Tampilkan postingan dengan label laptop asus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laptop asus. Tampilkan semua postingan

Makan Enak Kerja Asyik di JUNI Bar & Lounge Cikini

JUNI Bar & Lounge Cikini Jakarta
  
JUNI Bar & Lounge, Cikini, Jakarta Pusat

Saat Olin (Caroline) menginformasikan nama tempat untuk meeting sekaligus bukber yang akan diadakan hari Kamis tgl. 30 Maret 2023, aku langsung gugling kepo karena nama tempatnya itu ada embel-embel bar.

Begini, dulu aku pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta, saat masih gadis muda era 90'an. Waktu itu aku ber-KTP Jaksel. Selama beberapa waktu, ada beberapa tempat dan kejadian yang membuatku sampai sekarang masih dikuasai oleh anggapan bahwa bar identik sebagai tempat yang "baiknya lu hindari, Rien!" Gak kutampik jika ada yang sebut aku menggeneralisir bar 😂

Selain itu, si Askar (geng BlusReels) tiba-tiba nambahin: "Di situ kan ada After Hours."

Jreng! Auto kebayang tempat main bilyar yang di dalamnya tuh ada girls seksi-seksi, minuman keras, dan rokok beserta asap-asapnya.

Trus ada yang nimbrung: "Hey, itu mah beda sama Juni!"

Haha gegara kata bar jadi rusuh. Ya gimana ya, soalnya bakal jadi tempat bukber. "Mosok bukber di bar?" wkwk. 

"Makanannya gak ada menu babi, Mbak Kate. Tenang, menunya halal semua," ucap Olin meyakinkanku. "Gak kayak di GIOI kan?" kejarku lagi. "Enggak!"

Nyess..kerusuhan berakhir. wk wk wk

Baca juga: Makan di Restoran GIOI Senopati

 
Aku, Tami, Yesi, dan Amanda kompak naik KRL, tapi berangkat sendiri dari rumah masing-masing. Lalu janjian ketemu di stasiun Tanah Abang buat barengan naik Gocar ke JUNI Bar & Lounge di Cikini.

Dalam perjalanan naik Gocar kami ngobrolin soal musala buat nanti salat magrib. Askar bilang dekat JUNI ada masjid. Makanya pas Gocar udah deket JUNI mataku celingukan cari masjid. Hasilnya? Ga ada tuh penampakan masjid.

Keberadaan musala jadi bahasan serius. Karena menurut info Olin di JUNI itu ga ada musala, namun staff sempat menawarkan kemungkinan bisa numpang salat di ruang karyawan.

Ga punya Musala. Toiletnya ampun deh!

"Pak permisi. Dekat sini ada masjid?" tanyaku pada seorang laki-laki yang kebetulan aku temui sesaat setalah kami turun dari Gocar.

"Di situ belok kanan, tinggal jalan lurus, nanti sampai masjid," jawabnya sambil menunjuk ke arah belokan yang berjarak kurang lebih 100 meter dari tempat kami berdiri.

Ok, aku lega. Aku percaya sama petunjuk si bapak. Meskipun akhirnya, aku ga salat di masjid yang disebutkan oleh bapak itu, tapi solat di lantai dasar JUNI. Di situ ada basement (bukan bawa tanah), tempat parkir motor karyawan sekaligus parkiran mobil tamu. 

Sebetulnya bukan tempat solat sih, hanya tempat ngaso para karyawan yang bisa difungsikan sebagai tempat solat. Ruangannya di pojokan basement, agak berantakan. Yang bikin aku illfeel tuh tempat wudhunya. Ternyata toilet gaes hahaha. Toilet dengan kloset jongkok, lantainya dekil, ga ada sandal, tapi airnya banyak dan mengalir deras. Ga ada sandalnya itu yang bikin mau nangis 😅

Ada sih sandal, tapi Tami ngasihnya telat wkwk. Duh. Antara malas jalan jauh nyari masjid (ternyata kata Yesi masjidnya memang jauuuuh dari JUNI hahaha) sama mau yang dekat aja tapi tempat wudhunya dalam toilet yang ga nyaman banget diliat dan dirasa haha

Jujur aja sedih sih ya, JUNI itu aslinya bagus banget dalamnya (abis ini aku ceritain), tapi ga punya musala buat tamu. Toilet di basement juga menyedihkan. Toilet supir kali ya hiks. Beda banget sama toilet di dalam JUNI (ini pun nanti aku ceritain).

Dinding di belakang tangga itu akses ke JUNI di lantai 2

Aksesnya outdoor. Bisa kepanasan dan kehujanan!

Penampakan luar gedung JUNI tampak biasa. Bangunannya ga megah, ga mentereng, bahkan terlihat kecil. Bagian luar depan gedung ada tangga besar dan lebar menuju lantai atas. Sampai di lantai pertama, ada pintu kaca di bagian depannya. Kami kira itulah JUNI, ternyata...

"Ini After Hours mbak, Juni ada di atas."

Lhooo kok dia tahu kami mau ke JUNI? Padahal kami belum sebut soal JUNI. Apa karena penampilan kami gak mencirikan pengunjung After Hours? Bisa jadi wkwk. Emak-emak ga ada tampangnya main bilyar haha.

Nah, jalan buat lanjut naik tuh tetep di luar.

Meskipun begitu, akses naiknya enak, bukan kayak tangga berundak-undak yang bikin pegal. Kursi roda, scooter, bahkan sepeda pun bisa lewat. Sayangnya terbuka. Jadi kalau terik ya kepanasan. Kalau hujan ya basah. Kayak kami sore itu agak gerimis, jadi basah dikit deh pas  ke atas. 

Tapi tenang, di sini tuh udah disediakan payung. Mau naik atau turun bisa payungan. Kami aja yang gak ngeh ada payung. Baru tahu ada payung pas mau turun salat. Ada petugas di pintu sigap menyodori payung. Payungnya banyak, kami dipinjami satu-satu.

Tanjakan pertama setelah After Hours

Tanjakan kedua sudah di lantai tempat JUNI berada

Tempatnya LUAS! Sudah Reservasi?

Begitu pintu dibuka, staff JUNI langsung menyambut, lantas menanyakan soal sudah reservasi atau belum. Aku langsung sebut nama Olin dari ASUS, seketika staffnya langsung mempersilakan kami masuk.

Jadi ya, kalau datang ke sini memang langsung ditanya udah reservasi atau belum. Kenapa coba? Konon pengunjungnya selalu rame. Padahal tempatnya luas, tempat duduknya buanyak. Masa iya susah kebagian? Bisa jadi iya. Jadi tetep perlu reservasi biar aman. 

Tempatnya memang spacious. Ada indoor dan semi indoor. 

Sejak dari pintu masuk, kita bisa langsung pilih tempat duduk. Sebut saja ruangan pertama. Ruangannya agak memanjang ke belakang. Kalau mau cari tempat duduk lain, tinggal jalan ikuti bentuk ruangannya. Setelah mentok, lalu belok kanan, sampailah di area makan kedua. Jika di sini masih belum cocok, kita masih bisa cari meja di ruangan lainnya. Tinggal belok kiri, di situ ada ruangan ketiga.

Tiap ruangan letaknya bersebelahan tanpa sekat. Kalau pun disekat pakai kaca. Baik sebagai dinding maupun pintu. Konsep tempat makannya memang terbuka, ga ada privasi-privasian. 

Live Streaming Youtube dengan Tenang dan Lancar!

Ruangan ketiga dengan salah satu sisi dinding berupa kaca transparan yang menjadi akses masuk cahaya alami dari luar, makanya di sini paling terang. 

Setelah ruangan ketiga masih ada lagi yang keempat, dan ini yang paling belakang, tapi paling luas, dan menurutku paling nyaman. 

Untuk memasuki ruangan keempat mesti melewati pintu kaca. Orang yang duduk di ruangan ketiga bisa liat ke ruangan keempat, begitupun sebaliknya. 

The ambience was good. Suasananya tenang. Nyaman. Santai. 

Cocok banget buat janji temu, ngopi santai, bahkan kerja. Saking tenangnya, Olin live streaming Q&A di channel Youtube ASUS dari ruangan ketiga tadi. Yak, hari itu Olin jadi host. Jadi sebelum meeting sama kami, dia live dulu selama 1 jam.  Kami ngapain? Kerja dong 😂

Di JUNI ini, bukan cuma suasana tenangnya yang mendukung untuk live youtube, internetnya pun super kencang! Ga ada tuh patah-patah pas live (aku sempet nonton streaming-nya). 

Aku pun bisa akses medsosku dengan lancar pakai wifi JUNI.

Sewaktu kami datang, ruangan paling belakang itu sepi. Isinya cuma aku dan teman-teman peserta meeting, yakni Yesi, Tami, Amanda, Arief Pokto, dan Salman. 

Kami jadi sangat leluasa hands-on laptop ASUS. Bahkan, bisa bebas pindah-pindah tempat saat sesi bikin foto dan video laptop.

Mungkin karena bulan puasa, jadi ga ada yang makan siang-siang. Ada sih di ruangan pertama dan kedua, tapi kurang lebih 4 meja saja. Selebihnya ga ada. Makanya kosong banget. 

Nah, jam 5 sore baru deh orang-orang berdatangan. Satu persatu meja terisi dan akhirnya penuh! Tentunya, semua yang datang itu untuk bukber. Soalnya mereka sama kayak kami. Datang langsung pesan makanan, tapi makanannya baru disentuh pas waktu buka.

Banyak perempuan jilbaban datang ke sini. Seneng liatnya. Bukan apa-apa, kan awalnya aku sempet ragu dengan pemilihan JUNI ini sebagai tempat bukber. Bar gitu lho hahaha. Kan sempet mikir negatif, gara-gara after hours haha. Tapi ternyata, JUNI jadi pilihan banyak orang untuk tempat bukber.

Soal menu, ternyata memang ga ada makanan non halal di sini. Bisa dilihat dari buku menunya.

Soal minuman, nah di ruangan keempat tempat kami meeting itu ada bar. Rak di belakangnya memang berisi botol-botol minuman keras. Tapi barnya tutup. Semua makanan dan minuman bukan berasal dari bar itu, tapi tempat lain, beda ruangan. Barnya jauh di belakang, dapurnya mah jauh di depan.

JUNI tuh tempatnya ga cuma luas, tapi juga cantik. Gak sedikit spot instagramable buat foto-foto kece.  

AC di ruangan kami berfungsi dengan baik. Jadi, meskipun ruangannya luas, kesejukan udara stabil. Rasanya sangat nyaman selama bekerja dan bersantap. 

Toiletnya bagus, bersih, dan jaraknya sangat dekat. Bisa langsung diakses dari ruangan tempat kami kumpul. Jadi ga perlu pergi jauh ninggalin ruangan hanya demi mencari toilet.

Hospitality para karyawannya baik sekali. Semuanya ramah, informatif, dan gercep. Pelayanan nya oke banget lah.

Penyajian makanannya juga cakep-cakep.

Selama berada di dalam aku sempat lupa kalau bagian luar JUNI ini biasa aja hehe. Memang tampilan luarnya menipu sih. Karena dalamnya tuh sebagus itu.


Peserta meeting di JUNI ini ada aku, Askar, Mas Eko, Andre, Horas, Amanda, Yesi, Tami, Arief Pokto, dan Salman.

Tim PR ASUS yang datang ada Mas Firman, Olin, Fadhil, dan Mas Danu. Total semuanya 14 orang. 

Kami dikasih 2 meja supaya bisa duduk dekatan. Aku liat di sini memang ga ada meja panjang yang bisa muat banyak, jadi harus 2 meja. Itupun mejanya ga bisa didorong terlalu dekat. 

Apa saja yang kami bahas? Tentunya bahas laptop. Nah laptopnya apa saja dan gimana, bisa ditonton dalam video reels di IG kami.

Untuk menu berbuka puasa, Olin yang pesan. Kami tinggal makan. Ada dua hidangan yang disajikan bertahap. Menu berbuka dulu, abis itu menu makan malam.

Menu berbuka nya keliatan ringan, padahal berat euy haha. Aku jadi kenyang, tapi masih ingin makan lagi, nyobain menu-menu recommended yang katanya sangat berkesan di lidah.

Btw, makin malam cahaya lampu semakin redup. Entah sengaja diredupin atau enggak, yang jelas saat makan ada lampu diletakkan di meja. Penerangan kami mengandalkan lampu itu. Kalau gini mah berarti lampu ruangan emang sengaja diredupin. Biar romantis kali hehe.

Gimana aku gak kenyang kalau menu buka puasanya begini?



Namanya saja berbuka dengan cemilan ringan, hasilnya mah berat 😅

Gimana ga berat wong bukanya pakai Nachos, Pisang Goreng Coklat Keju, Roti Custard Kukus Pelangi (sausnya pelangi), Cumi goreng, Kentang goreng, dan lainnya aku lupa namanya apaan. 

Kenyang tapi tetep pengen makan nasi. Gimana dong? Ya ga gimana-gimana, tinggal pesan dan makan hihi

Pilihanku jatuh pada Nasi Goreng Kecombrang. Pas dihidangkan, astaga porsinya gede bener 😭

Porsi makanku itu cuma 3/4 dari porsi yang disajikan. Bayangin, gimana gak frustasi aku liatnya. Ngabisinnya gimana? Yang lain kan udah pada pesen masing-masing, dengan porsi yang juga pada gede-gede. Tapi akhirnya aku ga jadi frustasi, karena ada Salman dan Arief yang bantuin makan hahaha.

Alhamdulillah gak mubazir😁

Jujur aja, itu Nasi Kecombrangnya enak bener. Skala enaknya udah di level : enak banget! 

Berisi irisan kecombrang, irisan jantung pisang, ikan teri medan, dan potongan ayam kecil-kecil. Perpaduan rasa yang unik, khususnya karena kecombrangnya.

"Itu kan obat awet mudanya Mbak Kate," ujar Mas Eko ketika ada yang nanya apa itu kecombrang 😂

Nasi Goreng Kecombrang

Terus terang, dari pengalaman pertama ini, aku langsung suka dengan JUNI. Suka pada makanannya, tempatnya, dan para waiter/waitress nya.

Rasa dari semua makanan yang aku cicip ga ada yang gagal. Setiap menu hadir sempurna dari segi penyajian hingga citarasa.

Tempatnya bersih, cakep, dan pastinya nyaman. Bisa buat ngopi santai saja, bersantap bersama keluarga, meeting dengan klien, atau pun kumpul makan dengan para bestie.

Waiter/waitressnya pun ramah-ramah, sat set dan gercep to the maks, gak ada yang ngeselin.

Dari segi harga, worth it sih ya menurutku. 

Saat puas dengan apa yang dimakan, suasana yang didapat, sering kali jadi abai pada harga. Kalau pun harus diberi penilaian, mungkin ngarah ke gak murah tapi bukan termasuk yang mahal juga. 

Jadi soal harga boleh dibilang masih standar, tapi soal rasa udah di atas rata-rata standar.


Satu saja catatan kurang dari JUNI: musala.

Ada banyak pengunjung muslim. Aku perkirakan hari disaat aku makan di sana, jumlahnya mencapai 90%. Aku liatnya dari 2 hal. Pertama dari waktu makan yang dilakukan hanya setelah adzan magrib, kedua dari penampilan mereka yang sebagian besar perempuan berjilbab.

Jadi, penting menyediakan musala yang bersih dan nyaman, serta tempat wudhu yang baik, supaya pengunjung makin betah dengan adanya fasilitas ibadah selama berada di JUNI.

Gak harus besar, mulai dengan ukuran yang bisa nampung 4-5 orang salat sekaligus aja dulu.


Thanks buat Olin dan Mas Firman sudah ajak kami kerja asyik dan makan enak di JUNI. 

ASUS gak pernah gagal kalo ajak content creator kerja, makannya dinomor satukan euy!


Naik KRL Commuter Line, Makan Siang di Restoran GIOI Senopati

Naik KRL  Commuter Line, Makan Siang  di GIOI Senopati

Akhirnya aku naik KRL Commuter Line lagi setelah 3 tahun libur panjang. 

Terakhir naik tahun 2019, tahun di mana aku mulai terbiasa naik kereta. Jujur kuakui manfaat naik kereta dari BSD ke Jakarta jauh lebih unggul daripada naik mobil pribadi. Karena itu, aku suka jadi terbiasa.

Hingga akhirnya...

Pada bulan Maret 2020 pandemi melanda negeri. Sejak itu, jangankan naik kereta, naik mobil pribadi pun jadi sangat jarang. Lebih banyak tinggal di rumah, biar gak ketularan penyakit.

Baru pada Desember 2022 lalu naik KRL lagi. Buat menghadiri undangan lunch meeting dari PR ASUS Indonesia, tempatnya di Restoran Gioi Senopati, Jakarta Selatan. Rasanya seperti punya momen bersejarah, dan menjadi penting untuk dituliskan 😅

GIOI Senopati bersama Head of PR ASUS Indonesia dan beberapa teman content creator

Rasa yang Memudar

Lama gak naik KRL, rasa "terbiasa" itu mulai memudar, bahkan sekadar membayangkan kembali naik KRL saja jadi agak tegang. 

Biar gak makin pudar, kutonton video reel teman-teman content creator yang konsisten kampanye naik transportasi umum, khususnya KRL Jabodetabek. Hasilnya? Aku kembali tercerahkan. 

"Oh mudah banget ya, dan tetap murah, tapi fasilitas, keamanan, dan kenyamanannya makin bagus!" 

Tetap murah? Ya. Coba lihat tarif bus bandara di Intermark Indonesia yang rutin aku gunakan bila hendak ke bandara. Sebelum pandemi Rp35.000,- saja. Sejak dan setelah pandemi naik drastis jadi Rp75.000,-

Sedangkan commuter line? Masih sama. Dulu Rp3.000, sekarang pun masih segitu. Nominal tersebut berdasarkan pendebetan yang terecord di kartu Flazz ku. Memang gak bisa dibandingkan sih, beda moda juga kan. Tapi setidaknya ada perbedaan signifikan soal tarif.

Selain itu, aku jadi suka nyimak cerita Mbak Ade Anita soal kebanggaannya naik transportasi umum KRL yang dilakukan oleh keluarganya. Sangat kagum dengan cara pandang keluarga Mbak Anita dalam hal transportasi. Alasannya bukan semata untuk kepentingan pribadi, tapi lebih jauh untuk orang banyak, lingkungan, dan kehidupan yang lebih baik.

Pengalaman pernah tinggal di luar negeri bisa jadi salah satu faktor yang membuat Mbak Ade Anita punya pengalaman baik dalam hal naik kendaraan umum. Dan itu membuat cara pandangnya sangat positif.



Pengalaman pribadi mbak Ade Anita yang dibagikan di medsos (tanpa disponsori oleh siapa-siapa) sangat menginspirasi. Termasuk komentar-komentar pada status tersebut, menambah keyakinan diri untuk mengikuti jejak baik mereka. 

Status Mbak Ade Anita dapat di baca di sini : Mbak Ade Anita - Transportasi Jabodetabek.

KRL Jabodetabek

Pilihan untuk selalu naik kendaraan umum kadang kembali pada "di mananya". Karena gak semua tempat moda transportasi umum itu ada dan mudah. Jadi di sini, aku bicara sebagai warga yang tinggal di Jabodetabek.

Kalau bicara Jabodetabek, sarana transportasi umum semakin ke sini semakin lengkap dan memadai. KRL, MRT, LRT, bus, dan lainnya sudah ada dari dan ke mana saja. Mudah dan murah. Nah, kalau sudah disediakan lengkap, menolak memanfaatkannya adalah hal yang sangat disayangkan.

Buatku yang tinggal di BSD City, ada Stasiun Rawa Buntu dalam kota. Cukup dekat dari rumah. Tinggal naik gocar ke stasiun atau diantar oleh anak/suami saja. Lalu naik KRL, turun di stasiun terdekat dari tujuan. 

Misal mau ke FX Sudirman, aku tinggal turun di Stasiun Palmerah. Selanjutnya bisa disambung dengan ojol, taksi online, angkot, atau bus TJ. Aku biasanya naik Gocar. Kalau ojol GORIDE / GRAB Bike, suamiku gak ijinkan. Suami takut nanti aku jatohlah, olenglah, dan ga rela aku nempel driver 😂

Naik KRL bareng Tami dan Mbak Ria, pergi ke acara ASUS di Hotel Aloft Jakpus 4/12/2022

Karena ASUS Jadi Rajin ke Jakarta

Sebetulnya aku jarang sekali pergi keluar rumah sendirian dengan tujuan ke Jakarta atau tempat jauh lainnya dari rumah. Kalau masih sekitaran BSD saja sering. Biasanya keluar untuk rutinitas antar anak sekolah saja, belanja ke pasar, mall, klinik, tempat makan, dan beberapa keperluan harian lainnya. 

Karena jadi content creator maka keluar dari BSD itu jadi ada. Sebagai blogger, ada saja undangan yang menghampiri. Kalau dulu tiap ada undangan rasanya pengen datang, tapi belakangan sudah membatasi diri, mengurangi aktivitas ke banyak tempat dan tujuan, untuk alasan keluarga. Dan aku bahagia dengan pembatasan itu, membuatku santai, tenang, dan fokus pada hal-hal prioritasku.

Keluar dari rumah untuk tujuan ke Jakarta, sekarang lebih sering untuk acara ASUS saja. Sempat dua kali untuk kegiatan Funworld. Lainnya belum dulu. Waktunya belum ada.

Pergi ke acara ASUS kadang bersama Alief. Kadang sendiri saja jika Alief sedang sibuk kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Kalau ke Jakarta untuk acara keluarga beda cerita, perginya tentu sama keluarga. Suami dan kedua anak ikut serta.

Pernah ada acaranya ASUS saat weekend. Kami berangkat sekeluarga, bawa mobil. Karena mau jalan-jalan di Jakarta, pergi ke beberapa tempat hingga pulang malam, dan kami bawa banyak barang, termasuk barang-barang berharga seperti kamera DSLR dan beberapa laptop. 

Lain halnya kalau aku pergi sendiri dan gak pake bawa barang macam-macam, cussss aja naik kereta gak masalah. 

Acara ASUS di The Akmani Hotel tgl. 12/12/2021. Yang diundang aku dan Alief. Suami dan Aisyah ikut serta. Karena hari itu Minggu. Mau jalan-jalan ke beberapa tempat di Jakarta. Perginya merasa perlu bawa kendaraan karena banyak tujuan dan banyak bawa barang berharga.

Mahal = Nyaman&Aman?

Nah, ASUS tuh sering bikin acara di beberapa hotel di Jakarta Pusat. Jauh dari rumahku. Weekdays pula. Ga ada yang antar karena suami di kantor, Alief kuliah. Naik apa? Taksi online.

Buat ke sana biasanya aku naik gocar/grabcar dari BSD dengan biaya PP kurang lebih hingga Rp300.000. Belum bensin, tol, dan parkirnya hitung sendiri. Belum tenaga buat nyetirnya, stress sama macetnya, duuh..

Alhamdulillah akhirnya terkompori untuk naik KRL karena KRL sekarang makin nyaman dan aman, dan pastinya murah. Kalau soal aman, pernah hampir ragu gara-gara tahu ada kejadian blogger dijambret dan dicopet di kereta. Ngeri juga.

Tapi aku sadar. Yang namanya kejahatan bisa terjadi di mana saja. Tinggal kitanya yang banyakin doa, tingkatkan waspada, dan jaga diri baik-baik. Insha Allah, Allah akan melindungi.

Jadi, aku pingin banget naik KRL lagi. Udah minta ijin suami juga, dan suami bilang gini: "Iya gpp, tapi hati-hati. Kalau pergi/pulang di jam sibuk, keretanya padat, tunda dulu, atau naik taksi online aja. Kalau mau papa jemput, kasihtau aja," ujar suamiku.

Suamiku takut banget aku kenapa-kenapa 😄 Tentu karena suamiku sayang aku 💖

Naik KRL sendiri. Pertama kali setelah 3 tahun ga naik. Naik dari Stasiun Rawa Buntu, turun di Stasiun Palmerah. 3/12/2022

Bisa GOTRANSIT

Sepanjang tahun 2022, undangan acara di Jakarta dari ASUS beruntun. Kala itu aku masih maju mundur mau naik KRL. Antara masih dihantui virus corona, berjubelnya orang, gak kuat bila berdiri lama, dan beberapa hal lainnya yang mungkin bagi orang lain hal sepele tapi bagiku enggak. 

Akhirnya tetap saja kemana-mana naik mobil. Kadang naik taksi online, kadang diantar suami atau Alief.

Hingga akhirnya, tgl. 3 Desember 2022 lalu aku memutuskan mulai naik KRL Communter Line lagi untuk pergi ke acara lunch meeting dengan PR ASUS Indonesia di restoran GIOI Senopati Jakarta Selatan.

Sebelum memutuskan naik kereta, aku sempat tanya ke teman-teman soal cara naik kereta sekarang gimana. Siapa tahu ada perubahan, ya kan? 

"Sekarang bisa pakai GoTransit, Mbak Rien," ujar Tami (IG nya di @utamiisharyani).

Tami memang pengguna aktif KRL. Udah paling tepat aku nanya dia. Aku dikirimi foto tempat barcode di stasiun. Buat nunjukin nanti scanning-nya di mana. Selain dari Tami, info-info dari Mbak Maya Siswadi juga sangat membantuku.

Jadi GoTransit itu kita tinggal scan barcode di stasiun pakai aplikasi GOJEK. Apakah aku mencobanya?


Kompor Meleduk

Meskipun penasaran pengen coba Go Transit, kartu-kartu yang bisa dipakai buat naik KRL tetap aku siapkan.

Mandiri e-money, BCA Flazz, Indomaret Card, hingga kartu yang dulu beli di stasiun, semua aku kumpulkan. Siapa tahu gagal pakai app GOJEK, masih ada kartu yang bisa di-tap. Lalu, semua kartu itu aku isi saldo, buat jaga-jaga kali aja ada kartu yang error saat di-tap 😂

Tgl 3 Des 2022 itu aku tidak serta merta juga sih naik KRL. Sendiri pula. Bisa terjadi karena abis ngobrol sama teman-teman blogger yang kebetulan bakal berangkat bareng ke acara ASUS di Aloft Hotel tgl. 4 Des 2022. 


Dari obrolan itulah aku merasa jadi punya persiapan matang. Mungkin karena sudah punya bekal info yang lengkap, plus adanya para "kompor" yang bikin keberanianku jadi meleduk!  🔥

Stasiun Palmerah

BERHASIL dan Menyenangkan!

Dari rumah aku naik GOCAR ke Stasiun Rawa Buntu. 

Awalnya mau nyobain masuk pakai GOTransit. Tapi situasi stasiun saat itu ramai. Muncul khawatir nanti jadi lama prosesnya, bisa memperlama antrian masuk. Saat itu lebih mikirin orang lain ketimbang buru-buru mewujudkan nyobain GoTransit 😂

Mendadak juga merasa gak aman untuk mengeluarkan HP buat buka aplikasi GOJEK. Akhirnya tapping kartu aja deh daripada gugup nanti malah panik. Kelamaan di rumah aja, pas ketemu keramaian di stasiun malah cemas 😂

Alhamdulillah saat itu kereta cepat datang. Gerbongnya pun lumayan lengang. 

Begitu masuk, alhamdulillah langsung dapat tempat duduk. Rasanya lega. Hilang kekhawatiran bakal berdiri dan berjubel hehe. Lantas, karena sudah merasa aman dan nyaman, terbitlah rasa pengen selfie buat mengabadikan momen pertama keretaan lagi setelah 3 tahun. Norak? Biarin 😂

Setelah sekali jepret selfie, kusimpan lagi HP ke dalam tas. Berusaha banget sepanjang berkereta itu gak tertidur. Biar selalu waspada gitu, juga takut kelewat stasiunnya. Alhamdulillah kurang lebih 20 menit sampai di Stasiun Palmerah. Rasanya pengen teriak: Yeay aku berhasil! 🤣

Sejak dulu, ada 2 spot yang gak pernah absen aku jepret saat berada di Stasiun Palmerah, yakni lantai atas stasiun dan jembatan menuju halte arah Senayan. Aku suka dengan lengkung atapnya dan pola pada langit-langitnya.

Lantai atas stasiun

Jembatan menuju halte arah Senayan

Supir Musafir 

Hari itu Jumat. Janji temu untuk lunch meeting di Restoran GIOI di Senopati jam 12 siang, saat umat muslim Jumatan.

Sesaat setelah aku berada dalam mobil GOCAR yang aku pesan, adzan berkumandang. Di situ memang ada masjid MPR. Suara adzannya terdengar olehku.

"Pak, kalau mau Jumatan dulu silakan. Saya bisa tunggu," ucapku kepada driver. Kutawarkan dengan tulus dan tidak masalah jika terlambat tiba di GIOI. 

"Oh tidak apa bu. Saya kan musafir. Nanti salat Dzuhur saja," jawab laki-laki yang tampak udah gak muda lagi itu.

Mendengar jawaban itu, aku diam saja, lalu membatin, "Mungkin syarat musafir si bapak sudah terpenuhi. Mungkin."

Kuperiksa pesan di WA, Olin dan Mas Firman (PR Asus) sudah sampai di restoran. Yang lainnya belum. Aku jadi merasa santai meskipun saat itu perjalanan gak begitu lancar. Padahal, jalan Senopati arah ke GIOI restoran merupakan jalan dengan satu arah (oneway).

Restoran GIOI ada di sebelah kanan jalan. Tampak bangunannya dua lantai. Depannya ada area parkir yang terbatas. Mobil yang mengantarku tak bisa berhenti lama. Jadi, aku ngebut keluar mobil, biar gak diklakson dari belakang he he. Paling ga suka dengar klakson, ga sopan, bikin panik juga kadang-kadang he he.

Karena bergegas itulah aku gak mikirin mau motret tampak luar resto. Jadi, foto berikut aku pinjam dari beberapa sumber.

GIOI Senopati dan tempat parkir yang terbatas. (sumber: zomato.com)

Pintu masuk GIOI. (sumber: larismanis.com)

Dining area GIOI Senopati (sumber: zomato.com)

Gak Punya Musala

Sampai di restoran, yang kutanyakan pertama kali adalah toilet dan musala. Toiletnya ada, musolanya gak ada. Haiyaaah! Jadi kalau mau solat mesti keluar, dan ternyata masjidnya jauuuuh 😅

Saat itu restonya masih agak sepi. Suasananya tenang. Berasa bakal enak buat ngobrol santai maupun bisnis. Apalagi Mas Firman dan Olin pesan tempat private dalam ruangan semi tertutup di pojokan. Pencahayaannya bagus, agak redup yang bikin nyaman.

Aku dan Andre sudah duluan sampai. Abis itu baru Horas, Askar, dan yang paling belakangan tiba Mas Eko. Katanya kutbah Jumatnya lama, ustadnya spesial. Mas Eko nya pengen cepet bubar tapi kayak ada yang nahan untuk tetap mendengarkan ceramah sampai selesai 😄

"Ayo Mbak Kate langsung pesen minuman dan makanan, bebas mau pesen apa aja," ujar Olin.

PR ASUS mah gitu! Bikin enak hati wkwkwk. Selalu, tiap diundang acara, makan duluuuu sampe puas dan kenyang, baru urusan kerja. Dibebasin mau makan apa aja dan berapa, tinggal kitanya aja yang tahu diri wkwk. Yoha!



Spesialnya Bebek, Aku Pilih Tom Yum  

GIOI Senopati berlokasi di kawasan Senopati, Jakarta. GIOI merupakan salah satu restoran yang served Indonesian fusion food. Menunya beragam dan ada untuk vegan juga. 

Selain di Senopati, GIOI juga ada di PIK dan Menteng. Aku belum pernah mendatangi semuanya, jadi ini pertama aku ke GIOI. 

Berbeda dengan tampilan luarnya yang biasa saja, desain interior-nya justru bagusss! Waitress-nya juga helpful

Harga yang ditawarkan tergantung set menu apa yang hendak di-order. Ada menu standar dengan harga yang terjangkau, ada juga spesial menu yang harganya relatif mahal. Meski demikian, soal rasa, gak perlu diragukan lagi.  

Dari beberapa review yang aku baca, menu Salmon Lodeh paling banyak dipuji. Sedangkan signature dish nya sendiri adalah menu bebek, yakni Roast Duck Curry dan GIOI'S Signature Crispy Duck

Aku sama sekali lagi gak kepengen makan bebek saat itu. Apalagi di rumah juga hampir tiap hari makan bebek pesan di Bebek Kaleyo. Ya walaupun beda tempat dan tentu beda masakan, tetep aja hari itu aku ga tertarik makan bebek. Pilihanku jatuh pada Creamy Tiger Prawn Tom Yum
Creamy Tiger Prawn Tom Yum

Nggak Nyesel Pesan Creamy Tiger Prawn Tom Yum

Creamy Tiger Prawn Tom Yum dibanderol dengan harga IDR 175K

Menu populer Thailand satu ini menghadirkan element rasa sweet, salty, sour, and spicy.  Perpaduan rasa yang bikin happy. Asam dan pedas namun lembut dan mengenyangkan. 

Berasa pedasnya, tapi gak bikin kepedasan. Biasanya kalau makan tom yum di resto lain sering kepedasan, kalau ini nggak. Makanku jadi nikmat, ga dikit-dikit minum. 

Isian udang windunya gak pelit. Cumi, bakso ikan, jamur champignon, chikuwa juga ada deh kayaknya, aku agak lupa haha. Pokoknya semuanya berdesakan dalam mangkok yang gak kecil. Awalnya kukira bakal habis untuk dinikmati sendiri, ternyata kudu sharing biar ga mubazir. Apalagi menu ini disajikan dengan nasi, makin mempercepat rasa kenyang.  

Andre yang tampak bingung mau pesan apaan, langsung aku sarankan Creamy Tiger Prawn Tom Yum, dan dia setuju. Hasilnya? Sebuah pujian atas citarasa: Mantap! 

Sexual Healing

Ini nama minuman. Unik ya. Pada mikir kemana hayo pas baca namanya? 😅

Sexual Healing terbuat dari campuran buah dengan Sprite. Salah satu buahnya adalah buah naga. Rasa manis yang amat tipis justru bikin minuman ini enak banget, rasanya segar. Bukan malah tambah haus. Pastinya jadi ampuh banget buat ngilangin haus yang muncul setelah perjalanan naik kereta. Walau Sprite-nya bikin aku marahin diri sendiri, "Bukannya menghindar malah santai aja order!" 

He he. Aku punya masalah lambung. Soda kudu banget dihindari kalau ga mau kesakitan.



Kenyang tapi Resah! 

Mas Firman dan Mas Eko memesan nasi goreng yang sama, dan Askar makan ayam tanpa nasi. Diet katanya. Diet nasi doang😅 

Horas datang saat aku sedang sibuk menghabiskan Tom Yum. Dia duduk di sebelahku. Lalu membuka buku menu. Dibacanya nama menu dengan suara yang membuatku bisa mendengar dengan jelas. Dia diskusi dengan Askar soal menu apa yang pengen di pesan. 

Ternyata....
Horas memesan menu halal versi dia, tapi haram versi aku. 
Duuuuh...di sini ternyata sedia menu babi! Ya Allah ampuni hambamu ini baru ngeh😭

Aku memang salah. Sejak awal fokus saja sama menu tom yum dan minuman yang direkomendasikan oleh waitress. Karena merasa sudah ketemu yang cocok, jadi gak mau baca keseluruhan daftar menu lagi. Padahal makanan tanpa babi dan dengan babi, berurutan dalam buku menu. Terpampang nyata gak disembunyikan. Minuman beralkohol juga sedia. Gimana ya, meskipun ga pesan makanan gak halal, tetap saja berasa ketelen yang gak halal. Hu hu aku resah karena makanan yang dimasak oleh resto dilakukan di satu dapur. Huaaa 😭

Bukan salah Olin yang pilih tempat, tapi salahku yang gak main periksa dulu. Kan bisa nolak, lalu kasih saran ke tempat lain yang aman. Atau datang, tapi ga usah ikut pesan apa-apa. 

Gak sedia musola itu saja sebenarnya sudah bikin aku gelisah. Semakin nyata saat tahu menunya sangat tidak ramah muslim. Sekali lagi ini bukan salah yang punya resto. Salahku yang datang gak cek dulu.

Daftar menu GIOI Senopati dapat dilihat pada link bio IG @GIOIJakarta

Nasi gorengnya Mas Eko

Ayam, pesanannya Askar

KODE VOUCHER Buat Belanja Hemat Laptop ASUS

Lunch meeting di GIOI hari itu adalah untuk membicarakan laptop-laptop ASUS terbaru yang nantinya akan kami informasikan melalui medsos masing-masing.

Ada 4 laptop ASUS yang diperlihatkan pada kami hari itu. Semuanya laptop baru. Bahkan 1 unit ada yang belum buka segel.

Di antaranya: ASUS ZenBook Pro 16X OLED,  Zenbook 14 OLED (UM3402), ASUS ZenBook S13 Flip OLED (UP5302), dan Vivobook 14X OLED A1403.

Nah, sekalian nih. 

Aku mau info KODE VOUCHER belanja laptop ASUS supaya lebih hemat! 

Jadi, di sini aku gak cuma ngoceh soal laptop-laptop kece yang bisa dipilih untuk digunakan sehari-hari sesuai kebutuhan, tapi juga info diskon supaya bisa beli laptop ASUS dengan harga lebih hemat bila belinya di ASUS ONLINE STORE. 

Bukan cuma DISKON senilai Rp500ribu, tapi juga bebas ongkir ke mana pun tujuan selama masih di Indonesia, gratis biaya packing kayu, dan gratis asuransi pengiriman.



Info KODE VOUCHER belanja laptop ASUS supaya lebih hemat! ✨🤩


Berikut ketentuannya:

✅ Khusus buat belanja laptop ASUS Zenbook dan Vivobook saja

✅ Gunakan kode voucher: 𝗔𝗦𝗨𝗦𝗧𝗥𝗔𝗩𝗘𝗟𝟱𝟬𝟬𝗞 untuk potongan sebesar IDR 500K supaya lebih hemat

✅ 𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐀𝐒𝐔𝐒 𝐎𝐧𝐥𝐢𝐧𝐞 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐞 pada link berikut: https://bit.ly/BeliLaptopASUS

✅ 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐀𝐒𝐔𝐒 𝐎𝐧𝐥𝐢𝐧𝐞 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐞 𝐚𝐣𝐚? Karena gak semua laptop ASUS ada di ASUS Offline Store

✅ Kode voucher berlaku untuk semua laptop ASUS yang tersedia pada link ASUS Online Store. Tidak pakai syarat apapun, langsung saja gunakan.

✅ 𝐊𝐨𝐝𝐞 𝐯𝐨𝐮𝐜𝐡𝐞𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐃𝐞𝐬𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟐 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐌𝐚𝐫𝐞𝐭 𝟐𝟎𝟐𝟑

Kapan lagi bisa belanja laptop @asusid sehemat ini? 😀

Tahun baru ganti laptop yang tepat sesuai kebutuhan, buat menunjang aktivitas supaya makin lancar, produktif, dan sukses!

Daftar produk laptop ASUS bisa dilihat pada link berikut: https://bit.ly/DAFTARPRODUKASUS

Laptop-laptop yang aku hands-on saat di resto GIOI bisa dilihat pada IG reel berikut. Siapa tahu ada yang cocok, kamu bisa langsung beli dengan menggunakan kode voucher di atas untuk potongan harga sebesar Rp 500.000,-

 


 


Empat video Reel di atas berisi ulasan laptop hasil dari lunch meeting yang aku lakukan bersama teman-teman content creator di Restoran GIOI Senopati.

Deretan karya yang merupakan tujuan dari perjalanan naik kereta dari BSD ke Jakarta. Naik kereta pertama setelah tiga tahun libur panjang.

Menuliskan cerita naik kereta pergi ke GIOI untuk meeting ASUS ini menyisakan beberapa hal yang masih terpatri dalam ingatan:

  • Supir GOCAR yang rumahnya di Bekasi mengaku musafir saat bekerja di Jakarta, maka ia merasa wajar gak salat Jumat. Hmm....
  • Restoran yang menunya ada beberapa masakan babi, membuatku resah gak abis-abis meski aku gak makan babi. Mungkin tobatku kurang serius makanya masih resah? 
  • Pengalaman pertama naik kereta setelah lama libur sangat menyenangkan. Lancar, aman, nyaman, dan ga semenakutkan yang kubayangkan. 

Acara meeting kecil kami ternyata gak sebentar. Hampir jam 5 baru kelar. Tadinya aku berencana pulang naik kereta lagi. Tapi suami datang menjemput. Ia belum rela jika aku naik kereta di jam sibuk (jam pulang kerja), khawatir penuh, berjubel, berdesakan, dan aku ga kebagian duduk. 

Molten Callebaut Pandan yang dibawa pulang

Aku baru saja memesan Molten Callebaut Pandan ketika suami mengabari sudah dalam perjalanan menuju GIOI. Dessert satu ini agak lama dibuat. Bahkan saat suamiku sudah hampir dekat GIOI, baru selesai. Aku gak keburu menikmatinya di restoran. 

Akhirnya, dessert rekomendasi dari Olin itu aku minta bungkus. Tepat ketika selesai dibungkus, suamiku sudah di depan resto.

M O LT E N CA L L E BAU T PA N DA N  IDR 75K

Soft & crumbly golden sponge pandan

lava served with pandan ice cream.

Nyaris saja gagal mencicipi Molten Callebaut Pandan haha. Ga mubazir sih andai gak keburu selesai saat aku dijemput. Masih bisa dimakan oleh Mas Eko, Askar, atau yang lainnya. 

Andai makanan belum jadi, kan bisa ditunggu? Suami datang tinggal parkir dulu. NAH, gak bisa gitu!

Sore itu parkiran GIOI penuh. Mobil pengunjung yang baru datang ga boleh parkir di jalan. Bikin macet. Apalagi di situ jalannya oneway, dan GIOI itu ada di sebelah kanan jalan. Jadi, pas suami datang, aku harus segera masuk mobil, dan langsung jalan lagi.

Masalah banget memang soal parkiran di sana. Kalau punya supir pribadi sih, tinggal turun aja, biar supir yang urus mau parkir di mana. Atau, naik taksi online saja. Pas sampai tinggal turun gak perlu mikirin mau parkir di mana. Itu kalau lagi ramai. Kalau lagi sepi mah santai.

Pilihan teh di GIOI. Aku pesan salah satunya buat diminum saat meeting

Open Bar 

Selagi masih hangat, kunikmati perlahan Molten Callebaut Pandan di tengah perjalanan yang gak lancar jaya. Gerimis pula, dan makin deras. Lengkap sudah berada dalam pelukan macetnya Jakarta. 

Kuajak suami mencicipi makananku, tapi ditolaknya. Mau konsen nyetir katanya 😀

Akhirnya kusisakan agar suamiku bisa mencicipinya sesampai di rumah. 

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah di BSD City, kuceritakan pada suami semua hal yang kualami di hari itu. Persis seperti yang aku tulis di sini. 💕