lagi.

Ya sudah. Mungkin definisi budget friendly kami memang sedang tidak berada di rapat yang sama. 

Pesan lewat Agoda dapat harga 1,6 jutaan untuk 2 malam
 
Sebetulnya tiga hotel Swiss-Bel yang beda merek itu lokasinya masih cukup dekat. Jarak Swiss-Belcourt ke Swiss-Belinn sekitar 5,2–5,7 kilometer, sedangkan ke Swiss-Belhotel sekitar 6,6 kilometer.

Jarak yang saat itu kelihatannya gak penting-penting amat. Toh saya sudah tahu hotel mana yang saya pesan. Saya tahu namanya, saya tahu alamatnya, saya bahkan sudah bayar.

Apa yang mungkin salah?

Ternyata, pengetahuan itu hanya berlaku sampai saya pesan makanan lewat GrabFood. 

Nanti saya ceritain.

Lobby Hotel Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Dua Malam di Family Suite Swiss-Belcourt Bogor

Kami menginap dua malam, mulai tanggal 3 sampai 5 Juli 2025. Karena semua mau ikut, saya pesan Family Suite seluas 47 meter persegi dengan dua kamar tidur.

Saya kan pesennya yang pemandangan kota. Ternyata dikasihnya pemandangan kolam renang.

Mau lihat cowok-cowok mandi? Ya kali dari lantai 11 bisa kelihatan. 😂

Family Suite-nya cukup luas. Ada living room dengan sofa two-seater, meja, TV, meja makan, dan dapur kecil. Ada balkon juga, serta pintu dan jendela kaca menghadap keluar sehingga ruangan terasa lebih terbuka.

Meski ya, pemandangan dari kamar kami sebagian besarnya ke tower residence Swiss-Bel.

View ke tower residence yang saya maksud bisa dilihat lebih jelas dalam video yang saya unggah di YouTube pribadi berikut ini:

 
 
Masing-masing kamar tidur punya TV, lemari baju, dan meja kerja. Kamar utama menggunakan
queen bed dan punya jendela menghadap keluar, sedangkan kamar satunya menggunakan single bed dan gak ada jendela.

Saya dan suami di kamar utama, Aisyah di kamar satunya. Alief nantinya bisa tidur di sofa.

Malam pertama Alief gak ikut menginap karena masih ada kegiatan di kampus sampai malam. Katanya udah capek kalau harus nyusul ke Bogor malam-malam. Jadi kami baru komplet berempat di malam kedua.

Dengan dua kamar tidur dan ruang tengah yang cukup lega, ukuran 47 meter persegi ini terasa pas buat kami. Ada ruang untuk kumpul, tapi kalau masing-masing mau masuk kamar dan punya ruang sendiri juga bisa.

Apalagi tujuan menginap kami memang sesederhana itu: punya tempat buat tidur setelah keliling cari makan.

Walaupun pada akhirnya, malam pertama kami bahkan belum sempat keliling ke mana-mana.

Family Suite Room Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Kamar utama family suite yang kami tempati di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Kamar kedua family suite Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Living room di family suite Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Check-in Jam 9 Malam, Besok Suami Malah Kerja

Sebetulnya gabutnya saya mesen hotel ini mayan parah sih. Kami pesan dua malam, tapi hari pertama bukannya datang pas jam check-in atau sore kek, supaya agak lama menikmati hotel, malah baru sampai sekitar jam 9 malam. Haha.

Coba, ngapain pesen dua malam kalau malam pertamanya cuma kebagian datang, masuk kamar, terus tidur? 

Tapi ya begitulah. Kami memang gak ngejar apa-apa. Nungguin suami pulang kerja dulu baru berangkat, terus di jalan kena macet karena masih weekdays dan pas pula jam pulang kerja. Karena sudah waktunya makan malam, kami makan dulu di luar. Jadi makin malam deh sampainya.

Sampai hotel udah capek. Masuk kamar, terus tidur.

Selesai. 

Family suite dengan 2 kamar

Malam pertama dari dua malam menginap sudah terpakai hanya untuk pindah lokasi tidur. Jadi kalau dari awal saya bilang tujuan menginap ini memang cuma “pindah tidur”, saya gak sedang merendah. Memang kejadian. 😂

Besok paginya saya nemenin suami sarapan lebih awal karena beliau mau berangkat kerja.

Iya, kerja.

Kami lagi nginep di hotel, beliau tetap berangkat kerja. Mungkin inilah bentuk effortless getaway versi keluarga kami: istrinya staycation, suaminya stay sebentar lalu berangkat kerja. 

Setelah nemenin suami sarapan, saya balik ke kamar jemput Aisyah buat ngajak sarapan.

Laptopan di meja makan


Laptopan di living room

Laptopan terossss

Sarapan yang Memang Sudah Saya Incar

Nah, kalau yang satu ini memang sudah saya niatin dari awal. Saya pengen nyobain sarapan Swiss-Belcourt Bogor, pengen tahu ada apa aja dan kayak mana rasanya.

Buat saya, salah satu bagian paling menyenangkan dari staycation memang sarapannya. Apalagi kalau niatnya santai dan menikmati fasilitas hotel, bagian ini hampir selalu masuk agenda utama. Tinggal turun ke restoran dan melihat ada makanan apa saja yang bisa dicoba tanpa perlu mikirin mau masak atau pesan dari mana.

Waktu menginap tiga hari dua malam di Swiss-Belcourt Bogor, saya pilih kamar family yang sudah termasuk sarapan untuk tiga orang. Sementara kami datang berempat, jadi saya putuskan untuk tambah satu porsi lagi. Harganya Rp100 ribu per orang.

Menurut saya masih tergolong ekonomis, apalagi yang ikut tambahan ini makannya memang sudah setara porsi dewasa. Jadi rasanya juga gak mungkin lagi pura-pura dihitung sebagai anak kecil demi harga lebih murah. 😄

Paling menarik perhatian

Gemblong Pekalongan

Dari segi pilihan menu, cukup beragam. Ada beberapa makanan tradisional khas Indonesia yang langsung menarik perhatian saya seperti gemblong Pekalongan, ketoprak, nasi liwet, pukis laba-laba, sampai cake tape ketan pisang.

Nah, yang terakhir ini jadi favorit saya. Teksturnya lembut, rasa manis-asinnya pas, gak terlalu kuat, tapi justru itu yang bikin enak. Tipe makanan yang awalnya cuma mau dicicip sedikit, lalu beberapa menit kemudian kepikiran lagi.

Gemblong Pekalongan dan cake tape ketan pisang juga termasuk makanan yang jarang saya temui di Pasar Modern BSD. Jadi senang aja bisa nemu dan nyobain di sini.

Secara keseluruhan, pilihan menu sarapan Swiss-Belcourt Bogor cukup mewakili berbagai selera. Mau yang berat ada, yang tradisional ada, yang manis juga ada. Tapi kalau bicara soal rasa, saya kasih nilai 7,5 dari 10.

Masih tergolong enak, hanya belum sampai tahap yang bikin saya otomatis ambil piring kedua karena takut keburu habis. Ini tentu penilaian pribadi ya, karena urusan rasa memang wilayah yang susah diajak musyawarah. Lidah orang beda-beda. 

Suasana di tempat sarapan dan menu-menu dalam hidangan sarapan saya dokumentasikan dalam bentuk video, dapat ditonton pada reels berikut: 

Ada Jamu, Saya Langsung Senang

Satu hal yang selalu saya cari saat sarapan di hotel adalah jamu. Untungnya di sini ada. Jamunya diracik sendiri oleh resto dan disajikan dalam keadaan segar. Rasanya ringan dan enak diminum pagi-pagi, apalagi suasana Bogor waktu itu cukup adem.

Buat saya, keberadaan jamu kecil-kecilan seperti ini justru bikin meja sarapan terasa lebih dekat dengan keseharian kita. Di tengah deretan roti, telur, kopi, dan berbagai menu hotel, ada sesuatu yang rasanya familiar.

Dan ya, saya senang kalau hotel berbintang masih memberi ruang untuk minuman tradisional seperti ini.

Bakery & Pastry Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Menu Sarapannya Hampir Sama di Hari Kedua

Menu yang saya temui saat sarapan pertama ternyata kurang lebih tetap sama ketika kami sarapan lagi di hari kedua. Saya yang sudah jatuh suka pada cake tape ketan pisang tentu saja nyoba lagi.

Gak perlu sok eksploratif kalau sudah ketemu yang enak. 

Sarapan kedua ini kami sudah lengkap berempat. Hari itu Sabtu dan suami juga libur kerja, jadi gak ada lagi adegan habis sarapan langsung berangkat kerja. Akhirnya formasi keluarga lengkap benar-benar terjadi di meja sarapan, justru menjelang kami pulang.

Kalau dipikir-pikir, memang begitulah menginap kami kali ini. Dua malam, tapi ritmenya tetap mengikuti kehidupan biasa. Ada yang kerja, ada yang punya kegiatan kampus, ada yang di hotel saja. Bukan liburan yang semua orang mendadak bebas dari urusan masing-masing.

Mungkin itu juga yang membuat pengalaman ini terasa santai. Gak ada agenda yang harus dituntaskan. Siapa yang ada, ya makan bareng. Siapa yang punya urusan, ya jalan dulu.

Swiss-Bistro di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com


Play Ground di Swiss-Belcourt Bogor
Foto: swiss-belhotel.com

Seharian di Hotel, Akhirnya Pesan Makan ke Kamar

Cerita soal makan belum selesai. Di hari kedua kami kan gak ke mana-mana. Suami kerja, Alief pun belum ke hotel. Jadi saya sama Aisyah saja yang tinggal di hotel. Mau keluar juga males.

Akhirnya untuk makan siang kami pesan makanan lewat layanan kamar. Di Swiss-Belcourt Bogor ada restoran bernama Swiss-Bistro. Sebenarnya bisa makan langsung di sana, tapi waktu itu kami pilih pesan ke kamar saja. Lebih praktis, tinggal duduk dan nunggu makanan datang.

Nah, menunya ternyata banyak banget. Ada hidangan pembuka dan camilan seperti salad, lumpia, dan gado-gado. Ada aneka sup mulai dari sup buntut, soto kuning Bogor, laksa Singapura, sup krim jamur, sup pangsit, sup asparagus, sampai tom yum. Pilihan pasta dan burger juga ada.

Lalu ada menu Warisan Nusantara seperti ayam geprek sambal bawang, nasi goreng, gurame saus asam manis, sate ayam, mie goreng Djawa, dan tongseng kambing. Makanan pendampingnya juga panjang daftarnya: kentang goreng, tahu pedas, tempe mendoan, pangsit goreng, tahu telur asin, tahu lada garam, sampai jamur lada garam.

Belum lagi menu Asia seperti mie kuah pangsit, sapi lada hitam, fuyung hai, dan masih banyak lagi.

Panjang deh kalau disebutin semua. Intinya, pilihan makanannya banyak. Dan yang lebih penting, setelah nyobain sendiri, saya justru merasa rasa makanan dari Swiss-Bistro ini jauh lebih berkesan dibanding sarapannya.

Kalau gak pesan dan nyobain, saya mungkin gak akan tahu kalau makanan dari restonya ternyata seenak itu.



Mencoba Menu Swiss Bistro

Waktu itu saya pesan nasi sapi lada hitam, nasi goreng, tahu telur, dan minumannya saya sudah lupa apa. Jujur, saya gak sempat foto. Bukan karena tampilannya gak bagus, tapi karena saat makanan datang, saya sudah lapar banget. 

Masalahnya, durasi antara pesan dan makanan diantar lumayan lama. Saya sampai dua kali reminder ke resto. Kesalahan saya juga sebenarnya sederhana: saya pesan makanan saat kondisi sudah lapar.

Harusnya jangan. 

Karena kalau pesan makanan ketika masih santai, menunggu 30 menit mungkin terasa biasa. Tapi kalau perut sudah protes, lima menit bisa terasa seperti layanan sedang menjalani proses tender nasional. 

Saya pun sempat ngegas karena makanannya lama diantar. Untunglah begitu makanan datang dan mulai dicoba, emosinya ikut turun.

Nasi sapi lada hitamnya enak. Nasi gorengnya juga enak. Tahu telurnya pun saya suka. Jelas terasa beda jauh dengan sarapan hotel yang menurut saya cenderung lebih aman rasanya. Makanan dari Swiss-Bistro justru lebih kuat dan lebih nendang.

Porsinya memang gak sebesar dan sebanyak yang saya bayangkan, tapi sebenarnya pas. Mungkin karena waktu itu saya sudah lapar, jadi makanan yang porsinya harusnya cukup terasa kurang.

Kalau lapar memang cara mikir bisa berubah ya. Haha.

Yang jelas, pengalaman makan siang itu menyelamatkan kesan saya soal makanan di hotel ini. Sarapan boleh saya kasih 7,5. Tapi Swiss-Bistro berhasil bikin saya berpikir, “Oh, ternyata dapurnya bisa juga nih.”


Gara-Gara Ada Tiga Hotel Swiss-Bel di Bogor

Nah, malam harinya kami pesan makanan lewat GrabFood. Ini dia nih yang ternyata jadi akibat dari adanya tiga hotel Swiss-Bel di Bogor.

Waktu memilih lokasi penerima, saya cari "Swiss-Bel". Tanpa sadar saya cuma melihat nama depannya saja, gak memperhatikan ujungnya itu Swiss-Belcourt, Swiss-Belinn, atau Swiss-Belhotel.

Padahal sebelumnya saya sendiri sudah tahu kalau di Bogor ada tiga hotel Swiss-Bel. Ironis ya. Udah tahu, eh tetap aja kena. 😄

Beberapa saat kemudian saya mulai heran. Kok drivernya gak nyampe-nyampe? Di aplikasi kelihatan sudah dekat, tapi makanan gak datang juga. Saya tunggu beberapa menit lagi, tetap gak muncul.

Akhirnya kami teleponan. Saya sendiri waktu itu sudah mulai kepikiran mau protes karena kok lama banget. Eh, ternyata kata drivernya, makanan sudah sampai dan sudah dititipkan ke satpam hotel.

Lho?

Saya langsung cek ke satpam. Saya tanya, gak ada. Bolak-balik saya cek, tetap gak ada. Saya balik lagi memastikan ke driver sampai akhirnya setelah sama-sama cek, baru ketahuan penyebabnya.

Ternyata makanannya diantar ke hotel Swiss yang lain.

Astaga... 😂


Jadi ini memang murni salah saya. Waktu memilih lokasi penerima di aplikasi, saya salah pilih hotel. Drivernya justru sudah mengantar ke alamat yang memang saya kirim. Mau protes juga salah alamat. Secara harfiah. 

Akhirnya saya minta tolong sama drivernya supaya makanannya diambil lagi lalu diantar ke hotel yang benar. Saya bilang nanti saya ganti bensinnya dan saya kasih tip. Untunglah drivernya mau.

Di tengah urusan itu, beliau sempat minta tambah lagi buat rokok. Nah, yang ini saya gak langsung iyakan. Bukan pelit ya, tapi saya juga gak mau niat ngasih tip malah berubah jadi ikut nyumbang kerusakan kesehatan orang lain. 

Saya bilang nanti saya tambahin ongkos jalannya aja. Dah, gitu aja.

Alhamdulillah, setelah drama salah antar itu, pesanan akhirnya sampai juga ke Swiss-Belcourt Bogor.

Family Suite Swiss-Belcourt Bogor. Menurut informasi yang saya baca, tipe kamar ini cukup banyak dipilih keluarga, termasuk untuk menginap sampai seminggu.
Foto: swiss-belhotel.com

Family Suite Swiss-Belcourt Bogor. Ulasan tamu di Google cukup beragam, meski saya lihat banyak juga yang memberikan pengalaman positif. Kalau dari pengalaman kami sendiri, menginap di sini juga menyenangkan.
Foto: swiss-belhotel.com


Dua Kali Kelaparan dalam Sehari

Kalau dipikir-pikir, hari itu saya dua kali diuji kesabaran oleh urusan makan. Siang harinya makanan dari layanan kamar lama diantar sampai saya dua kali reminder. Malamnya, giliran makanan dari GrabFood yang malah jalan-jalan dulu ke hotel lain. 

Tentunya ini jadi kisah kedua kelaparan karena kelamaan nunggu pesanan. Udah makan siangnya lama diantar, makan malam pun pakai salah antar sehingga telat makan pula.

Padahal niat menginap ini sesederhana pindah tidur dan pindah tempat makan siang dan malam. Tidurnya sih pindah. Makannya juga dapat.

Cuma ternyata untuk sampai ke makanannya butuh perjuangan. 

Untungnya semua berakhir baik. Makanan sampai, perut kenyang, emosi turun lagi. Memang ada beberapa kejadian yang baru terasa lucu setelah semuanya selesai. Waktu kejadian sih gak ada lucu-lucunya. Yang ada cuma lapar.

Kiri: Kolam renang anak. Foto kanan: Gedung residence yang bagian paling bawahnya adalah kolan renang anak itu. 
Foto: dokumentasi pribadi

Check-out, Lalu Makan Lagi

Sabtu, 5 Juli 2025, kami check-out dari Swiss-Belcourt Bogor. Tapi tentu saja perjalanan ini belum selesai sebelum makan lagi. 

Kami meluncur ke Bumi Aki Signature di Sentul. Tadinya mau ke yang di Bogor saja, tapi karena sudah pernah, kami cari tempat lain. Ya, ke Sentul itu.

Alhamdulillah suka sih sama tempatnya. Bagus dan nyaman banget. Kalau makanannya ya gak usah ditanya lagi kualitas dan cita rasanya. Buat kami, juara lah.

Setelah dua hari sebelumnya urusan makan sempat diwarnai acara menunggu dan salah alamat, setidaknya makan terakhir sebelum pulang berlangsung damai. Gak ada reminder, gak ada makanan nyasar ke hotel lain. Tinggal duduk dan makan. 

Pemandangan Kota Bogor dilihat dari lantai 11 Swiss-Belcourt Bogor
Foto: dokumentasi pribadi

Akhirnya Jadi Cerita Juga

Seperti yang saya ceritakan di awal, tujuan kami memang sederhana. Cuma pengen menginap dua malam di Bogor. Cari suasana baru, pindah tempat tidur, sekalian nggak perlu mikirin mau makan siang dan makan malam di mana.

Eh, ternyata tetap saja ada ceritanya.

Mulai dari suami yang tetap harus berangkat kerja dari hotel, saya yang ketagihan cake tape ketan pisang, makanan yang datangnya bikin perut protes, sampai drama salah pilih hotel yang bikin pesanan nyasar ke hotel Swiss-Bel yang lain. Waktu mengalaminya memang bikin geleng-geleng kepala, tapi sekarang malah jadi lucu kalau diingat lagi.

Jadi ya, staycation kali ini tetap sesuai rencana. Kami sempat istirahat, menikmati suasana hotel, dan pulang dengan badan yang lebih segar. Bedanya, kami juga pulang sambil membawa beberapa cerita sekaligus pelajaran yang mungkin nanti bakal kami ceritakan lagi sambil tertawa.

Dan memang begitu, ya. Kadang yang paling diingat dari sebuah perjalanan bukan hotelnya atau tempat wisatanya, melainkan hal-hal kecil yang sama sekali nggak ada di itinerary.