Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Pengalaman Menginap di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Mudik Lebaran 2026 kali ini kami jalani tanpa terburu-buru. Niatnya cuma berhenti semalam di Lampung sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumatera Selatan. Ternyata, singgah sebentar itu malah melahirkan cerita yang tidak kami rencanakan sejak berangkat dari rumah. 


Mudik Lebaran 2026, Transit Semalam di Lampung

Mudiknya memang direncanakan, tapi singgah semalam di Lampung sama sekali bukan bagian dari rencana. Makanya setelah semuanya kejadian, saya malah sempat mikir, "Kok bisa ya, kami malah nginap di Lampung dulu?"

Kalau diingat-ingat lagi, semuanya bermula karena kali ini saya nggak mau berangkat pagi-pagi banget demi mengejar kapal pagi. Nggak kebayang kalau harus buru-buru dari rumah cuma supaya nggak kepanasan pas nyeberang. Tapi di sisi lain, saya juga nggak mau kemalaman tiba di Palembang.

Pokoknya perjalanan kali ini penginnya santai. Nggak pakai gaspol, apalagi ngejar buka puasa di rumah.

Jadi pada dini hari tanggal 17 Maret 2026, saya langsung bilang ke suami, "Berangkat santai aja, ya." Nunggu selesai salat Subuh, mandi, lalu mobil selesai dicuci dulu. Nggak usah berangkat jam dua pagi terus sahur di jalan sekitar Serang atau Cilegon. Sahur di rumah aja.

Suami lumayan setuju. Anak-anak malah setuju banget. Tapi kalau dipikir-pikir, alasannya sederhana. Mereka masih ngantuk dan masih malas mandi pagi. 

Anak-anak baru siap sekitar jam delapan, sementara perjalanan baru benar-benar dimulai sekitar jam sembilan lewat tiga puluh. Nah, kalau berangkat dari BSD jam segitu, ya jelas nggak mungkin sampai Kabupaten Muara Enim pas buka puasa. Apalagi dari awal kami memang sudah sepakat, perjalanan kali ini nggak mau diburu-buru.

Di situlah ide menginap semalam di Lampung muncul. Besok paginya tinggal melanjutkan perjalanan lagi, dan sebelum jam dua belas siang rasanya sudah masuk Sumatera Selatan. Tinggal beberapa jam lagi sampai Muara Enim.

Begitu ide itu saya sampaikan, suami dan anak-anak langsung setuju. Berarti tinggal satu urusan lagi.

Cari hotel.

Nggak perlu yang mewah. Nggak harus berbintang. Buat kami, hotel transit itu sederhana saja kriterianya: murah dan nyaman.  

Saya Yakin Ini Hotel yang Pernah Saya Inapi. Ternyata Salah.

Tiba-tiba saya ingat penginapan milik Mas Iqbal yang dulu pernah saya inapi bareng teman-teman blogger saat diundang meliput sebuah festival wisata. Sebuah nama langsung muncul di kepala saya: Granny's Nest.

Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini dapat dilihat pada Youtube Short berikut:

 
Saat itu juga saya langsung mencarinya di Instagram, dan akunnya langsung ketemu. Apalagi begitu melihat nama Mas Iqbal ada di daftar mutual friend, saya makin yakin. "Wah, nggak salah lagi. Ini hotel yang dulu saya inapi."

Lewat chat Whatsapp, saya bahkan sempat cerita ke admin hotel kalau dulu pernah menginap di sana. Bertahun-tahun yang lalu. Kalau dipikir sekarang, adminnya pasti bingung. Saya mengaku pernah menginap hampir satu dekade lalu, padahal hotel itu baru mulai beroperasi pada akhir tahun 2025. 

Keyakinan itu mulai goyah ketika kami sudah masuk Lampung dan mencari lokasi hotel. Di kepala saya, tujuan kami adalah hotel yang dulu pernah saya tempati di Bandar Lampung. Padahal alamat yang dikirim admin jelas-jelas tertulis di Jalan Ryacudu, Sukarame. Entah kenapa, otak saya tetap menghubungkannya dengan hotel yang lama.

Begitu keluar tol dan mengikuti Google Maps menuju lokasi, titik tujuan mulai terlihat dekat. Saya menoleh ke kiri, lalu melihat sebuah bangunan dengan tulisan besar Granny's Nest.

"Lho... itu Granny's Nest. Kok udah sampai? Tapi kok beda, ya? Perasaan dulu masuk ke dalam, bukan di pinggir jalan besar begini."

Semakin dilihat, semakin nggak yakin. Akhirnya saya menelepon pihak hotel. Mereka bilang kami memang sudah sampai. Lho... jangan-jangan hotelnya pindah?

Begitu masuk ke lobi, saya langsung menuju meja resepsionis. Dengan wajah antara penasaran dan nahan malu, saya bertanya, "Mas, ini Granny's Nest? Bukan yang di Bandar Lampung ya? Udah pindah atau gimana?"

Petugasnya tersenyum, lalu menjawab, "Iya, Bu. Ini Granny's Nest. Yang Ibu maksud mungkin Omah Akas. Kalau Granny's Nest yang dulu itu memang nama restorannya, bukan hotel. Hotelnya Omah Akas. Kalau hotel Granny's Nest ini baru buka."

Oalah... gituuu.

Hahaha.

Ini Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny's Nest. Dokumentasi 2016.
 
Baru di situ saya sadar kalau selama ini memang ketuker. Yang saya ingat ternyata nama restonya, sedangkan hotel tempat saya pernah menginap dulu adalah Omah Akas. Pantas saja sejak awal rasanya ada yang nggak nyambung.

Ada saja cara Allah mengingatkan kalau umur memang nggak makin muda. Bahkan ingatan pun mulai suka bercanda.

Tulisan tentang Omah Akas yang saya ingat sebagai Granny Nest itu dapat di baca di postingan lama saya di sini: Omah Akas Lampung.

Pesan Granny's Nest Lewat Agoda, Ternyata Lebih Hemat

Kalau lihat riwayat chat WhatsApp, ternyata saya baru menghubungi admin Granny's Nest itu sekitar pukul 12.22 WIB. Padahal saat itu kami masih di jalan, baru beberapa jam meninggalkan BSD. Dadakan banget, kan? Makanya saya bilang dari awal, keputusan menginap ini memang benar-benar lahir di tengah perjalanan.

Awalnya saya pengin pesan langsung ke hotel saja. Yang penting masih kebagian kamar dulu. Lewat chat saya bilang butuh kamar untuk empat orang.

Admin menawarkan kamar Deluxe seharga Rp470.000. Kalau berempat tinggal tambah dua extra bed, masing-masing Rp150.000. Luas kamarnya memang belum sempat saya cek. Tapi waktu admin bilang masih muat queen bed ditambah dua extra bed, saya langsung mikir, "Oke, berarti nanti malam nggak ada yang tidur sambil nyempil di sudut kamar."


Udah tinggal transfer, kok ya kepikiran buka Agoda dulu.

Siapa tahu lebih murah.

Eh... ternyata memang lebih murah.

Setelah dipotong diskon, ditambah pajak dan biaya layanan, total yang saya bayar cuma Rp307.127.

Lumayan juga.

Selisihnya hampir dua ratus ribu.


Rezeki orang yang iseng sebelum bayar, ternyata.

Karena waktu itu masih bulan Ramadan, yang langsung saya tanyakan justru bukan soal fasilitas hotel, melainkan sarapan. Kata pihak hotel, sarapan bisa diantar ke kamar saat waktu sahur, lengkap dengan pilihan menunya. Nah, ini pas banget. Nggak perlu turun ke restoran sambil masih setengah melek.

Setelah urusan itu beres, barulah saya mantap pesan satu malam di Granny's Nest. 

Mudik Lewat Lampung, Perjalanan yang Jauh Lebih Lancar dari Perkiraan

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami sempat kelewatan hotel karena saya masih yakin hotel yang dituju ada di Bandar Lampung. Kejadiannya sekitar pukul 15.18 WIB, persis seperti yang terekam di riwayat chat dengan pihak hotel.

Baru setelah semuanya selesai, saya sadar kalau perjalanan hari itu ternyata lancar banget. Berangkat dari BSD sekitar pukul sembilan pagi, lalu sekitar jam tiga sore kami sudah sampai di Lampung.

Yang paling bikin bersyukur justru waktu menyeberang dari Merak. Dari rumah saya sudah siap mental kalau harus antre panjang. Namanya juga mudik. Apalagi jalur Merak-Bakauheni hampir selalu identik dengan antrean kendaraan.

Eh, ternyata begitu sampai pelabuhan kami langsung diarahkan masuk kapal.

Rezekinya nggak berhenti di situ.

Kapal yang kami naiki ternyata kapal cepat. Padahal waktu itu sudah nggak ada lagi pilihan kapal express karena semua tiket dijual sebagai kapal reguler. Jadi ceritanya kami bayar tarif reguler, tapi yang datang malah kapal cepat. Ya... beginilah rezeki di jalan. Kadang datangnya diam-diam.

Baru malam harinya saya dapat cerita dari Alief, teman yang juga mudik ke Muara Enim dari BSD pada hari yang sama. Bedanya, dia baru tiba di Merak menjelang Magrib. Hasilnya? Antre lebih dari lima jam, lalu tetap menyeberang dengan kapal reguler.

Baru di situ saya benar-benar sadar.

Kalau saja pagi itu kami berangkat sedikit lebih siang, mungkin ceritanya bakal berbeda. Bisa jadi yang saya tulis di artikel ini bukan pengalaman menginap di Granny's Nest, melainkan cerita antre berjam-jam di Pelabuhan Merak.

Masya Allah, kadang keputusan yang awalnya terasa sederhana ternyata membawa kami ke perjalanan yang sama sekali berbeda.

Akhirnya Sampai di Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Oalah... jadi selama ini saya memang ketuker. Yang saya ingat ternyata nama restonya, sedangkan hotel tempat saya pernah menginap dulu adalah Omah Akas.

Begitu rasa penasaran itu terjawab, saya malah lega. Apalagi setelah tahu Granny's Nest Boutique Syariah Hotel ini memang masih baru karena resmi beroperasi pada Desember 2025. Pantas saja sejak awal rasanya asing.


Begitu membaca nama lengkapnya, Granny's Nest Boutique Hotel & Café, imajinasi saya langsung jalan sendiri. Kalau embel-embelnya sudah boutique hotel, saya biasanya langsung membayangkan kamar-kamar yang desainnya nggak seragam. Ditambah lagi ada kata & Café, makin senanglah saya.

Ingatan saya pun langsung melayang ke Granny's Nest yang dulu pernah saya datangi bareng teman-teman blogger. Kafenya bergaya shabby chic, makanannya enak, dan suasananya nyaman buat ngobrol lama-lama. Tanpa sadar, saya langsung bikin rencana baru.

"Nanti buka puasa di kafe hotel aja, ya. Nggak usah cari tempat lain."

Waktu itu saya benar-benar mengira rencana tersebut bakal berjalan mulus.

Ternyata...

Nggak juga.

 
Kesan Pertama Melihat Granny's Nest Boutique Syariah Hotel Lampung

Begitu turun dari mobil, barulah saya benar-benar memperhatikan bangunan hotel di depan mata.

Kesan pertama yang muncul, tampilannya beda.

Dominasi warna hijau olive dipadukan bata ekspos langsung mencuri perhatian. Bagian tengah bangunan dibuat simetris dengan bingkai putih bergaya klasik, sementara tulisan Granny's Nest berwarna emas berdiri cukup mencolok di atas pintu masuk.

Semakin dilihat, semakin terasa nuansa hotel butik yang ingin dibangun. Jendela-jendela melengkung di sisi kanan, balkon kecil, hingga perpaduan warna putih, hijau, dan merah bata membuat tampilannya terasa elegan tanpa terlihat berlebihan.

Saya memang bukan orang yang paham arsitektur. Tapi waktu itu sempat kepikiran, "Hotel ini fotogenik juga, ya." Rasanya baru berdiri di depannya saja sudah pengin motret beberapa sudut bangunannya.

Masuk ke Lobby Granny's Nest, Sederhana tapi Tetap Elegan

Begitu masuk, kami langsung disambut meja resepsionis. 

Saat itu ada dua petugas yang menyambut, satu perempuan dan satu laki-laki. Proses check-in juga cepat. Saya tinggal menyelesaikan pembayaran extra bed, lalu kunci kamar langsung disiapkan.

Yang justru membuat saya memperhatikan adalah area lobbynya. 

Cermin di lobby

Di sana nggak ada sofa besar seperti yang biasa ditemui di hotel-hotel lain. Sempat juga saya melirik kanan-kiri. "Lho, kalau nunggu di mana, ya?"

Nggak lama kemudian baru sadar, ternyata lobby langsung terhubung dengan area kafe yang dipenuhi kursi dan sofa. 

Kalau dipikir-pikir malah lebih enak. Daripada duduk di lobby sambil bengong, sekalian saja ngopi atau pesan camilan. Lobby pun tetap terlihat rapi dan nggak dipenuhi orang yang sedang menunggu.

Kiri: teras depan Granny's Nest Cafe. Kanan: Pintu masuk hotel.

Di sisi kiri lobby ada sebuah kolam kecil dengan dua bangku menghadap ke arahnya. Nah, ini yang bikin saya penasaran.

Kolam renang atau kolam ikan, ya?

Kalau kolam renang, kok mungil banget. Rasanya kalau semua tamu hotel berenang bareng, ya... selesai sudah. Hahaha.

Tapi kalau kolam ikan juga nggak kelihatan ikannya. Airnya biru jernih, isinya kosong. Sampai akhirnya saya menyerah menebak-nebak.

Kalaupun memang itu kolam renang, saya kok langsung minder duluan. Letaknya persis di depan lobby, dekat resepsionis, dan semua tamu yang keluar masuk hotel pasti lewat situ. Rasanya berenang di sana sekalian saja jadi tontonan. Hahaha.

Kolam renang di lobby, dekat resepsionis

Setelah urusan check-in selesai, kami langsung naik ke kamar lewat tangga. Hotel ini memang belum memiliki lift, tapi buat bangunan tiga lantai rasanya masih wajar. Apalagi kalau barang bawaan banyak, pihak hotel juga siap membantu membawakannya.

Sepanjang jalan menuju kamar, mata saya malah sibuk melihat-lihat interiornya. Mulai dari area tangga, mezzanine, sampai lorong kamar, semuanya terasa sederhana tapi manis. 

Nggak banyak ornamen yang mencolok, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa hangat dan enak dipandang.

Tangga hotel dan lorong kamar

Kamar Deluxe yang Luas dengan Pemandangan Kota dan Gunung

Begitu pintu kamar dibuka, kesan pertama saya langsung, "Wah, lega juga." 

Ternyata dugaan saya benar. Kamarnya memang cukup luas untuk ditambah dua extra bed

Setelah semua kasur terpasang, masih ada ruang yang cukup buat lalu-lalang tanpa harus jalan menyamping atau saling ngalah. 

Buat keluarga berempat seperti kami, rasanya pas.

Queen Bed dan TV

Di sisi kiri pintu masuk ada wastafel yang menyatu dengan area minibar lengkap dengan ketel listrik, gelas, serta perlengkapan membuat teh dan kopi, lalu lemari pakaian, rak penyimpanan, dan meja memanjang di bawah televisi. 

Queen bed diletakkan menghadap TV, sementara di sampingnya ada jendela besar yang bisa dibuka lebar. 

Kamar mandinya juga terasa lega, bersih, dan masih terlihat baru.

Minibar dan wastafel (bukan di kamar mandi)

Selama menginap, semua fasilitas yang kami gunakan berfungsi dengan baik. 

AC cepat dingin, televisinya tinggal dinyalakan tanpa ribet, air hangat mengalir lancar, dan perabotannya pun masih terlihat baru. 

Sprei serta sarung bantalnya bersih dan wangi. 

Sebagai hotel syariah, di dalam kamar juga sudah tersedia sejadah dan mukena untuk tamu yang ingin beribadah.

Kamar mandi dan cermin di kamar

Ada satu hal kecil yang sempat kami temui. Handle pintu kamar mandi ternyata copot saat digunakan.

Begitu kami melapor, staf hotel langsung datang mengeceknya. Mereka bahkan sempat mencoba memperbaiki saat itu juga. Hanya saja, menurut staf, hasilnya akan lebih baik kalau dikerjakan oleh teknisi.

Kami sebenarnya ditawari untuk langsung diperbaiki. Tapi karena baru saja tiba dan badan sudah lumayan capek setelah perjalanan jauh, saya memilih menundanya dulu. Jujur saja, sore itu rasanya lebih pengin rebahan daripada ditemani suara obeng. Haha.

Masalahnya, habis itu kami malah keluar cari tempat berbuka puasa. Begitu kembali ke hotel, kami sama-sama lupa kalau handle pintu kamar mandi tadi belum jadi diperbaiki. Sampai besok check-out pun akhirnya tetap begitu. Bukan karena pihak hotel mengabaikan, tapi memang kami sendiri yang sudah tidak menghubungi mereka lagi.

Mudah-mudahan handle itu segera diperbaiki, supaya tamu berikutnya bisa menikmati kamar ini dalam kondisi yang lebih baik.

Saya juga nggak menyesal memilih menambah dua extra bed dibanding memesan dua kamar. Kalau dihitung-hitung, biayanya memang sudah mendekati harga satu kamar lagi. Tapi buat kami, tidur dalam satu kamar justru lebih praktis. Apalagi besoknya harus bangun sahur. Kalau sudah urusan membangunkan suami dan dua anak yang masih nyaman bergelung di balik selimut, rasanya lebih enak kalau semuanya masih dalam satu ruangan. Tinggal panggil sekali, yang dengar langsung tiga orang. Efisien. Hahaha.

Masih cukup lapang untuk ekstra bed

Ada satu hal lagi yang benar-benar di luar dugaan saya. Pemandangan di balik jendelanya ternyata bagus.

Dari balik kaca terlihat deretan atap rumah yang memenuhi kota, lalu siluet pegunungan yang berlapis di kejauhan. 

Langit sore waktu itu juga sedang cantik-cantiknya, biru terang dengan awan putih yang bersih. Begitu jendelanya dibuka, angin sore langsung masuk ke dalam kamar. Saya jadi berdiri cukup lama di depan jendela sambil menikmati pemandangan itu.

Pemandangan di balik jendela
 
Tadinya saya sudah membayangkan buka puasa di kafe hotel. Tapi entah kenapa, setelah melihat langit sore dari balik jendela, kok jadi pengin keluar lagi. Rasanya sayang kalau sore seindah itu dilewatkan begitu saja di dalam kamar.

Dan ternyata, keputusan spontan itulah yang membawa kami ke sebuah kafe di atas bukit untuk menikmati waktu berbuka.

Berbuka Puasa di Sky Garden Café Lampung, Sunset yang Tak Jadi Datang

Saya sebenarnya nggak punya daftar kafe yang pengin didatangi kalau sedang ke Lampung. Jadi sebelum berangkat, saya sempat bertanya ke Mbak Alya soal tempat buka puasa yang punya pemandangan dari ketinggian. Kalau bisa sekalian menghadap laut.

Mbak Alya sempat merekomendasikan beberapa tempat di kawasan Bukit Aslan. Tapi entah kenapa, pilihan kami akhirnya justru jatuh ke Sky Garden Café & Resto yang berada di Jalan Batukalam No. 113, Langkapura, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung. Dari hotel jaraknya sekitar 11 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Niatnya cari laut. Yang didapat justru city view Kota Tanjung Karang dari ketinggian.

Tapi ya... ternyata nggak buruk juga.

Kiri: Pemandangan sore. Kanan: City light

Saya memang penasaran sama Sky Garden karena banyak yang bilang pemandangan sunset dan city light dari sana bagus. Makanya kami sengaja berangkat sore. Eh, hari itu malah kebagian hujan.

Sebelum berangkat saya sempat menghubungi pihak Sky Garden lewat WhatsApp. Nomornya saya dapat dari Instagram mereka. Karena waktu itu lagi gerimis, saya tanya apakah ada area indoor. Adminnya bilang semua tempat duduk di sana outdoor.

Saya lanjut tanya lagi, "Kalau hujan gimana, Mbak?"

Jawabannya, "Aman, Bu. Tinggal pindah ke dalam."

Nah, di situ saya langsung bingung.

"Lho... kalau bisa pindah ke dalam, berarti ada area dalam juga dong?"

Ya sudahlah. Nanti lihat sendiri saja pas sampai.

Waktu orang hotel bilang Sky Garden lumayan jauh, saya cuma senyum. Lah, jaraknya cuma sekitar 11 kilometer. 

Buat kami yang biasa tinggal di Jabodetabek, itu masih dekat. Di Jakarta mah, sejam perjalanan kadang belum tentu keluar dari satu wilayah. Hahaha.

Kami berangkat sekitar pukul 15.50 WIB. Google Maps bilang sekitar 30 menit. Nyatanya kami baru sampai pukul 17.40 WIB.

Hampir dua jam.

Hari itu Google Maps benar-benar PHP.

Bilangnya setengah jam, kenyataannya hampir dua jam.

Jalannya makin lama makin sepi, tanjakannya juga makin curam, lalu hujan turun lagi. Untung saja Innova kami tetap kuat sampai atas.

Ngabuburit di Sky Garden

Begitu sampai, saya baru paham maksud admin tadi. Area yang dimaksud ternyata berada di lantai dua dengan konsep semi outdoor. Tetap beratap, tapi sisi-sisinya terbuka. Jadi aman dipakai waktu hujan, sekaligus tetap bisa menikmati pemandangan dari atas.

Udaranya juga enak banget. Sejuk, bahkan cenderung dingin.

Pas kami datang, gerimis sempat berhenti dan langit mulai agak cerah. Saya sampai sempat berharap, "Wah... jangan-jangan masih kebagian sunset nih."

Eh, nggak lama kemudian mendung datang lagi. Gerimis turun lagi. Matahari pun batal muncul.

Yasudah, gantian city light Kota Tanjung Karang yang pelan-pelan mulai menyala.

Waktu naik ke lantai dua, pengunjungnya masih sepi. Baru ada satu keluarga yang sedang duduk di sana. Kami dipersilakan memilih meja sendiri, kecuali satu meja yang katanya sudah direservasi. Setelah dapat tempat, kami langsung memesan makanan dan minuman karena waktu berbuka sudah tinggal sebentar lagi.

Beberapa menit kemudian datang staf lain yang meminta kami pindah meja karena meja yang kami tempati ternyata juga sudah ada yang reservasi. Saya jelaskan kalau kami juga datang dengan reservasi lewat WhatsApp dan sudah dikonfirmasi sebelumnya. Tetap saja diminta bergeser ke meja lain.

Ya sudah.

Daripada ribut menjelang buka puasa, kami pindah saja.

Menu berbuka.
 
Yang bikin saya sedikit heran, sampai kami pulang ternyata meja yang pertama tadi tetap kosong. Nggak ada juga yang menempatinya. Entahlah, mungkin memang ada miskomunikasi di internal mereka.

Pesanan makanan juga datang lumayan lama. 

Beberapa kali makanan untuk meja lain diantar lebih dulu, padahal kami datang lebih awal dan sudah memesan sejak pertama duduk. 

Akhirnya pas azan Magrib berkumandang, kami berbuka dulu dengan minuman yang sudah datang. Makanannya menyusul satu per satu setelah itu.

Selesai makan, kami turun ke bawah untuk membayar. 

Sekalian saya sampaikan masukan soal kejadian perpindahan meja tadi. Bukan buat komplain panjang lebar, cuma menyampaikan apa yang kami alami, termasuk soal meja yang ternyata sampai kami pulang tetap kosong. 

Pihak Sky Garden menerima masukan itu dengan baik dan menyampaikan permintaan maaf.

Mudah-mudahan ke depannya koordinasi seperti ini bisa lebih rapi, apalagi saat jam berbuka yang memang sedang ramai.

Sunset sore itu memang nggak jadi kami lihat. Tapi pulangnya tetap bawa cerita.

Sahur di Hotel Sebelum Melanjutkan Mudik

Pulang dari Sky Garden, kami sepakat langsung kembali ke hotel. Sempat terlintas ide mampir ke toko oleh-oleh khas Lampung buat bekal pulang. Suami dan anak-anak sih ayo aja. Eh, giliran dipikir-pikir lagi, saya sendiri yang langsung bilang, "Udah deh, pulang aja." 

Saya yang ngide, saya juga yang pertama kali membatalkannya. Hahaha.

Memang badan rasanya sudah capek. Sejak tiba di Lampung belum sempat benar-benar istirahat. 

Check-in, lanjut jalan lagi ke daerah perbukitan Bandar Lampung buat ngabuburit dan berbuka puasa. Begitu kenyang, rasa ngantuk langsung datang. Yang ada di kepala cuma satu, cepat-cepat rebahan.

Granny's Nest Cafe
 
Sebelum tidur, saya sempat menghubungi pihak hotel untuk memastikan sarapan diantar saat waktu sahur. Karena saya dan Aisyah sedang berhalangan puasa, kami hanya memesan dua porsi untuk suami dan anak.

Pilihan menunya ada nasi goreng, nasi ayam teriyaki, dan nasi ayam asam manis. Minumannya bisa pilih kopi atau teh. 

Sarapan dijadwalkan diantar sekitar pukul 03.30 WIB, menyesuaikan waktu imsak hari itu. Saya malah sekalian minta semua varian nasinya. Alhamdulillah, suami dan anak saya bilang rasanya enak dan cocok di lidah mereka.

Saya dan Aisyah memang nggak ikut sahur. Akibatnya, nasi yang sudah diantar sejak dini hari baru kami cicipi beberapa jam kemudian. Ya jelas saja sudah dingin, bahkan mulai agak mengeras. Tapi itu bukan salah makanannya. Salah kami sendiri yang makannya kesiangan. Hehe.

Menu minimalis sahur

Pagi itu suasana hotel masih terasa tenang. Setelah salat Subuh nggak ada lagi yang lanjut tidur. Kami langsung beberes, memasukkan barang-barang ke mobil, lalu bersiap melanjutkan perjalanan mudik ke Palembang. Sekitar pukul tujuh pagi kami check out, lalu kembali melanjutkan perjalanan.  

Sebelum Berangkat, Belanja Oleh-Oleh Dulu

Senang juga akhirnya memutuskan menginap di Granny's Nest. Baru sadar ternyata di sekitar hotel ada beberapa pilihan toko oleh-oleh khas Lampung. 

Jadi begitu check out sekitar pukul tujuh pagi, kami nggak langsung masuk tol, tapi mampir dulu ke Toko Oleh-Oleh Citra yang beralamat di Jl. Ryacudu No. 11, Harapan Jaya, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung. 

Begitu masuk, tujuan saya sudah jelas. Cari banana cake dan kopi Lampung. Alhamdulillah dua-duanya masih ada. 

Banana cake yang saya incar bahkan tinggal sedikit karena memang jadi salah satu oleh-oleh favorit. 

Suami langsung sibuk memilih beberapa varian kopi Lampung. 

Anak-anak nggak ikut masuk. Mereka nunggu di mobil sambil nitip pie susu PISU Factory. Ya sudah... masing-masing punya titipan sendiri. Hahaha.

Pagi itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palembang dengan bagasi yang bertambah isi. 

Awalnya cuma berniat mencari tempat singgah semalam. Ternyata bonusnya, pagi-pagi masih sempat belanja oleh-oleh tanpa perlu memutar jauh dari jalur mudik. Buat kami, itu sudah lebih dari cukup. 

Hotelnya nyaman, harganya ramah di kantong, lokasinya dekat akses Tol Trans Sumatera, dan di sekitarnya juga mudah mencari oleh-oleh khas Lampung sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, Melihat Gajah-Gajah Sumatera dari Sisi yang Berbeda

Artikel ini saya tulis tepat satu dekade setelah kunjungan pertama saya ke Way Kambas.

Dalam sepuluh tahun itu, saya beberapa kali kembali. Anehnya, tidak pernah ada kunjungan yang terasa sama. Alam rupanya tidak mengenal konsep repeat episode. Ia selalu punya cara menghadirkan cerita baru, berbeda dengan media sosial yang sanggup memutar video lama sampai kita hafal setiap detiknya.

Pengalaman wiisata gajah way kambas 

Kali ini, yang paling membekas justru bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga cerita-cerita yang saya dengar dari para mahout.

Itulah sebabnya, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata Way Kambas pada awal 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang

"Saya justru lega ketika Way Kambas ditutup."

Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Bukankah selama ini kita selalu berharap tempat wisata tetap buka, semakin ramai dikunjungi, lalu ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak?

Saya juga berpikir begitu.

Sampai akhirnya saya pulang dari Way Kambas pada September 2025.

Sejak saat itu, linimasa media sosial saya mulai dipenuhi video anak gajah. Ada yang diunggah wisatawan, ada pula yang berasal dari akun-akun promosi perjalanan. Awalnya saya senang. Artinya, semakin banyak orang kenal Way Kambas.

Lama-lama, perasaan itu berubah.

Beberapa video terasa lebih sibuk mengejar reaksi satwa daripada menghargai keberadaannya. Anak gajah dipanggil-panggil supaya menoleh ke kamera. Diajak bercanda. Disoraki ketika melakukan sesuatu yang dianggap lucu. Entah sejak kapan sebagian orang merasa setiap momen di alam harus berubah menjadi konten yang layak masuk FYP.

Puncaknya, saya berhenti menggulir layar ketika melihat seseorang menyodorkan pisang kepada seekor gajah... lengkap dengan tali plastik yang masih melilitnya.

Saya langsung membayangkan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang yang merekam videonya.

Bagaimana kalau plastik itu ikut termakan?


Sejak melihat video itu, setiap kali muncul konten serupa di linimasa, pikiran saya selalu kembali ke adegan yang sama. Bukan lagi soal lucu atau tidak lucu, melainkan pertanyaan sederhana yang terus mengganggu: apakah kita masih datang ke alam untuk belajar menghargainya, atau justru sibuk menjadikannya latar belakang konten?

Mungkin karena itulah, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata alam BTN Way Kambas pada 15 Januari 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang.

Di saat banyak orang mengeluh karena tidak bisa berkunjung, saya justru berpikir, mungkin ini saatnya Way Kambas bernapas sejenak.

Kalau ingin membaca pengumuman resminya, saya sertakan tautannya di sini: TN Way Kambas Ditutup Sementara Untuk Kegiatan Wisata Alam.

Tentu saja, rasa lega itu murni pandangan pribadi saya. Sama sekali tidak berkaitan dengan alasan resmi penutupan yang disampaikan Balai Taman Nasional Way Kambas.

Menjelang penutupan kawasan wisata, saya juga mengikuti berbagai pemberitaan tentang Way Kambas. Ada yang membahas alih fungsi lahan, ada pula yang menyoroti konflik gajah liar yang menewaskan Kepada Desa Braja Asri. 

Berbagai peristiwa itu memang terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Namun saya tidak sedang mencoba merangkai teori konspirasi atau mencari hubungan sebab-akibat di antara semuanya. Zaman sekarang orang memang gemar menyambung titik-titik yang sebenarnya tidak saling terhubung. Kadang dua kejadian yang berdekatan memang... hanya kebetulan terjadi berdekatan.

Bagi saya, penutupan kawasan wisata itu memiliki makna yang lebih sederhana. Saya membayangkannya seperti sebuah rumah yang sesekali perlu ditutup pintunya agar penghuninya bisa beristirahat. Bedanya, penghuni rumah ini bukan manusia yang bisa mengeluh lewat kolom komentar, melainkan satwa liar yang selama ini terus berbagi ruang dengan para pengunjung.

Saya tentu berharap penutupan itu hanya sementara. Saya juga berharap masyarakat sekitar tetap memperoleh manfaat dari pariwisata, karena konservasi dan kesejahteraan masyarakat seharusnya bisa berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan.

Hanya saja, di balik semua itu saya merasa ada hikmah yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Mungkin sesekali manusialah yang perlu mundur selangkah, agar alam punya kesempatan menjadi dirinya sendiri.

Dan cerita itu sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya.

21 September 2025.

Hari itu Way Kambas masih menerima kunjungan wisatawan. Saya datang bersama suami dan beberapa teman suami. Sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi ini.

Ada kesenangan yang sulit dijelaskan ketika mengajak seseorang datang ke tempat yang kita sukai. Rasanya seperti memperkenalkan sahabat lama kepada lingkaran pertemanan baru. Dalam hati muncul harapan kecil, "Semoga kalian akur."

Syukurlah, sejak awal antusiasme mereka sudah terlihat. Belum juga turun dari mobil, kepala mereka sibuk menoleh ke kanan dan kiri, seolah takut ada gajah yang tiba-tiba lewat begitu saja. Padahal kami baru sampai. Gajah juga tidak punya kebiasaan menyambut tamu di gerbang sambil mengucapkan, "Selamat datang di Way Kambas."

Seluruh kegiatan wisata hari itu berlangsung di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas yang kini dikenal sebagai Pusat Konservasi Gajah. Di sinilah sebagian besar aktivitas edukasi dan interaksi pengunjung dengan gajah dilakukan di bawah pendampingan para mahout.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah datang dengan target harus bertemu gajah tertentu.

Kalau tujuan kita ke kebun binatang, mungkin masih masuk akal mencari kandang satwa tertentu karena mereka memang tinggal di tempat yang sudah ditentukan. Namun di kawasan konservasi, saya merasa logikanya berbeda. Satwa bukan aktor yang menunggu panggilan syuting, lalu muncul tepat saat kamera mulai merekam.

Yang membuat saya selalu ingin kembali justru ketidakpastian itu. Saya tidak pernah tahu cerita apa yang akan saya bawa pulang. Kadang tentang seekor gajah. Kadang tentang seorang mahout. Kadang malah tentang diri saya sendiri yang pulang dengan cara pandang yang sedikit berubah dibanding saat berangkat.

Belakangan saya melihat fenomena yang cukup mengganggu. Media sosial perlahan membuat satu nama jauh lebih dikenal dibanding gajah-gajah lainnya. Banyak orang datang dengan harapan bertemu gajah yang sedang viral.

Saya bahkan sempat menemukan promosi perjalanan yang kurang lebih berbunyi,

"Kalau tidak ikut trip kami, kamu tidak akan bisa bertemu Gajah Nisa."

Saya membacanya dua kali.

Lalu tiga kali.

Bukan karena kalimatnya sulit dipahami, melainkan karena terdengar seperti sedang menawarkan akses eksklusif bertemu artis, bukan satwa liar di kawasan konservasi.

Bukan berarti saya tidak menyukai Nisa. Justru saya senang seekor gajah bisa membuat semakin banyak orang mengenal Way Kambas. Yang mengganjal adalah kesan bahwa pertemuan dengan gajah tertentu bisa dijanjikan begitu saja. Padahal, di kawasan konservasi tidak ada jadwal tampil. Semua bergantung pada kondisi di lapangan, aktivitas satwa, serta pertimbangan para mahout dan pengelola.

Kalimat itu membuat saya berpikir, jangan-jangan ada orang yang datang dengan ekspektasi terlalu tinggi, lalu pulang kecewa hanya karena tidak bertemu satu gajah yang sedang populer.

Saya sendiri sempat bertanya kepada Pak Mad apakah hari itu Nisa berada di sekitar area pemandian dekat pengunjung.

"Enggak tentu."

Jawabannya sesingkat itu.

Dan justru itulah jawaban yang paling masuk akal.

Kalau bertemu, alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Toh saya datang ke Way Kambas untuk bertemu alam, bukan mengejar daftar hadir selebritas.

Pak Ahmad Rokhani telah lebih dari 30 tahun mengbadi di TN Way Kambas sebagai bagian dari tim pelestari Gajah Sumatera.

Sejak itu, tujuan datang ke Way Kambas rasanya bukan lagi mengejar satu nama, melainkan menunggu kejutan-kejutan kecil yang selalu berbeda di setiap kunjungan.

Banyak orang mengenal Way Kambas sebagai rumah bagi gajah Sumatera. Saya pun pernah berpikir demikian. Wajar saja, karena gajahlah yang paling sering muncul di media sosial, seolah penghuni lain belum memenuhi syarat untuk masuk algoritma.

Padahal, Way Kambas juga menjadi rumah bagi badak Sumatera.

Fakta itu baru benar-benar terasa setelah beberapa kali berkunjung. Di akhir tulisan ini nanti saya akan bercerita tentang pertemuan dengan Mas Bio, putra Pak Mad, yang menjadi salah satu mahout badak di Way Kambas.

Dari beliaulah saya mengetahui bahwa badak juga memiliki mahout yang merawat dan mendampinginya. Selama ini cerita tentang mahout gajah jauh lebih sering terdengar, sementara kehidupan para mahout badak nyaris tak pernah muncul ke permukaan. Mungkin karena badak memang tidak pernah seramai gajah di media sosial. Padahal, peran mereka dalam konservasi sama pentingnya.

Pikiran saya kemudian melayang ke satwa-satwa lain di Lampung. Belum lama ini publik dihebohkan oleh kasus seekor tapir yang dibunuh warga di Mesuji. Peristiwa itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan konservasi tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Mungkin masih ada orang yang benar-benar tidak tahu bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi. Saat bertemu di alam, mereka menganggapnya sama seperti satwa liar lainnya. Namun bisa juga sebaliknya. Mereka sudah tahu, tetapi tetap memilih mengabaikannya. Manusia memang punya bakat luar biasa untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya sudah tahu itu keliru.

Apa pun alasannya, kejadian seperti ini membuat saya semakin percaya bahwa konservasi tidak cukup dijaga dengan patroli dan penegakan hukum. Edukasi sama pentingnya. Sebab orang cenderung lebih menghargai sesuatu yang mereka kenal. Sulit berharap seseorang peduli pada satwa yang keberadaannya saja baru mereka sadari setelah menjadi berita.

Saya sempat mengikuti perkembangan kasus ini melalui media sosial dan kanal-kanal berita online, seperti di Kompas.com Polisi Ungkap Keganasan Pelaku Bunuh Tapir di Mesuji Satwa yang Dilindungi Itu 
Sumber: IG @natgeoindonesia
 

Mungkin karena itu, cerita-cerita yang jarang muncul di media sosial justru lebih menarik perhatian saya.

Bukan hanya tentang gajah, tetapi juga badak Sumatera, tapir, maupun satwa lain yang hidup di Way Kambas. Cerita dari para mahout, tim Balai Taman Nasional Way Kambas, peneliti, atau siapa pun yang sehari-hari bekerja di lapangan sering kali membuka sudut pandang yang tidak sempat tertangkap dalam video berdurasi tiga puluh detik.

Mengabadikan perjalanan lalu membagikannya di media sosial tentu tidak ada salahnya. Saya pun melakukannya. Akan tetapi, akan lebih menyenangkan jika semakin banyak konten yang bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga meninggalkan pengetahuan.

Konten yang paling saya nikmati justru yang membiarkan satwa tetap menjadi dirinya sendiri, lalu melengkapinya dengan cerita dan informasi yang membantu kita memahami kehidupan mereka di alam. 

Pak Ahmad Rokhani (pakai baju kaos biru)
 

Cerita hari itu dimulai tepat pukul 12.05 WIB.

Sesampainya di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, saya langsung melihat sosok yang tidak asing lagi: Pak Achmad Rokhani, atau yang lebih akrab dipanggil Pak Mad.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun beliau menjadi mahout. Kalau pengalaman bisa diwariskan lewat tatapan mata, mungkin Pak Mad sudah tidak perlu banyak bercerita lagi.

Begitu kami turun dari mobil, beliau langsung menyambut dengan senyum.

"Mau langsung keliling, atau lihat-lihat dulu?"

Belum sempat ada yang menjawab, teman-teman saya serempak menjawab,

"Salat Zuhur dulu ya, Pak."

Saya hanya tersenyum.

Toh gajah tidak sedang mengejar jadwal rapat. Mereka tidak akan protes hanya karena kami berhenti salat beberapa menit. Jadi tidak ada alasan untuk terburu-buru.

Musala di kawasan Pusat Latihan Gajah cukup besar. Air wudhunya melimpah, jernih, dan terasa sangat segar setelah perjalanan panjang dari Gisting menuju Lampung Timur yang sejak pagi ditemani hujan. Membasuh wajah dengan air dingin saat itu rasanya seperti menekan tombol refresh setelah berjam-jam berada di jalan.

Meski begitu, ada beberapa hal yang masih bisa ditingkatkan. Area di dalam maupun sekitar musala terlihat agak berdebu, sementara beberapa sudut tempat wudhu mulai ditumbuhi lumut.

Yang paling mengganggu justru aroma pesing dari toilet. Bahkan sebelum benar-benar mendekat, hidung kami sudah lebih dulu menerima sambutannya.

Toilet dan tempat wudhu

Fasilitas umum memang akan jauh lebih nyaman kalau sama-sama dijaga. Air di sini melimpah. Rasanya tidak sulit menyiram toilet hingga benar-benar bersih sebelum keluar.

Hal seperti itu mungkin terdengar sepele. Padahal, perbedaan antara toilet yang nyaman dan yang membuat orang buru-buru keluar sering kali hanya soal lima detik tambahan untuk menekan tombol flush.

Selesai salat, sempat muncul diskusi kecil.

"Makan dulu apa nanti?"

Perut sebenarnya sudah mulai mengajukan protes halus. Jam makan siang bahkan sudah lewat. Namun, rasa penasaran bertemu gajah rupanya jauh lebih keras suaranya daripada bunyi perut kami.

Akhirnya kami sepakat menunda makan siang.

Keputusan yang belakangan sama sekali tidak kami sesali. Lagi pula, kalau lapar masih bisa ditunda sebentar. Kesempatan bertemu gajah belum tentu datang dua kali di hari yang sama.

Musola


Keliling Way Kambas Naik Shuttle, Cara Menjelajahi Pusat Latihan Gajah

Pak Mad kemudian mengajak kami menuju area kendaraan wisata. Di sanalah beliau menjelaskan bahwa kendaraan pribadi tidak diperbolehkan masuk ke kawasan inti taman nasional. Semua pengunjung harus memarkir kendaraannya di area yang telah disediakan, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan wisata.

Awalnya saya hanya mengangguk mendengar penjelasan itu. Namun semakin dipikirkan, aturan tersebut memang masuk akal. Jalan di dalam kawasan menjadi lebih tertib, suara mesin kendaraan tidak saling bersahutan, dan suasana tetap tenang.

Bagaimanapun juga, kami sedang berkunjung ke rumah mereka. Rasanya kurang sopan kalau tamu datang membawa keramaian, lalu berharap tuan rumah tetap merasa nyaman.

Saat itu tersedia dua pilihan transportasi. Shuttle bus berkapasitas sekitar sepuluh penumpang dengan tarif Rp20.000 per orang, atau jeep adventure seharga Rp400.000 yang dapat dinaiki maksimal tiga orang.

Karena rombongan kami berjumlah delapan orang, shuttle jelas menjadi pilihan paling praktis. Lagi pula, perjalanan seperti ini memang lebih seru kalau bisa dinikmati bersama. Toh tidak setiap hari kami punya kesempatan duduk satu kendaraan sambil berharap ada gajah yang tiba-tiba muncul di balik pepohonan. 

Video naik shuttle keliling Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dapat ditonton pada Reels berikut ini:

Kendaraan yang kami gunakan ternyata bukan odong-odong seperti yang sering saya lihat di media sosial, melainkan mobil pickup yang telah dimodifikasi. Bagian belakangnya dipasangi bangku lengkap dengan atap, sehingga perjalanan tetap nyaman meski harus melewati jalan tanah dan padang rumput.

Begitu kendaraan mulai bergerak, angin langsung menerpa dari sisi kanan dan kiri yang terbuka. Sesekali roda menghantam jalan yang bergelombang hingga kami spontan berpegangan pada sandaran bangku. Tidak ada yang mengeluh. Justru guncangan kecil itulah yang membuat perjalanan terasa lebih nyata. Rasanya seperti diingatkan bahwa kami sedang melintasi kawasan konservasi, bukan jalan tol.

Pak Mad ikut duduk bersama kami. Kehadiran beliau membuat perjalanan ini terasa lebih dari sekadar berkeliling. Hampir setiap sudut kawasan memiliki cerita, dan hampir setiap cerita selalu berakhir pada nama seekor gajah atau pengalaman beliau selama menjadi mahout.

Sebelum kendaraan benar-benar melaju, saya memastikan empat sisir pisang yang kami beli dari ibu-ibu di dekat pintu masuk sudah ikut terbawa.

"Jangan sampai ketinggalan," celetuk salah seorang teman.

Kami pun tertawa.

Hari itu, empat sisir pisang yang kami bawa ternyata menjadi "tiket perkenalan" dengan para gajah. Murah juga, pikir saya. Tidak sampai seratus ribu rupiah, tapi bisa membuka percakapan dengan penghuni paling besar di Way Kambas.

Jalur shuttle bus di kandang gajah

Rezeki yang Datang dalam Bentuk Langit Cerah

Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri siang itu, jawabannya adalah cuaca.

Sepanjang perjalanan menuju Way Kambas, hujan nyaris tidak berhenti. Dari Gisting hingga memasuki Lampung Timur, langit terus diselimuti awan kelabu. Berkali-kali saya membayangkan bagaimana kalau nanti kami harus berkeliling di bawah hujan deras. Bukan tidak bisa, hanya saja suasananya tentu akan berbeda. Lagi pula, memotret gajah sambil sibuk menyelamatkan kamera dari hujan bukanlah kombinasi yang terlalu menyenangkan.

Namun, Allah rupanya menyiapkan kejutan yang jauh lebih indah.

Sesaat setelah kendaraan memasuki kawasan konservasi, langit perlahan mulai membuka. Matahari muncul tanpa terasa menyengat. Cahayanya memantul di dedaunan yang masih basah oleh hujan, membuat hijaunya pepohonan terlihat semakin hidup.

Kadang rezeki memang datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Cukup langit yang tiba-tiba cerah pada waktu yang tepat, lalu seluruh perjalanan terasa berbeda. 

Sesaat setelah memasuki kawasan PKG. Langit mulai membuka setelah hujan menemani perjalanan sejak pagi.

Saya sempat mendongak beberapa detik. Hujan yang sejak pagi menemani perjalanan rupanya berhenti tepat ketika shuttle mulai bergerak. Langit belum sepenuhnya cerah, tetapi itu sudah lebih dari cukup.

Shuttle terus melaju melewati padang rumput, kolam pemandian gajah, kandang gajah, rumah sakit gajah, hingga jalur yang menurut Pak Mad kerap dilintasi gajah liar. Delapan pasang mata di dalam kendaraan nyaris tidak berhenti melihat ke kanan dan kiri. Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, semuanya terasa baru. Saya sendiri justru menikmati melihat mereka sesekali menunjuk ke luar jendela, seolah takut ada satu pemandangan yang terlewat.

Semakin jauh shuttle melaju, semakin sedikit suara yang terdengar selain embusan angin dan sesekali kicau burung.

Tidak ada musik yang memekakkan telinga. Tidak ada deretan kios. Tidak ada keramaian yang biasanya identik dengan tempat wisata. Alam dibiarkan tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuat suasana Way Kambas selalu terasa berbeda.

Sudah masuk ke kawasan PLG. Foto ini diambil di sekitar kolam pemandian gajah yang berada di area kandang gajah. Cuaca benar-benar berubah. Hujan telah berhenti, langit biru mulai terbuka, dihiasi awan-awan putih.

Fitria, Gajah Pertama yang Menyambut Kami

Shuttle baru saja memasuki area kandang gajah ketika Pak Mad tiba-tiba menunjuk ke arah padang rumput.

"Itu dia..."

Delapan kepala di dalam kendaraan langsung menoleh ke arah yang sama.

Seekor gajah betina berjalan pelan mendekati shuttle. Langkahnya tenang, seolah sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini biasanya datang membawa sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar wisatawan.

"Namanya Yulia," kata Pak Mad.

Belum sampai kami mengingat nama itu, beliau langsung tersenyum lalu mengoreksi ucapannya.

"Eh, bukan. Fitria."

Kata Pak Mad, wajah Fitria dan Yulia memang mirip. Bahkan beliau yang sudah puluhan tahun menjadi mahout pun kadang masih tertukar menyebut namanya.

Saya jadi berpikir, ternyata bukan cuma manusia yang pernah salah menyebut nama. Bedanya, kalau kita salah memanggil teman biasanya cukup dibalas tatapan heran. Kalau salah memanggil gajah, untungnya mereka tidak ikut protes.

Saya tidak tahu apakah Fitria mengenali suara shuttle atau memang sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini sering membawa pengunjung yang ingin memberinya makan. Yang jelas, begitu jarak kami semakin dekat, belalainya mulai bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari aroma pisang.

Suasana di dalam shuttle langsung berubah riuh.

Enam dari delapan orang dalam rombongan kami baru pertama kali melihat gajah Sumatera dari jarak sedekat ini. Wajah mereka bergantian antara kagum, penasaran, dan sedikit gugup.

Awalnya hanya satu orang yang berani menyodorkan pisang. Setelah melihat semuanya aman, yang lain ikut mendekat. Dalam hitungan detik, semua ingin mendapat giliran.

Lucu juga melihat perubahan suasana di dalam shuttle. Orang-orang dewasa yang sejak tadi duduk tenang, mendadak sibuk menyodorkan pisang sambil berharap belalai Fitria lebih dulu menghampiri tangannya. 

Rasanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang berebut ingin mengelus kucing tetangga. Bedanya, yang berdiri di depan kami kali ini berbobot beberapa ton.

Selama berinteraksi dengan Fitria, kami tetap berada di dalam shuttle. Hanya Pak Mad yang turun untuk mengarahkan sekaligus mengawasi dari sisi belakang tubuh Fitria hingga belalainya dapat menjangkau tangan-tangan kami yang menyodorkan pisang.

Empat sisir pisang yang kami bawa perlahan mulai berkurang. Untungnya kami tidak langsung menghabiskannya untuk Fitria. Perjalanan masih berlanjut, dan Pak Mad sudah memberi isyarat bahwa kemungkinan masih ada gajah lain yang akan kami temui di sepanjang rute shuttle.


Di sela-sela suasana yang ramai itu, Pak Mad bercerita bahwa pisang yang dijual ibu-ibu di sekitar pintu masuk bukanlah pisang sembarangan. Para pedagang telah diberikan edukasi agar buah yang dijual untuk pakan gajah tidak dipercepat matang menggunakan karbit atau bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan satwa.

Saya senang mendengar penjelasan itu.

Informasi sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi menurut saya penting diketahui pengunjung. Kadang kita begitu bersemangat ingin memberi makan satwa, sampai lupa bahwa makanan yang kita berikan juga harus aman bagi mereka. 


Kalau suatu hari Way Kambas kembali dibuka untuk umum, saya tetap menyarankan membeli pisang dari warga sekitar. Selain membantu perekonomian masyarakat, kita juga ikut memastikan pakan yang diberikan kepada gajah memang sudah sesuai dengan arahan pengelola.

Melihat Fitria menikmati pisang-pisang itu, saya jadi berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana melihat makhluk lain merasa kenyang. 

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja

Shuttle kembali melaju. Setelah melewati kandang gajah, kawasan hutan, dan jalur yang menurut Pak Mad sering dilintasi gajah liar, kami sampai di depan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja.

Bangunan itu sudah tidak asing bagi saya. Pada kunjungan sebelumnya saya bahkan pernah masuk ke dalam area rumah sakit. Kali ini kami hanya melihat-lihat dari luar karena perjalanan masih harus dilanjutkan.

Sambil menunjuk ke arah bangunan, Pak Mad bercerita kalau beliau juga sering diperbantukan di rumah sakit tersebut, terutama saat ada gajah yang sedang sakit.

"Kalau ada yang sakit, ya ikut bantu di sana," kata beliau.

Meski berada di tengah kawasan hutan, rumah sakit gajah ini menjadi tempat penanganan gajah yang sakit sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan gajah-gajah di Way Kambas.

Beliau lalu bercerita bahwa kesehatan gajah dipantau secara berkala. Berat badannya ditimbang, kondisi fisiknya diperiksa, dan bila diperlukan akan menjalani penanganan lebih lanjut oleh dokter hewan.

Mendengar cerita itu saya kembali diingatkan bahwa menjadi mahout ternyata bukan hanya menemani gajah berjalan atau memberi makan. Ketika ada gajah yang sakit, mereka juga ikut mendampingi proses perawatannya.

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja memang menjadi pusat perawatan gajah Sumatera di Way Kambas. Selain menangani gajah yang sakit atau terluka, tempat ini juga digunakan untuk memantau kesehatan gajah-gajah yang berada di kawasan konservasi.

Kami tidak turun untuk berkeliling. Shuttle hanya berhenti sebentar sehingga kami melihat-lihat bangunannya dari luar, sempat berfoto beberapa menit, lalu perjalanan kembali dilanjutkan.

Sepanjang perjalanan itu masih banyak hal yang kami lewati. Ada bak mandi raksasa yang biasa digunakan gajah untuk mandi sekaligus tempat mereka minum. Kami juga melintasi jalur yang, menurut Pak Mad, kerap dilalui gajah liar ketika berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sesaat kemudian shuttle melaju pelan di atas sebuah jembatan sempit yang lebarnya nyaris pas dengan badan kendaraan. Di bawahnya mengalir sungai yang siang itu sedang mengering.

Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, hampir setiap sudut kawasan memancing rasa penasaran. Sementara Pak Mad tidak pernah kehabisan cerita. Mulai dari kebiasaan gajah, kehidupan para mahout, hingga bagaimana kawasan ini dikelola sebagai habitat sekaligus tempat konservasi gajah Sumatera. 

 
Mungkin inilah yang membedakan pengalaman berkeliling di Way Kambas dengan konsep wisata minat khusus. Yang dibawa pulang bukan hanya foto bersama gajah, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan cara pandang baru tentang kehidupan satwa yang selama ini hanya kami lihat dari kejauhan.  

Bertemu Gajah Verdy di Way Kambas, Si Gagah yang Murah Senyum

Perjalanan kami bersama shuttle akhirnya selesai. Namun, perjumpaan dengan gajah-gajah Way Kambas rupanya belum berakhir.

Selain Fitria, kami juga melihat beberapa gajah lainnya. Ada Roy, Mbah Kartijah yang merupakan neneknya si gajah "seleb" Nisa, serta beberapa gajah lain yang namanya tidak sempat disebutkan oleh Pak Mad. Siang itu kami juga bertemu Verdy dan Yulia. Keduanya berada di kandang yang letaknya tidak jauh dari area depan Pusat Latihan Gajah. 

Gajah Verdy

 
Kawasan ini memang menjadi pusat aktivitas wisata di Pusat Latihan Gajah. Di sekitarnya terdapat area kuliner, musala, toilet, visitor center, wisma tamu, hingga kolam alami tempat gajah dimandikan.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke area kandang, tetapi hanya sampai batas yang telah ditentukan. Selebihnya menjadi ruang bagi gajah dan para mahout. Menurut saya, aturan seperti ini memang sudah semestinya ada. Gajah tetap merasa nyaman di ruangnya, sementara pengunjung pun bisa berinteraksi dengan aman.

Di dalam kandang terdapat sebuah kolam berukuran cukup besar. Pada jam-jam tertentu, gajah akan dimandikan di sana. Momen inilah yang biasanya paling ditunggu pengunjung karena bisa melihat aktivitas gajah dari dekat, tentu saja dengan pendampingan para mahout.

Kalau membayangkan kandang gajah sebagai bangunan tertutup, saya juga sempat berpikir begitu dulu.

Padahal kandang di sini justru terbuka. Tanpa dinding. Tanpa atap. Lantainya hamparan rumput. Atapnya langit.

Yang menjadi penanda hanyalah patok-patok semen tempat rantai dipasang sebagai pengaman. Rantainya cukup panjang dan kendor sehingga gajah masih leluasa bergerak di sekitar kandangnya.

Hamparan padang rumput ini merupakan area kandang gajah di Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di latar belakang tampak patok-patok semen tempat rantai gajah dipasang. Pengunjung hanya diperbolehkan berada di area yang telah ditentukan, sementara bagian lainnya dibatasi.
 

Pak Mad kemudian bercerita tentang seekor gajah bernama Karmila yang terkenal suka "kabur". Bukan kabur jauh meninggalkan kawasan, melainkan sekadar melepaskan diri lalu berjalan-jalan di sekitar kandang. Yang lebih lucu lagi, kata Pak Mad, Karmila kadang mengajak gajah lain ikut kabur bersamanya.

Saya spontan tertawa membayangkannya.

"Nah, kalau yang ini Verdy," ujar Pak Mad.

Seekor gajah jantan berdiri tegap di hadapan kami. Salah seorang teman langsung berkomentar,

"Wah, ganteng juga ya."

Saya spontan tertawa.

Rasanya baru kali itu saya mendengar seseorang memuji ketampanan seekor gajah dengan begitu serius.

Mahout yang mendampingi Verdy ternyata tak kalah menghibur. Saat kami bertanya namanya, ia menjawab singkat,

"Michael."

Kami sempat saling berpandangan. Beberapa detik kemudian ia menambahkan sambil tertawa,

"Michael... Rohman."

"Ya biar keren," katanya lagi.

Obrolan sederhana itu langsung mencairkan suasana.

Selama berinteraksi dengan Gajah Verdy, kami didampingi oleh Mahout "Michael" Rahman. Interaksi kami sebatas menyapa dan memegang bagian belalai/gading/telinga saja (seizin mahout), tanpa berlama-lama. Pemberian makan pun di bawah pengawasan mahout. 

Saya memang suka momen-momen seperti ini. Rasanya perjalanan menjadi lebih hangat karena kami tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga mengenal orang-orang yang setiap hari hidup dan bekerja bersama mereka. 

Ternyata Setiap Gajah Punya Wajah Berbeda

Di sela-sela obrolan, saya mengaku kepada Pak Mad kalau saya masih kesulitan membedakan satu gajah dengan gajah lainnya.

Buat saya, semuanya sama-sama menggemaskan.

Pak Mad kemudian menjelaskan bagaimana para mahout mengenali masing-masing gajah. Bukan dari besar kecil tubuhnya, melainkan dari bentuk wajah, posisi mata, lekuk dahi, bentuk belalai, hingga proporsi gadingnya. Setelah puluhan tahun mendampingi mereka, para mahout bahkan bisa mengenali perubahan kecil hanya dari cara seekor gajah berjalan atau ekspresi wajahnya.

Mendengar penjelasan itu, saya jadi paham mengapa hubungan antara mahout dan gajah terasa begitu dekat.

Mereka bukan sekadar bekerja bersama. Mereka tumbuh bersama. Saling mengenal. Dan saling menjaga.

Gajah jantan mungkin lebih mudah untuk dibedakan jika dilihat dari bentuk gadingnya. Kalau muka, keliatannya sama semua 😂 [Dokumentasi pribadi 2016)
 

Pak Mad lalu bercerita bahwa di kawasan konservasi ini terdapat sekitar 30 gajah jinak yang dirawat, ditambah sekitar 34 gajah patroli yang membantu menjaga kawasan Taman Nasional Way Kambas. Masing-masing memiliki nama, karakter, dan kisah hidupnya sendiri.

Bayi-bayi gajah tentu lebih mudah dikenali. Misalnya Jeremy yang saat itu baru berusia sekitar satu bulan, atau Nisa yang belakangan lebih sering muncul di media sosial. Namun bagi para mahout, membedakan gajah dewasa juga bukan hal yang sulit. Mereka tidak hanya hafal namanya, tetapi juga mengenali sifat masing-masing.

Hal itu terasa ketika saya memperhatikan cara para mahout berkomunikasi dengan gajahnya. Mahout Rizal berbicara lebih lembut kepada Yulia yang saat itu sedang mengandung. Sementara Mahout Rohman terdengar lebih tegas saat memanggil Verdy. Cara mereka berbicara berbeda, seolah masing-masing sudah tahu bahasa yang paling dipahami oleh gajah yang setiap hari mereka dampingi.

Melihat itu, saya jadi mengerti mengapa Pak Mad sejak awal berkali-kali mengatakan bahwa setiap gajah memiliki karakter yang berbeda. Dari luar mungkin sama-sama tampak seperti gajah Sumatera. Namun bagi para mahout, mereka adalah individu-individu yang sudah sangat akrab, masing-masing dengan kebiasaan dan sifatnya sendiri.

Ada yang bisa membedakan dua gajah di foto ini? [Dokumentasi pribadi 2016)
 

Disemprot Gajah Yulia di Way Kambas, Momen Kocar-Kacir yang Selalu Saya Ingat

Kalau ada satu momen yang paling sering kami ceritakan sepulang dari Way Kambas, jawabannya pasti saat bertemu Gajah Yulia.

Saat itu kami berdiri di dekat Yulia sambil mendengarkan Mahout Rizal bercerita. Sesekali beliau mengajak Yulia berbicara dengan nada pelan. Yulia pun berdiri tenang, seolah benar-benar menyimak.

Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Sampai saya melihat Pak Mad dan Mahout Rizal saling bertukar pandang.

Lalu...

Byur!

Semburan air dari belalai Yulia meluncur tepat ke arah kami.


Suasana di dekat bak air yang tadi tenang seketika berubah ricuh. Ada yang refleks menunduk, ada yang berteriak sambil tertawa, ada pula yang sudah pasrah karena bajunya telanjur basah.

Saya sendiri tidak sempat menghindar. Begitu airnya mengenai badan, yang keluar malah tawa.

Rupanya sejak tadi Pak Mad dan Mahout Rizal sudah bersekongkol. Kami baru menyadarinya setelah semuanya berakhir.

Anehnya, tidak ada yang protes. Justru semburan air dari belalai Yulia itulah yang paling sering muncul setiap kali kami mengenang perjalanan ke Way Kambas.

Foto-foto memang memenuhi galeri ponsel. Namun, kalau ditanya kenangan yang paling melekat, bukan foto yang pertama kali muncul di kepala saya, melainkan suara, "Byur!"

Video disemprot Gajah Yulia dapat ditonton pada Short berikut: 

Sebelum meninggalkan kandang, saya melambaikan tangan ke arah Verdy dan Yulia sambil berkata, "Dadah..."

Entah karena kebetulan atau memang mengikuti arahan mahout, keduanya mengangkat belalai hampir bersamaan. 

Pemandangan sederhana itu terasa begitu hangat. Rasanya seperti benar-benar sedang berpamitan.

Beberapa bulan setelah perjalanan ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2025, saya membaca kabar bahwa Yulia telah melahirkan anak pertamanya, seekor gajah betina yang diberi nama Heti. Saya langsung teringat siang itu, ketika Yulia membuat kami semua basah kuyup sambil tertawa.

Selamat ya, Yulia.

Semoga Heti tumbuh sehat dan kelak menjadi bagian dari harapan baru bagi kelestarian gajah Sumatera di Way Kambas.

Gajah Yulia sedang mengandung anak pertama. Pada tahun 2025 usianya 12 tahun.

Peresmian nama Heti anak gajah Yulia dilaksanakan pada 9 Desember 2025. 

Nama Heti merupakan pemberian Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, SH., S.I.K., M.M. Video acara peresemian nama Gajah Heti dapat ditonton pada Reels @btn_waykambas berikut ini:


 

Visitor Center Way Kambas dan Kerangka Gajah yang Menyimpan Banyak Cerita

Begitu melangkah masuk ke Visitor Center, mata saya langsung tertuju ke sisi kiri ruangan.

Di sana berdiri sebuah kerangka gajah berukuran besar. Sulit untuk tidak memperhatikannya. Bahkan sebelum sempat melihat-lihat isi ruangan yang lain, Pak Mad sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.

"Nah, ini..." katanya sambil menunjuk kerangka tersebut.

Visitor Center menyimpan banyak cerita tentang Way Kambas. Di dalamnya terdapat panel informasi, foto dokumentasi, koleksi konservasi, hingga ruang audiovisual yang memperkenalkan gajah Sumatera, badak Sumatera, dan berbagai satwa liar lainnya.

Namun siang itu, perhatian kami sudah lebih dulu berhenti di depan kerangka gajah tersebut.

Pak Ahmad Sakhroni dan kerangka gajah dari gajah yang mati di usia 18 tahun

Pak Mad bercerita bahwa kerangka itu berasal dari seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit. Kini kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai media edukasi agar pengunjung dapat mengenal anatomi gajah sekaligus belajar lebih banyak tentang konservasi.

Lalu Pak Mad menambahkan satu cerita yang tidak saya duga.

Beliau ternyata menjadi salah satu orang yang ikut menyusun kerangka gajah itu hingga berdiri seperti sekarang.

Proses penyusunannya dikerjakan bersama Pak Nazzarudin, Catur Marsudi, Alfian Efendi, serta tiga orang yang didatangkan dari Bali, yaitu Pak Aan, Saiful, dan Ansori.

Saya mencoba membayangkan bagaimana tulang-tulang sebesar itu dipindahkan, disusun satu per satu, lalu dirangkai hingga akhirnya berdiri tegak di dalam ruangan ini. Rupanya, bahkan setelah seekor gajah mati, masih ada banyak tangan yang bekerja agar kisahnya tetap bisa diceritakan kepada para pengunjung.

Sejak mendengar cerita Pak Mad, kerangka tersebut tidak lagi terlihat seperti sekadar pajangan. Ia menjadi pengingat bahwa konservasi tidak selalu berlangsung di tengah hutan. Kadang, ia juga hadir dalam bentuk ruang belajar seperti Visitor Center ini.

Sebelum keluar ruangan, saya sempat menoleh sekali lagi ke arah kerangka itu.

Beberapa menit sebelumnya, yang saya lihat hanyalah susunan tulang seekor gajah.

Kini saya tahu, di baliknya ada cerita tentang seekor gajah, tentang orang-orang yang merangkainya, dan tentang upaya membuat kisah itu terus hidup bagi siapa pun yang datang berkunjung.

 

Makan Siang Sebelum Berpisah

Keluar dari Visitor Center, kami akhirnya menyerah pada rasa lapar yang sejak tadi ditunda. Area kuliner di depan Pusat Konservasi Gajah siang itu cukup ramai. Teman-teman langsung mencari tempat duduk. Ada yang memesan pecel lele, pecel ayam, mie ayam, lengkap dengan es kelapa muda untuk melepas dahaga setelah berkeliling sejak siang.

Lucu juga. Sejak tadi kami sibuk memperhatikan gajah makan pisang. Sekarang giliran kami yang sibuk menentukan mau makan apa.

Saya dan suami memilih duduk semeja dengan Pak Mad dan Mas Bio, sementara teman-teman yang lain mengobrol di meja sebelah. Topiknya ternyata belum berubah. Dari gajah, obrolan bergeser ke badak Sumatera ketika Mas Bio mulai bercerita tentang kesehariannya mendampingi satwa yang jauh lebih jarang ditemui pengunjung.

Saya lebih banyak mendengarkan. Sesekali ikut bertanya ketika ada bagian yang membuat penasaran. Makan siangnya sederhana. Justru cerita-cerita di meja itulah yang membuat kami betah berlama-lama sebelum akhirnya benar-benar berpamitan.

Pak Mad pelestari gajah dan putranya Mas Bio tim pelestari badak


Tak Terasa Waktu Terus Berjalan

Tak terasa waktu terus berjalan. Kami harus segera berpamitan karena perjalanan masih panjang. Tiket kapal menuju Bakauheni sudah dipesan dan kami tidak boleh terlambat. Setelah berfoto bersama, kami pun masuk ke mobil dan perlahan meninggalkan Way Kambas.

Di tengah perjalanan menuju Bakauheni, obrolan kami masih sesekali kembali ke Way Kambas. Kadang tentang Fitria, kadang mengingat semburan air Yulia yang membuat kami basah kuyup, lalu berpindah ke cerita-cerita Pak Mad yang sejak siang terus terngiang di kepala.

Di antara semua cerita itu, ada satu yang terus teringat: seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit, lalu kerangkanya kini berdiri di Visitor Center sebagai media edukasi. Rasanya aneh juga. Seekor gajah yang sudah tiada ternyata masih terus "bercerita" kepada orang-orang yang datang berkunjung.

Perjalanan hari itu memang dipenuhi pertemuan dengan Fitria, Verdy, Yulia, dan gajah-gajah lainnya. Namun, yang ikut pulang bersama kami bukan hanya foto-foto di ponsel, melainkan juga cerita-cerita dari para mahout dan orang-orang yang setiap hari menjaga satwa-satwa langka di Way Kambas. 

Gajah Yekti. Gajah rescue yang terperosok di lubang. Menurut kabar yang saya dapat pada 2025, anak gajah ini sudah lama tiada (mati). Dokumentasi 2018 ini jadi saksi bahwa yang pernah dijumpai, belum tentu dapat ditemui lagi.
 

Way Kambas Hari Ini

Kini, saat tulisan ini diterbitkan, Way Kambas mulai kembali menerima kunjungan wisatawan. Namun konsepnya berbeda. Kawasan ini dibuka secara terbatas sebagai wisata minat khusus yang lebih menekankan pengalaman konservasi dibanding wisata massal.

Membaca konsep tersebut, saya langsung teringat pada pengalaman beberapa tahun lalu ketika mengikuti kegiatan di Camp ERU Margahayu, sebuah camp yang menjadi basis Elephant Response Unit (ERU) di Taman Nasional Way Kambas.

Di sana saya tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga melihat bagaimana para mahout dan tim konservasi menjalani keseharian mereka: mendampingi gajah patroli, menjaga kawasan, hingga hidup berdampingan dengan satwa liar. Saya bahkan pernah ikut memandikan gajah dan menyusuri kawasan konservasi bersama mereka. Dua pengalaman itu saya tulis lebih lengkap dalam artikel berikut.

- Lipur Hati di Lampung Timur
- Memandikan Gajah di Camp Eru Margahayu

Pengalaman itulah yang membuat saya tertarik dengan arah baru wisata Way Kambas. Bukan semata karena ingin melihat satwa, melainkan karena ingin mengenal kawasan konservasi ini lebih dekat melalui orang-orang yang menjaganya dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

 

Selama ini, kalau ingin mengikuti cerita-cerita dari Way Kambas, saya biasanya mampir ke akun Instagram @btn_waykambas

Dari sanalah saya mengenal lebih banyak penghuni taman nasional ini. Bukan hanya gajah-gajah Sumatera, tetapi juga Badak Mirah, Delilah, Andatu, serta satwa liar lain yang memang jarang dijumpai pengunjung.

Tidak semua orang punya kesempatan sering datang ke Way Kambas. Untungnya, cerita dari kawasan ini tidak berhenti ketika kita pulang. Lewat akun-akun resmi seperti itu, kita tetap bisa mengikuti keseharian para satwa, belajar tentang konservasi, dan melihat banyak hal yang mungkin luput saat berkunjung langsung.

Barangkali itulah yang membuat saya belum pernah benar-benar selesai mengenal Way Kambas. Setiap kali satu cerita berakhir, selalu ada cerita lain yang membuat saya ingin kembali.

Di akhir tulisan ini, saya bagikan video kegiatan wisata minat khusus di Way Kambas saat ini. Semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang bagaimana wisata dan konservasi berjalan berdampingan di sana.

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat, menginspirasi, dan sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya.