Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Tiba-Tiba ke Tanggamus, Lampung, Kondangan dan Jalan-Jalan di Musim Hujan

 
Tiba-Tiba ke Tanggamus...

Saya kadang curiga pada perjalanan yang tidak direncanakan. Biasanya, yang tidak direncanakan itu entah berujung pada kisah paling berkesan, atau paling melelahkan. Tidak jarang juga dua-duanya sekaligus. 

Maka ketika suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Lampung, ya. Ada undangan nikah,” saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena otak saya sedang menghitung: Lampung itu jauh, Tanggamus itu lebih jauh lagi, dan saya ini manusia yang kalau sudah nyaman di rumah, bisa tiba-tiba merasa semua tempat di luar sana terlalu ambisius. Namun hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menyeret saya ke petualangan.

September 2025 menjadi momen kembalinya saya ke Tanggamus, Lampung, untuk kedua kalinya. Sepuluh tahun setelah kunjungan pertama pada 2015. 

Kalau setiap detik dalam satu dekade itu bisa dikonversi menjadi uang seratus ribu rupiah, mungkin saya sudah bisa membangun monumen peringatan: “Di sini berdiri seseorang yang akhirnya kembali ke Tanggamus setelah sepuluh tahun, tanpa jadi triliuner.” Sayangnya tidak. Yang ada hanya saya, sebuah tas kecil, dan satu rombongan manusia kantor yang setengah mengantuk.

Jejak pertama ke Tanggamus saat mengikuti D’Semaka Tour 2015, Alfatihah untuk alm. Elvan (berdiri paling tengah di belakang spanduk, bersyal oranye, memakai topi), staf Dispar Tanggamus yang mengundang para blogger ke Festival Teluk Semaka 2015. 

Undangan Nikah, Alasan Resmi Menjadi Turis Dadakan

Perjalanan ini bukan agenda pribadi saya, melainkan agenda sosial suami. Suami punya satu prinsip hidup yang konsisten: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun lokasinya, ia ingin datang langsung. Katanya, doa dan kehadiran itu terasa berbeda dibanding sekadar transfer dan ucapan di grup WhatsApp. 

Saya tidak membantah. Saya hanya menambahkan dalam hati, semoga suatu hari ada yang menikah di Kanada atau Spanyol. Bukan apa-apa, saya ingin ikut suami menunaikan tugas sosial sambil jalan-jalan.

Dulu kami pernah kondangan ke Purwokerto dan Cilegon, dan waktu itu hanya kami sekeluarga: saya, suami, dan anak-anak. Kali ini berbeda. Rombongan. Satu mobil penuh. Semuanya anak muda, masih single, dan saya otomatis naik pangkat menjadi ibu yang ikut nyempil di antara anak-anak kantor.

Anehnya, saya tidak canggung. Mungkin karena usia akhirnya mengajarkan satu hal penting: tidak semua perbedaan generasi harus jadi tembok. Sebagian bisa jadi jembatan. Sebagian lagi cukup jadi bahan bercanda.

Bonusnya, saya pernah ke Tanggamus. Artinya, saya punya satu modal sosial yang cukup bergengsi: “Saya tahu dikit tempat di sana.” Dikit, tapi cukup untuk sok jadi tour guide. Saya bahagia. Akhirnya ada fungsi nyata dari memori sepuluh tahun lalu.

Rombongan yang berangkat. 1 mobil 8 orang, termasuk saya yang tidak in frame karena bagian yang pegang kamera 😂

Berangkat Malam Demi Sampai Pagi

Kami berangkat Sabtu dini hari, 20 September 2025. Teman-teman suami berkumpul di kantor lalu menjemput kami di BSD, dan dari situ langsung menuju Merak. Delapan orang ikut dalam perjalanan ini. Dua laki-laki duduk di depan, bergantian menyetir. Enam perempuan mengisi baris tengah dan belakang.

Barang bawaan minimalis, masing-masing satu tas pakaian untuk dua kali ganti. Rencana perjalanan pun sederhana: pergi Sabtu dini hari, pulang Minggu malam.

Saya lupa jam berapa tepatnya tiba di Pelabuhan Merak karena tidak sempat memotret apa pun sebagai penanda waktu. Foto pertama saya justru diambil saat sudah berada di kabin penumpang dek paling atas kapal, pukul 03.30 WIB. Teman-teman suami sudah dalam posisi paling nyaman versi masing-masing, lengkap dengan berbagai camilan di atas meja. 

 
Saya dan suami memilih bangku rebah seperti kursi santai di pinggir kolam. Kabin ini bersih, sofanya empuk, indoor, ber-AC, dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap laut. 

Toiletnya juga bersih dan kering. Mushola berada di dek bawah turun satu kali, lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Hal-hal kecil seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di sanalah rasa syukur sering bersembunyi.

Selama penyeberangan, saya dan suami sempat tidur, lalu terbangun sekitar pukul lima untuk salat subuh. Tidak ada matahari terbit karena langit mendung. September memang sedang rajin hujan. Dan entah kenapa, semuanya terasa cocok.

 
Menuju Gisting, Perut Ikut Berdebat

Kami keluar kapal sekitar pukul 05.32 WIB. Saya sempat nyeletuk soal sarapan, tetapi tidak ada yang merespons. Bukan karena jahat, lebih karena semua masih hidup setengah sadar.

Mobil langsung melaju meninggalkan pelabuhan, masuk tol, dan mengikuti arahan Google Maps menuju Tanggamus.

Saya mulai membuka peta, mencari kemungkinan tempat makan, bahkan sempat bertanya ke Mbak Alya soal rekomendasi di Bandar Lampung. Sayangnya, semangat saya tidak menular. Mobil tetap melaju lurus.

Di titik ini, saya mulai bernegosiasi dengan lambung sendiri. Sebagai pemilik maag setia, saya tahu betul tanda-tandanya.

Saya lalu menghubungi Hotel 21 Gisting. Mbak Afi memberi kabar baik: tidak ada kafe pagi, tetapi ada warung makan dekat hotel yang buka 24 jam, namanya RM Kartini. Saya langsung merasa seperti baru dikirimi oksigen.

Kami tiba di Gisting sekitar pukul sembilan pagi. Di titik itu saya sadar, perjalanan ini bukan tentang kembali setelah sekian lama, melainkan tentang diberi kesempatan untuk kembali. Dengan cara yang sederhana. Tanpa pesta. Tanpa rencana besar. Hanya dengan undangan nikah dan satu rombongan ngantuk. 

 
Sop Ayam Kampung yang Menyelamatkan Pagi

RM Kartini berada di pinggir jalan raya Gisting, dekat pertigaan menuju Hotel 21. Di bagian depan warung tertulis besar RM Kartini, lengkap dengan tulisan Terima Catering dan Sedia Paket Nasi Rp15.000. Entah kenapa, tulisan sederhana seperti itu selalu terasa jujur. Tidak banyak basa-basi. Tidak mencoba terlihat mewah. Hanya memberi tahu apa adanya.

Menu andalannya sop daging sapi dan sop ayam kampung. Tanpa banyak diskusi, semua kompak memesan sop ayam kampung, dengan tambahan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat. Di titik ini, demokrasi benar-benar berjalan mulus.

Sop ayam kampungnya bukan sop yang cuma panas. Kuahnya gurih, rasanya sedap, dan ayamnya empuk. Jenis sop yang membuat orang mengangguk pelan sambil berpikir, “Oh, ini serius enak.” Saya benar-benar bahagia. Dan ya, kebahagiaan saya pagi itu bentuknya sangat sederhana.

Saya dan suami makan sekitar tujuh puluh ribuan. Perut kenyang, hati senang. Dan saya pun paham, mungkin hikmah tidak jadi sarapan di pelabuhan, juga tidak jadi mampir ke tempat-tempat yang direferensikan oleh Mbak Alya, adalah agar saya bisa bertemu sop ayam kampung ini. Hidup memang suka bercanda. Kadang juga cukup tahu diri.

 


Hotel 21 Gisting, Si Aman di Antara Review Aneh

Hotel tempat kami menginap saya temukan lewat pencarian Google. Jujur saja, proses memilih hotel di daerah yang tidak terlalu sering saya kunjungi rasanya seperti main tebak-tebakan nasib. 

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang bikin dahi otomatis berkerut. Mulai dari cerita penipuan, staf yang kasar, kesan angker, sampai kamar yang digambarkan seperti gudang. Bukan tipe pengalaman yang ingin saya bawa pulang dari perjalanan singkat ini. 

Kamar type deluxe di lantai 2 yang saya tempati bersama suami

Di tengah lautan review yang meresahkan itu, hanya satu hotel yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. 

Saya lalu mengonfirmasi ke Mbak Alya, teman saya yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. Ternyata beliau sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu menjadikannya pilihan saat ada tugas di Gisting. Dari situ, keraguan saya langsung luruh.

Yang bikin saya makin mantap, respons dari pihak hotel cepat dan jelas. Setiap pertanyaan dijawab dengan lancar, komunikasinya enak, dan tidak ribet.

Saya lalu menyampaikan info hotel ini ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh pihak kantor. Seluruh biaya perjalanan, terutama transportasi dan penginapan, memang ditanggung kantor. Kami hanya mengeluarkan uang untuk makan masing-masing. Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai keperluan selama menginap.

Kamar type Standar di lantai 2 

Hotel 21 Gisting ternyata cukup besar, berlantai tiga, meski belum dilengkapi lift. Kami mendapatkan kamar di lantai dua, masih dalam batas toleransi napas. 

Stafnya ramah dan membantu, terutama Mbak Afi yang sejak awal komunikasinya terasa hangat. Tidak diminta DP, cukup bayar saat tiba. Bahkan beliau juga yang merekomendasikan RM Kartini sebagai tempat sarapan, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Kamar yang saya tempati bersih dan nyaman. Ada AC, water heater, dan balkon kecil. Saat cuaca cerah, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar. Hotel ini bukan tipe hotel mewah ala kota besar, tetapi suasananya tenang dan membuat betah. Detail lengkap tentang Hotel 21 Gisting akan saya tulis di postingan terpisah, karena rasanya layak mendapat ruang cerita sendiri.

View Gunung Tanggamus dari balkon kamar

Kondangan di Tengah Hujan dan Sambutan Hangat

Setelah sarapan dan check-in, kami langsung bersiap menuju lokasi kondangan. Mandi, berganti pakaian, lalu berangkat. Jarak dari hotel ke tempat acara tidak terlalu jauh, berada di kawasan Gisting Permai, sehingga perjalanan terasa singkat. 

Perjalanan ke lokasi kondangan ini akan melewati objek wisata air terjun Way Lalaan. Salah satu objek wisata yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Ceritanya dapat dibaca di sini: Air Terjun Way Lalaan Tanggamus.

Cuaca masih hujan gerimis. Sejak keluar hotel, selama di lokasi acara, sampai nanti pulang kembali, hujan seolah setia menemani. Udara pegunungan yang memang sudah dingin bertemu dengan air hujan, membuat suhu terasa semakin menusuk. Namun dingin itu langsung terkalahkan begitu kami tiba di tempat hajatan.

Sambutan ramah, senyum yang tulus, dan sapa yang sopan dari tuan rumah membuat hati terasa hangat. Anggota tim suami yang menikah adalah pihak laki-laki, sementara acara berlangsung di tempat keluarga mempelai perempuan. 

Pengantin pria tampak terkejut melihat kami datang berombongan dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi bahagianya terlihat jelas, dan kami dipersilakan duduk di area tamu khusus.

Keluarga pihak perempuan menyuguhkan berbagai hidangan khas Lampung. Meja penuh dengan makanan dan minuman, dan kami diminta mencicipinya. Tak ketinggalan kopi asli Lampung yang dibuat secara tradisional, jadi suguhan paling nikmat di meja tamu kondangan. 

Di sesi hiburan, beberapa teman suami naik ke panggung untuk bernyanyi, menambah suasana meriah dan memberi suka cita bagi kedua mempelai.

Bagi saya, momen ini terasa istimewa. Bisa ikut suami mendoakan langsung pengantin, menyaksikan resepsi pernikahan adat Lampung, sekaligus mencicipi makanan khasnya. 

Di akhir acara, suami dan teman-temannya mengajak pengantin berfoto. Saya ikut berdiri di sana, ikut mengabadikan jejak kecil dari perjalanan ini.

Saat kami pamit, hujan masih turun. Kami bergegas kembali ke mobil, lalu menuju hotel untuk beristirahat. Rencana selanjutnya, sore hari kami akan keluar lagi. Kali ini, bergeser dari suasana hajatan ke suasana laut.

Happy wedding Mas F.

Mengejar Senja di Pelabuhan Ikan Kota Agung

Sore itu teman-teman suami ngajak ke pantai, siapa tahu bisa melihat sunset. Saya langsung curiga. Bukan karena tidak percaya pada konsep senja, tapi karena hujan sejak siang seperti sudah menandatangani kontrak kerja lembur sampai malam. 

Namun manusia, seperti biasa, tetap memelihara harapan, walau tahu harapan itu sering kali hobi menghilang tanpa pamit. Maka ajakan jalan ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung itu saya iyakan, meski dengan penuh optimisme palsu. Bukan soal sunset. Lebih ke soal: daripada terdampar di kamar hotel sambil menatap tembok, lebih baik keluar badan sedikit sambil menatap laut.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Suami memilih tinggal. Bukan karena tidak cinta pantai, melainkan karena cinta yang lebih besar kepada internet stabil. Ada meeting online dengan pak direktur utama, dan di zaman modern ini, hubungan manusia dengan sinyal lebih sakral daripada hubungan jarak jauh. Kamar hotel menyediakan kenyamanan: meja, colokan, WiFi kencang, dan suasana minim drama. 

Sementara saya memilih drama versi jalanan. Maka kami bertujuh berangkat pukul empat sore, di bawah gerimis yang tampak tidak punya niat berhenti.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Perjalanan dari Hotel 21 Gisting ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung sekitar dua puluh tiga kilometer. Kedengarannya sebentar, sampai Anda benar-benar melaluinya. 

Jalanan menanjak, menurun, berkelok, licin, dan dihiasi desa-desa sunyi yang membuat jam biologis merasa sudah magrib sejak sore. Rasanya seperti sedang menyusuri lereng gunung menuju dunia paralel. 

Sesekali papasan dengan motor, mobil, atau truk, dan setiap papasan terasa seperti pengingat lembut dari semesta: “Pelan-pelan saja, hidup ini tidak perlu diburu-buru, kecuali kalau mau celaka.”

Pelabuhan Ikan Kota Agung - November 2015. Dalam jepretan saya : Alm. Mas Elvan. Alfatihah buat beliau.

 
Di tengah perjalanan itu, ingatan saya mendadak meloncat sepuluh tahun ke belakang. Suatu pagi di tempat yang sama, bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Banu, Mas Ito, dan Agung. 

Pelabuhan yang ramai, ikan-ikan segar menumpuk ratusan kilogram, orang-orang datang dan pergi dengan mata berbinar, aroma amis menguasai udara seperti parfum resmi kawasan pesisir. Dulu, pelabuhan ini terasa hidup, bising, dan penuh energi. 

Sekarang, saya datang sebagai versi diri yang lebih tua, lebih sering pegal, dan lebih gampang terharu oleh hal-hal sepele.

Seperti inilah suasana pagi di Pelabuhan Ikan Kota Agung yang saya jepret pada 21 November 2015
 

UPTD Pelabuhan Perikanan Kota Agung, yang berada di Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah pusat kegiatan perikanan utama di kawasan Teluk Semaka. 

Di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, tempat ini melayani tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan, hingga operasional Tempat Pelelangan Ikan Higienis. 

Informasi ini terdengar sangat resmi, seperti brosur pemerintah. Realitanya, bagi saya sore itu, pelabuhan adalah ruang pertemuan antara laut, manusia, dan harapan yang kadang terlalu tinggi, seperti mimpi melihat sunset di musim hujan.

Kunjungan pertama saya ke pelabuhan ini pada tahun 2015 dapat dibaca di sini: Melihat Lelang Ikan di Pelabuhan Kota Agung

Dulu pas ke sini pagi, dapat sunrise. Kali ini ke sini sore, gak dapat sunset.
 

Kami berjalan di jembatan dermaga, menatap perahu-perahu yang diam, juga nelayan yang sibuk bersiap ke laut. Anak-anak kecil berenang di sekitar dermaga, menunggu koin dilempar seperti sedang bermain undian nasib. 

Saya berdiri, memotret, sambil berpikir betapa sejak dulu sampai sekarang, manusia tetap saja sama: berharap pada lemparan kecil yang mungkin mengubah sore mereka. 

Kami foto-foto, lalu jajan di deretan pedagang pinggir pantai. Dimsum, sate bakso, mochi, dan entah apa lagi, karena perut lebih demokratis daripada pikiran. Semua diterima.

Suasana pinggir pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung, Sabtu 20 September 2025

 
Langit sempat memberi sedikit cahaya, seperti teaser film yang ternyata tidak jadi tayang. Sebentar terang, lalu redup lagi. Sunset resmi absen tanpa pemberitahuan. Tidak ada pengumuman, tidak ada permintaan maaf. Hanya langit kelabu yang konsisten dengan pendiriannya. 

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Itu semacam kode halus dari alam semesta bahwa acara mengejar senja sudah selesai, saatnya pulang.

Kami kembali menembus hujan dan jalanan licin. Kali ini terasa lebih horor, mungkin karena gelap, mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan bahwa manusia memang suka menantang logika demi sebuah “jalan-jalan sore”. Tujuan kami bukan hotel, melainkan Mauna Café. Tempat untuk salat, makan malam, dan menenangkan diri seolah perjalanan barusan adalah hal yang sepenuhnya normal.

Di perjalanan pulang, saya merenung. Kami tidak mendapat sunset. Tidak ada panorama dramatis untuk dipamerkan. Tidak ada langit jingga untuk dijadikan latar foto profil. Yang ada hanya hujan, jalan berkelok, jajanan pinggir pantai, bayang hitam puncak Gunung Tanggamus yang tampak mistis, dan tawa kecil di antara lelah. Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia jarang memberi apa yang kita kejar, tapi sering memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita bepergian untuk mengoleksi pemandangan, atau untuk mengoleksi versi-versi kecil dari diri kita yang terus berubah di sepanjang jalan?

Makan Malam di Mauna Café Gisting

Jalan bareng anak-anak muda itu ada efek sampingnya. Bukan bikin kulit ikut kencang, tapi bikin jiwa sok merasa kencang. Sebagai yang paling senior sekaligus berstatus “ibunya rombongan”, saya memilih strategi aman: ikut saja ke mana mereka mau pergi. 

Termasuk ketika urusan makan malam dan mereka menemukan satu nama: Mauna Café. Saya oke saja. Selera makan mereka biasanya tidak ribet dan, jujur saja, saya terlalu lelah untuk debat soal tempat makan. 

 
Mencari Mauna Café ternyata juga semacam ujian iman kecil. Google Maps mengajak masuk ke kawasan perumahan, belok-belok, lalu muncul rasa ragu khas manusia modern: ini beneran atau sedang dibawa ke jalan buntu kehidupan. Ternyata benar sampai. 

Dan lebih mengejutkan lagi, di tengah perumahan ada kafe yang cukup layak disebut “niat”. Ada area terbuka di tengah, panggung live music, kolam, taman, musala, sampai parkiran. Rasanya seperti menemukan oase kecil yang nyasar ke lingkungan warga.

Menu makanannya variatif. Dari yang kekinian ala barat sampai menu tradisional Indonesia. Saya sendiri sempat blank soal detailnya, sampai akhirnya harus membuka Instagram mereka, @mauna_goodplace, demi mengingat ulang. Dan oh iya, malam itu saya makan ngaliwet. Hangat, sederhana, dan entah kenapa terasa pas setelah seharian pindah lokasi seperti pion catur. Kami salat magrib di sini, menikmati live music yang mengiringi udara malam yang dingin. Lalu saya teringat satu hal penting: suami di hotel.

Demi cinta dan tanggung jawab domestik, saya pun mengingatkan teman-teman suami agar tidak terlalu lama nongkrong. Alasannya mulia: paksu bisa kelaparan. Mereka paham. Kami bergegas pulang, tentu saja dengan ritual wajib mampir minimarket untuk beli camilan. Karena dalam hidup, snack adalah bentuk asuransi kebahagiaan.

Sampai hotel, suami sudah menunggu dengan ekspresi lapar yang masih bisa ditoleransi, berkat stok snack di kamar. Makanan dari Mauna Café pun langsung mendarat dengan selamat. 

Malam ditutup dengan obrolan ringan di chat WA dan konfirmasi sarapan besok pagi. Ternyata bisa diantar ke kamar. Tinggal pilih nasi uduk, nasi kuning, mi goreng, atau nasi goreng. Minumnya teh atau kopi. Dan ya, kopi Lampungnya enak. Ini penting untuk dicatat, demi keadilan rasa. 

Anak-anak cantik dan ganteng

Ibu kucing cantik yang sedang hamil yang menemani selama makan di Mauna Cafe
 
Cerita perjalanan hari pertama di Lampung selesai sampai di sini.

Saya mencoba mengingat ulang hari itu. Sabtu, 20 September 2025. Sejak tengah malam berangkat dari BSD, menyeberang dari Merak ke Bakauheni, pagi tiba di Lampung, lanjut ke Tanggamus, kondangan, istirahat, sore ke Pelabuhan Ikan Kota Agung, malam di Mauna Café, lalu tidur di hotel yang nyaman walau tidak mewah. Padat, melelahkan, tapi entah kenapa terasa cukup.

Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia tidak selalu memberi apa yang kita rencanakan, tapi sering menghadirkan apa yang diam-diam kita butuhkan.

Minggu pagi, 21 Sept 2025. Siap untuk perjalanan ke TN. Way Kambas di Lampung Timur
 
Besoknya, Minggu 21 September, kami bersiap menuju Way Kambas, Lampung Timur, untuk melihat gajah. Cerita itu akan saya simpan di tulisan lain. 

Untuk sekarang, saya cuma ingin bertanya pelan pada diri sendiri, dan mungkin juga pada kamu yang membaca: sebenarnya, dalam perjalanan seperti ini, yang paling kita cari itu tempat baru, atau versi baru dari diri kita sendiri? 

Terima kasih mas suami dan teman-teman muda yang telah membawa serta saya dalam perjalanan ini. Senang bepergian bersama kalian 💖

Lebih dari 215 Mitra Berkumpul di APAC Summit 2026, Begini Arah Strategi ASUS ke Depan

Awal Februari 2026 menjadi momen penting bagi ASUS di kawasan Asia Pasifik. Bertempat di Sydney, ASUS sukses menggelar Consumer Business Asia Pacific Partner Summit 2026 dengan tema besar EVOLVE. Sebuah tema yang terasa pas, mengingat industri teknologi terus bergerak cepat dan menuntut semua pihak untuk ikut bertumbuh.

Lebih dari 215 mitra premium dan mitra ekosistem utama hadir dalam ajang ini. Termasuk di dalamnya Intel dan Microsoft. Tidak sekadar ajang temu kangen, summit ini menjadi ruang strategis untuk membahas arah pertumbuhan ASUS di tahun 2026 sekaligus memperkuat posisi kepemimpinan teknologi di kawasan.

Dalam forum ini, ASUS juga memaparkan visi serta prioritas strategis mereka. Salah satu target besar yang disampaikan adalah pencapaian 30 persen pangsa pasar Consumer Notebook. Target tersebut didukung oleh percepatan inovasi, fokus pada portofolio produk, serta eksekusi strategi go to market yang semakin terintegrasi di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Memperdalam Kolaborasi

Peter Chang, General Manager APAC Consumer Business ASUS, menegaskan bahwa tema EVOLVE merepresentasikan langkah ASUS untuk membangun kolaborasi yang semakin erat dengan para mitra.

Menurutnya, di tengah dinamika dan tantangan pasar saat ini, ASUS bersama mitra berkomitmen menyelaraskan transformasi digital dengan strategi omnichannel yang kuat. Pendekatan ini diyakini mampu membantu ASUS merespons perubahan pasar secara lebih proaktif, sekaligus menciptakan ekosistem yang memungkinkan inovasi benar benar memberikan nilai nyata bagi pelanggan dan mendukung ketahanan bisnis jangka panjang.

Dari sini terlihat jelas bahwa ASUS tidak hanya fokus pada pengembangan produk, tetapi juga pada bagaimana ekosistemnya tumbuh bersama.

Fokus Strategis: Omnichannel, AI, dan Ketahanan Pasar

Melalui APAC Summit 2026, ASUS menggarisbawahi peta jalan strategisnya untuk menghadapi lanskap pasar tahun 2026, yang mencakup:

  • Excellence: ASUS membagikan praktik terbaik dalam mengintegrasikan kanal online dan offline secara mulus untuk meningkatkan pengalaman pelanggan serta memperkuat keterlibatan dan loyalitas terhadap merek.
  • Transformasi Digital: ASUS menegaskan komitmennya dalam membekali mitra dengan tools dan sumber daya terkini guna mendorong fleksibilitas, efisiensi, dan inovasi di tengah pasar yang terus berkembang.
  • AI untuk Pengalaman Pengguna: AI semakin mengubah cara bekerja, belajar, dan beraktivitas. Meski adopsi AI PC masih berada pada tahap awal, ASUS menekankan bahwa nilai AI tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada pengalaman yang intuitif dan relevan bagi pengguna. Pendekatan berpusat pada pengguna menjadi kunci agar inovasi AI memberikan manfaat nyata.
  • Mitigasi Tantangan Pasar: Menyikapi potensi tantangan tahun 2026, seperti kenaikan harga dan keterbatasan pasokan, ASUS akan berkolaborasi dengan mitra untuk menghadirkan solusi yang adaptif di berbagai segmen dan rentang harga.
  • Strategi Produk: ASUS memperkenalkan strategi merek dan produk yang lebih terfokus untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Portofolio Lifestyle—Zenbook, ProArt, dan Vivobook S—ditegaskan sebagai pendorong pertumbuhan utama, bersama lini gaming ROG Zephyrus, Strix Scar, dan TUF.

ASUS juga memaparkan arah pengembangan AI PC, termasuk peta jalan hybrid AI serta pengembangan pengalaman asisten virtual yang lebih intuitif. Semua ini menjadi bagian dari komitmen ASUS untuk menghadirkan nilai tambah, baik bagi mitra maupun konsumen.

Komitmen Berkelanjutan

Lewat APAC Partner Summit 2026, ASUS kembali menegaskan bahwa kemitraan bukan sekadar hubungan bisnis, tetapi kolaborasi jangka panjang yang saling menguatkan.

Ke depan, ASUS akan terus bekerja bersama para mitra untuk menghadirkan inovasi bernilai tinggi dan mendorong kemajuan teknologi di Asia Pasifik. Pada saat yang sama, ASUS juga semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pemimpin di pasar laptop konsumen dan gamiAAng di kawasan.

Bagi saya pribadi, menarik melihat bagaimana ASUS tidak hanya berbicara soal produk, tetapi juga tentang membangun ekosistem yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Sebuah langkah evolusi yang terasa nyata, sesuai dengan tema besar yang mereka usung tahun ini.AC

Zenbook AI Terbaru dari ASUS Sudah Bisa Pre-order. Bonus Eksklusif Menanti Pembeli Tercepat!

Laptop AI Terbaru dari Lini ASUS Zenbook Telah Hadir. Pre-order Next-Gen AI Zenbook Resmi Dibuka, Dapatkan Bonus Eksklusif!

Ada masa ketika teknologi itu berisik. Terlalu banyak gimmick, terlalu banyak jargon, terlalu banyak yang berusaha terlihat pintar.

Tapi sekarang, rasanya tren mulai balik arah.

Teknologi yang benar-benar matang justru hadir diam-diam, nggak heboh, tapi efeknya terasa. Seperti “asisten” yang tidak kelihatan tapi tiba-tiba kerjaan lebih cepat selesai, editing lebih mulus, meeting online lebih nyaman, dan kita nggak lagi panik cari colokan.

Nah, vibe ini yang saya tangkap dari peluncuran lini Zenbook terbaru dari ASUS.

 
Pada 22 Januari 2026, ASUS resmi mengumumkan Next-Gen AI Zenbook yang sudah bisa di-pre-order di Indonesia. Dan ini bukan sekadar laptop baru, melainkan semacam loncatan ke era laptop yang makin mengandalkan AI untuk membantu aktivitas harian.

ASUS sendiri menyebut mereka sebagai the first AI mover, dan kalau ngikutin langkah ASUS dari beberapa tahun terakhir, memang mereka termasuk yang paling niat mendorong tren laptop AI ke pasar.

Yang bikin saya pribadi tertarik adalah: Zenbook terbaru ini hadir dengan NPU hingga 50 TOPS. Buat yang belum familiar, gampangnya begini: 

NPU itu “otak khusus” yang menangani AI. Jadi kerja-kerja AI nggak harus diseret ke CPU atau GPU terus, tapi punya jalur sendiri. Dampaknya? Lebih cepat, lebih efisien, dan lebih hemat daya.

Dan di seri Zenbook terbaru ini, AI bukan cuma buat gaya, tapi benar-benar jadi bagian dari pengalaman memakai laptop.

Dua Zenbook AI terbaru yang diluncurkan ASUS

ASUS memperkenalkan dua bintang utamanya:

  1. Zenbook S16 OLED: laptop tipis bertenaga AI dengan pengalaman audio visual yang imersif
  2. Zenbook 14 OLED: laptop AI ringan dengan baterai yang awet seharian

Dua-duanya sama-sama mengusung kekuatan AI hingga 50 TOPS, tapi pendekatannya beda. Yang satu memanjakan layar besar dan audio imersif, yang satu fokus pada mobilitas dan baterai yang tahan lama.

Saya bahas satu-satu ya.



Zenbook S16 OLED (UM5606GA): tipis, premium, dan dibuat untuk pengalaman yang imersif

Saya sering bilang ke teman-teman: yang bikin laptop 16 inci itu menyenangkan bukan cuma layarnya besar, tapi ruang kerja yang lega. Enak buat multitasking, enak buat editing, enak buat buka banyak jendela tanpa harus bolak-balik.

Masalahnya, laptop 16 inci sering identik dengan “besar dan berat”.

Tapi Zenbook S16 OLED ini seperti sengaja datang untuk membantah hal itu.

Laptop ini punya ketebalan hanya 1,1 cm dan bobot 1,5 kg. Iya, 16 inci tapi masih sangat mungkin diajak mobile.

Yang bikin tambah menarik, ASUS membungkusnya dengan material bernama Ceraluminum™. Ini adalah perpaduan keramik dan aluminium. Jadi kesannya bukan cuma premium, tapi juga lebih tangguh. Buat yang aktivitasnya sering berpindah tempat (cafe, coworking, liputan event, kerja sambil traveling), desain begini tuh terasa “nggak was-was”.

Layar OLED 3K touchscreen + audio 6 speaker

Zenbook S16 OLED bukan laptop yang “cuma bagus speknya”. Laptop ini dibuat supaya pengalaman mata dan telinga juga dimanjakan.

  • Layar 16 inci 3K OLED touchscreen
  • Ditopang teknologi OLED terbaru ASUS: ASUS Lumina Pro OLED
  • ASUS menekankan soal akurasi warna yang tinggi
  • Tampilan warna lebih menawan
  • Kecerahan layar bisa sampai 1.100 nits
  • 6 speaker bertenaga

Buat nonton, meeting, sampai dengerin musik sambil kerja… harusnya ini jadi salah satu laptop yang menyenangkan dipakai lama-lama, karena imersifnya dapet.

Tenaga AI: NPU sampai 50 TOPS

Nah, ini pusatnya: Zenbook S16 OLED membawa kekuatan NPU hingga 50 TOPS, yang bikin proses AI bisa berjalan cepat dan efisien.

ASUS menggambarkan bahwa AI kini “mengalir” dalam pengalaman laptop, bukan cuma fitur tambahan.

Harga resmi Zenbook S16 OLED

Varian yang diumumkan:

  • ASUS Zenbook S16 OLED (UM5606GA-OLEDS9311TM)
  • Copilot+ PC
  • AMD Ryzen™ AI 9 465
  • 32GB RAM
  • 1TB SSD
  • Warna: Antrim Gray
  • Harga: Rp 32.999.000

Zenbook 14 OLED (UM3406GA): ringan, tahan seharian, dan cocok buat yang aktif

Kalau Zenbook S16 itu terasa seperti “studio kerja portable”, Zenbook 14 OLED ini lebih seperti “teman perjalanan yang setia”.

ASUS menulis kalimat yang menurut saya sangat relatable: kebebasan itu saat kamu tidak lagi terkekang oleh stop kontak.

Dan ya, itu bener banget.

Sebagus apa pun laptop, kalau baterainya bikin kita terus cari colokan, hidup jadi nggak tenang. Apalagi buat yang kerja di luar rumah, suka meeting di tempat berbeda, atau yang sering bikin konten sambil jalan.

Bobot cuma 1,2 kg

Zenbook 14 OLED hadir dengan desain ultra ringan:

  • 1,2 kg

Ringan banget untuk ukuran laptop produktivitas yang tetap pakai panel OLED.

Baterai 75Wh, tahan lebih dari 20 jam

Ini highlight yang menurutku paling menggoda:

  • Baterai 75Wh
  • Daya tahan lebih dari 20 jam

Buat yang sering kerja panjang dari pagi sampai malam, ini jenis baterai yang bikin kita lebih tenang.

AI tetap kencang: sampai 50 TOPS

Meskipun lebih kecil dan lebih ringan, Zenbook 14 OLED tetap membawa:

  • kekuatan pemrosesan AI hingga 50 TOPS

ASUS ingin menegaskan bahwa ukuran bukan batas untuk kecerdasan. Jadi kamu tetap bisa dapat portabilitas sekaligus performa.

Harga resmi Zenbook 14 OLED

Varian yang diumumkan:

  • ASUS Zenbook 14 OLED (UM3406GA-OLED7111M)
  • AMD Ryzen™ AI 7 445
  • 16GB RAM
  • 1TB SSD
  • Warna: Jade Black
  • Harga: Rp 19.599.000

Bonus pre-order Next-Gen AI Zenbook: langsung, tidak pakai undian

Nah sekarang kita masuk bagian yang bikin orang pengen buru-buru check-out 😄

ASUS membuka Limited Pre-order Next-Gen AI Zenbook (2026) melalui eShop resmi mereka.

Dan yang menarik, bonusnya bukan sistem lucky draw.

ASUS memakai mekanisme yang mereka sebut bundle mechanics. Artinya: pasti dapat kalau kamu memenuhi syarat.

Bonus eksklusif:

🎁 Corkcicle Canteen 16oz – Powder Blue

Yang berhak dapat:

✅ 20 pembeli pertama selama periode pre-order melalui eShop

Cara dapatnya gampang banget:

  • pilih produknya
  • check-out
  • bonus langsung masuk pesanan

ASUS juga menyampaikan bahwa ketersediaan bonus ini bisa dipantau melalui website eShop dan media sosial resmi ASUS Indonesia.

Belanja di ASUS eShop: ada cicilan 0 persen dan pengiriman gratis

Kalau kamu belum pernah belanja laptop via eShop resmi ASUS, di campaign ini ASUS juga meng-highlight beberapa keuntungan:

  • 0% Installment: cicilan tanpa bunga
  • Original Product Guarantee: jaminan unit 100% original
  • Free Delivery: gratis pengiriman ke seluruh Indonesia

Link pre-order resmi Next-Gen AI Zenbook (2026)

Buat yang mau langsung lihat halaman pre-order resminya, ini linknya:

👉 https://id.store.asus.com/nextgenaizenbook

 

Kalau kamu termasuk yang sudah siap upgrade dan ingin jadi yang pertama nyobain performa prosesor AI generasi berikutnya, ini waktunya.

Bonusnya sangat terbatas. Hanya untuk 20 pembeli pertama.