Tampilkan postingan dengan label tiket pesawat promo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tiket pesawat promo. Tampilkan semua postingan

Taman Batu Granit Tanjung Bintang Lampung Selatan

taman batu granit lampung selatan

Long weekend di minggu ke 2 Desember 2016. Sabtu sampai Senin. Lumayan. Mau pergi ke mana? Lampung! Lampung lagi?

Memanfaatkan tiket promo Sriwijaya Air, saya pesan tiket PP Jakarta – Lampung di situs penjualan tiket pesawat online tiket2.com dengan harga luar biasa murah. 


Iya, tiket pesawatnya murah. Totalnya tidak sampai Rp 500 ribu. Biasanya tidak sejumlah itu. Jika dibandingkan naik bus Damri PP Rp 500 ribu, waktunya 8 jam, berangkat malam sampai Lampung pagi hari, ya mending naik pesawat lah. Hemat waktu juga. Lain halnya kalau longgar waktu, naik bus saja, bisa nikmati perjalanan, bisa santai-santai. 

Terbang bersama Sriwijaya Air

Saya bukan tipe pejalan yang melangkah ke mana angin berembus. Semua direncanakan, diniatkan, dan berusaha dilaksanakan. Perihal nanti batal, gagal, cancel, atau apa pun namanya, itu urusan nanti. 

Nah, rencananya di Lampung saya akan ke Taman Batu Granit Tanjung Bintang. Jika tidak hujan ingin pergi ke pantai. Mau kulineran ke tempat makan yang belum dikunjungi. Ingin kopdar dengan beberapa blogger Lampung. Dan tentunya mau ikut workshop fotografi!

Yaaah walau kemudian ada beberapa yang tidak sesuai rencana, workshop fotografi-nya batal karena pengisi materinya sakit, saya tetap jalan-jalan, tetap di Lampung sampai waktunya pulang. 

Bandara Radin Inten II Lampung seusai diguyur hujan

Cuaca tidak begitu bagus. Minggu pagi saya berangkat, Tangerang diguyur hujan. Di langit, awan hitam tampak tebal. Saya naik pesawat tipe jadul yang kabarnya sudah tidak dipakai lagi oleh airline manapun kecuali Sriwijaya (menurut mbak penumpang di sebelah saya).

Sebelumnya, ke Lampung naik Sriwijaya Air juga, tapi pesawat baru, bagus dan besar. Sekarang naik yang kecil. Sama seperti orangnya. Duduk di bangku 26A, di pojok, di belakang pula. Untung nggak hilang. Alhamdulillah penerbangan baik-baik saja. Meski merasa keheranan karena terasa agak lama berputar-putar di atas Lampung. Tidak turun-turun. Apa karena tidak ada celah untuk turun sebab tertutup rapat oleh awan-awan tebal?  

“Nggak ngaruh sih mbak awan seperti itu, mestinya pesawat tetap bisa turun kok,” lagi-lagi mbak di bangku sebelah memberi penjelasan. Saya mingkem sambil manggut-manggut.

terminal baru bandara radin inten
Wajah baru terminal bandara Radin Inten II

WAJAH BARU BANDARA RADIN INTEN II

Lampung baru saja diguyur hujan. Bandara Radin Inten II yang belum kelar direnovasi tampak masih berantakan. Keluar dari terminal saya heran, kantin makan tempat biasa saya singgah untuk sekedar minum atau makan bakso, sudah tidak ada. Keadaannya sudah berbeda. 

Jalur mobil penjemput sudah tak lewat depan pintu kedatangan seperti biasa. Saya harus keluar pagar terminal, berdiri di pinggir jalan, seret-seret koper, biar mobilnya mudah jemput. Hadeuh.

Jalan-jalan ke Taman Batu Granit. Tahu dari mana saya tempat tersebut? Dari mana lagi kalau bukan dari blog Mas Yopie Pangkey.

Baca : Wisata Gunung Batu Srikaton Lampung Selatan

Lampung, The Treasure of Sumatra

SEWA MOBIL BANDAR LAMPUNG

Hari Senin saya ke Taman Batu Granit. Tanggal 12 bulan 12. Pas Harbolnas. Harbolnas lho. Harbolnas! Harinya para wanita pesta diskon. Tapi saya tak hirau pada semua itu. walau sempat bergumam “Coba ya perjalanan ke Taman Batu Granit bisa dibeli online. Dapat diskon gede di Harbolnas. Diskon jarak, diskon waktu.” Ngayal deh. Yang jelas, saat yang lain belanja belanji di toko online, saya sibuk mengelap air mata. Eh, air hujan maksudnya. Lampung siang itu hujan.

Bandar Lampung ke Lampung Selatan itu dekat. Maka itu saya tidak berencana berangkat pagi. Jarak tempuh sekitar 35 kilometer, dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan berkendara motor atau mobil. Karena dekat dan tidak lama, saya pikir berangkat siang pun tak apa.

Setelah makan siang yang telat, jam 14.30 kami baru meluncur menggunakan mobil Avanza sewaan. Sudah jelang sore. Harga sewa mobil harian Rp 250.000, supir Rp 100.000, bbm Rp 150.000. Itu perkiraan awalnya. Saat bayar, totalnya cuma Rp 400.000,- (mobil 200, supir 100, bbm 100). 


Nah, kalau kamu butuh kendaraan sewa buat ke Taman Batu Granit Tanjung Bintang, itu biayanya.

Mencari jalan

LAMPUNG SELATAN

Dari Umah Bone (tempat kami makan siang itu) di daerah Pahoman, kami meluncur ke arah Panjang. Yang saya ingat dari Panjang adalah Pelabuhan IPC Pelindo. Terakhir lewat sana Agustus lalu, waktu mau ke Kalianda, jalan-jalan lihat Pulau Mengkudu. Tapi kemarin arahnya berbeda. Setelah dari Panjang lanjut ke Jl. Ir. Sutami, belok ke Desa Wonodadi Dalam, lanjut ke Batu Granit.

Yang saya lihat selanjutnya adalah jalan yang pernah saya lalui saat mudik lewat darat ke Palembang. Kios oleh-oleh pinggir jalan, masih sama seperti yang dulu pernah saya mampiri. Tapi ingatan akan tempat-tempat itu hilang setelah mobil belok kanan. Jalan yang dilewati mulai nanjak. Karena naik bukit, saya kira di atas bakal bertemu hutan, atau semacam perkebunan. Ternyata pedesaaan dan kawasan industri. Ada pabrik Charoen Pokphand dan Coca Cola. Sisanya perkampungan, tanah-tanah kosong bertuan dan kebun-kebun singkong.

“Taman Batu Granit ada dua, mau yang mana?” tanya mas Keliling Lampung.

“Lho, ada dua ya? Baru tahu. Yang diposting dalam blog itu yang mana?” kaget sambil balik tanya.

“Yang di depan itu,” sambil nunjuk sebuah belokan ke kanan.

“Bagus yang mana?

“Bagus semua.”

Bingung kan jadinya? Akhirnya saya pilih yang ke dua. Yang pertama tidak saya pilih itu namanya Gunung Batu Srikaton. Masuk ke dalam sekitar 30 menit lagi katanya. Sedangkan yang kedua, namanya Taman Batu Granit. Keduanya sama-sama di Tanjung Bintang. 

Ada sungai di tengah perkebunan karet

BANYAK BERTANYA AGAR TAK SESAT DI JALAN


Tidak ada papan petunjuk arah yang jelas, yang memudahkan kami menemukan Taman Batu Granit. Di beberapa persimpangan kami harus berhenti dan bertanya pada warga. Tiga kali tanya arah, tapi masih nyasar juga.

“Katanya sudah pernah ke sana, kok nggak tahu jalannya?” tanya saya.

“Waktu itu kami datang dari arah yang berbeda, bukan lewat sini,” jawab mas Yopie.

Pantas kalau begitu. Hehe. Supir pun tidak tahu jalan. Ikut tanya-tanya juga. Saat sampai pada sebuah tanah agak lapang, kami belok kanan. Dari belokan itu, muncul dua pengendara sepeda motor. Tiga perempuan dan satu laki-laki. Kami bertanya kepada mereka.

“Batu Granit di sana ya?” supir menunjuk ke depan.

“Bukan mas, tapi ke sana,” jawan perempuan berhelm sambil menunjuk ke sebelah kiri dari posisi mobil kami.

“Nyasar ya mas? Sama!” lanjut perempuan itu.

Saya coba intip wajah di balik helm-nya. Dia tertawa. Meledek. Lucu. Melihat itu, saya tersenyum masam. 

kebun karet lampung selatan
Sunyi.....
MASUK HUTAN KARET

Jadi begini, jalan menuju Tanjung Bintang itu awalnya mulus-mulus saja. Aspal. Lebar. Tapi sisanya adalah jalan tanah dan batu. Bahkan, 3 kilometer jelang Taman Batu Granit, tidak ada jalurnya sama sekali. Ada celah agak lebar di antara pohon-pohon karet itu saja yang dijadikan jalan. Jalannya seperti maksa. Cuma rumput dan tanah, sesekali lubang. Sampai ujung, ada pemuda bermotor yang mengarahkan kami mendekati kumpulan batu paling besar. Akhirnya sampai.

Bicara tentang kebun karet, Taman Batu Granit ini memang terletak di tengah perkebunan karet PTPN Afdeling VII Bergen, tepatnya di Desa Purwodadi Dalam. Kebun karetnya luaaas banget. Tapi sepi. Bukan mall sih, wajar sepi ya. 

Agak ngeri juga kalau sendirian. Ngeri sama preman, rampok, begal, atau apalah yang semacam itu. Ada sih sesekali satu atau dua kendaraan lewat. Entah itu motor atau mobil. Kalau begalnya lebih ramai, satu atau dua mobil yang papasan belum tentu bisa menolong. Hiiii....serem juga.

Sapi sedang bersantap sore

JANGAN BERANGKAT SENDIRIAN


Sebagai perempuan, saran saya sih datang ramean kalau mau ke Batu Granit. Ajak orang-orang yang bisa melindungi kalau terjadi apa-apa. Memang sih, kejahatan ada di mana-mana, nggak cuma di kebun karet yang sepi, di tengah mall juga bisa terjadi. Tapi tetaplah selalu waspada. 

Tadi saya coba baca artikel online lainnya tentang Batu Granit. Disebutkan bahwa dulu sebelum tahun 2010, tempat ini rawan preman. Kalau malak (tukang palak yeeee) pakai golok. Ngeri nggak tuh?

Alhamdulillah saat saya ke sana tidak ada kejadian seperti itu. Malah cewek-cewek ada yang berani bawa motor ke sana cuma ber-empat. Mungkin masa-masa begal sudah lewat. Siapa tahu sekarang sudah lebih aman. Tapi tetap harus waspada.

Batu granit berserakan di tengah kebun karet

TAMAN BAGUS TAPI TAK TERURUS


 Sebelum sampai lokasi, sudah tampak batu-batu besar di tengah kebun karet. Letaknya sembarang, ada di mana saja. Kadang cuma satu, kadang ada dua, kadang sampai empat batu. Diameternya kira-kira satu sampai dua meter. Belum termasuk besar. Nah, yang besar dan sangat besar ada di ujung perjalanan. Ujung perjalanan? :D

Kesan pertama saat sampai di Taman Batu Granit, keadaannya tidak terurus sama sekali. Tempat parkir? Wah, jangan kira ada tempat parkir di sini. Sembarang pokoknya. Asal ada tempat kosong, parkir saja. 


Rumput dan semak belukar di mana-mana. Tapi mendinglah nggak sampai bikin susah buat jalan. 

di lokasi

BATU GRANIT RAKSASA


Di tempat mobil kami parkir, ada banyak sekali batu. Dari ukuran kecil (kecilnya segede kerbau hehe) sampai yang sangat besar. Saya bingung mau mendekati yang mana. Akhirnya diajak ke batu yang paling besar. 

Seberapa besar? Kira-kira sebesar rumah tipe 21. Tingginya sekitar 10 meter. Bisa dinaiki? Bisa. Nggak perlu pakai manjat ala panjat tebing. Tinggal naik dari batu ke batu. Mudah. Saya malah naiknya pakai wedges lho. Nggak dilepas hehe. Bisa sampai atas. Pokoknya mudah dinaiki. Di atas batu saya bisa lari-lari pula :D

Sampai atas, masha Allah, langsung nyesss rasanya badan ini. Hijauuuu semuanya. Adem lihatnya. Hutan karet di mana-mana, luas sejauh mata memandang. Mata benar-benar dimanjakan oleh panorama yang bikin hati jadi sejuuuuk. 
Jika batu sandungan hidup sebesar itu, mampukah kamu mengangkatnya?

PEMANDANGAN MENAWAN

Hati yang sedang panas dijamin bakal jadi adem berada di atas batu ini. Yang sedih bakal jadi lupa sedihnya, berganti gembira dan bahagia. Yang sedang nggak punya gairah, jadi bangkit lagi gairahnya. Yang marah bisa berubah jadi sayang lagi….hehe.

Bagi orang lain, berada di ketinggian dengan pemandangan alam nan hijau mungkin biasa saja. Apalagi yang biasa naik gunung dan lihat pemandangan alam yang spektakulernya kebangetan. Tapi buat saya yang bukan anak gunung, naik batu granit besar dengan suguhan pemandangan hutan karet saja sudah bahagiaaa banget. Seperti lepas dari segala beban hidup. 

Hutan karet menghijau sejauh mata memandang

FOTO-FOTO CANTIK SAMBIL NGAYAL-NGAYAL CANTIK


Memang sih sampai di atas batu itu kerjaan saya banyakan motret. Motret juga asal-asalan. Ada juga rekam video. Sisanya ya selfie-selfie cantik. Memang cakep banget tempatnya buat foto-foto. Tapi selain itu, saya juga menikmati suasana. Walau tidak lama.

Saya membayangkan berada di tempat ini malam hari. Sendirian. Alangkah sepinya. 


Berbaring di atas batu, memandang langit yang kadang terang benderang oleh bulan, indah oleh kerlip bintang, atau gelap gulita tertutup awan. Tapi tak peduli apa pun itu. Tetap saja di atas batu, menunggu akhir…dalam senyap paling senyap. Lalu jadi batu. Wiiih jangan sampai.

batu granit tanjung bintang
Tersusun rapi tanpa campur tangan manusia

STOP VANDALISME!


Tak sampai satu jam, kami turun dari batu. Kembali ke mobil, membayar uang parkir ke seorang pemuda, lalu pergi meninggalkan Taman Batu Granit. Tidak ada tarif tertentu. Kami serahkan uang Rp 20.000,- lalu dikembalikan Rp 10.000,-

Perasaan saya diliputi bahagia. Senang bisa kesampaian melihat Taman Batu Granit. Tapi sekaligus merasa sedih. Sedih melihat coretan-coretan pada batu-, ulah tak bertanggung jawab dari pengunjung alay. Entah siapa pelakunya.  


Please tidak usah jalan ke mana-mana kalau cuma mau merusak keindahan. Diam saja di kamar, baca buku, tonton berita, berdoa, atau tidur saja. Sungguh tak ada faedahnya corat coret di batu. Kalau mau eksis bukan dengan cara membuat coretan tidak karuan yang hasilnya cuma merusak keindahan.

Sedih lihatnya...

LEKAS PULANG SEBELUM MALAM


Belum jam 5 sore kami sudah keluar dari area Taman Batu Granit. Karena masih terang, di tengah jalan saya minta berhenti. Kebun karet sore itu menampakkan pesonanya. Ada kumpulan sapi sedang memakan rumput. Sapi-sapi putih, menggemaskan. Saya ingin memotret dan dipotret.

Kebun karet yang sunyi….

Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari berangkat. Sebelum magrib kami sudah tiba di Bandar Lampung. 

Mampir untuk berfoto

Ada yang kami lewatkan di Batu Granit, yakni matahari terbenam. Menurut pejalan yang pernah ke sana, pemandangan matahari terbenam di sana sangat indah. Tapi saya membayangkan waktu pulangnya bakal kemalaman. 

Kawasan batu granit itu gelap. Tidak ada penerangan. Jangankan di area perkebunan karet, di desa terdekatnya saja masih minim lampu jalan. Saya khawatir dengan keselamatan diri. 

Tak apalah tak nikmati matahari terbenam. Nanti lain kali kalau sudah ada yang pasang penerangan, baru ke sana lagi untuk lihat sunset.

Batu berserakan


taman batu granit lampung selatan

Kalau mau ke batu granit, baiknya mungkin di waktu pagi sampai siang. Sore kadang cuaca hujan. Buat yang mau ke sana, bawa bekal makanan dan minuman sendiri. Di sana tidak ada warung. Jauh dari rumah warga. Ingat, di sana itu kebun karet. Bawa lotion anti serangga buat jaga-jaga. Bawa mantel hujan. Nggak ada tempat berteduh kalau kehujanan.

Apa lagi ya?

Bawa hati yang gembira. 


Tapi, biarpun hati sedang sedih, kalau dibawa ke Taman Batu Granit, suasana hati bisa jadi berubah senang dan bahagia. Semoga ya ^_^

batu granit lampung selatan
Pakai wedges naik batu :D *foto oleh yopiefranz.com*

Datang dan menyaksikan hamparan batu-batu granit yang tersusun rapi, yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia sedikitpun, rasanya senaaaang sekali. Apalagi saat berada di atas batu yang tinggi. Tampak jelas lanskap bentangan hutan karet dengan warna hijau langsung mencumbu langit. Melihatnya, bikin enggan pulang.

Lampung tak pernah habis untuk di jelajahi.

Kapan ke Lampung? 


==================================


Rute menuju Taman Batu Granit Tanjung Bintang
Pahoman - Panjang - Jl. ir. Sutami - Belok ke Desa Wonodadi Dalam - Taman Batu Granit.

Tentang situs tiket2.com
Tiket2.com adalah website dengan fitur perbandingan penerbangan dan pemesanan tiket. Website ini telah membangun sebuah database maskapai, bandara dan rute di Indonesia dan Asia yang sangat besar sehingga harga yang akan didapat dengan memesan tiket pesawat di Tiket2.com sangatlah bersaing. 

Sewa Mobil Bandar Lampung
Untuk ke Taman Batu Granit Tanjung Bintang bisa menggunakan mobil atau motor. Bagi yang akan menggunakan mobil sewa, harganya sekitar Rp 400 ribu sudah termasuk sewa, supir, dan BBM.
 


  

Batu Lapis dan Pulau Mengkudu, Tempat Wisata Menarik di Lampung Selatan

tiket pesawat murah
Batu Lapis di Lampung Selatan

“Pergi ke Kalianda, Rien. Pantai-pantainya cukup bagus. Di sana juga banyak penginapan dan kamu bisa main ke Pulau Mengkudu sekaligus berkunjung ke Batu Lapis.”

Mas Yo sahabat saya merekomendasikan Kalianda untuk saya kunjungi di akhir bulan Agustus lalu. Saat nama Kalianda disebut, ingatan saya melayang pada acara Festival Krakatau 2015. Saat itu saya mengikuti Tur Krakatau bersama para undangan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. Kalianda menjadi titik keberangkatan kami menuju Gunung Anak Krakatau, tepatnya dari dermaga Grand Elty Krakatoa Resort.

Dalam acara Tur Krakatau itulah pertama kali saya ke Kalianda. Dari dalam bus yang saya tumpangi, saya tidak terlalu memperhatikan keadaan pantai-pantai yang dilewati. Hanya melihat sekilas saja, dan rasanya saya tidak melihat ada pantai yang bikin saya tertarik dan ingin mengunjunginya suatu waktu. Itu sebabnya ketika Kalianda disebut saya tidak begitu antusias. Tetapi, Pulau Mengkudu dan Batu Lapis itu yang membuat saya penasaran.

Pesona seperti apa yang dimiliki Batu Lapis dan Pulau Mengkudu?
wisata lampung selatan
Pulau Mengkudu tanpa pohon mengkudu
Berwisata ke Lampung Selatan
Selasa tgl. 30 Agustus 2016 saya berangkat ke Kalianda bersama @KelilingLampung. Kalianda merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan yang terletak di kaki Gunung Rajabasa. Kota kecil nan bersahaja ini juga terletak di tepi pantai di sepanjang Teluk Lampung. Saya berangkat dari Bandar Lampung dengan menggunakan kendaraan admin #KelilingLampung.  Waktu tempuh menuju Rajabasa diperkirakan sekitar 2,5 jam.

Memasuki wilayah Lampung Selatan, kami melewati Pelabuhan Panjang Pelindo. Saat mengamati keadaan sekitar kiri dan kanan jalan, saya merasa seolah pernah melintasi jalan tersebut. Seperti jalan menuju Pelabuhan Bakauheni. Hal itu dibenarkan oleh Mas Yo. Lampung Selatan memang merupakan sebuah kabupaten yang menjadi pintu gerbang Provinsi Lampung. Di kabupaten ini terdapat Pelabuhan Bakauheni, tempat bersandar kapal-kapal yang membawa penumpang/barang dari Pulau Jawa.
Kulineran di Kalianda, Pindang Patin dan Pindang Simba
Kulineran di Kalianda
Memasuki jam makan siang, mobil kami menepi ke sebelah kanan jalan di sebuah rumah makan pindang pegagan. Pengunjung sedang ramai. Mas Yo sudah beberapa kali makan pindang di tempat ini. Rasanya biasa tapi ikannya segar, begitu menurutnya. 

Biasanya kalau rumah makan ramai pengunjung, ikan dan bahan makanan yang digunakan yang segar karena stock bahan yang ada tidak disimpan lama-lama. Di rumah makan ini kami hanya menghabiskan Rp 82 ribu untuk pindang patin, pindang simba, 2 nasi dan minum 2 buah air kelapa bulat. Cukup murah?

Usai makan siang yang mengenyangkan itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Rajabasa. Suasana pesisir mulai tampak. Desa-desa di pinggir laut dengan warga yang tengah beraktifitas, serta rumah-rumah yang berbaris rapi, memperlihatkan kehidupan yang cukup makmur. Plang-plang bertuliskan home stay dan paket wisata mulai terlihat di beberapa tempat. Pertanda kami sudah memasuki kawasan wisata.
Wisata pantai canti
Pantai Canti Lampung Selatan

Pantai Canti dan Pantai Wartawan
Jalan yang kami lalui di Desa Waymuli, Kecamatan Rajabasa, makin lama makin ke pinggir laut. Mobil melintasi dua pantai ternama di Lampung Selatan yaitu Pantai Canti dan Pantai Wartawan. Karena pemandangan yang terlihat di kedua pantai itu cukup menarik, kami sempat berhenti beberapa saat untuk mengambil foto.

Pelabuhan Canti merupakan salah satu titik keberangkatan wisatawan yang hendak berangkat ke Gunung Anak Krakatau. Menurut cerita, jika berangkat dari Canti, maka jarak tempuh menuju gunung tidak terlalu panjang. Pantai Canti memiliki hamparan pasir putih. Di antara rimbunnya pepohonan yang melengkapi keindahan pantai ini, tedapat saung-saung yang asik untuk duduk-duduk santai atau rebahan, atau sekedar menatap pulau-pulau kecil di kejauhan.

Pantai Wartawan adalah pantai yang tak terlalu luas tetapi memiliki keunikan karena terdapat sumber air panas. Jika mampir ke pantai ini kita bisa memanfaatkan sumber air panasnya  untuk merebus telur. 
Pantai Wartawan di Lampung Selatan
Pantai Kahai
Kahai adalah nama tempat yang terletak di Kecamatan Rajabasa, tepatnya di Desa Batu Balak - Lampung Selatan yang berjarak tempuh kurang lebih 30 km dari pelabuhan Bakauheni. Kahai sendiri merupakan tempat yang subur dengan pemandangan alam yang sangat memukau, panorama laut yang indah dengan udara yang segar yang tentunya dapat memanjakan mata manusia.

Pukul 13.30 kami sampai di Krakatau Kahai Beach Hotel. Penginapan pinggir laut ini terletak di Jl. Raya Pesisir Batubalak No.99 Rajabasa, Lampung Selatan. Dari jalan raya, lokasinya ada di sebelah kanan jalan. Setelah melewati gerbang, ada turunan, kemudian belok kanan ada jalan agak naik. Tepat di atas bukit/tebing terdapat beberapa bangunan berupa restoran, hotel, campingground room (rumah kayu). Sedangkan di area pantai terdapat water boom yang bisa digunakan oleh tamu hotel maupun umum.
Water Boom di Pantai Kahai, Krakatau Kahai Beach Hotel

Sebelum kemari, saya sempat melakukan pencarian beberapa hotel di Google, sampai akhirnya menemukan website www.krakataukahaibeach.com. Di antara kamar-kamar yang ditawarkan, saya tertarik dengan campingground room berupa bangunan rumah kayu di atas tebing yang menghadap ke laut. Harga per malam nya Rp 600.000 include sarapan untuk dua orang dan dua tiket masuk water boom. Ada disc 30% untuk weekdays. 

Nah, karena harganya bersahabat dengan kantong, kamar inilah yang saya pesan. Harga bagus, view bagus, dan kamar kayunya pun unik, sempurna.
Rumah kayu dengan kamar mandi di luar

Fasilitas di Rumah Kayu: double bed, AC, TV, slipper, 2 botol air mineral, WIFI

Tarif kamar rumah kayu (campingground room) include sarapan untuk 2 orang

Pulau Mengkudu
Perahu untuk menyeberang ke Pulau Mengkudu kami pesan melalui hotel Krakatau Kahai Beach. Per orang dikenakan biaya Rp 40.000 untuk pulang dan pergi dari/ke Pulau Mengkudu. Biasanya di akhir pekan pengunjung lebih banyak dan harga sewanya bisa lebih murah.

Dari hotel ada motor yang disediakan untuk berangkat menuju titik persewaan perahu yang akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Jaraknya tidak terlalu jauh tapi kalau jalan kaki lumayan. Sempat mau pakai mobil, tapi orang hotel bilang nanti repot parkirnya. 

Akhirnya kami naik motor. Security hotel yang mengikuti dari belakang berencana membawa motor itu kembali ke hotel. Tidak ditinggal selama kami pergi ke Pulau Mengkudu. Tiba di tempat persewaan perahu ada yang minta bayaran parkir sebesar Rp 10.000. Guide dari hotel yang mengikuti dari belakang terlihat tidak setuju dengan tagihan uang tersebut karena motor kami tidak parkir, melainkan cuma mengantar lalu pergi lagi.  
Jukung (perahu) yang mengantar kami ke Pulau Mengkudu

Sore itu kami menyeberang ke Pulau Mengkudu. Pulaunya cukup dekat, 20 menit saja kami sudah sampai. Ternyata perahu tidak berlabuh di Pulau Mengkudu, melainkan di pulau pasir timbul yang menghubungkan antara daratan Sumatera dengan Pulau Mengkudu. 

Pasir timbul tersebut tidak akan terlihat ketika air laut pasang. Jadi sebenarnya Pulau Mengkudu bisa dicapai lewat daratan. Tapi tidak disarankan karena medannya sulit berupa bukit-bukit terjal. Karena itu menggunakan perahu lebih mudah dan aman. 
Jalan ini adalah pulau pasir timbul yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Mengkudu


Ada biaya tiket masuk pulau sebesar Rp 10.000 perorang. Hari itu hari Selasa, pengunjungnya sedikit, hanya ada 4 anak muda sedang bermain air di pinggir pantai. Saat kami tiba, mereka berjalan ke arah bukit, menuju Batu Lapis. Di akhir pekan, pengunjung pulau cukup ramai, bisa mencapai seratus orang per hari nya. Sedangkan di hari libur nasional, atau libur hari raya, pengunjung bisa mencapai 500-an orang. Demikian keterangan dari mas-mas yang menyewakan alat snorkling di warung dekat pantai.

Di sini memang ada warung, tapi cuma satu-satunya. Bagi yang ingin membeli air minum, mie instant, atau sekedar jajan gorengan, bisa ke warung tersebut. Nah, di warung itu pulalah terdapat persewaan alat-alat snorkeling.
Selamat datang di Pulau Mengkudu
Satu-satunya warung

Kami memilih untuk menikmati suasana saja. Oh ya, jalan kaki di pulau pasir timbul  perlu menggunakan sandal. Lumayan sakit kalau jalan kaki karena ada banyak batu-batu berbagai bentuk dan ukuran cukup tajam bila diinjak, berserakan di atas pasir. Jarak antara daratan Lampung dengan Pulau Mengkudu tidak panjang, sekitar 50 meter saja.

Sorenya kami berenang karena tidak tahan dengan godaan airnya yang jernih dan kebiruan. Air lautnya terasa hangat, bikin saya betah berlama-lama berendam. Apalagi sambil menikmati pemandangan bukit-bukit di daratan pulau Sumatra yang terlihat begitu hijau, sangat memanjakan mata. 
Banyak batu di permukaan pasirnya, kudu pakai sendal biar nyaman jalan kaki

Jalan-jalan di pulau, eh ketemu biawak besar 

Pulau Mengkudu memiliki luas sekitar dua hektare. Pulau mungil tak berpenghuni ini terletak di Desa Batu Balak, Kecamatan Rajabasa. Dinamakan Pulau Mengkudu karena pada tahun 1980-an di pulau ini banyak dijumpai pohon mengkudu. Namun kini pulau ditumbuhi pohon bakau. 

Saat berjalan-jalan di pulau ini, udara terasa sejuk karena banyak pohon yang menaungi. Mesti hati-hati selama berjalan di antara bakau sebab saya menemukan seekor biawak besar sedang melintas di antara daun-daun kering dan akar pohon. Ngeri juga kalau digigit he he.



Batu Lapis
 
Sebelum hari terlalu petang, perahu datang menjemput. Kami pun pulang. Sekitar 10 menit setelah berangkat dari Pulau Mengkudu, perahu merapat ke pinggiran untuk singgah di Batu Lapis. Agak sedikit sulit perahu bersandar. Hempasan ombak cukup kuat, begitu juga angin sore. Karena itu perlu hati-hati. Apalagi batu-batunya licin. Perahu benar-benar harus ditarik dan dipegang dengan kuat agar kami bisa turun dengan selamat.

Batu karang berlapis-lapis yang berundak-undak itu berwarna kehitaman, tersusun rapi, dan terlihat sangat unik. Sesuatu yang langka dan belum pernah saya jumpai. Mirip bebatuan di Tanah Lot Bali. Lapisan-lapisan pada batunya sangat rapi. Seperti dipahat. Seperti ada yang menyusunnya. Padahal semua terbentuk secara alami. Bisa jadi karena faktor alam, terkena hempasan ombak, arus deras, terjangan gelombang, angin atau apa saja yang ada di sekitarnya. Ombak yang menghantam dan laut biru jernih di dekatnya membangun estetika tempat tersebut.
batu lapis

Di salah satu sisi, ada celah di antaran bebatuan itu sehingga membentuk semacam kolam. Saya berjalan dari satu undakan ke undakan lainnya. Di undakan paling atas, bapak pengemudi perahu duduk menghisap rokok. Matanya lekat memandang lautan. Seolah sedang berbincang mesra dengan alam. Sementara guide tinggal di perahu, menjauh dari batu agar tidak terkenan dorongan ombak yang menghempas bebatuan. 

Hari kian petang, matahari sebentar lagi tenggelam. Saya mengambil gambar sebanyak mungkin selagi alam raya belum kehilangan cahaya. Setelah puas, baru duduk-duduk saja, menikmati pemandangan petang yang mulai menyajikan nuansa romantis. Langit mulai berhias selendang jingga.



Tak salah jika Batu Lapis menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat bertualang di Lampung Selatan. Tempat ini menghadirkan inspirasi, juga sebait puisi sunyi.

Cara mudah menuju Lampung Selatan
Pertama-tama, datanglah ke Lampung. Ada dua cara untuk menuju Lampung yaitu lewat darat dan udara. Jika dari Jakarta lewat udara, ada banyak maskapai rute Jakarta-Lampung yang melayani penerbangan sejak pagi sampai sore. Lalu, dari bandara Radin Intan Lampung, sewalah mobil untuk menjangkau daerah pesisir di Lampung Selatan.

Jika dari Jakarta lewat darat, sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, sewalah kendaraan mobil ataupun ojeg motor dalam waktu kurang lebih 45 menit saja. Sementara jika datang dari arah Kota Kalianda, jaraknya hanya sekitar 30 Km dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun ojeg motor.

Waktu terbang dari Jakarta-Lampung tergolong singkat karena jaraknya memang dekat. Meski dekat, tidak berarti tiket pesawatnya murah. Jika memesan jauh hari sebelum keberangkatan, atau saat ada tiket promo, saya kadang bisa dapat harga ramah di kantong. Tapi jika memesan sudah dekat hari H, tak jarang mengoyak kantong. 
.
Jelang senja di Batu Lapis

Belanja Tiket Pesawat Murah ke Lampung
Saya suka berwisata di Lampung. Provinsi satu ini seperti crème brulle yang manis dan lembut. Makin dijilat makin enak. Makin banyak objek wisata dijamah, makin penasaran bikin ingin datang lagi dan datang lagi.

Sesekali sih ada dapat sponsor, entah itu tiket pesawat atau pun penginapan. Tapi jarang. Seringnya bayar sendiri. Untuk menyiasati agar tetap bisa jalan-jalan tanpa bikin kantong koyak sana sini, saya kudu pinter-pinter mencari tiket pesawat murah. Ada cara untuk mendapatkannya, yakni melalui tiket2.com

Tiket2.com adalah website dengan fitur perbandingan penerbangan dan pemesanan tiket. Website ini telah membangun sebuah database maskapai, bandara dan rute di Indonesia dan Asia yang sangat besar sehingga harga yang akan didapat dengan memesan tiket pesawat di Tiket2.com sangatlah bersaing.
tiket pesawat promo

Belakangan, dari tiket2.com lah saya menemukan harga tiket pesawat termurah untuk setiap penerbangan, setiap hari. Dengan begini, urusan tiket untuk jalan-jalan ke Lampung atau ke daerah lainnya, bukan masalah lagi. Andai pun sanggup bayar tidak murah, tiket pesawat promo tetap jadi incaran. Kalau ada uang lebih sisa beli tiket, bisa digunakan untuk membayar keperluan lainnya seperti untuk bayar taksi, ojek, ataupun belanja oleh-oleh.


Mau ini? Cek www.tiket2.com


Oh ya, saya juga ingin menginformasikan bahwa Tiket2 saat ini sedang mengadakan kontes tiket pesawat gratis, dimana setiap orang bisa memenangkan tiket gratis ke tujuan favorit di Indonesia dan luar negeri. Kalau mau ikutan, bisa cek di website Tiket2.com ya. Siapa tahu beruntung.

Kalau sudah dapat tiket pesawat murah, yuk terbang ke Lampung mengunjungi Pulau Mengkudu dan Batu Lapis di Lampung Selatan.

pulau mengkudu
Yuk ke Pulau Mengkudu