Tampilkan postingan dengan label kebumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebumen. Tampilkan semua postingan

Jalan-jalan ke Candi Prambanan

26 November 2009. Pagi yang cerah, saat yang baik untuk jalan-jalan dan berwisata. Rencananya hari ini kami akan berangkat ke Purworejo dan Jogjakarta. Aha! Saatnya menyegarkan mata!

Pagi pertama di Kebumen, kami mencari sarapan di luar rumah. Muncul keinginan untuk merasakan sensasi mengisi perut di tepi jalanan kota Kebumen. Di jalanan? Ya, saya merasa di pinggir jalanan kota Kebumen itu nyaman untuk tempat makan. Lihatlah, trotoarnya bersih. Tak ada sampah berserakan. Orang-orang berjalan kaki dengan santai. Kendaraan di jalan raya didominasi oleh sepeda. Oh ternyata orang Kebumen gemar bersepeda ya? Anak-anak berseragam sekolah, pegawai, guru, dan masyarakat umum lainnya. Mungkin ini yang membuat jalanan kota Kebumen enak dilihat. Tapi bukan berarti ga ada mobil dan motor lho, hanya saja intensitas lalu lalang dua macam kendaraan tersebut tak seperti di Jakarta yang padat.

Di tepi jalan yang bersih dan rapi (bukan di trotoar), melainkan tempat yang cukup lebar dan berjarak dari badan jalan, kami menemukan penjual sate, bubur ayam, bakso, dan kue serabi. Cukup banyak pilihan dan saya memilih sate untuk sarapan di pagi itu.

Ketika sedang menikmati seporsi sate, saya memperhatikan ibu tua penjual kue serabi yang tengah melayani pesanan pembeli. Ia sendiri. Tangannya lincah membuat adonan kue, lalu menuangnya ke wajan panas di atas tungku. Ada empat buah tungku tradisional menyala di dekatnya. Bahan bakarnya kayu. Masing-masing tungku dengan wajan tertutup. Di dalamnya, kue serabi sedang dimasak. 3-4 pembeli datang silih berganti, hingga 10-12 pembeli berikutnya, dan berikutnya lagi. Saya menghitungnya dalam hati. Ramai. Laris. Ibu penjual kue serabi menyeka keringat. Tiba-tiba menoleh ke saya yang serius memperhatikannya. Saya terperanjat. Ibu itu tersenyum. Saya membalasnya. "Semoga laris terus ya bu,'' doa saya dalam hati.

Seusai sarapan, kami kembali ke rumah, berkemas dan meyiapkan keperluan untuk perjalanan ke Yogyakarta. Setelah semua beres, perjalanan pun di mulai. Kami start sekitar pukul 08.00 dari Kebumen. Jarak tempuh dari Kebumen ke Purworejo sekitar 89Km. Waktu menunjukkan pukul 8.47 ketika kami memasuki Purworejo. Di Purworejo kami berkunjung ke salah satu kerabat yang sudah lama tidak berjumpa. Berhubung hari itu adalah hari kerja, jadi kami menemui beliau di kantornya yang terletak tak jauh dari Trisakti Balajaya. Saat tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 09.26 (terbaca dari data exip foto). Kami hanya mampir dan bertemu sekitar 30 menit, setelah itu baru meluncur ke Yogyakarta.

Jalan-jalan ke Yogyakarta

Alhamdulillah pukul 10.30 kami tiba di Yogyakarta setelah menempuh perjalanan sejauh 72km dari Purworejo.  Total waktu perjalanan dari Kebumen ke Yogya sekitar 2 jam. Seperti waktu tempuh Jakarta Bandung.

Di Yogya kami menuju alun-alun. Mobil kami parkir disamping Keraton. Trus  masuk Keraton? Ga sih, cuma liat-liat dari balik pagar doang hehe. Kami memesan beberapa becak untuk keliling-keliling. Bayarnya cuma Rp 10.000,-/becak. Kami dibawa ke tempat pembuatan sekaligus penjualan lukisan batik dan toko baju batik. Saya ga beli lukisan, tapi beli baju batik. Abis muter-muter kami nyari makan. Abang becaknya nganter kami ke sentra gudeg yang berada di sebelah timur alun-alun. Ada semacam gapura, Plengkung Wijilan namanya. Nah disitu kami makan. Wuah banyak pilihan rupanya. Akhirnya kami makan disalah satunya. Semua pesen nasi gudeg. Kalo ga makan gudeg ya ga manteb ya kaaan?? Saya makan dengan lahap. Yang lain juga. Maklum, abis melakukan perjalanan lumayan jauh. Lelah dan lapar jadi satu. Sementara, abang-abang becak menunggu di luar.

Setelah makan kami lanjut berwisata. Kali ini ke daerah Klaten untuk melihat candi Prambanan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya melihat Prambananan. Sayangnya saat itu Prambanan masih dalam tahap renovasi akibat kerusakan yang dialami saat terjadi gempa besar yang menimpa Yogya dan sekitarnya beberapa waktu lalu.


Saya dan rombongan ga berminat untuk mendekat dan masuk. Entah kenapa. Mungkin karena kami sudah letih setelah sebelumnya berkeliling area keraton. Ditambah pula oleh perjalanan dari Kebumen ke Yogyakarta itu cukup jauh. Akhirnya kami hanya foto fiti di halaman depannya. Cuaca juga sedang ga mendukung. Langit mendung. Lalu gerimis. Namun demikian, saya tetap ingin bergaya tralala. Lumayan, penampakan Prambanan cukup terlihat sebagai latar belakang. Setidaknya ada foto, bukti bahwa saya pernah ke Prambanan. Walaupun cuma nginjek area depan yang berumput, bukan candinya hehe. Moga lain waktu bisa kesana lagi. Ga cuma diluarnya, tapi masuk dan melihat dari dekat.

Petang datang. Sebelum meninggalkan Prambananan, saya sempatkan membeli sebuah topi dan rok batik di area souvenir Prambananan. Setelah itu rombongan kami kembali ke Kebumen.

Sarapan Nasi Jonggol khas Kebumen

27 November 2009. Idul Adha 1430H. Hari ini adalah perayaan Idul Adha 1430H, hari Raya Qurban umat Islam sedunia. Saya dan rombongan keluarga melaksanakan salat Ied di alun-alun Kebumen. Lapangan terbuka milik warga Kebumen ini cukup cantik, bersih, dan rapi. Disana saya berbaur dengan penduduk setempat untuk melaksanakan salat Ied berjamaah. Alhamdulillah berjalan lancar. 

Seusai salat kami tak langsung kembali ke rumah, melainkan ramai-ramai mencari sarapan pagi. Maklum, sewaktu berangkat salat Ied tadi kami memang belum makan nasi (orang Indonesia kalo belum makan nasi namanya belum makan ya). Hanya minum seteguk teh dan sepotong kue/gorengan. Nah, pagi ini kami akan sarapan nasi Jenggol. Katanya, kalo sudah di Kebumen, saya mesti merasakan makan nasi Jenggol. Aiih...terdengar seperti jengkol ya hihi.

Kata sodara, saya dijamin bakal suka dan ketagihan dengan nasi Jenggol. Ah saya jadi penasaran. Kami pun meluncur ke sebuah tempat yang berjarak tempuh sekitar 15 menit dari alun-alun. Letaknya dekat sebuah jembatan, entah apa nama jembatannya. 

Saya tak ingat, baik nama jembatannya maupun nama tempatnya. Yang jelas penjual nasi Jenggol itu berjualan di depan sebuah rumah, tepat dipinggir jalan. Jika pembeli ingin makan ditempat, ada bangku yang tersedia, dan bisa menikmati nasi jenggol dengan pemandangan sungai!

Nasi Jenggol itu semacam nasi campur yang disajikan dengan daun, bukan piring. Nasinya nasi putih biasa, disiram dengan kuah sayur nangka (plus nangkanya juga). Lalu lauknya berupa tahu goreng, bakwan goreng, tempe mendoan, dan dilengkapi dengan sambal. Wow...makanan berat nih ya. Puedes pula. Walau demikian, saya tetap mencobanya, dan menikmatinya.
Ya...pagi yang damai. Jalanan tak berdebu dan berisik. Motor dan mobil hanya sesekali lewat. Saya menikmati nasi Jenggol dengan sepenuh hati. Nikmat. Kenyang. Semoga sarapan pertama yang kusantap di kota Kebumen ini jadi berkah. Amin. Sederhana tempatnya, juga makanannya...