Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Aku Suka Pada Apa yang Disukai Oleh Anakku

Dulu, anak perempuan saya --Aisyah Humayra, sejak umur dua tahun hingga lima tahun, pernah membuat kami (saya dan suami) nggak ngecat dinding rumah selama hampir tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, dinding rumah kami belepotan penuh coretan. Alat coret yang digunakan bermacam-macam, dari pensil warna, spidol warna, krayon, cat lukis, stabilo, pulpen, hingga spidol besar yang biasa dipakai buat menulis di white board

Semua alat tulis dan pewarna yang saya sebutkan itu bagi Aisyah adalah mainan paling menyenangkan. Tepatnya, buat bersenang-senang mencoreti seluruh dinding rumah 😅
Kakak dan adik

Cerita ini saya tulis saat saya sedang merasa sangat rindu pada masa kecil anak-anak saya. Masa-masa sangat menggemaskan dan serba menyenangkan. Banyak momen yang membuat saya jadi tersenyum dan tertawa, semua terasa begitu indah.  

Saat kini anak-anak sudah remaja, bukan berarti tidak indah, sama menyenangkan, hanya beda masanya.

Saya mengenang ulah Aisyah mencoret dinding. Masa itu berlangsung cukup lama (3 tahun) dan selama itu pula kami membiarkannya. Meskipun buku gambar dan kertas sudah disediakan, tetap saja dinding jadi kanvas favorit. 

Tiap kelar menggambar benang kusut, atau garis mencong-mencong (nggak lurus) di dinding, Aisyah akan tertawa sambil mengajak kami memandangi coretannya. Anak kecil itu bangga sekali dengan hasil karyanya, walau di mata saya entah gambar apa, hanya dia yang tahu.

Dulu, jika ada tamu datang ke rumah, baik itu teman saya maupun teman suami, atau saudara dan kerabat kami, Aisyah bukannya duduk tenang atau pergi dan bersembunyi, malahan mendekat, lalu dengan bangga memperlihatkan hasil coretannya, bak mahakarya yang layak untuk dikagumi.

Begitu juga dengan kakaknya --Alief-- yang suka dengan robot-robotan dan mobil-mobilan (Alief dulu suka mengoleksi HW). Setiap ada tamu datang ke rumah dia mendekat, lalu membongkar kotak penyimpanan mainannya di depan tamu. Iya lho, di depan tamu!

Alhasil, setiap ada tamu bertandang, rumah kami bukannya terlihat rapi, malah berantakan karena dua bocil sibuk "pamer" 😂 
Siswi SMP

Saya sangat suka dengan anak-anak yang aktif. Menyaksikan mereka banyak bergerak, bermain, dan bercerita, rasanya bahagia. Saya justru menjadi tenang jika mereka selalu ceria, berarti mereka sehat. 

Mudah bagi saya untuk mendeteksi ada suatu masalah dengan anak-anak, yakni pada saat mereka tidak mau bermain, lesu, dan tidak tertarik dengan barang-barang yang mereka sukai. Diamnya anak, berarti ada yang sakit. Saat itulah saya menjadi tidak tenang.

"Berisiknya" anak adalah tanda anak sehat. Bukan sesuatu yang harus dimarahi. Menurut saya begitu.

Alhamdulillah, masa-masa mencurahkan segenap tenaga dan perhatian super ekstra sudah terlewati. Segala keriuhan bahkan kerusuhan anak-anak yang membuat saya sebagai ibu mesti jungkir balik merawat dan mengasuh mereka, kini sudah tak melelahkan seperti dulu. 

Bukan berarti perhatian saya mengendor, lebih kepada "banting tenaga" nya yang udah nggak seperti dulu. Anak-anak sudah mandiri. Nggak perlu dimandikan lagi, dipakaikan baju, disuapi makan, semua sudah bisa mereka lakukan sendiri. 

Saya pun nggak perlu pasang mata kayak kamera CCTV yang tiap detik mengawasi tingkah polah mereka karena khawatir ada hal-hal yang membahayakan  seperti jatoh dari tangga, kepeleset saat lantai dipel belum kering, keselek makanan yang lupa disuwir-suwir, atau hal-hal lainnya. 

Kini perhatian ekstra untuk anak-anak sudah berganti pada kegiatan ibadah mereka, sekolah/kuliah mereka, dan kegiatan apa saja yang mereka lakukan untuk mengisi waktu senggang. *(suami saya yang ngomong gitu) 😁
Aisyah dan Alief bersama seluruh sepupunya dari keluarga suamiku. Cucu bapak dan ibu mertuaku hanya 6 ini saja. Tiga foto anak kecil di atas lemari adalah tiga anak laki-laki dalam foto ini 😃
 
Masa-masa tidak mengecat dinding rumah selama tiga tahun sudah berlalu. Sekarang Aisyah sudah besar, sudah bersekolah di SMP. 

Hobi coret-coret sewaktu kecil tetap ada, tapi sudah bukan di dinding lagi, melainkan di sketch book, handphone, dan laptop. Kalau dulu tempat untuk menggambarnya murah meriah pakai kertas bekas saja (suami sering bawa kertas bekas dari kantor), buku gambar anak TK seharga 2000 - 5000, bahkan dinding rumah. Sekarang kanvasnya  gadget, dan itu mahal cuy ! 😅

Namun, saya ingin seperti dulu, menganggap "enteng" alat main anak. Maksud saya, melihatnya sebagai alat "bermain" menyenangkan yang baik untuk mengasah keterampilan dan kreativitas si anak, bukan sebagai alat yang membuat rugi. 

Saya perhitungan, tapi perhitungannya dari kaca mata positif si anak, dan itu untuk sesuatu yang jauh ke depan.

Perkara beli smartphone dan laptop, saya pakai prinsip sekali mendayung seluruh lautan di bumi terlampaui. *lebay 😆. Begini, anak sekolah memang perlu perangkat macam HP dan laptop toh? Ok, beri laptop dan smartphone buat sekolah, utamanya itu. Selanjutnya dipakai buat bermain (game online), dan melakukan hobi. 

Hobi yang dimaksud adalah menggambar yang seiring waktu membawa Aisyah pada kegiatan membuat berbagai macam desain. Nah, dari hobi mendesain inilah Aisyah menantang diri lewat berbagai kompetisi di sekolah, dan akhirnya mencicipi jadi juara.
Juara 2. Karya Aisyah gambar paling atas *(nama sekolah saya tutup sebagai salah satu bentuk kehati-hatian saya menjaga anak di dunia maya)

Juara Favorit. Karya Aisyah (Aisyah Humayra) 2 gambar di bawah dalam poster ini. *(nama sekolah saya tutup sebagai salah satu bentuk kehati-hatian saya menjaga anak di dunia maya)

Juara Favorit *(nama sekolah saya tutup sebagai salah satu bentuk kehati-hatian saya menjaga anak di dunia maya)

Juara 2 tingkat sekolah*(nama sekolah saya tutup sebagai salah satu bentuk kehati-hatian saya menjaga anak di dunia maya)

Juara 2 Lomba Tingkat Nasional. *(nama sekolah saya tutup sebagai salah satu bentuk kehati-hatian saya menjaga anak di dunia maya)

Spanduk ini ternyata sudah lama dipajang di depan sekolah dekat gerbang. Saya baru lihat sejak Aisyah mulai PTM. Itu pun setelah beberapa kali lewat baru sadar kalau itu gambar Aisyah. Langsung deh foto-foto norak 😃

Aisyah ini cewek banget, nggak ada tomboy-tomboynya. Bicaranya lemah lembut, dan mudah menangis kalau ada yang membuat hatinya sedih atau kecewa. Nangisnya nggak pakai suara, apalagi ngoceh, hanya berupa air mata yang menetes. Perasaannya yang halus itu tipikal anak seniman bukan sih? 

Saya pernah baca, anak-anak yang dilatih memainkan alat musik, bisa memperhalus perasaannya, membuatnya lebih peka. Nah, ini mah nggak les apa-apa. Kalau dengar musik sih suka. Sukanya lagu-lagu berbahasa Jepang (dari kegemaran ini makanya dia ngerti dikit-dikit bahasa Jepang). Eh, tapi, apa hubungannya dengan perasaan halus ya? wkwkw 
Aisyah memakai kostum tari bersama teman-teman satu kelasnya, saat pentas seni di SD
 
Ngomong-ngomong soal les, Aisyah nggak suka ekskul Taekwondo, Silat, dan beberapa aktivitas fisik yang berhubungan dengan olah tubuh, kecuali renang. Beda dengan saya waktu kecil. Saya suka pramuka, jadi anggota marching band sekolah, bahkan belajar wushu walau nggak sampai jadi atlit hahaha.

Aisyah sukanya belajar menggambar, kerajinan tangan, dan editing foto/video. Kursus gambar yang pernah dia ikuti kursus manga (online), jadwal belajarnya 2 kali dalam seminggu. 

Buku-buku yang Aisyah baca adalah buku belajar gambar, dan semuanya tebal-tebal. 

Sewaktu seusia Aisyah saya membaca novel Pendekar Rajawali Sakti dan Wiro Sableng. Malahan sejak SD saya sudah melahap semua novel Pasukan mau Tahu karya Enyd Blyton. 

Anak saya gimana? Nggak ada yang suka baca novel 😅 Oh, tapi, Aisyah dan Alief sangat suka baca komik. 
Sejak masih KB (kelompok bermain), TK, SD, dan sekarang SMP saya ingin selalu menjadi mama driver yang melepas dia pergi memasuki sekolah dan menunggunya di saat pulang sekolah.

Saya suka kepo kalau liat Aisyah berlama-lama buka laptop atau hape, pengen tahu dia nonton apaan di youtube. Ternyata, sering kedapatan nonton video-video life hack dan tutorial kerajinan tangan. Ujung-ujungnya nih, abis nonton biasanya dia nyodorin daftar belanjaan. Giliran saya yang tercengang liat biaya beli alat 😅

Tapi sekali lagi, saya suka anak saya meminta dibelikan alat-alat buat bikin prakarya. Itu artinya dia punya hobi. 

Anak-anak yang memiliki hobi dan melakukan hobinya, akan merasa bahagia. Anak yang bahagia memiliki semangat untuk hidup baik di hari ini dan nanti.

Saya banyak duit? Enggak banyak, tapi ada. Dan saya bisa menahan diri dari membeli barang yang nggak perlu supaya duitnya bisa dipakai buat beli kebutuhan hobi anak.

Menghias tas kain polos

Membuat bunga dari kain perca untuk hiasan tas kain

Percobaan perdana membuat makrame

1 gulung tali makrame bisa dianyam menjadi 2-3 hiasan makrame

Menghias mug buat tempat pensil

Hiasan bunga terbuat dari light clay

Kerajinan berbahan kerang kombinasi light clay

Hasil kerajinan kerang 

Boneka jari dari kain flanel. Saat itu Aisyah masih SD.

Aisyah menggambar mama (saya) di aplikasi online. Gambar ini dia kerjakan saat sedang di ruang tunggu dokter. Gambarnya selesai sebelum namanya dipanggil perawat 😀

Hasil gambar mama. Proses bikin bisa dilihat dalam video reel di IG @travelerien

Tiap ada waktu luang sering diisi dengan menggambar, di mana pun. Idenya berasal dari apa saja yang dia lihat atau pikirkan saat itu.

Laptop sering dibawa ke mana pun, buat menggambar dan mengerjakan desain. Kalau sedang di kafe, katanya buat ngisi waktu saat menunggu pesanan yang belum diantar ke meja 😀 *Laptop: ASUS ZenBook Flip S UX371*

Aisyah yang bebikinan, saya yang seru liatnya. Nggak ikut bikin? Nggak. Saya mumet kalau menganyam tali 😂 

Kesukaan tiap orang memang beda sih ya. Tapi bukan berarti saya nggak suka dengan apa yang disukai Aisyah.

Saya hobinya menulis, foto-foto, dan jalan-jalan. Apa Aisyah menyukai hobi saya? Suka, tapi nggak semua. Soal menulis, minat dan bakat Aisyah belum ada. Tapi dia mau baca kalau saya kasih liat tulisan saya yang dimuat di majalah pesawat. Kalau foto, sukanya moto (motret), kurang suka difoto. Kalau jalan-jalan, dia suka.

Suami saya suka jalan dan hal-hal berbau petualangan, suka foto, dan berbakat dalam hal menggambar. Saya rasa, bakat menggambar Aisyah ini menurun dari suami saya. Oh, dari mbah akungnya, ding. Iya, alm bapak mertua saya pandai menggambar, beliau arsitek, ahli menggambar bangunan.  

Alief hobi apa? Desain dan video editing. Itu sebabnya dia kuliah jurusan DKV new-media. Dia juga main youtube buat majang konten-konten video yang dia buat. Orang menyebutnya sebagai content creator.

Suami saya bilang ke saya, "apapun hobi baik anak, dukung dengan baik, dan yang penting akhlaknya baik dan beragama dengan baik. Jadi tolong bantu saya membawa anak-anak kita jadi anak-anak yang nggak hanya sukses di dunia tapi lebih utama sukses di akhirat."

Jleb!

Sebagai orang tua yang nggak sempurna dan masih harus banyak belajar, pesan suami langsung ngena di hati nggak pake rem 💨
Menemani Aisyah uji publik bacaan Quran di sekolah. Kala itu, ketika masih muda dan tampan, dengan rambut masih hitam.

Sampai rambutnya memutih (tua dan tetap tampan), tetap memberikan waktu untuk Aisyah, hadir di sesi kelulusan khatam Quran (khotmil Quran).

Alhamdulillah

Masya Allah


Sekian cerita dari seorang ibu yang karena hobinya jalan-jalan, menulis, dan foto-foto pernah dianggap bakal gak becus urus anak, mengabaikan waktu bersama keluarga, kurang sayang dan perhatian pada anak, sehingga sulit memiliki anak yang bahagia dan berprestasi.

"Jangan menilai seseorang hanya dari 1 bab yang kau baca, karena cerita hidupnya tertulis lengkap dalam 1 buku. " 

#apaansih? 😂

Masya Allah. Alhamdulillah.

Semoga anak-anak senantiasa sehat, bahagia, dan menjadi hamba Allah yang taat dan bertaqwa.

Tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini, yang ada adalah ibu yang ingin melakukan hal terbaik untuk anak-anaknya dengan cara yang sempurna.

Semoga Allah senantiasa limpahkan kesehatan, kesabaran, dan kekuatan pada kami para ibu dalam membesarkan dan mengasuh anak-anak kami.

Mendukung Minat Anak Untuk Membangun Kepercayaan Diri dan Menjadi Berani

Karya Aisyah untuk Lomba Graphic Design dalam Islamic Festival 2021

Sabtu siang 13/3, ketika saya dan suami sedang berada di Vivacious Bintaro. 

"YEAAAAAAAAAAAAAAAAA"

"JUARA 2222222222"

Ada chat masuk ke WhatsApp Grup "ARIF FAMILY" yang beranggotakan suami, saya, dan kedua anak saya. Aisyah mengirim pesan. Seperti biasa, heboh. Kalau mengetik, selalu luber huruf atau pun angka. Gak cuma huruf dan angka yang digunakan, sticker pun bejibun. 

Kadang pernah kirim ratusan pesan, saya kira ramai ngobrol apaan, tahunya dari dia doang. Heboh sendiri dan lebay haha. Terlalu ekspresif.

Pernah dia manggil saya di WA "Maaaaaaaaaaaaaa.....Maaaaaaa....". Nah, kalau kelamaan ga saya baca, karena memang belum buka WA, dia bakal ngetik kata Mama sampai belasan kali. Kalau gak dijawab juga, dia kirim sticker macem-macem. Lalu diujungi dengan sticker tertawa. Dia melakukan itu hanya dalam waktu 1 menit. Padahal, mamanya lagi di kamar atas, bisa dipanggil pakai suara, kenapa harus nunggu dijawab pakai chat, ya, kan? haha

Chat heboh Aisyah 😂

Ekspresi hebohnya Aisyah itu juga tampak dalam bentuk nyata, yang artinya nggak cuma dalam bentuk tulisan dan gambar, tapi dalam perilaku langsung. 

Dia juga jahil, sering mengisengi saya, suami, dan abangnya. Jahil yang terbatas ya, sifatnya untuk bercanda. 

Dengan teman dekatnya, sepupu-sepupunya, juga sama heboh kalau sedang ngobrol, baik via teks maupun lisan. Kalau dilihat, si Aisyah ini nggak tampak pemalu, malah kayak malu-maluin he he

Tapi, Aisyah Pemalu! Begitu kata guru-guru dan wali kelasnya di SMP. Lho!??

Aisyah dan hasil kerajinannya: Tote bag yang dihias dengan kain flanel dan bahan bekas


Anak Perempuan Pemalu

"Aisyah Pemalu, ya, bun?"

Ha? Pemalu? 🤔

Sejak dia masuk SMP, oh sebetulnya sejak sekolah dari rumah karena pandemi ya, yang artinya sejak semester akhir kelas 6 SD, jadwal zoom kelas rutin dilakukan tiap hari, di tiap mata pelajaran. Nah, waktu awal-awal mulai ada zoom kelas, Aisyah mau menyalakan video dan mic. Mungkin karena waktu itu zoom-nya satu arah, siswa-siswi hanya menyimak, tanpa interaksi.

Setelah KBM dimulai, aktivitas Zoom mulai berubah, menjadi dua arah. Ada interaksi sesama siswa dan antara guru dengan siswa. Nah, di sinilah Aisyah mulai menunjukkan perubahan. Dari yang tadinya menyalakan mic dan video, jadi dimatikan. Katanya malu.

Sistem belajar online dan ujian online, yang gak pernah ada sebelumnya, sungguh bukan hal mudah saat itu, ditambah lagi Aisyah yang tiba-tiba tidak percaya diri tampil di kelas. Kalau dipikir, bukankah situasinya sama saja seperti waktu sekolah offline, lagipula yang dihadapi dalam ruang Zoom itu adalah teman dan guru yang sudah biasa dia jumpai secara langsung, lantas kenapa mesti malu? Ingin rasanya mengatakan hal itu pada Aisyah, tapi cukuplah sebatas ingin saja, saya tidak akan menekan Aisyah untuk jawaban KENAPA.

Alhamdulillah apa-apa yang jadi kendala bisa dihadapi, dijalani, dilewati, dan akhirnya Aisyah lulus SD. Setelah itu lanjut masuk SMP, masih sekolah swasta, di yayasan yang sama. 

Di SMP dia beradaptasi dengan banyak hal. Teman-teman baru, guru baru, suasana baru, pelajaran-pelajaran baru, dan tentunya ada cara belajar baru yang tidak dia jumpai saat masih SD. Jadwal belajar kini jadi lebih padat, sibuk, dan panjang. Grup kelas di WA aktif terus, ada saja yang dibahas perihal kegiatan belajar. Tiap hari ada beberapa kali zoom, dan sudah pasti tiap hari mengerjakan tugas-tugas di Google Clasroom. Sejak pagi sudah online, kelar jadwal kelas tetap online, bahkan pernah sampai sore, mengerjakan tugas-tugas. 

Hingga suatu ketika.....

Saya mendapat laporan dari guru dan wali kelasnya, bahwa Aisyah ada masalah dengan kehadiran di Zoom.

"Bunda, Aisyah hadir terus kan di zoom kelas? Videonya dimatiin terus bun."

"Bun, videonya udah ada, mic-nya yang mati. Kalau disapa gak ada suaranya. Kalau ditanya, jawabnya malah pakai teks"

"Bunda, video dan mic-nya udah nyala, tapi kameranya ngadep ke atas, keliatan kerudung bagian atas kepala saja, wajahnya enggak. Mic-nya udah nyala, udah mau jawab pakai suara, tapi suaranya kayak bisik-bisik."

"Bun, dia udah liatin wajah, tapi pakai masker."

Wali kelas : "Bun, laporan guru mapel kok sama ya bun soal Aisyah? Ga tampil. Kemarin pas acara Apsi, saya bagikan tugas ke anak-anak, saya suruh pilih mau lakukan apa untuk acara Isra Mi'raj. Hanya Aisyah yang pilih tugas bikin desain untuk video. Makanya bunda nggak liat dia pas live streaming. Temannya yang lain pada milih tampil jadi MC, nasyid, baca puisi, baca Quran, baca doa, dll."

Saya menerima semua laporan itu dengan lapang dada, dan sumringah. Bahwa masalah Aisyah adalah TIDAK BERANI TAMPIL. Tapi di balik itu, dia tetap memilih melakukan tugas, sesuai dengan apa yang dia bisa dan suka.

Soal tampil dan bicara di Zoom kelas, memang tidak boleh dibiarkan. Tapi bukan berarti harus dipaksakan. Toh selama ini, dia berhasil mengerjakan semua tugas di Google Classroom dengan baik, tepat waktu, dan ada nilainya kok dari guru-gurunya. Hanya soal tampil di ZOOM dan di acara-acara saja yang jadi catatan kekurangannya.

Apa yang kemudian saya lakukan ke Aisyah? Mengomeli kekurangannya? Saya memilih mendukung kelebihannya.

Hobi belajar hal baru, lalu tekun, dan jadi karya. Ini adalah makrame pertama yang Aisyah buat. Senangnya bukan main, lalu bikin lagi, jadi dekorasi rumah.

Mendukung Minat Anak Untuk Membangun Kepercayaan Diri dan Menjadi Berani

"Ayo dek, mama ikutkan kamu kursus online animasi, manga, desain, gambar, lukis, ini, itu...."

Ai: "Ayo Ma!"

Aisyah girang bukan main karena saya bukan malah mengajaknya untuk kursus tampil, kursus ngomong, kursus berpose, kursus ini itu yang sifatnya tampil berdiri/bicara depan orang banyak.

Kebayang nggak sih, anak pemalu dipaksa berani? Dia bakal kesal, sedih, bahkan kecewa, dan terpaksa. Yang ada dia jadi nggak mood mengikuti pelajaran. 

Buat saya pribadi, selama dia tetap mengikuti kelas dan mengerjakan tugas-tugas, tampil bukan hal prioritas. Tapi bukan berarti dia nggak saya ajak untuk berubah menjadi berani ya. Tetap saya dorong, tapi pakai cara yang tepat, lewat apa yang disukainya. Karena saya tahu, mengubah sesuatu itu bukan SIM SALABIM!

Saya ajak Aisyah melakukan apa yang dia sukai dan belajar apa yang dia sukai. Dia tidak harus menjadi seperti yang orang mau, tapi silakan menjadi seperti apa yang dia mau.

Ada beberapa kursus (online) yang diikuti Aisyah, salah satunya di Tebet Education Center. Di situ dia belajar manga. Dia sendiri yang minta, saya kasih. Dia juga minta belajar desain, saya ikutkan kelas belajar desain Canva. Dia minta belajar editing video, abangnya auto jadi guru. Dia minta dipasangkan sejumlah aplikasi desain dan animasi di HP dan laptop, saya pasang semua, dari yang gratis sampai berbayar. Pokoknya setiap dia minta ikut kelas atau minta dipasangkan aplikasi yang berkaitan dengan kesukaannya, saya kasih. 

Selain hobi membuat gambar dan desain, Aisyah juga hobi bikin prakarya. Ada saja produk kerajinan yang dia pelajari di sekolah dan di youtube, dia praktekkan, dan dijadikan kegiatan harian di rumah seperti membuat makrame, menghias tote bag, dan membuat produk dekorasi lainnya. Ada yang menggunakan barang bekas, ada yang harus pakai bahan baru. Hasil kerajinan Aisyah saya pajang di rumah, selain manis sebagai dekorasi, juga sebagai penghargaan atas karyanya. Siapa lagi yang menghargai karya anak kalau bukan saya sendiri sebagai orang tuanya?

Saya senang Aisyah terampil pada hal-hal yang dia sukai. Dan dari semua hal yang dia sukai itu dia amat percaya diri. Saat dia percaya diri, dia jadi berani. Nah, inilah yang hendak saya bangun dalam diri Aisyah. Memperkokoh kepercayaan dirinya dulu, agar ketika menjadi berani dalam berbagai hal, keberaniannya itu jadi kuat. 

Juara 2 alhamdulillah


Dari lomba yang dimenanginya, Aisyah mendapat hadiah uang tunai dan sertifikat

Pengalaman Menang Lomba Design Graphic

Balik lagi ke soal chat Whatsapp dari Aisyah pada Sabtu sore (13/3). 

Jadi, siang itu dia sedang mengikuti live streaming puncak acara Islamic Festival 2021 di Youtube. Nah, dalam acara itu ada sejumlah pengumuman pemenang dari berbagai lomba yang sudah digelar selama 2 minggu. Salah satu pengumuman yang ditunggu oleh Aisyah pastinya pemenang Lomba Design Graphic.

Tak disangka, nama Aisyah disebut sebagai juara 2. Tentunya, kemenangannya mewakili nama sekolah, sebab lomba diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah lainnya. Itu kenapa Aisyah langsung heboh di grup WA keluarga, mengabari saya dan suami, serta abangnya.

"YEAAAAAAAAAAAAAAAAA"

"JUARA 2222222222"

Alhamdulillah. Bisa terbaca luapan kegembiraan yang dirasakan Aisyah dari huruf-huruf yang dia ketik dalam ruang chat itu. Senang? Tentu.

Boleh jadi Islamic Festival 2021 yang digelar bukan ajang besar dan bergengsi, tapi bagi seseorang, sekecil apapun gelarannya, berkarya adalah DUNIA-nya, dan itu besar. Karena dari sana, kepercayaan diri bisa dibangun, atau bertambah, dan menjadi kebahagiaan tersendiri.

Inilah yang selama ini saya cari dari mendukung minat anak, yaitu kebahagiaan si anak. Bukan mendukung apa yang orang mau dari anak saya.

Aisyah memang bukan seperti abangnya yang berani tampil dan cuap-cuap di depan banyak orang, baik offline maupun online, tapi Aisyah saat ini adalah dirinya sendiri. 

Bukan hal yang tak mungkin suatu saat keadaan berubah, dia menjadi pemberani.

Merasa malu punya anak pemalu? NO!