Tampilkan postingan dengan label social distancing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label social distancing. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Dirawat di Rumah Sakit di Saat Pandemi

Sakit dan dirawat di Rumah Sakit di saat pandemi, bukan hal yang enak untuk dialami. Dalam situasi normal saja tak nyaman, apalagi saat wabah. Rasa cemas berlipat-lipat, ketakutan menggunung. Jika bisa meminta, tolong jangan sakit dulu, apalagi sampai dirawat. Namun, bila sudah jadi kehendak Tuhan, tak mungkin menghindar, mau tak mau dihadapi dan berjuang untuk meraih kesembuhan. Lantas, pengalaman seperti apa yang saya dapat ketika berada di pusatnya orang-orang sakit? 

Minggu lalu, suami saya mengeluh nyeri di ulu hati. Tanda-tanda yang tampak persis seperti menderita sakit maag. Perut kembung, susah buang angin, ulu hati sakit, dan berbagai rasa tidak nyaman di perut. Saya dan suami sama-sama mengira maag, lalu minum obat maag yang memang selalu sedia di rumah, namun tak jua sembuh meski 1 jam berlalu. Karena kondisi tak kunjung baik, saya bawa ke UGD di Eka Hospital BSD. 

Pemeriksaan pertama: LAB dan USG

Sampai di UGD seluruh petugas medis yang saya temui mengenakan APD lengkap. Saya senang melihatnya namun di sisi lain membuat saya diselimuti cemas. Kecemasan pertama, ini adalah tempat pertama di mana orang-orang sakit datang dalam kondisi darurat, bisa saja di antara yang pernah datang adalah pasien pengidap Covid-19. Berarti saya memasuki area berbahaya bukan? Kedua, jawaban dokter K atas pertanyaan apakah di RS ada pasien Covid, membuat saya seperti sedang terjebak di sarang penyakit yang sedang mendunia itu!

Di ruang UGD hari itu, sekitar pukul 10 pagi, masih sepi. Hanya ada 1 pasien lain selain suami, deretan ranjang tampak kosong. Meski demikian, saya tak berani menyentuh apapun, kalau pun menyentuh dokumen yang harus ditanda tangan saat masuk, saya langsung cuci tangan, berkali-kali. 

Suami langsung mendapat penanganan dari dokter dan perawat. Pertanyaan berkaitan Covid-19 sudah tentu ada, dan untuk gejala yang dialami, suami langsung diperiksa lab dan mesti USG.


Pemeriksaan kedua: Rapid Test dan CT Scan Low Dose

Perlu waktu sekitar 2 jam bagi saya untuk menunggu hasil pemeriksaan Lab dan USG. Hasil lab menjelaskan beberapa item pemeriksaan terhadap suami saya dikategorikan parah. Begitu juga dengan hasil USG, ternyata ada batu di kantong empedu. Dari dua hasil pemeriksaan inilah suami dinyatakan harus dirawat.

Nah, di sinilah kemelut itu terjadi.

Sudah jadi aturan pemerintah agar diterapkan oleh seluruh Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta bila ada pasien dirawat wajib Rapid test dan Swab. Penjelasan ini saya terima dari dokter yang saat itu bertugas di UGD. Saya diberi rincian tertulis mengenai pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan;

- Lab
- USG
- Rapid Test
- CT Scan Low Dose

Sesuai prosedur rawat inap sudah tentu suami wajib menjalani pemeriksaan Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Kedua pemeriksaan tersebut terkait Covid-19. Penting bagi RS tahu pasien negatif atau positif karena akan menentukan di mana nanti pasien dirawat dan bagaimana cara perawatan. 
Jangan sampai sakit, jangan sampai dirawat saat pandemi

Ketakutan yang Membuncah

Sembari menunggu hasil Rapid Test dan CT Scan Low Dose, pikiran saya tidak tenang, bahkan dilanda kesedihan mendalam. Kami merasa selama ini sudah sangat taat terhadap langkah-langkah pencegahan Covid-19, tapi bagaimana bila nanti hasil tes suami positif? Apakah di UGD ini akan jadi momen terakhir saya membersamainya? Bukankah bila positif, pasien tak boleh dijaga dan dikunjungi oleh siapapun? Memikirkan itu, mata saya memanas, dan akhirnya basah. Perasaan sedih itu tak terkendali, saya sungguh tidak mau berpisah dari suami dengan cara seperti ini. 

Seorang teman dokter melalui Whatsapp menenangkan saya. Katanya, Insha Allah suami saya negatif, dan nanti bisa fokus menjalani pengobatan pada perutnya. Lagipula, kalau misal Rapid Test positif, jangan langsung panik dan stres, bisa jadi tidak akurat, dan masih bisa dibuktikan dengan Swab. Karena, bisa saja saat Swab malah negatif. Membaca pesan itu, kecemasan saya mulai berkurang. Saya lanjut berdoa semoga pemeriksaan covid-19 suami saya negatif.

Saat hasil Rapid Test keluar, dokter di UGD sudah berganti, tadinya Dr K (laki-laki), sekarang dokter S (perempuan). Alhamdulillah Rapid Test hasilnya Non Reaktif. Bagaimana dengan CT Scan Low Dose? Pemeriksaan satu ini biayanya lebih mahal dari SWAB. Kenapa lebih mahal? Mungkin saja hasilnya lebih akurat. Ya, hasil panorama menunjukkan Mas Arif bebas corona. Paru-parunya bersih dan aman. ALHAMDULILLAH.

Biaya Pemeriksaan Covid-19 Tidak Ditanggung Asuransi dan Pemerintah!

Segala biaya perawatan suami selama di RS ditanggung oleh pihak asuransi (swasta), namun untuk biaya pemeriksaan terkait Covid-19 ditanggung pribadi. Hal tersebut berlaku untuk pasien manapun dengan asuransi apapun, baik asuransi swasta maupun pemerintah (BPJS). Nah, bila positif Covid-19, maka seluruh biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah. 

Jadi, buat yang ingin Rapid Test maupun swab, bisa saja dilakukan tapi bayar sendiri. Biaya Rapid Test masih termasuk murah, hanya 400ribuan saja. Yang mahal Swab. Lebih mahal lagi jika dengan CT Scan Low Dose. Kemarin suami hanya menggunakan cara Rapid Test dan CT Scan Low Dose. Total keduanya 4,3 jutaan.

Dengan biaya tidak murah itu, apa iya masyarakat yang secara ekonomi lemah mau tes dan periksa? Dalam kondisi seperti sekarang, urusan makan saja sedang banyak yang susah, bagaimana mau mengurus tes covid-19 segala?

Suami pun, jika bukan karena sakit (batu empedu) dan harus dirawat, mungkin tidak akan menjalani pemeriksaan macam ini. Selama ini, saya dan suami hanya berpikir positif bahwa kami bebas dari Covid-19, jadi belum pernah merasa perlu untuk tes covid-19. Jika pun ingin, yang ada malah takut jika harus periksa, nanti malah kepikiran. Lagian, takut juga mendatangi RS buat periksa, seakan kalau datang ke RS malah menjemput penyakit.

Saya jadi berpikir begini, mungkinkah jika di suatu wilayah no case karena no test? Hmm...
Lift ini lebih sering kosong saat saya turun dan naik. Sesekali saja berpapasan dengan petugas medis atau pun pekerja dan pengunjung lainnya di RS. Kamu tahu? Lift adalah bagian yang paling saya takuti selama di RS, meskipun tiap 1 jam lift ini dibersihkan dengan desinfektan

SUPER HATI-HATI

Berada di rumah saja saya sangat hati-hati, apalagi berada di luar rumah misal saat ke tukang sayur, atau ke minimarket depan komplek, sudah pasti saya pakai masker, cuci tangan di manapun air dan sabun tersedia, pakai hand sanitizer bila tak ada sabun dan air, dan selalu menjaga jarak bila bertemu siapa pun.

Bagaimana bila di rumah sakit? Sudah pasti melakukan hal yang sama namun dengan kehati-hatian yang ekstra. Sebagai pasien, suami saya sudah pasti wajib pakai masker selama berada di kamar perawatan, terutama bila dokter dan perawat visit. Dokter dan perawat jangan ditanya, mereka selalu pakai seragam APD lengkap, berjam-jam. Kebayang panasnya.

Sebelum masuk kamar perawatan, kamar disteril ulang, setelah siap, suami baru masuk. Oh ya, kami masuk UGD sekitar jam 10 pagi, setelah melewati berbagai pemeriksaan yang panjang, pendaftaran rawat inap, dan lain-lain, jam 8 malam baru masuk kamar perawatan. Lama ya :))

Saya mondar mandir dari UGD, ruang tunggu radiology, ruang admin rawat inap mengurus dokumen, hingga ke lantai 7 kamar perawatan, bertemu beberapa orang, dan pastinya berkali-kali memegang gagang setiap pintu yang dimasuki, tombol lift, pulpen buat tanda tangan. 

Apa yang saya rasakan?? Seakan diserbu Covid-19 dimana-mana. Berada di RS bikin saya jadi sangat parnoan. Tiap bebeberapa belas menit saya cuci tangan, kulit tangan sampai kering dan terasa panas. Belum 24 jam di RS, kulit tangan sudah mengeriput :))
Tanda bulat warna orange yang ditempel di baju adalah tanda sudah discreening oleh petugas RS sebelum masuk RS. Tiap hari diperiksa dan warnanya tiap hari ganti. 

Prosedur Pencegahan Covid-19 Untuk Pasien Rawat Inap

Di saat pandemi, Rumah Sakit menerapkan aturan ketat demi pencegahan penularan Covid-19. Ini yang terjadi di EKA Hospital tempat suami saya dirawat:

- Pasien hanya dijaga/ditemani oleh satu orang saja
- Tidak diperbolehkan dikunjungi oleh siapa pun
- Tidak ada jam besuk
- Setiap keluar kamar harus pakai masker
- Tetap pakai masker di kamar bila dokter/perawat visit
- Semua aturan tersebut disampaikan beberapa kali dalam sehari lewat pengumuman ke seluruh area RS

Saya sebagai satu-satunya orang yang menemani suami selama dirawat, tidak bisa bebas keluar masuk, selalu harus melalui pemeriksaan ketat. Pintu keluar dan masuk kini hanya dibuat satu pintu. Masuk dari pintu utama di depan, keluar hanya melalui pintu belakang. Akses lainnya ditutup guna pengetatan aturan masuk. 

Tiap petang anak saya Alief mengantar makanan untuk saya berbuka. Saya tidak perkenankan dia masuk kawasan RS. Saya hanya minta dia mengantar di depan gerbang, dan saya menemuinya di luar. Setelah itu saya suruh dia cepat pulang ke rumah. Hal ini terjadi setiap hari selama saya menemani suami dirawat. 

Saya tidak berani memesan makanan dari luar lewat aplikasi online, atau ke restoran yang ada di area lobi RS. Selain khawatir pada pembuatnya, juga pada pengantarnya. Maafkan saya ya para resto dan pengemudi layanan pesan antar. Di kondisi saya harus sehat demi menjaga yang sakit, saya harus hati-hati terhadap apa yang saya makan dan siapa yang saya temui. Semoga rejeki kalian tetap hadir dari arah manapun meski tidak lewat saya.

Alief tiap hari terpaksa harus keluar rumah pakai motor ke RS, mengantar makanan dan pakaian buat saya. Saya perintahkan hanya di luar saja, tidak perlu masuk dan parkir di dalam. Biar dia aman dan tidak ketemu orang-orang di RS.

Pagi hari mengambil pakaian kotor dan mengantar pakaian bersih, sore jelang buka mengantar makanan buat saya berbuka. Saya foto dia buat kenang-kenangan, bahwa selama pandemi, pernah terjadi hal seperti ini 😃 

Jaga Kesehatan, Jaga Keuangan

Hampir satu minggu suami dirawat, alhamdulillah dari hari ke hari kondisinya membaik. Rangkaian pemeriksaan tidak hanya sebatas 1 kali lab, USG, Rapid Test, dan CT Scan Low Dose. Namun, dilanjut dengan MRCP dan 2 kali lab lagi.

Pemeriksaan dan pengobatan batu empedu memang tidak simple. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan itu tidak selesai hanya dalam hitungan 1 atau 2 hari. Bukan hanya badan yang harus sabar, kantong juga harus sabar karena pengobatan dan rangkaian pemeriksaan memakan biaya tidak sedikit. 

Di masa-masa sulit di mana semua sektor terdampak, oang-orang mencemaskan kondisi keuangan. Saat ini, bila dalam keadaan berpunya, duit harus dijaga baik-baik supaya bisa bertahan untuk waktu yang lama, karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Masuk RS tidak murah, apalagi bila sakit parah. Memang masih bisa lega bila ada asuransi seperti kami, tidak pusing memikirkan biaya karena ada yang menanggung. Bagaimana bila tak punya asuransi? Atau bagaimana bila ada asuransi tapi limitnya kecil, biaya-biaya tak bisa ditanggung penuh oleh asuransi, otomatis keluar biaya pribadi.

Ada BPJS kan? Iya, itu bisa dipakai di rumah sakit rujukan sesuai ketentuan per wilayah. Tapi biaya Rapid Test dan Swab, tetap harus ditanggung pribadi. Masuk RS pun ada tahapannya, mesti ke faskes 1 dulu, dirujuk ke RS tipe berikutnya, baru ke RS yang dinyatakan bisa melakukan tindakan dalam rangka penanganan penyakit, misal untuk operasi. Kalau asuransi swasta mah bebas, bisa masuk RS mana saja asal bekerja sama dengan asuransi yang dipegang.

Jangankan orang susah, orang kaya pun saat ini sudah ada beberapa yang mulai kelimpungan dengan keuangan. Pernah baca kan ada artis yang cicilan rumahnya 250 juta perbulan mulai mengeluh ga bisa mencicil? Duh! Ada pula pengusaha yang harus jual mobil-mobil mewahnya demi membayar gaji dan THR karyawannya. 

Jadi, penting sekali jaga baik-baik kesehatan dan keuangan supaya bisa selamat di masa-masa sulit seperti sekarang.
Yakinlah, setelah gelap pasti ada terang

Alhamdulillah

Alhamdulillah kini suami sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah sangat baik. Tak ada keluhan nyeri seperti yang terjadi saat masuk UGD. Minggu depan masih balik ke RS lagi buat kontrol, semoga sudah benar-benar baik.

Ohya terkait batu empedu suami, berdasarkan hasil MRCP dan penjelasan dokter internis, ukuran batu kecil-kecil seperti beras. Memang sempat ada gangguan sedikit karena sempat menyumbat, dan itu sudah diatasi. 

Saya suka dengan dokter internis yang menangani suami, penjelasannya selalu positif dan membuat kami optimis. Karena itu pula saya bisa membawa suami pulang dengan perasaan lega.

Selanjutnya, suami wajib jaga makan. Menghindari makanan berlemak dan hanya makan-makanan yang sehat buat tubuh, termasuk yang aman buat lambung. Saat ini suami sedang menjalani terapi jus apel hijau. Selama di RS, menu jus apel hijau selalu hadir di tiap jam makan suami. Dan ini saya teruskan setelah di rumah.

Dari pengalaman teman-teman suami maupun teman saya yang pernah punya batu empedu, jus apel hijau sering berhasil menghilangkan batu empedu yang masih bisa ditolerir, dalam artian untuk ukuran batu masih kecil dan belum membahayakan, masih bisa disembuhkan. Saya baca dan dengar, terapi apel hijau plus minyak zaitun dan garam inggris, dapat membantu mengeluarkan batu empedu lewat kotoran. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai dokter pun menganjurkan hal yang sama.

Kami sedang berusaha, semoga saja cara itu berhasil. 
Menuliskan pengalaman merawat suami di RS selama pandemi

Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi dalam hidup ini, namun kita bisa memilih bagaimana cara kita meresponnya ketika hal itu terjadi. Dengan menerima bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita bisa tetap positif dan tenang, serta mengandalkan kekuatan doa untuk perlindungan dan kedamaian hati.

Allah SWT akan bersama orang² yang berdoa, berusaha, dan tak putus asa. Tetap semangat dan optimis 💪

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, dan kenalan yang telah memberikan dukungan dalam bentuk doa dan support tiada henti, semoga semua yang mendoakan diberikan balasan yang baik, berupa kesehatan dan keuangan yang baik, serta hidup sehat sepanjang usia.

Aamiin YRA 🙏


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷



Semua foto dokumentasi pribadi.

Untuk teman-teman yang ingin mendokumentasikan aktivitas di RS, harap hati-hati ya. Ada yang boleh dan tidak boleh difoto/video. Umumnya aktivitas yang terjadi di rumah sakit seperti dokter atau perawat yang sedang bekerja, baik sedang menangani pasien atau pun tidak. Pasien lain baik yang rawat inap atau rawat jalan.

Terima kasih.

Renyah Tawa di Hari Ultah Semoga Selalu Bahagia

Bulan April ini, baru saja di rumah ada yang memperingati hari lahir. Siapa lagi kalau bukan selimut hatiku, Mas Arif. Kami selalu saling memberi selamat bila ada yang ultah, walau tanpa perayaan, sebab itu bukan sebuah kebiasaan. Kami tidak pula membiasakan, atau pun menjadikannya biasa.

Selama social distancing, kami semua di rumah saja, mentaati peraturan demi mencegah meluasnya penularan COVID-19. Mas Arif work from home, anak-anak home learning.  Selama itu pula saya banyak di dapur, membuat makanan sehari-hari, termasuk berbagai macam kudapan untuk menemani selama berkegiatan di rumah.

Saya berusaha untuk mengolah sendiri semua makanan yang dimakan keluarga. Karena itu saya masak setiap hari, meskipun berbelanja setiap beberapa hari sekali, karena menghindari keluar rumah.

Di hari ultah suami, tiba-tiba saya ingin menambah hidangan meja dengan memesan beberapa makanan buatan tetangga yang saya kenal, dan dari toko-toko terdekat. Di antaranya cake, es krim Viennetta, buah segar, minuman kopi dari kafe, hingga nasi liwet. Biar semarak gitu. 

Namun, realita tak sesuai rencana. Produksi cake di toko langganan sedang libur, es krim di minimarket dekat rumah no stock, buah yang saya mau belum ready, dan nasi liwet baru ada hari Jumat. Padahal saya maunya Kamis.

Akhirnya cuma minuman kopi yang bisa delivery ke rumah.
Es Kopi Susu Kekinian @kopipinusBSD

Tak ada nasi liwet tapi ada banyak nasi putih di rice cooker. 

Bayangan makan siang dengan nasi liwet enak yang sudah lengkap dengan lauk, sayur, sambal, dan lalapnya memang sudah ambyar. Tapi saya tak ingin menyerah. 

Ada ikan di kulkas, akhirnya saya masak pindang, kesukaan Mas Arif. Tinggal buat bumbu asli, kasih belimbing wuluh metik di depan rumah tetangga, tomat merah, cabe rawit setan, jadilah pindang segar yang pas dimakan bikin Mas Arif nambah-nambah.

Eitss....tentu bukan pindang saja lauk teman makan nasi putih. Ada Rendang Telor, Kentang Mustofa dan Bawang Goreng juga! Semuanya produk Ny. Emmet yang saya pesan via Shopee. Ordernya sih sudah sejak hari Minggu (4/4/), hari Selasa sore pesanan sampai. Pas banget jadinya, ketika makan siang nasi liwet gagal, produknya Ny. Emmet malah jadi penyelamat. Isi piring Mas Arif malah jadi meriah.

Sudah cukup itu saja? Belum! Masih saya buatkan terong ungu bakar juga. Ini kesukaan Mas Arif sejak zaman dulu kala lho. Plus buncis kukus, lengkap dengan sambal terasi. Setelah semuanya disusun di piring makan, aduhaiiii penampakannya bikin nasi liwet mah lewaaaat hahaha. Pokoknya Enak! 
Makan siang buatan sendiri, bertabur produk Ny. Emmet, jadi enak buanget!
Produk Ny. Emmet: Kentang Mustofa, Rendang Telor, Bawang Goreng IG: @ny.emmet Pemesanan via WA: 0838-7088-2311. Tersedia juga di Shopee dan Tokopedia (https://shopee.co.id/duisharyani

Es Krim Viennetta mendadak artis, banyak dicari, tapi banyak pula nggak adanya. Saya termasuk yang susah payah mencari tapi tak dapat-dapat. Oke, kenyataan makan es krim mewah ikut ambyar. Tak cuma itu, mau makan cake ultah juga tinggal mimpi belaka. Dia ikut-ikutan tak ada karena pembuatnya sedang stop produksi.

Saya kembali tak mau menyerah. Tak ada es krim dan cake, tapi ada labu kuning di dapur, kenapa tak dijadikan bolu saja? Woiyadong, bikin bolu!

Nggak pakai sulit, labu kuning sebanyak 300gram langsung saya olah bersama bahan lainnya, di antaranya telur, gula, terigu, margarin, dan sedikit pengembang biar bolunya mekar  tralala.

Setelah 55 menit, terdiri dari 15 menit ngadon, 40 menit memanggang hingga mendinginkan, akhirnya Bolu Labu Kuning Tabur Keju siap jadi kue ulang tahun 😂
Bolu Labu Kuning buatan saya dong *bangga 😜

Cake abal-abal tapi rasanya paten, yang bila dimakan enaknya sampai ke ubun-ubun itu (kata saya ini mah haha), saya antar ke Mas Arif yang sedang duduk menonton berita di TV bersama anak-anak. Saya serahkan ke tangannya sambil bilang, "Selamat ulang tahun papa...silakan kue ultahnya..."

Seusai mengatakan itu, bukannya Mas Arif yang ketawa (saya menduga begitu), malah saya sendiri yang ngakak. 

Anak-anak ikut tertawa. Mentertawakan untuk seru ya, bukan tertawa mengejek karena sebal. Mungkin mereka pikir inilah cake ultah tercetar yang pernah mereka lihat sebagai kue ultah papanya. Cake Labu! Buatan mamanya sendiri pula.

Doa adalah kado terindah. 

Ada kado lain yang ingin saya berikan, biar doa minta sehatnya seiring sejalan dengan usaha, sebotol MADU!  Madu Persada ROYAL Jelly, agar suami dapat merasakan khasiat madu asli dan herbal alami untuk kesehatan tubuhnya. Biar jossss terus gitu. Musim penyakit gini lho, daya tahan tubuh dan stamina harus selalu terjaga. Biar nggak mudah sakit. Biar kuat hadapi WFH, juga buat hadapi  istrinya yang selalu setrong ini he he 
Madu Persada Royal Jelly produksi @madupersadaofficial. Tersedia juga di Shopee, Tokopedia, Lazada, JD.id

Sungguh. Kebahagiaan mekar pada tiap nafas. Pada renyah tawa. Pada cinta yang terus mewangi.

Selamat ultah suamiku sayang, papanya anak-anakku. 

Barakallah fii umrik. 

Semoga berkah hidup dan usiamu, panjang umur dan selalu sehat, serta sukses dan bahagia. Aamiin YRA.


*April 2020

Mencicipi Puncak Gunung di Musim Harus Banyak Menyepi

Bulan Maret ini, suami dan anak lanangku pergi ke gunung. Mereka berangkat dua hari sebelum kebijakan #diRumahAja resmi dikeluarkan oleh pemerintah Provinsi Banten pada tgl. 15/3/2020. 

Sehubungan dengan wabah Virus Corona yang sedang mengguncang dunia, maka durasi perjalanan mereka sangat singkat, hanya bersama kelompok kecil dan terbatas, dan hanya bagi yang memenuhi syarat aman dari segi kesehatan. 

Alief camping di Gunung Kencana, Mas Arif touring ke curug melintasi Gunung Mas. Saya menuliskannya agar menjadi kenangan untuk mereka, juga untuk saya.

Gunung Kencana Bogor (14/3/2020)

Ijin Naik Gunung

Perihal kegiatan Alief pergi naik gunung di bulan Maret pernah saya singgung dalam tulisan ini (klik) --> Rejeki Content Creator Youtube

Rencana Alief camping ke gunung sudah saya ketahui sejak bulan Februari. Namun, cuaca di bulan itu masih terus menerus hujan, saya jadi agak sulit mengijinkan Alief pergi karena bisa jadi Maret masih hujan. Beda dengan suami, ia langsung memberi ijin tapi dengan syarat cuaca jelang berangkat sudah bersahabat.

Alhamdulillah mendekati hari keberangkatan intensitas hujan sudah menurun, bahkan tidak hujan sampai beberapa hari. Bumi bagian BSD lebih sering kering dan panas. Saya akhirnya merelakan Alief pergi. Segala keperluannya saya urus bersama suami. Kami mendatangi toko-toko perlengkapan naik gunung membeli matras, jas hujan, alat makan, senter, dan lain-lain. Sedangkan carrier, sleeping bag, sarung tangan anti dingin, jaket, dan sepatu tidak beli lagi karena sudah punya.

Selama satu minggu sejak  tgl. 09 - 13 Maret Alief libur. Kakak kelasnya ujian, jadi Alief leluasa menyiapkan segala keperluan.
Alief & Chaska

Boleh Naik Gunung Asal Aman

Alief berangkat dengan kelompok kecil berjumlah 7 orang. Semuanya sesama rekan siswa kelas XI di tempatnya bersekolah. Dua di antaranya Chaska dan Zaki. Chaska ini temannya Alief sejak bersekolah di SMP yang sama dan sekarang bersekolah di SMA yang sama. Mereka sudah sahabatan sejak lama. Saya pun tahu letak rumahnya karena pernah datang untuk mengantar dan menjemput Alief. 

Saya tidak kenal Zaki tapi sering melihat wajahnya dalam video-video Alief di channel Onedox. Setahu saya, mereka dekat dan saling dukung dalam pembuatan konten. Dari 7 yang berangkat, hanya Alief seorang yang baru pertama kali naik gunung. Yang lainnya sudah lebih dulu punya pengalaman.

Pada awalnya saya merasa agak berat membiarkan Alief berpetualang, tapi akhirnya saya ikhlas. Di usianya saat ini, 16 tahun, saya percaya Alief sudah cukup aman untuk dilepas. Dia sudah bisa membedakan mana yang boleh dan tidak dilakukan ketika berada di luar jauh dari orang tua. 

Saya pikir, dengan memberi kepercayaan, justru akan membuat Alief jadi bertanggung jawab, berhati-hati menjaga diri, dan berani menghadapi segala resiko. Ketimbang mencemaskannya, saya lebih suka mendoakannya supaya lancar dan aman, serta selamat.

Keputusan untuk membiarkan Alief pergi sudah melalui berbagai pertimbangan. Terkait wabah corona yang sedang merebak mengguncang dunia, tentu saja saya meminta mereka untuk waspada. Hal tersebut berulang kali saya bicarakan ke Alief supaya hati-hati. Saya pun turut memastikan kelompoknya, siapa saja yang berangkat, apakah ada yang abis bepergian ke luar negeri, dan apakah ada yang sedang sakit. Alhamdulillah semua aman. 
Jumat malam (13/3/2020) di Puncak Gunung Kencana

Suara Asing Saat Mendaki Malam Hari

Jumat pagi (13/3/2020) Chaska datang ke rumah pakai motor, jemput Alief. Carrier-nya sangat besar berisi keperluan pribadi, juga tenda dan peralatan masak. Carrier Alief  berukuran lebih kecil, hanya berisi barang pribadi. Saya lihat Chaska membongkar isinya untuk disusun ulang. Kata Chaska, "Ga gini nyusun barang, lif!"

He he saya nyengir liatnya. Alief memang belum pengalaman, beda dengan Chaska. Semoga Alief belajar. Tidak cuma itu, Chaska juga menyortir bawaan Alief. Akhirnya, beberapa makanan kemasan ditinggal, minuman botol kemasan diganti pakai tumbler. Baju kaos dikurangi. Tambahannya justru mangkok stainless. Tadinya disuruh bawa cangkir stainless, tapi tak punya. Untunglah ada tumbler stainless dari ASUS AMD, jadinya bawa itu.

Untuk berangkat, Alief naik motor dibonceng Chaska. Perjalanan menuju basecamp di Bogor berdurasi sekitar 2,5 jam dari BSD. Kata Alief, ia merasakan tidak betah saat melewati medan berbatu selama kurang lebih 1 jam. Kakinya yang panjang terasa pegal karena kelamaan menekuk di boncengan. 

Meskipun capek, naik motor menjadi pilihan paling aman daripada naik kendaraan umum. Dengan cara itu mereka terhindar dari bertemu orang banyak. Saat musim wabah begini, naik transportasi umum beresiko tertular virus. Apalagi untuk perjalanan tidak sebentar.

Saya tidak tahu jam berapa Alief sampai basecamp. Tak ada kabar apapun sejak terakhir jam 12 masih kirim pesan Whatsapp. Malam hari, baru saya dapat kabar, Alief sudah di puncak Gunung Kencana. Sebuah foto berada di ketinggian, dalam gelap malam, muncul di ruang chat WA. Alhamdulillah saya lega. Malam itu, saya bisa tidur dengan nyenyak.

Saat pendakian malam hari, ada yang diceritakan oleh Alief kepada saya. Katanya, Jumat malam itu, mereka bertemu sepasang suami istri tersesat. Lalu diajak ikut mereka, naik bareng sampai puncak. Selama berjalan, tiap 30 menit mereka absen, agar tak ada yang hilang di jalan hehe. Nah, pada saat absen ke sekian, tiba-tiba ada yang menghitung sampai 8, padahal jumlah mereka cuma 7. Apa itu?? Saya dengar cerita bagian itu jadi takut, eh Aliefnya enggak. Katanya, biasa aja itu mah. Wiih berani juga dia.
Pemandangan dari puncak Gunung Kencana, Sabtu 14/3/2020 (Foto by Alief)

Camping di Puncak Gunung Kencana

Sinyal telkomsel ternyata cukup baik sampai ke puncak Gunung Kencana. Buktinya, saat baru tiba di puncak, pesan Alief via Whatsapp bisa sampai ke saya dengan lancar. Karena itu, hari Sabtu dini hari saya chat lagi menanyakan tidurnya, makannya, dan kondisinya. 

Tak ada jawaban. Pesan yang saya kirim hanya centang 1. Mungkin HP dimatikan. Saya juga menanyakan kenapa malam hari di puncak gunung tidak pakai jaket. Saya khawatir dia kedinginan. Mengenai hal ini dijelaskan oleh Alief saat sudah di rumah. Katanya, udaranya gak sedingin yang saya kira. Biasa saja. 

Hebat juga dia. Padahal pakai kaos tipis. Kalau saya jangan ditanya. Menginap di Lembang saja tidak pernah mandi. Buka keran air cuma buat wudhu. Apalagi di puncak gunung. Apa karena Gunung Kencana pendek?

Pukul 06.18 AM pesan baru dari Alief masuk di WA. 2 buah foto pemandangan pagi di atas gunung dikirimnya kepada saya. Dia hanya mengirim foto tanpa menjawab semua hal yang saya tanyakan. Mungkin mau kasih tahu lewat foto pagi yang indah itu, bahwa dia baik-baik saja. Saya hanya memahami hal itu, dan akhirnya tidak mau menagih jawaban. 

Setelah agak siang Alief kirim foto lagi, kali ini lebih banyak. Fotonya foto rame-rame dengan semua temannya. Saya senang bukan kepalang melihatnya. 

Ada perasaan sukacita yang amat mendalam saat memandangi foto-foto itu. Saya jadi menyadari kembali betapa Alief sudah semakin besar, sudah bisa pergi kemana-mana ke tempat jauh tanpa mama dan papanya. Itu artinya saya adalah ibu yang umurnya sudah semakin tua, dan mulai merasa kehilangan.... iya mulai kehilangan masa-masa di mana anak nempel terus dengan orangtuanya. Waktu sungguh cepat sekali berlalu 😭
Pertama kali buat Alief jadi anggota tim pendaki Gunung Kencana

Bekal Makanan di Gunung

Saya tidak pernah camping di puncak gunung, apalagi mendaki sampai puncak. Jadi, saya bukan sekadar minim pengalaman, tapi memang nggak punya pengalaman. Mas Arif lah yang pengalaman. Dulu sejak SMA sampai selama kuliah ia sudah mendaki banyak gunung. Dari gunung kecil pendek sampai gunung besar tinggi yang ada di Jawa dan Sumatera, serta beberapa gunung di pulau lainnya.

Sewaktu akan membekali Alief makanan, saya minta pendapat Mas Arif. Katanya bawa yang mudah tapi mengenyangkan. Nah, yang saya pilihkan untuk Alief bawa adalah bubur instan karena mudah diolah, tinggal diberi air panas, diaduk, nggak pakai lama sudah bisa langsung dimakan. Saya bawakan indomie juga, secukupnya.

Untuk snack saya pilih snack gandum, coklat mengandung beras / gandum, dan Beng Beng. Semua makanan itu berukuran kecil tapi mengenyangkan. Saya bawakan juga 1 cup sereal, tinggal dicampur susu kotak bisa langsung dimakan. Gak perlu bawa beras, atau pun masak-masak bahan lainnya. 

Alief tidak membawa peralatan masak seperti panci dan kompor gas karena teman-temannya sudah ada yang bawa. Dia tinggal numpang saja. Lain waktu saya akan beli buat Alief. Biar dia tidak mengandalkan orang lain. Tapi sebetulnya memakai perlengkapan masak bersama-sama ada baiknya kok, bisa menimbulkan rasa saling peduli satu sama lain. Saling bantu dan berbagi. Tidak egois memikirkan perut sendiri.
Seekor anjing di puncak Gunung Mas

Menyenangkan dan Bikin Nagih!

Di tempat yang berudara dingin biasanya saya jadi mudah lapar. Saya tanya Alief apa dia merasakan hal tersebut selama di gunung? Katanya tidak. Pokoknya, dia tidak merasa kelaparan, apalagi kekurangan makan. Bekal yang dibawa sudah lebih dari cukup. Saya lega mengetahui hal itu.

Selama di atas gunung Alief makan bubur instan di malam hari, Indomie di pagi hari, dan diselingi snack di antara waktu-waktu belum makan makanan tersebut.  

Makanan cukup, tapi air minum kurang. Saya sebetulnya sudah membekali 2 botol air minum @600 ml, dan sudah bilang agar beli 3 botol lagi sebelum mulai nanjak. Tapi ternyata lupa beli. Bersyukur dapat bantuan dari Chaska yang bawa air pakai jerigen sebanyak 5 liter. Jadi pelajaran buat Alief, kalau camping di lokasi tanpa air, harus bawa air yang cukup. Lain halnya kalau camping dekat danau atau sungai, bisa ambil air dengan mudah untuk dimasak jadi air minum.

Sabtu siang Alief dan rombongan mulai turun. Tadinya mereka akan lanjut ke curug sebelum balik ke BSD. Tapi karena suatu hal, mereka gak jadi. Saya lihat Alief agak kecewa gak jadi ke curug. Apalagi pas dia tahu, di hari yang sama papanya juga pergi ke curug yang sama. Dia berharap bisa papasan dengan papanya. 

Saya sebetulnya mengira Alief bakal balik Minggu siang, tapi Sabtu sore mereka sudah pulang. Saya lega bukan main saat melihatnya tiba di rumah tanpa kekurangan apapun. Alhamdulillah selamat dan lancar. 

Banyak hal yang diceritakan Alief terkait pengalaman pertamanya naik gunung. Dari ekspresi mukanya saat bercerita, saya tahu dia sangat senang, terlebih saat mengatakan: Aku mau lagi, Ma, ke gunung!

Ya, hidupmu akan berubah ketika sudah berbaur dengan alam, Nak. Kamu akan belajar banyak hal yang tidak kamu temui di rumah dan di bangku sekolah. Semoga yang kau temukan dan pelajari di luar sana adalah hal baik yang dapat membentuk pribadimu berjiwa besar, teguh memegang prinsip baik, dan welas asih.
Puncak Kencana 1803MDPL (14/3/2020)

Touring Santai ke Puncak

Di waktu yang sama, Sabtu 14/3/2020 Mas Arief juga berangkat ke puncak bersama teman-teman SMA-nya. Entah kenapa bisa barengan waktunya. Padahal gak janjian lho. Hanya serba kebetulan saja. Yang satu rombongan anak SMA, satunya lagi rombongan alumni satu SMA.  Bedanya, yang satu masih muda-muda, yang satu udah bapak-bapak jelang tua dan ubanan he he

Mas Arif berangkat dengan kelompok kecil berjumlah 9 orang. Tadinya katanya banyak yang mau ikut, tapi karena berbagai alasan akhirnya banyak yang mundur. Yang jelas, syarat boleh berangkat bila sehat dan aman. Nah bisa jadi yang mundur karena tidak memenuhi syarat itu. 

Seingat saya, rencana Mas Arief untuk touring sudah lama. Di bulan Februari dua temannya alumni SMA, yaitu Mas Widna dan Mas Ivan pernah komentar di IG saya soal touring. Saya pikir keduanya akan ikut touring bareng. Ternyata enggak. Mas Widna kan kerjanya di Singapore, bisa jadi dia mundur karena alasan khawatir bawa virus ke teman-temannya.

Soal kesehatan jadi penting karena touring butuh stamina. Berkendara motor sejak pagi sampai sore bukanlah aktivitas sepele. Yang sehat saja bisa kelelahan, apalagi bila dalam kondisi tidak fit, nanti bisa-bisa ambruk di jalan. Saya bersyukur Mas Arif dan teman-temannya perhatian soal ini. 



Pergi Pagi Pulang Sore

Tidak seperti Alief yang menginap di gunung, rombongan Mas Arif hanya berangkat pagi pulang sore. Ke mana saja rute perjalanannya? Saya harus buka WA lagi untuk menjelaskannya. Soalnya, detail rute ada dalam ruang chat di Whatsapp.

Berdasarkan itinerary, tujuan perjalanan ke Curug Cilember.

Sebagai istri, sudah pasti saya diberikan jadwal perjalanan yang lengkap oleh Mas Arif. Katanya, biar saya ikut mantau. Iya, harus banget itu. Kalau nggak tahu suaminya kemana aja, mana bisa tenang hati ini ya kan he he. Oh ya, touring ini cuma buat para laki-laki, nggak ajak-ajak wanita. Para istri di suruh di rumah aja, terserah mau ngapain. Pokoknya bapak-bapak mau me time. Gitu katanya. Baiklah😛

Meeting point di SPBU Gandaria Jarabo, jadwal temu pukul 06:00, dan mereka berangkat pada pukul 07:00 via Sentul, Gunung Geulis. Karena sudah bukan anak-anak muda lagi, tiap 2 jam rombongan singgah. Rehat pertama di jam 09:30 di Puncak Gunung Geulis. 

Nah, saat istirahat inilah suami menyempatkan kirim foto ke saya. Foto pertamanya seperti yang saya tampilkan di atas. Dari foto itu saya baru tahu kalau mereka kompakan pakai kaos alumni buatan tahun lalu. Dalam foto, suami dan teman-temannya terlihat keren di mata saya. Ekspresi senang di tiap wajah menandakan mereka happy dengan apa yang sedang mereka lakukan. 

Berpuluh tahun berlalu, ikatan persahabatan itu masih erat terjalin, masih bisa ketemu dan touring bareng. Pastilah sesuatu rasanya. Semoga semua panjang umur.
Gunung Mas Puncak

Segarnya Mandi di Curug Cilember

Namanya juga touring santai, rombongan berkendara dengan sabar, tidak berburu waktu mengejar tujuan. Jam berapa sudah sampai mana? Tak harus sesuai itin. Pokoknya sesampainya saja. Begitu kata Mas Arif.

Sempat kepikiran sih apa suami kuat motoran jauh sampai puncak, PP pula. Kan sudah tak muda lagi. Memang sih stamina masih oke, sehat, dan jiwa masih muda. Tapi kan, beda kayak Alief dan kawan-kawannya. He he. Sebetulnya, kalau memikirkan itu terus, saya jadi cemas. Akhirnya, saya ganti dengan mendoakan saja yang baik-baik, semoga kuat dan selamat. Dengan begitu, pikiran saya jadi positif, dan energinya bisa sampai ke Mas Arif lewat dukungan dan semangat dari saya.

Pukul 11:30 mereka tiba di Curug Cilember, lanjut trekking santai menuju curug, lalu menikmati kesejukan air dengan berendam. 

Foto dan video yang dikirimkan secara live oleh suami, membuat saya seakan berada dalam rombongan. Seolah ikut merasakan nanjak-nanjak dan basah kena air. Seakan turut melihat keindahan alam di curug, menikmati keasriannya, dan kesejukannya. Bahkan, jadi turut merasakan keseruan mereka.

Lalu, saya jadi kangen piknik! Upss... tahan dulu tahan dulu tahan dulu sampai situasi kondusif 😷
Aktivitas di Curug Cilember
Seolah mau membuktikan, "saya masih gagah nanjak-nanjak" 😂
Kawasan Curug Cilember berada di ketinggian 800-900 mdpl

Pergi Sehat Pulang Selamat 

Jadwal pulang touring tidak sama persis dengan itin. Soal ini saya tidak heran, memang biasa terjadi. Sekali lagi, karena ini touring santai, ketidak tepatan waktu tidak jadi soal. 

Pukul 14:00 rombongan mulai meninggalkan kawasan Curug Cilember, pulang arah puncak pass melewati kebun durian montong WF, melintasi Kota Bogor dan Jarabo, dan sama-sama berakhir di titik awal untuk kumpul dulu melakukan evaluasi sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Jadi ingat dulu pernah ke sana saat anak-anak masih kecil. Kami berpuas ria makan durian dan minum jus buah naga, serta berfoto ria di tengah pohon durian montong yang berbuah sangat lebat. Seperti apa kebun itu sekarang? Entahlah, sudah lama sekali saya tak ke sana.

Sabtu malam (14/3/2020), Mas Arif tidak langsung pulang ke BSD. Dari lokasi titik kumpul di Cibubur, perjalanan lebih dekat ke rumah ibu di Depok. Jadi, saya yang memintanya jangan pulang dulu, biar istirahat di rumah ibu, besoknya baru balik ke BSD. 
Alumni SMA 62 JKT yang kini tak lagi muda
Persahabatan

Kini #DiRumahAja #WorkFromHome #SocialDistancing

Hari Minggu 15/03/2020 Mas Arif berangkat subuh dari Depok, sampai BSD masih pagi. Jadi, sejak Minggu pagi kami semua berada di rumah. 

Pemberitaan tentang Virus Corona jadi perhatian kami sekeluarga. Pasalnya, per hari itu, Pemprov Banten melalui Gubernur Banten Wahidin Halim menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) Corona di Banten. Beritanya dapat di baca di situs CNN Indonesia di sini (klik) : Banten tetapkan Status KLB Corona.

Di hari yang sama Gubernur Wahidin akhirnya menyatakan menutup sekolah SMA/SMK. Semua siswa disuruh belajar dari rumah mulai tgl. 16 sampai 29 Maret 2020.

Di DKI, pemberlakuan belajar di rumah sudah diumumkan oleh gubernur Anis Baswedan  pada hari Sabtu (14/3/2020). Beritanya dapat dibaca di sini (klik): Anis Tutup Sekolah di Lingkungan DKI.
Image

Hari Minggu pagi, di sekolah SD Humayra, guru dan tim yayasan melaksanakan kegiatan bersih-bersih di ruang-ruang kelas dan seluruh bagian gedung sekolah. Saya turut menyaksikan aktivitas tersebut melalui foto-foto yang dikirim di WAG kelas. 

Selain kegiatan bersih-bersih, yayasan tempat Humayra bersekolah juga melakukan rapat terkait pemberlakuan belajar di rumah, dan akhirnya diputuskan libur masuk sekolah, diganti dengan belajar di rumah. Jadwalnya sama dengan SMA.

Selain penetapan belajar di rumah untuk anak-anak sekolah mulai dari PAUD, SD, SMP,  hingga SMA/SMK, pemerintah juga mengeluarkan himbauan untuk #WorkFromHome dan #SocialDistancing sebagai upaya untuk memutus rantai penularan virus corona. 

Sebagai pendukung gerakan #DiRumahAja, sudah pasti saya dan keluarga mengikuti himbauan tersebut. Karena, manfaatnya bukan sekadar untuk menyelamatkan kami saja, tapi juga bisa menyelamatkan orang lain.
Image


Sejak himbauan #DiRumahAja dikeluarkan tgl. 15/3/2020, perjalanan touring ke Curug Cilember dan camping di Gunung Kencana jadi kegiatan terakhir yang dilakukan di luar oleh keluarga saya. Setelah itu, kami berdiam di rumah. Keluar hanya untuk hal penting dan genting.

Situasi per hari ini (24/3/2020), jumlah kasus Corona di Indonesia 686 positif Covid-19, 30 sembuh, dan 55 meninggal. 

Berikut infografis yang dirilis oleh situs www.covid19.go.id, situs resmi untuk memantau sebaran Corona Virus di Indonesia. 
Infografis Covid-19 (24 Maret 2020)

Semoga wabah Virus Corona di Indonesia segera berakhir seperti di Wuhan. Semua yang sakit dapat sembuh, dan tidak ada lagi korban jiwa. 

Karena itu, mari kita nurut apa kata pemimpin kita, supaya penularan bisa dikurangi, bahkan terhenti. Tetap semangat, sehat, dan selamat.


Image



~ Katerina