Tampilkan postingan dengan label travel bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel bandung. Tampilkan semua postingan

Menginap di DRIAM Riverside, Resort di Tepi Sungai Ciwidey dengan Pemandangan Alam yang Membuat Malas Pulang

Pengalaman Menginap di Driam Riverside Ciwidey Bandung - Resort di Ciwidey dengan nuansa alam, terletak di tepi Sungai Ciwidey. Suasana tenang dengan pemandangan memesona langsung ke sungai Ciwidey yang mengalir tenang, bebukitan hijau, perkebunan dan pedesaan dikejauhan, dilengkapi taman cantik dengan banyak spot instagramable. Bagaimana rasanya menginap di Driam Resort saat pandemi? Apakah aman menginap dan berwisata di Driam di tengah pandemi? Ada spot wisata apa saja di Driam? Ada wahana bermain apa saja? Cocokkah untuk tempat liburan keluarga? Berapa tarif kamar Driam Riverside? Inilah cerita dan pengalaman saya saat menginap di Driam Riverside periode 4-6 Oktober 2020.

driam riverside
Driam Riverside - Ciwidey Bandung

Tidak sulit mencari rekomendasi hotel bagus di Ciwidey yang cocok untuk beristirahat dengan tenang sambil menikmati suasana santai dengan bahagia serta bermain dengan gembira. Berkat rekomendasi temanku Lenny pemilik IG @lenny.diary, saya menemukan DRIAM Riverside. 

Dari blog dan video yang Lenny bagi, saya lalu berselancar di dunia maya mencari tahu lebih banyak tentang hotel tersebut. Alhamdulillah setelah memeriksa di berbagai situs online booking hotel, mulai dari harga, ulasan hingga informasi promosi, saya langsung sreg dan akhirnya memesan kamar tanpa ragu untuk 3 hari 2 malam.

Saya dan suami berangkat dari BSD ke Bandung tgl. 3 Oktober 2020. Menginap satu malam dulu di Cibaduyut Bandung, baru ke Ciwidey. Perjalanan menuju Driam Riverside kami tempuh dengan berkendara mobil pribadi, melalui jalan raya Soreang - Ciwidey yang berjarak kurang lebih 5 KM saja dari Soreang. Lokasi Driam mudah ditemukan karena ada sejumlah petunjuk jalan yang memudahkan, ditambah Google Map yang menuntun arah jalan, kami bisa sampai dengan cepat. 

Reservasi di sini

Lobby

Himbauan untuk taat protokol kesehatan di tengah pandemi


Coffee bar dan mini mart di lobby

Harga Kamar Sangat Menarik
Untuk kamar kelas resort, di lokasi yang ideal sekali untuk refreshing, jauh dari keramaian kota, penuh ketenangan, harga yang ditawarkan sangat menarik. Kabarnya, selama pandemi banyak hotel menggelar diskon bahkan sampai banting harga. Apakah harga yang saya dapat saat itu juga efek dari pandemi? Entahlah.

Saya memesan kamar dengan harga paling ekonomis, yaitu Deluxe Standar seharga Rp 385 ribu / malam sudah termasuk makan pagi dan tiket wisata alam. Driam memang sedang promo saat itu, semua kamar diskon sampai 30%. Makanya murah banget. Dengan harga tersebut saya bisa dapat banyak. Mulai dari kamar yang bagus, makan enak, pemandangan alam, dan puas berwisata di tempat wisata yang mereka sediakan. Nggak perlu wisata kemana-mana lagi, di hotel saja nggak bosan-bosan.

Nah, pemesanan kamar saya lakukan langsung ke hotel, tidak melalui situs atau aplikasi booking hotel manapun. Saya pesan melalui WA Driam, dan alhamdulillah proses pemesanan dapat berjalan dengan mudah dan lancar. Terima kasih buat Mbak Krisda yang sudah merespon semua pesan saya dengan baik!

Harga Kamar DRIAM per Oktober 2020

 
Resort dengan Atmosfer Bali

Kayak udah pernah ke Bali aja wkwk. Lho iya memang pernah dong, beberapa kali. Dari menginap di hotel mewah, villa mahal, sampai resort spektakuler juga udah pernah di Bali haha *udah sombong belum saya? wkwk. Makanya berani bilang atmosfer Bali karena pas lihat kamar-kamarnya saya langsung ingat suasana saat menginap di Ubud Bali. 

Ohya, kamar-kamar di sini outdoor ya. Maksud saya, letak kamarnya di tempat terbuka gitu, nggak dalam gedung. Ya miriplah seperti villa-villa yang biasa dijumpai di Bali. Kalau misal sedang hujan, udah pasti mesti payungan menuju kamar. 

Kamar-kamar berderet di sisi kiri bagian utama gedung lobby. Setelah check in kami turun lewat tangga di sisi kiri lobby, lalu keluar menuju pintu di sisi kiri. Kalau ke kanan ke food court dan tempat wisata.

Tiap kamar ada gerbangnya segala, lalu ada setapak di halaman kecil menuju teras kamar, setelah itu baru pintu kamar. Nah, kemarin kehabisan kamar dengan single bed, akhirnya kami dapat twin bed. Ulala suami istri dipisah ranjangnya haha. Akhirnya kasur kami dorong dan rapatkan, biar bisa dekatan dan pelukan wkwk.

Deretan kamar. Sebelah kiri Deluxe Standard. Sebelah kanan Deluxe Riverview

Kamar saya paling kanan pojok

Ada gerbang sebelum menuju pintu kamar

Request Single Bed, dapatnya Twin Bed. Terpaksa didorong dan dirapatkan biar saya dan suami bisa dekatan dan pelukan 😂

Kamar Nyaman dan Sarapan Enak dengan View Memesona
 
Kamarnya cukup bagus, sangat bersih, semua dalam keadaan baik. Hanya satu yang saya keluhkan, nggak ada internet! Sejak masuk kamar, saya sudah sampaikan ke pihak hotel.  Keluhan saya direspon dengan baik, dan kelihatan memang ada yang bekerja bawa-bawa tangga dan peralatan, entah apa. Kata staff, teknisi sedang coba mengecek dan memperbaiki. Alhamdulillah esok pagi dan sampai saya check-out di hari ketiga sejak check-in internetnya jalan dan lancar. 

Paling suka tempat sarapan paginya. Ruangan semi indoor yang menghadap langsung ke lembah, di bawahnya ada sungai, dan di seberangnya ada bukit dengan pepohonan yang banyak dan hijau. Asri sekali. Cuci mata paling istimewa kalau begini. Makanya saya berlama-lama di sana. Menikmati suasana sambil mengambil gambar dan video. Videonya dapat lihat di channelku Katerina. S ya. 

Makan pagi pertama di hotel menu dihidangkan prasmanan. Meski tidak begitu banyak tamu, tapi pilihan untuk prasmanan ini menurut saya sebaiknya dihindari dulu selama pandemi. Saya makan dengan penuh kewaspadaan. Bismillah semoga dilindungi dari segala penyakit.

Soal menu, tidak banyak. Ada bubur ayam, roti tawar dengan beberapa pilihan selai, nasi putih dengan sayur dan lauk, buah potong. Minumannya ada teh, kopi, infuse water, dan 2 macam minuman buah. Sedikitnya menu ini mungkin terkait sedikitnya tamu. Meski tidak banyak pilihan, tapi soal rasa, waw saya suka karena semuanya terasa enak. Bukan menu yang dibuat dengan biasa-biasa saja. 

Sarapan di hari kedua sudah tidak prasmanan lagi. Tamu disuruh pilih menu yang ditawarkan, baru dibuat dan diantar ke meja. Saya memilih nasi goreng, omelet, roti tawar dengan selai nanas, dan teh. Sama seperti hari pertama saya sarapan, citarasa makanan yang saya santap tetap istimewa.

Tapi jangan GR ya Driam, saya bilang enak dan istimewa karena pada saat itu saya makan dalam keadaan lapar wkwk.
Menu sarapanku di hari ke-2

Menu sarapanku di hari ke-1

Pemandangan di tempat sarapan

View dari tempat sarapan, lembah dan sungai, serta bukit 


Free Tiket Wisata

Setiap pemesanan kamar, tamu mendapat gratis tiket wisata buat 4 orang. Tiket senilai Rp 20.000 ini dapat digunakan untuk masuk kawasan wisata Driam yang masih berada di satu kawasan dengan hotel. Pintu masuknya ada di sebelah kanan lobby. 

Lokasi wisata ada di bawah, kami perlu menuruni tangga untuk masuk. Padahal, sebagai tamu, kami bisa masuk lewat pintu bawah dari arah keluar kamar. Ruang di bawah lobby ada pintu keluar menuju pintu masuk tempat wisata, jadi harusnya kami nggak usah naik ke lobby dulu buat menuju pintu masuk. Muter-muter itu namanya haha.

Nah, kalau masuk dari atas, sejak di depan mata sudah disambut dengan susunan jendela kayu warna-warni, lalu berikutnya tembok penuh kipas dengan tambahan kata-kata selama datang kepada tamu. Sebuah dekorasi yang memancing orang seperti saya untuk berfoto dan mengambil foto.

Jalan menuju pintu masuk wisata DRIAM

Dekorasi yang cakep buat difoto

Food Court dan Resto

Kalian pasti bertanya di mana resto hotel? Di sana ada WOZA resto. Jika masuk Driam, tempatnya ada di sebelah kiri jalan, sebelum turun menuju lobby hotel. Nah, tempat lainnya yang saya sebut resto ada di area lobby, tempat tamu sarapan pagi. Tapi, entah apa ini resto yang buka tiap saat dan bisa makan di sana, atau hanya untuk sarapan pagi saja. Tempat makan lainnya ada di area wisata Driam, semacam food court. 

Saat saya ke sana, food court ini tidak sepi. Ada pengunjung dalam kelompok sedang acara gathering. Tapi tidak satupun dari mereka yang turun main ke area wisata, makanya saya katakan sepi saat saya masuk kawasan wisata.

Ada sejummlah tenant di food court, masing-masing menyediakan menu makanan dengan pilihan yang bervariasi. Saya rasa, di saat bukan pandemi, tempat ini pasti ramai sekali dengan para pelayan sibuk mondar mandir mengerjakan pesanan. Tapi pandemi telah membuat food court sepi. Food court ini semi terbuka, tanpa dinding. Punya view ke sungai dan bukit, bikin orang yang makan-makan akan merasa betah. 

Di area food court ini juga ada tempat minum kopi, serta tentunya tempat penjualan tiket masuk wisata. Saya tinggal memberikan kupon yang saya dapat saat check in. Lalu masuk. Nah, karena saya tamu, saya bisa masuk kapan saja. Misalkan sudah masuk lalu keluar, nanti masih bisa masuk lagi, tinggal tunjukkan kunci kamar.

Food Court di area wisata Driam

Peta Wisata DRIAM

Informasi Wisata di pintu masuk wisata Driam

WISATA DRIAM

Ada enak dan gak enaknya berwisata di musim pandemi. Bagi pemilik tempat wisata pasti gak enak karena mereka kehilangan pengunjung. Kondisi ini jelas memprihatinkan karena pendapatan menurun sementara hotel tetap beroperasi dan karyawan tetap harus digaji. Sedangkan di sisi saya sebagai tamu, berkunjung saat pandemi mestinya menakutkan bukan? Tapi karena hotel sepi, tempat wisata sepi, malah menguntungkan saya karena aman, jadi nggak perlu berdesak-desakan dan antri dalam kerumunan.

Tidak ada antrian masuk yang terjadi. Petugas bekerja dengan serius tapi santai, kami juga tidak perlu kepayahan menunggu kelar diperiksa dan segala macam proses masuk. Saya biasa ke Lembang, masuk tempat wisata biasanya berjam-jam, antrian kayak ular naga panjangnya bukan kepalang, lelah letih melanda, sungguh nggak enak sekali. Nah, sejak pandemi, saya yakin banyak tempat wisata di sana jadi sepi, termasuk di Driam ini.

Tiket seharga Rp 20 ribu hanya buat masuk saja. Di dalamnya banyak spot gratis yang bisa digunakan untuk sekedar duduk, berfoto, jalan kaki, atau pun bergaya di mana suka. Tapi ada spot-spot tertentu yang berbayar, yaitu wahana buatan yang rada ekstrem dan memacu adrenalin. Jelas harus bayar, karena alatnya dibuat dengan tidak sembarangan, pakai modal, pakai safety tingkat 1, karena sifatnya membahayakan bila tidak dibuat dengan benar. 

Nah, selanjutnya saya akan tampilkan semuanya dalam bentuk foto, tidak usah diceritakan lagi ya. Oh tapi, tidak semua yang ada di lokasi wisata saya tampilkan di sini. Nanti kebanyakan. Saya pilih yang saya suka saja.

Kiri: lokasi pertama setelah pintu masuk wisata
Kanan: Spot foto semacam balkon terbuka untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan sungai, sawah, perkebunan, bukit, dan pedesaaan.  GRATIS.

DRIAM Nest Rp10,000 -  (difoto oleh fotografer, dapat file foto). Tempat duduk ala sangkar burung gitu, cocok nggak kalau dikasih caption "Bagaikan Burung Dalam Sangkar?" 😂

BAMBOO BRIDGE. Gratis! Dua macam jembatan bambu.
Kiri: Ujungnya menggantung Kanan: Ujungnya sampai ke bukit di seberang sungai. Kabarnya, nanti akan ada paket wisata outbond sampai ke ujung jembatan lalu menjelajah hutan. Bakal seru banget dong ya.

Sky NET Rp10,000 - Paling suka duduk di sini, santai sambil menikmati pemandangan alam. Di bawahnya ada sungai berbatu. Ngeri cuy kalau jatuh wkwk. Tapi tenang, sky net ini nggak akan dibuat kalau membahayakan.  Semua sudah diperhitungkan. Jangan lupa, ini tempat berfoto doang haha. Mau tiduran niatnya, tapi fotografer udah bilang kelar. Oke. Mayanlah dah udah deg-degan di balik selimut. Itu selimut disemprot dulu sebelum dipakai. Takut ada serangga katanya. Saya sih gak takut serangga. Takutnya kalau ada ular sembunyi di dalam selimut. Ngeri tingkat dewa haha

Double Swing Rp20,000 - Saya kira mirip ayunan di Bali yang dulu saya naiki waktu di Ubud, ternyata beda. Kalau dulu di Bali diayun kencang sampai bikin saya jejeritan, kalau ini enggak. Diam saja di tempat setelah di pindah ke atas sungai. Alat pemindahnya semacam crane terbuat dari baja, besar dan kuat. Sempat deg-degan sih, tapi tetap berani. Saat berpindah tempat nggak mau lihat ke bawah. Pas sudah di tengah, tergantung di atas sungai, baru berasa senangnya. Ternyata asyik juga di atas ketinggian. Sewaktu mau balik ke tempat semula, ayunannya diayun kencang, auto teriak dong. Rupanya memang disengaja, fotografer mau ambil moment ekspresi tegang dan histeris.

Hover Tent Rp 25.000 - Takut jatoh euuuy haha. Tapi kata mas yang jaga jangan takut, tenda ini mampu menampung beban hingga 200kg. Yaelah saya kan cuma 40Kg mestinya santai wae ya haha. Sekilas ngeri ya tendanya, kalau duduknya merosot wuiih alamat meluncur ke atas sungai penuh batu. Tapi tenang, udah pakai safety dong. Ada tali yang diikat di pinggang. Mestinya di kaki/paha juga. Berhubung saya pakai rok, ya udah di pinggang saja. Tapi abis itu saya stop naik wahana ekstrem, saya mau ganti baju dulu yang pakainya ringkas dan aman, yaitu celana. Tapi itu terjadi keesokan hari. Karena pas mau balik lagi, sorenya mendung dan akhirnya hujan. Nggak serulah kalau hujan. Ohya, kalau misal numpang tidur di tenda tergantung semalaman, kira-kira boleh nggak ya? Biar ada lagunya: Semalam di Tenda gantung 😂

Taman Tempat Bersantai

Tempat wisata sedang sepi. Orang yang berkunjung bisa dihitung jari. Saat saya masuk di hari kedua, cuma satu keluarga yang seliweran, suami istri dengan dua anaknya masih kecil. Mereka tamu hotel. Nah, karena tetap sepi, enak banget kan buat bersantai dan leyeh-leyeh di tempat wisata Driam. Tenang, nggak ada yang gangguan. Bahkan karyawan hotel aja nggak ada yang berani mendekat dan lewat 😁

Piknik di pinggir sungai

Baca buku di taman banyak bunga

Sungai Ciwidey
Catatan: Jika sedang turun hujan terus menerus pengunjung dilarang turun ke sungai karena dikhawatirkan banjir bandang. Ada petugas berjaga di sekitar sungai. Tamu boleh nyebur jika mau. Saat saya di sana ada orang tua dengan anaknya sedang bermain air di sungai, di antara batu-batu itu. 

Bunga Kenikir banyak tumbuh di tepian sungai. Lihat video bunga di DRIAM di channel saya Katerina. S

Bunga dimana-mana, di tepi sungai di kawasan wisata DRIAM


DRIAM tempat bersantai, berpetualang, Bermain, Bergembira

Saya senang menginap di Driam. 3 hari 2 malam terasa kurang. Berdua saja sama suami, kami cuma mengisi waktu dengan duduk-duduk santai, mengambil gambar, dan menikmati suasana. 

Tentu saja selama di sana saya teringat anak-anak di rumah. Andai ada mereka, pasti lebih gembira lagi, karena tempat untuk bermain yang sesuai dengan usia mereka lengkap. Terutama Alief, anak saya yang sulung, penasaran sekali ingin mencoba wahana-wahana yang ada. 

One Stop Tourism Destination memang tepat sekali dilekatkan pada wisata Driam. Di sini orang bisa menginap sambil melakukan banyak hal-hal yang menyenangkan. Tempat makan, tempat wisata, tempat bersantai, semuanya ada. Bahkan tempat belanja souvenir pun ada.

Bukan resort mewah tapi suasananya yang mewah. Kalau saya sih ke sini tuh seperti bukan membayar kamarnya tapi membayar suasananya. Hal yang paling saya sukai karena ada sungainya, melihat air mengalir, bisa turun membasahi kaki, duduk di batu-batu, itu hal yang mahal bagi orang kota. Nuansa alamnya benar-benar terasa, apalagi di tepi sungai itu bukit dengan hutannya, sangat asri dan menyejukkan mata. Udara Ciwidey yang dingin, meski tak sedingin Ciwidey puncak, menambah rasa betah di Driam.

Jika rindu Ubud Bali atau tempat-tempat tenang dan spektakuler di Bali, bolehlah ke Driam dulu buat obat kangen, lebih dekat dan mudah dicapai. Saya pikir tempat wisata dan penginapan bagus-bagus cuma ada di Lembang, ternyata di Ciwidey pun ada. 

Saya berterima kasih buat Mas Tresno dan kru atas keramahannya selama kami berwisata. Juga Mbak Krisda, marketing executive Driam atas respon-responnya yang baik. 

DRIAM Riverside Recommended! 

Sekarang berdua dulu, nanti balik lagi bersama anak-anak. Aamiin

Asri

Bekerja dengan tenang
 

Refreshing di tengah pandemi tentu banyak sekali syarat yang harus dibuat dan dipatuhi sendiri. Mulai dari hal terkecil hingga hal terbesar mesti diwaspadai, karena kehati-hatian adalah kunci agar terhindar dari penularan Covid-19. Saya tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menjaga diri kami (saya dan suami), kami mengandalkan diri kami sendiri untuk menjaga diri, tentunya Tuhan nomor satu, sebaik-baik penjaga. Jadi tetap doa yang utama, lalu usaha.

Saya ke Driam tidak dalam rangka liburan. Jika liburan sudah pasti saya mengajak kedua anak saya. Saya juga tidak sedang menyarankan untuk melakukan kegiatan wisata ya. Tapi saya himbau sebaiknya selalu berhati-hati saat berkegiatan di luar rumah, di mana pun.

Sebelum berangkat ke Bandung, saya dan suami rapid test di Prodia Lab, hasilnya Non reaktif. Saya sempat posting mengenai rapid test ini di IG saya @travelerien. Kalian bisa lihat di sana. Setelah dari Bandung, kami SWAB di sebuah RS di Margonda Depok, alhamdulillah negatif. Lalu SWAB lagi baru-baru ini, alhamdulillah negatif.

DRIAM RIVERSIDE

Kesimpulan

- Lokasi strategis, belum terlalu jauh ke puncak, masih dekat ke Soreang. Tidak terlalu dari Kota bandung. Jalan menuju ke sana lengang saat weekdays, dan mulai padat bahkan macet saat weekend. Itu yang kami alami. Tapi macetnya nggak separah macet di Puncak Bogor.

- Cocok buat liburan berdua pasangan saja, cocok juga buat liburan keluarga bersama anak-anak.

- One stop tourism destination. Udah nggak usah kemana-mana lagi kalau sudah di sini. Everyday is holiday. Karena suasana berliburnya ada tiap saat. Kecuali mau mengunjungi destinasi alam populer lainnya di Ciwidey seperti Kawah Putih, ya mesti jalan lagi  ke arah puncak, masih jauh.

- Kalau niatnya liburan pastinya mau santai saja nggak pakai mikirin dan melakukan kerja. Tapi nggak semua orang datang ke sana buat liburan, ada yang justru menyepi untuk bekerja, jadi perlu internet agar pekerjaan lancar. Nah, DRIAM mesti selalu bisa mengatasi persoalan internet yang kembang kempis sinyalnya, atau bahkam sekarat ga ada internet sama sekali sewaktu saya baru datang di sana. Kalau cuma untuk komunikasi via WA misalnya, nggak perlu internet hotel, internet pribadi juga bisa. Beda dengan yang datang untuk bekerja, butuh internet sepanjang waktu dan kerjanya bukan cuma buat chating.

- Selama masih pandemi, akan lebih baik sarapan tidak disajikan prasmanan. Saya setuju dengan cara yang saya alami saat sarapan di hari ke-2, tamu tinggal memilih dari daftar menu, baru sarapan dibuat dan diantar ke meja. Bukankah ini bagian dari protokol kesehatan hotel?

- Harga bersahabat. Semua kamar ok, tinggal pilih sesuai selera. Tadinya saya pingin ambil kamar dengan view sungai. Tapi beda harganya lumayan. Nah, karena di sana bisa kapan saja lihat sungai, saya pilih menghemat tapi banyakin keluar dan bisa lihat view sungai kapan saja dari tempat lain selain kamar riverview. Dari resto bisa, dari foodcourt bisa, dan kapan saja bisa masuk kawasan wisata lalu turun ke sungai untuk lebih dekat. Tapi memang, berada di Deluxe Riverview memang bakal beda nuansanya, tiap saat pandangan bisa ke lembah, sungai dan bukit di seberang. Kalau balik lagi ke DRIAM saya harap bisa menempati kamar family yang menghadap sungai.

- Saya belum menemukan kekurangan lainnya. Jadi saya anggap, DRIAM sudah cukup ideal untuk tempat bekerja yang tenang, atau pun liburan yang menyenangkan.

Semua informasi tentang DRIAM Riverside dapat dibaca di website www.driamriverside.com

Fasilitas dan aktivas di Driam silakan klik link berikut : Fasilitas dan aktivitas di Driam

Wahana wisata DRIAM silakan klik link berikut: WAHANA WISATA DRIAM RIVERSIDE

DRIAM Riverside

Jalan Raya Soreang Ciwidey KM. 25 BANDUNG

Telp: 022-85921210, 022-85921282

Email: reserv@driamriverside.com

Instagram: @driamriverside

-------------------------------------------------------------------------


Trip Ciwidey Bandung periode 3-10 Oktober 2020, baca juga artikel lainnya:


AirBnB Homey Studio Room Near Leather Craft Center, Penginapan Murah dan Nyaman di Bandung

Menginap di Pondok Winagung, Hotel Murah Dilengkapi Resto dan Kolam Renang di Rancabali Ciwidey

Video di DRIAM:

Menginap di DRIAM Riverside

Banyak Bunga di Tepi Sungai di DRIAM

Bersantai di Tepi Sungai Siwidey di DRIAM

BTS Foto di Wahana DRIAM


Perlengkapanku ke Bandung Saat Traveling di Tengah Pandemi

Barang yang Wajib Dibawa Saat Traveling di Tengah Pandemi - Maunya sih kalau bisa di rumah saja selama pandemi, biar nggak tertular virus berbahaya. Namun, ada saja hal yang mengharuskan keluar rumah bahkan melakukan perjalanan jauh dan lama untuk suatu urusan atau pun pekerjaan. Sejauh ini memang belum ada larangan keras untuk traveling, tapi sangat dihimbau untuk hati-hati dan patuh mentaati protokol kesehatan ketika bepergian. Nah, ada urusan di mana aku dan suami akhirnya harus melakukan perjalanan ke Bandung selama 10 hari. Tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada kami, saya melakukan banyak persiapan agar perjalanan lancar dan kami tetap aman.
Traveling di tengah pandemi

Bepergian di saat pandemi begini, lebih aman jika pakai kendaraan pribadi. Lagipula jarak dari Jakarta ke Bandung nggak terlalu jauh. Masih kuatlah nyetir sendiri tanpa supir. Kami berangkat dini hari jam 2 pagi, bergantian menyetir. Karena bawa mobil, kami bisa leluasa membawa sejumlah barang yang diperlukan selama bepergian. 

Sebelum berangkat, saya dan suami sepakat untuk hal-hal berikut:
  • Tidak makan dan minum di rest area. Singgah hanya untuk ke toilet dan salat, tidak perlu pakai acara ngecas handphone segala, misal batre lowbat, cukup dicharge dari sumber listrik yang ada di mobil.
  • Jika beli makanan, hanya makanan dalam kemasan demi menjaga ke-higienis-an. Kalau ingin makan makanan seperti bakso, sebisa mungkin di tempat yang pembuatnya terlihat, biar tahu dia pakai masker atau nggak pada saat bikin. Kalau enggak, mau langsung ditegur suruh pakai dulu. Makanan seperti bakso disajikan panas langsung dari panci (kuahnya), bukan makanan yang sudah dibuat lama dan tidak tahu saat dibuat apakah aman dari cipratan ludah dan bersin. 
  • Jika ingin makan di resto, pastikan semua pekerja di resto menerapkan protokol kesehatan. Karyawan pakai masker, ada tempat cuci tangan dengan sabun, dan sedia hand sanitizer.
  • Jika terpaksa beli makanan, kami akan sodorkan tupperware sebagai wadah, lalu di makan di mobil. Tidak usah duduk di kafe/resto.
  • Jika butuh air panas untuk membuat teh/kopi, masak air sendiri saja pakai teko listrik yang dibawa. Sumber listriknya numpang saja yang ada di rest area.
Peralatan makan dan minum

Peralatan Makan Minum
Nah, perlengkapan makan yang saya bawa bukan buat keperluan selama perjalanan saja, tapi juga selama tinggal di hotel. Karena saya kan belum tahu kondisi hotelnya nanti seperti apa. Berikut barang yang saya bawa:
  • 2 buah mug keramik, dan 1 mug stainless tahan panas. Mug ini bukan dipakai untuk minum air putih, karena air putih sudah pakai tumbler. Kalau minum langsung aja dari tumbler masing-masing. Mug buat bikin teh/kopi/sereal. Selama perjalanan kami membawa oatmeal quaker, energen, dan coco crunch. Nah, mug inilah yang kami gunakan. Mug stainless buat suami minum ramuan herbal.
  • Sendok, garpu, sedotan stainless, pisau buat mengupas buah, gunting buat buka kemasan apa saja yang dibeli saat di jalan.
  • 1 tupperware dan 2 lock and lock. Buat wadah makan saat beli makan di resto. Kami menghindari bungkus plastik, kertas makan, styrofoam, dan kotak kertas. Biar nggak jadi sampah di mobil. Wadah makan ini juga memudahkan kami memegang makanan saat makan biar nggak tumpah. Tidak tiap resto aman untuk ditempati saat makan. Bila ramai kami pilih take away. Bila sepi, kami pilih makan di tempat. Sewaktu makan di Warung Nasi Ibu Imas di Kota Bandung, tadinya mau take away, eh pas datang ternyata sepi, cuma ada 1 orang, jadilah kami pilih makan di tempat.
  • Termos stainless. Suamiku tiap hari minum ramuan herbal sebagai obat. Saya yang bikin. Nah, karena sekali bikin itu buat dua kali minum yaitu siang dan malam, maka mesti masuk termos. 
  • Teko listrik. Tadinya teko ini akan difungsikan juga buat merebus obat herbal suami, tapi ternyata nggak bisa karena jika air sudah mendidih, teko otomatis mati. Padahal rebusan obat, misalnya takaran 4 gelas harus jadi 2 gelas, teko harus tetap menyala sampai air tersisa 2 gelas. Harusnya saya bawa panci listrik. Akibatnya, selama bepergian saya tidak bisa membuatkan obat herbal untuk suami. Gara-gara ini pula saya langsung pesan panci listrik di Tokopedia. Sekarang pancinya sudah ada dan dibawa traveling ke Surabaya he he.
Semua peralatan masak/makam/minum yang saya bawa tidak terpakai saat kami menginap di AirBnB Bandung dan di Driam Riverside. Semua kebutuhan masak/makan/minum tersedia di sana. 
Sabun cair pencuci tangan, sabun cair pencuci piring, spon, deterjen cair (lupa in frame) he he

Peralatan Cuci
  • Cairan pencuci piring. Sabun cair buat cuci piring ini jelas perlu banget karena saya membawa sejumlah peralatan makan yang pastinya bakal sering dipakai dan harus dicuci supaya bisa dipakai berulang kali. Saya nggak pernah cuci peralatan makan di tempat umum. Biasanya hanya di hotel. Kalaupun misalnya sedang di jalan, saya gunakan air yang sudah saya siapkan dalam wadah botol yang dibawa dari rumah. Ada 10 botol ukuran 1,5 liter yang saya bawa. Dengan air-air itulah saya cuci tangan dan mencuci peralatan makan minum. Saya nggak nyaman mencuci di wastafel umum, takutnya ada bekas orang meludah atau apa di sana kan nggak tahu.
  • Cairan pencuci tangan. Sabun cair ini saya taruh di mobil di tempat yang mudah diambil karena setiap kali kami singgah ke musala atau toilet manapun, pasti dibawa serta buat cuci tangan sendiri. Nggak semua toilet sedia sabun lho. Kalaupun sedia, saya kurang nyaman karena pompanya itu udah kena tangan banyak orang. Beberapa musala dan toilet di rest area menuju Bandung ada yang bersih. Petugas kebersihannya selalu standby buat mengeringkan lantai dan membersihkan wastafel bekas pakai. Kalau yang begini saya masih berani pakai sabun cuci tangan yang mereka sediakan.
  • Deterjen cair. Nah ini sih buat jaga-jaga kalau pas bermalam di desa nggak dapat penginapan yang sedia jasa cuci setrika baju. Sewaktu nginap di AirBNB Bandung dan Driam Resort belum kepakai karena di sana bisa laundry. Pas di Ciwidey puncak, baru kepakai. Sebetulnya nggak perlu bawa juga gak apa, tinggal beli di minimarket setempat. Tapi kalau bisa disiapkan sejak sebelum berangkat kan lebih enak, nggak perlu cari lagi nanti.


Perlengkapan Kebersihan Lainnya
Nah kalau ini sih sejak corona merebak di awal-awal, sudah selalu sedia kemanapun pergi. Bahkan enggak pergi pun udah bederet di rumah.
  • Hand sanitizer. Saya bawa 5 selama bepergian. Kemasan kecil buat ditaruh dalam tas yang dibawa-bawa. Masing-masing kami bawa 1. Kemasan paling besar buat ditaruh dimobil. Setiap habis turun dan mau masuk mobil lagi harus membersihkan tangan pakai hand sanitizer. Nah, kemasan besar ini kan pakai pompa, jadi lebih mudah saat digunakan. Satu lagi hand sanitizer dalam kemasan semprot (spray). 
  • Masker Evo Plusmed. 1 dus isi 25, saya hitung isinya cukup buat kami berdua selama bepergian 10 hari. Ohya, saya suka masker Evo Plusmed ini karena tidak ketat di wajah. Saya pakai kait untuk memakainya karena talinya model cantelan di telinga, bukan panjang buat yang berhijab. Pengaitnya saya bikin sendiri, pakai karet dan kancing. Gampang banget bikinnya. Yang jual banyak sih di Toped, per pcs Rp5000an. Saya nggak keburu beli, keburunya bikin sendiri hehe
Mangga murah di Ciwidey

Vitamin dan Obat-obatan
  • Imboost Force nggak pernah ketinggalan dibawa jika sedang bepergian, sejak dulu. Sebenarnya seringnya buat jaga-jaga saja. Pada kondisi tertentu yang tak diinginkan dan tak terelakan, baru saya minum. Soal daya tahan tubuh pada prinsipnya kan kalau saya bisa jaga makan dengan benar, cukup makan dan selalu tepat waktu, hanya makan makanan sehat dan minum minuman yang sehat, cukup istirahat dan tahu kapan badan perlu berhenti beraktivitas, pikiran tenang dan hati gembira, insha Allah daya tahan tubuh terjaga sih.
  • Vitamin. Ini penting banget buat jaga kesehatan dan meningkatkan sistem imun di tubuh. Biasanya saya sedia Ester C dan multivitamin. Tapi lagi-lagi ini buat jaga-jaga saja karena saya lebih memilih dapat asupan vitamin langsung dari buah atau sayur yang saya konsumsi. Nah, sebagai penggemar berat buah apa aja, di perjalanan kali ini saya memilih untuk makan buah saja, setiap hari. Selama di Bandung, saya ketemu banyak sekali penjual mangga Indramayu hanya Rp20.000 / 3kg. WOW! Di BSD biasa beli Rp 35ribu per kilo, jauh banget bedanya. Langsung beli dong 3 kilo. Saya makan berdua suami biasanya 2 hari udah habis. Tiap abis beli biasanya langsung saya cuci supaya nanti pas mau dikupas udah bersih, bisa dimakan di mana saja. Entah saat di mobil, di hotel, di kebon, dan tempat-tempat wisata yang kebetulan kami singgahi.
Naik angkot Rp 3000 saja. Ini angkotnya pas masih sepi penumpang


Naik Angkot Beli Mangga

Suatu hari saat kami menginap di Pondok Winagung Ciwidey saya kehabisan stock buah mangga. Mau minta tolong suami belikan tapi dia lagi pergi ada urusan. Saya hubungi HP nya nggak aktif. Saya tanya ke hotel apa sedia mangga, katanya tidak. 

Nah, kata bapak pemilik hotel, dekat Masjid Besar Ciwidey ada beberapa penjual buah. Di sana ada mangga. Kalau saya mau ke sana naik angkot saja katanya. Wah saya pikir boleh juga nih, sekalian cobain naik angkot di Ciwidey hehe

Hotel Pondok Winagung kan berada di pinggir jalan raya Rancabali Ciwidey, dilewati banyak angkot. Angkotnya sering lewat, jadi nggak perlu nunggu lama. Ongkos angkotnya murah cuma Rp3ribu, jarak tempuh sekitar 4-5 kilometer. 

Di angkot awalnya cuma dua orang, lalu makin jauh makin banyak yang naik, akhirnya penuh. Wuaduuuh saya jadi ngeri euy takut corona haha. Meski udah rapat menutup hidung dan mulut pakai masker, pakai kaca mata, nunduk terus menghindari kali-kali ada yang ngobrol takut kecipratan isi mulut tetap saja takut wkwk tapi untunglah ya di angkot itu orangnya pada diam nggak ada yang ngobrol.

Akibat keasyikan menunduk saya hampir kelewat wkwk. Dan benar di sekitar masjid ada 3 penjual buah. Saya datangi penjual yang paling banyak jenis buahnya. Ealah di situ ternyata harga mangganya Rp 10 ribu perkilo. Gagal dapat yang Rp 20.000/3kg. Tapi ya sudahlah, mau jalan ke penjual lainnya nggak enak sama yang udah terlanjur didatangi. Akhirnya beli 2 macam, Mangga Golek dan Mangga Indramayu. Masing-masing 1 kilo. Kalau habis nanti beli lagi sama suami.

Sampai hotel suami tepuk tangan, dia takjub liat saya berhasil pergi belanja pakai angkot haha. Tapi nggak lagi lagi deh naik angkot saat ini, takut euy. Angkotnya penuh.

Naik angkot demi mangga- mangga ini 😂

Masjid Besar Ciwidey

Selama di Ciwidey banyak happy nya. Urusan lancar, makan enak, tidur nyenyak, blusukan dengan gembira, ketemu para petani, melihat kebun sayur, makan di tengah kebun, pergi ke gunung ke kebun teh yang adem bukan main, liat-liat pemandangan hijau hutan yang sering berkabut, main di Driam berasa di resort pribadi karena tempat wisatanya lagi sepi, di sana foto-foto seru dan asyik.... rasanya semua itu sukses bikin badan dan pikiran jadi seger lagi setelah berbulan-bulan di rumah saja.

Saya bepergian tidak sedang dalam rangka liburan lho ya. Kalau mau liburan saya pasti sudah ajak kedua anak saya. 

Nah, di tengah urusan prioritas yang kami lakukan, ada banyak waktu yang kami manfaatkan untuk melakukan hal-hal menyenangkan di alam dan di desa-desa. Itu kenapa ada foto-foto bernuansa liburan yang saya posting di IG @travelerien.

Tentu saja tidak ada pengabaian terhadap situasi pandemi yang tidak aman buat siapapun. Itu sebabnya saya membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan berjaga-jaga dari hal tak diinginkan, mengikuti protokol kesehatan, menjaga diri sebaik mungkin, dan tetap berpikiran positive di manapun dan kapanpun. 

Takut virus iya, berani bepergian juga iya.
Berani makan di tempat karena warungnya sepi, padahal biasanya rame buanget! - Warung Nasi Ibu Imas Bandung

Saya tidak sedang menyarankan untuk melakukan kegiatan wisata ya. Tapi saya himbau sebaiknya selalu berhati-hati saat berkegiatan di luar rumah, di mana pun.

Sebelum berangkat ke Bandung, saya dan suami rapid test di Prodia Lab, hasilnya Non reaktif. Saya sempat posting mengenai rapid test ini di IG saya @travelerien. Kalian bisa lihat di sana. Setelah dari Bandung, kami SWAB di sebuah RS di Margonda Depok, alhamdulillah negatif.

Video-video saat di Bandung dapat di tonton di channel Katerina. S

Artikel lain sewaktu di Bandung: