Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger. Tampilkan semua postingan

Ada Rate Nggak Ada Job, Ada Kebutuhan Nggak Ada Kemampuan



JOB BARU RATE LAMA

Seorang wanita dari bagian digital marketing produk skincare merek anu:

"Mbak Kate, kita mau kerjasama lagi, produknya masih seperti tahun lalu plus tambahan 3 macam produk lainnya. Tugasnya nanti sama kayak tahun lalu tapi jumlah postnya lebih banyak. Temanya masih sama, produk skincare untuk mereka yang aktif dan hobi traveling."

Saya tebalkan bagian tambahan produk dan jumlah post karena itu berarti bukan lagi SAMA tapi BEDA. Ada penambahan jumlah materi dan post story, 10 kali lebih banyak dari tahun lalu. WOW banget kan. Meski demikian, saya beri rate yang sama seperti tahun lalu. Saya anggap ini "repeat order" dan saya dengan senang hati menerimanya meski tugasnya nambah.

"Tapi rate nya kita nggak bisa segitu lagi mbak Kate, cuma bisa separuhnya. Dan, tolong beri saya insight terbaru dari IG mbak, profil terbaru, dan beberapa link post produk skincare merek lain."

Saya catat, harga setengah dari sebelumnya, dan dia butuh banyak data, yang artinya saya harus meluangkan waktu buat mengerjakannya. Tapi, saya tetap beri apa yang dia minta, tanpa harus menyatakan setuju dengan rate yang dia beri. Biar dia lihat dulu insight IG saya, siapa tahu dengan data yang kinclong dia jadi urung nawar he he

Seminggu berlalu, dan tak ada kabar. Sebulan kemudian saat saya sudah lupa, sebuah pesan masuk berbunyi begini: "Maaf kita belum bisa kerjasama dulu Mbak Kate. Ratenya belum cocok."

Itu saja. Tak ada penjelasan lainnya. Tapi kesimpulannya: Dia cocok dengan profil dan insight, tapi ga cocok di rate. 

GAGAL menginfluence 

"Mbak Kate, kami melihat profil mbak cocok sekali untuk jadi influencer tetap kami. Blog maupun medsos mbak sudah sesuai dengan kriteria yang kami cari. Kami tawarkan ini, itu, anu, dan total semuanya sekian yang mbak dapat tiap bulannya. " 

Sebuah angka yang menggiurkan tertera di email. Bukan main senang rasa hati.

"Ini bisa berlangsung 1-2 tahun ke depan. Nanti tugasnya di blog begini, begitu, dan begono.  Sekarang tolong siapkan semua data yang kami perlu: Pageview bulanan, 10 link artikel kerjasama dengan produk serupa seperti yang kami jual, insight IG, link postingan IG, link artikel dengan view di atas sekian dalam perbulan, link ini, link itu, link anu, screenshot ini, schreenshot itu, screenshot anu, ...."

dan masih banyak lagi permintaan lainnya yang harus saya buat dan kerjakan dalam waktu singkat. Sementara, saat itu saya sedang sibuk dengan urusan keluarga, agak susah buat duduk depan laptop dalam waktu lama, tapi tetap saya kerjakan.

Dua minggu berlalu, saya tanyakan gimana kelanjutannya, katanya belum ada. Sebulan kemudian dikabari: Masih pending dan nggak tahu kapan akan dilanjutkan.

Ok deh, berarti belum butuh dalam waktu dekat seperti diawal ditawari yang katanya butuh segera dalam minggu itu juga haha


RATE ANEH

"Mbak Kate kok nggak diundang jadi narasumber sih, kan lagi rame banget tuh acara-acara di berbagai komunitas yang undang para blogger buat berbagi ilmu dan pengalaman?"

Kekepoan yang saya jawab dengan satu kalimat: "Mungkin saya belum cocok, atau belum pantas...."

"Mungkin rate mbak Kate aneh!" 

Saya tergelak. Entah dia bercanda atau memang serius, terserah.

Ya nggak apa dianggap aneh, atau bahkan bikin pengundang kapok. Berprasangka baik saja, anggap saja mereka bukan target saya. Dah gitu aja. 

NARASUMBER DENGAN RATE ANEH

Tak lama setelah dicap punya rate aneh, seorang wanita tampak tergesa mencari saya. Dia kirim pesan di IG, di Inbox FB, bahkan sampai ke WA. Intinya, ia menemukan saya karena merasa cocok dan tepat sekali untuk dijadikan narasumber di salah satu acara dalam gelaran festival ekonomi syariah. Katanya saya kepilih karena saya suka travel dan saya muslimah. 

Kaget saya dibuatnya, karena yang undang bank guede cuy! Selain kaget, saya juga terbang. Melayang rasanya ada bank cari-cari saya. Mention nggak nih banknya? haha

"Wah bank gede itu, bujetnya pasti besar, kasih aja rate anehmu...," kata seorang kakak senior yang udah malang melintang jadi narasumber diberbagai event gede. Saya dikomporin! Oh iya, sewaktu dapat tawaran jadi narasumber ini saya konsul lho ke Mas A, Yuk A, dan teman-teman dekat di WAG TBI (bukan singkatan travel blogger Indonesia lho haha). 

"Gak ah, nanti dia pergi dan menghilang kalau liat rate saya." Saya serius saat mengatakan hal ini. 

Kami terbahak bersama. Tapi beneran, saya nggak kasih rate aneh sama si mbak itu, malah bilang begini, "Saya ikut bujetnya aja mbak, yang penting acaranya lancar dulu, dan sayanya bisa tampil dengan baik sesuai harapan...."

Sengaja "memurahkan diri" biar nggak kabur setelah baca rate seorang Katerina hahaha

Eh, ternyata....rejeki sungguh tak bisa ditebak ya, saat saya "terserah lu dah mau bayar berapa", taunya malah diberi honor sejumlah rate aneh yang nggak pernah saya sebut. Wuaaah! 

Lomba dan Juri

Udah lama nggak ngelomba di blog, sekalinya ngelomba saya bekerja keras, tapi belum menang jadi juara utama haha

"Kalah berlomba kok bisa jadi juri kemarin-kemarin itu mbak?" tanya teman. Ha? Teman apaan ini? haha

"Iya, mungkin saya cocoknya jadi juri aja, bukan ngelomba. Tapi lagi sepi lomba nih. Sepi pula yang ngundang hiks."  (Udah bagus belum cara saya menyanjung diri sendiri di sini? wkwk)

Pas saya ngomong gitu, ada pak kadis kirim pesan di WA. Isinya gambar/banner dan video. Dalam hati "Apaan nih?"

"Ini banner lomba mbak Kat, dan ini video festivalnya. Kita mau ngundang mbak jadi juri lomba vlog lagi nih."

Waduuuuh....pucuk di nyinyir, undangan ngejuri tiba! haha

"Nanti kita siapkan honor sekian, tiket PP, hotel, dan semua kebutuhan selama di kota kami."

Waaks!

Jalan-jalan dan Juri

"Mbak Kate jalan-jalan buang stres karena ga ada job ya?"

Wuaduuuh hahaha. Saya mah ga mati gaya ga ada job, apalagi stres. No! Soal job, kalau ada alhamdulillah, nggak ada ya nggak apa-apa. Santuy ah.

Yang liat saya jalan-jalan baru-baru ini (mungkin liat postingan di IG @travelerien), saya nggak sedang dalam rangka liburan ya. Tapi lagi ada kerjaan demi masa depan yang lebih cerah dan bergelimang harta wkwkw. Iya, saya dan suami sedang ada urusan, tapi tetep dong ada waktu senggang yang kami manfaatkan untuk refreshing di alam bebas.

Eh, siapa kira pas lagi posting-posting banyak foto sedang main di alam, malah diundang jadi juri untuk lomba yang berkaitan dengan kelestarian alam.

Penyelenggaranya organisasi non profit kelas internasional. Yang undang managernya langsung. Woah diundang kedua kali jadi juri event mereka! Kapan saya nyangka?

Santuy Aja!

Dalam menjalani hidup, paling asyik jadi orang yang bila dalam keadaan ga enak kayak apapun tetap bisa berperilaku baik, berjiwa besar, dan berprasangka baik. Gitu juga dalam hal per-job-an:
  • Jika ada yang nawarin job, berarti profil kita cocok dengan syarat yang dibutuhkan. Sebelum dihubungi, pasti sudah dicek dulu kita ini siapa dan bagaimana. Syukuri itu karena tanpa kita berlelah-lelah menawarkan diri, mereka sudah mencari dan menemukan kita. Kalau kemudian nggak jadi karena alasan rate, itu berarti bukan karena kita belum punya kemampuan untuk mengerjakan job mereka, tapi karena merekalah yang belum punya kemampuan untuk bayar rate sesuai standar kita.
  • Jika ada yang pergi gitu aja pas kita lagi ngarep-ngarepnya, anggap saja mereka bingung mau berkata apa. Bisa jadi malu dan merasa nggak enak. Bisa jadi juga memang nggak punya etika. Syukuri aja kita masih bisa sedih tapi mampu menahan diri nggak banting hp karena kesal baca chat yang nggak dibalas-balas haha
  • Jika ada yang bilang kamu sok jual mahal, anggap saja yang berkata begitu sotoy, alias sok tahu. Kalau kita punya keahlian, dan kita mumpuni pada bidang yang kita jalani, normal kok jika punya standar. Jangan berbisnis dengan orang yang hanya melihat angka kita tapi nggak mau melihat lebih dalam pada kemampuan dan pengalaman kita.
  • Jika ada yang bersikeras ingin pakai kita tapi ratenya ga sesuai, jangan paksakan diri menerima, karena bekerja dengan terpaksa, hasilnya nggak akan maksimal. Bekerja nggak ikhlas, terima honor juga nggak ikhlas. Kasihan hati, nanti lelah nangis he he
  • Kalau nggak cocok, "berpisahlah" baik-baik. Yang kasih job sih baiknya pamit dan kasih penjelasan, biar gak ngegantung orang. Nanti dikatain tukang PHP lho. Yang nggak jadi dikasih job, juga mesti berkata baik. Jangan menghina rate kecil yang ditawarkan, bisa jadi memang bujet mereka segitu adanya. Apalagi di masa pandemi gini ya, banyak sektor terdampak, tapi para pengusaha tetap ingin promosi agar jualannya tetap laku. Kalau murah hati ya terima aja jobnya dengan rate seadanya nggak usah ngedumel atau malah ngajak orang rusuh. Kalau nggak sanggup ya tolak saja dengan baik, atau carikan pengganti. Jadi, bisa sama-sama enak.
  • Jika gagal kerjasama, yakinlah bahwa itu belum rejeki kita, dan percayai juga bahwa kita pun belum jadi rejeki mereka. Jangan selalu mikir bahwa kita yang kehilangan mereka, pikirkan juga bahwa kadang justru merekalah yang kehilangan kita. 
  • Yakinlah bahwa ada yang lain yang akan memberi kita pekerjaan sesuai dengan yang kita mau. Mau bukti? Itu di atas saya sudah ceritakan. Selama pandemi ini, beberapa kali lepas dari tawaran kerjasama, diejek ga diundang jadi narasumber, dinyinyirin level juri kok kalah lomba, eeeh tahunya......malah diundang jadi juri lomba di event festival kelas provinsi yang disahkan oleh kementrian, dibayar pakai "rate aneh" jadi narasumber acara nasional oleh bank anu, diundang jadi juri event lomba yang diselenggarakan oleh organisasi internasional, dapat kerjasama jangka panjang dengan pengusaha perhotelan, dll yang nggak pernah saya duga bakal menghampiri saya di musim krisis gini. Duh, saya kayak sombong ya sebut itu semua, tapi beneran ya itu sebagai contoh aja biar kalian kuat, jangan lemah dan sedih bila ada job lepas dari tangan, atau ga kebagian job di dunia perbloggeran...karena rejeki kita pasti ada saja pada waktu dan tempat yang tepat. 
  • Personal profile, insight IG, insight blog, portofolio...semua akan menemukan jodohnya sendiri pada job mana ia akan bergandengan tangan dan saling memeluk. Tidak usah khawatir soal job, buat aja konten yang bagus dan menarik, dan jadilah konsisten. Nanti tawaran akan datang dengan sendirinya, dan saat itu, jangan ragu untuk bikin "rate aneh". hehe. 

Berapa sih rate kerjasama untuk blog, IG, juri, dan narasumber ala Travelerien? Nanti di postingan berikutnya saya tulis 😃

Ciayo!

Suka Duka Jadi Blogger | Dari Pujian Hingga Makian | Dari Recehan Hingga Rate 10 Jutaan

www.travelerien.com

Pertama kali saya ngeblog tahun 2008 (di Multiply), tanpa kenal satu pun blogger saat itu, apalagi kenal blogger-blogger sukses yang bisa bikin saya jadi terinspirasi untuk menjadikan blog sebagai ladang duit, nggak ada! Nggak ada blogger yang saya kenal. Nggak ada blogger yang ngajak saya bikin blog. Semua kehendak sendiri dan niatnya cuma untuk jadi tempat menulis.


Dulu mana pernah saya tahu lewat blog ternyata bisa bikin saya merasakan menang lomba menulis, bisa bikin buku antologi, bisa dapat job, bisa diundang event, bisa gratis nginap di hotel, bisa gratis tiket pesawat, bisa jadi narasumber, bisa menulis di majalah pesawat, bisa jadi juri lomba, bisa bertemu orang-orang hebat, bisa menambah isi tabungan, bisa liburan gratis, bisa dapat teman-teman baru, pengalaman-pengalaman baru, dan masih banyak lagi  bisa-bisa yang lainnya. 


Saya sama sekali tidak pernah membayangkan ngeblog bakal mengantarkan saya pada berbagai pengalaman menyenangkan, sampai akhirnya bisa gegayaan bikin portofolio-portofolioan 😃


Portofolio ini berisi kumpulan pencapaian-pencapaian kecil dengan jumlah yang masih sangat sedikit, hanya secuil dalam ruang waktu seluas 11 tahun, buah dari hobi jalan-jalan, foto-foto, dan menulis sebagai blogger dan travel writer. 


Meskipun pencapaian baru segelintir saja, tapi saya bahagia karena di dalamnya terdapat pengalaman berharga, dan prosesnya lah yang paling penting buat saya. Pastinya, saya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk meraih itu semua. 


Tak ada yang perlu disombongkan dari kumpulan karya baru seujung kuku ini. Malu jika bersombong ria, wong di luar sana ada bejibun blogger istimewa sarat prestasi dengan daftar pencapaian panjang segambreng, tapi mereka rendah hati dan tetap menjejak bumi.

Perlu pembaca ketahui, semua yang tampil dalam portofolio tidak mewakili keseluruhan pengalaman sependek 11 tahun menjadi blogger dan travel writer. Yang tampak cuma indah-indahnya, padahal di baliknya ada juga pahit-pahitnya 😂 

Nah karena itu saya ingin bercerita....

Di PHP Pergi Umroh

Desember tahun 2018 saya dihubungi oleh sebuah agency yang biasa memberangkatkan travel blogger  ke luar negeri untuk bermacam endors produk termasuk maskapai. Menurut info si mbak agency, ada maskapai asal Negeri Singa punya rute baru ke Timur Tengah dan mereka butuh travel blogger muslim/muslimah untuk melakukan promosi. Imbalannya gratis tiket pesawat PP dan akomodasi umroh 9 hari. Saya diundang karena saya travel blogger muslimah, punya blog dan IG sesuai kriteria yang dicari. Data saya diminta, jadwal berangkat pun sudah ditentukan. Kami pun sudah berdiskusi mengatur keperluan berangkat. Namun 1 bulan sejak penawaran yang disepakati berjalan, saya batal diberangkatkan dengan alasan yang tidak jelas. Sedih dan kecewa? Pasti. Tapi saya tidak membiarkan diri saya larut.

Setelah itu.....

Datang tawaran kerjasama dari travel agent besar dengan sejumlah imbalan plus gratis liburan ke 3 negara. Huaaaaa 😍 

Umroh dan jalan-jalan 3 negara pakai duit sendiri Insha Allah bisa dan biasa, tapi gratis dari hasil ngeblog tentu jadi sebuah pengalaman tersendiri bagi seorang blogger. Jadi, meskipun liburan gratis ke 3 negara tidak dapat menggantikan indahnya perjalanan umroh, saya tetap happy. 

Di-blacklist Online Marketplace

Sebut saja Online Marketplace (OM) yang hendak saya bahas ini sebagai Plastik. Sebelum kerjasama dengan Plastik saya sudah kerjasama dengan OM lain yaitu Kayu dan Besi. Kerjasama dengan Kayu dan Besi lancar jaya dan nggak pernah ada masalah. 

Lain halnya dengan Plastik, baru pertama kali kerjasama saya sudah dibohongi. Pihak Plastik melanggar 2 poin dalam kesepakatan. Pembayaran invoice mundur lama, dan jumlah yang ditransfer tidak sesuai. 


Saya hubungi baik-baik buat minta penjelasan. Bukan permintaan maaf dan penjelasan yang saya dapat, yang ada mereka menanggapi saya dengan kasar dan mengatakan saya akan di-blacklist saat itu juga dari semua kerja sama dengan Plastik. Respon yang sangat berlebihan. Pihak sana yang melakukan kesalahan, mereka pula yang marah. Sungguh mengherankan. 


Selepas kejadian itu....

Datang tawaran kerjasama dari sebuah OTA. Tawaran tersebut langsung dari pihak brand, bukan via agency. Jumlah fee yang diberikan 6 kali lipat dari fee si Plastik. Bahkan, diberi tambahan gratis tiket pesawat (untuk 4 orang) dan hotel untuk keperluan experience.  

Selain itu, agency si OTA tersebut juga mencari saya, menawarkan kerjasama dengan fee ala agency.... murah meria cerah ceria he he. Saya tetap ambil meski recehan. Selain karena saya suka produk yang ditulis, mereka pun tepat janji dan enak diajak diskusi. Bukan kayak si OM Plastik itu 😅

Artikel Ditolak 

Selain menulis artikel perjalanan di blog, saya juga menulis di koran dan majalah. Dulu tidak terpikir akan menulis di media cetak, tapi sejak berteman dengan Mas Teguh Sudarisman dan Mbak Irawati Prilia, saya jadi terinspirasi untuk melebarkan sayap. Saya  belajar giat pada mereka supaya saya bisa membuat foto bagus dan tulisan menarik.

Awal-awal merambah media cetak, saya yang "mengemis" pada bagian redaksi agar tulisan saya dimuat. Namun, jarang sekali ada yang luluh, artikel saya banyak ditolak. Alasannya beragam, destinasi yang saya tulis sudah pernah dimuat, fotonya jelek nggak HR, artikel nggak menarik, dll. 

Saya nggak marah, apalagi menyerah. Ditolak oleh majalah A, saya kirim ke majalah B, kalau ditolak lagi saya kirim ke majalah C. Begitu terus sampai nggak ada yang mau terima sama sekali, baru saya coba kirim ke koran. Kadang ada koran yang mau terima, banyakan sih enggak. Kalau udah kemana-mana ditolak, baru deh saya posting di blog 😂

Itu dulu! 

Setelah berbulan-bulan dan bertahun kemudian, akhirnya artikel perjalanan saya bisa nampang dengan mudah di majalah-majalah ternama, di koran-koran besar, dan di majalah dalam pesawat (inflight mag) yang penuh warna. Dulu honor masih 150ribu dibayar 1 bulan kemudian, itu pun mesti nagih-nagih dulu. Sekarang honor bisa mencapai 34 kali lipat per artikel (inflight mag papan atas), dan pembayarannya bisa diterima dengan mudah dan cepat.


Dulu saya yang colek-colek bagian redaksi supaya artikel saya dimuat, sekarang saya yang dicolek-colek oleh orang majalah agar saya membuat artikel untuk mereka. Roda benar-benar berputar, ya. Ternyata, dengan seiring waktu, semangat pantang menyerah, berdoa dan terus berusaha, keadaan bisa berbalik.  

Foto Ditolak 

Ada 2 majalah full color (bukan inflight mag) pernah menolak artikel saya karena masalah foto yang tidak highres. Saya ditanya foto pakai kamera apa, saya sebut Canon pocket, lalu saya diceramahi. Mungkin pikir mereka berani-beraninya punya foto nggak bermutu minta dimuat di majalah mereka yang tebal, bagus dan penuh warna itu 😂

Bukannya sedih abis ditolak dan diceramahi nggak enak, saya malah pergi ke toko kamera di Blok M buat beli kamera DSLR. Sewaktu belanja kamera, saya tanya soal lensa buat foto landscape yang bagus apa, buat foto makanan baiknya lensa apa. Dari banyak tanya inilah saya balik ditanya, untuk keperluan apa, dan profesi saya memangnya apa? Saya jawab travel blogger. Nah, obrolan saya dengan si sales didengar oleh si pemilik toko yang kebetulan hari itu ada di tempat. Dia ternyata seorang fotografer yang hobi jalan-jalan juga (setelah saya kepoin medsosnya). Kemudian kami ngobrol.

Keajaiban pun terjadi........


Singkat cerita, saya mendapatkan kamera Canon EOS 70D Wifi lensa 85-135mm dengan harga diskon sangat banyak, plus free lensa 50mm. Nah, dengan kamera itulah kelak foto-foto saya bertebaran di blog, medsos, dan nampang di majalah yang saya bidik. Dengan foto-foto dari kamera DSLR itu, tak ada lagi pihak media cetak yang mengatakan foto saya nggak bermutu 😂


Selain beli kamera, saya juga mulai cari guru buat belajar foto, biar memotret nggak cuma pakai perangkat bagus tapi juga pakai ilmu. Saya belajar di mana saja dan sama siapa saja, kadang berbayar, kadang gratis. Soal kemudian saya jadi ahli banget sih ya enggak, tapi setidaknya nggak ada lagi foto-foto jepretan saya diketawain orang majalah, gituuuu 😛


Datang Tak Diundang, Pergi Gitu aja Lalu Menghilang


Dari pengamatan saya dalam 3 tahun terakhir sejak bergabung di beberapa WA Grup Blogger dan FB Grup Blogger, blogger makin banjir tawaran kerjasama. Malah ada yang hampir tiap hari dapat tawaran. Tampaknya, blogger kian melambung tinggi ke atas awan, jasanya banyak yang cari! Para pencari beragam, nilai dan bentuk kerjasamanya pun bermacam-macam. Ada yang berupa content placement, paid review, hingga job yang mengharuskan hadir ke event. Bloggers yang merasa sesuai kriteria biasanya sibuk ngelist, termasuk saya kalau sreg juga ikutan ngelist. Kalau kerjasamanya cocok saya ambil, kalau enggak ya lepas. 

Tawaran kerjasama ada yang disebar dan diposting secara terbuka, ada pula yang tertutup dan diam-diam, yang artinya hanya antara pihak yang butuh blogger dan blogger yang dituju saja yang saling tahu. 


Undangan kerjasama biasanya saya terima melalui email, kadang melalui DM di Instagram. Buat yang sudah kenal, biasanya langsung menghubungi via Whatsapp. Kebanyakan, undangan kerjasama disampaikan dengan bahasa yang baik, sopan, dan informasinya lengkap. Buat yang begini sudah pasti saya tanggapi dengan lebih baik lagi.


Namun, nggak sedikit tawaran kerjasama disampaikan dengan bahasa nggak jelas, nggak lengkap, bahkan nggak ada sopan-sopannya. Pernah ada yang cuma mengirim DM dengan kalimat seperti ini: "Mbak, minta rate nya dong!"


Nggak ada perkenalan sama sekali, dia siapa, mewakili perusahaan apa, brand apa, produk apa, bentuk kerjasama seperti apa, sangat nggak jelas. Sudah pasti yang model begini saya jadikan sasaran empuk untuk "diedukasi". Ada yang kemudian jadi minta maaf dan kemudian bicara baik-baik melanjutkan tawaran kerjasama. Ada pula yang malah marah-marah lalu pergi. Aneh hehe.


Yang datang baik-baik ada yang berakhir dengan kerjasama yang baik, ada pula yang nggak ada kabar sama sekali. Setelah diskusi dan negosiasi panjang lebar, eh dia menghilang nggak ada kabar. Baiklah, mungkin waktunya buat saya sedekah waktu dan tenaga buat pencari blogger yang datang bagai jailangkung cuma buat cak cek rate.


Pernah ada yang cari saya lewat DM, nanya rate baik-baik. Saya kasih. Besoknya saya cek lagi DM nya, barangkali ada kelanjutan tapi oh ternyata DM nya hilang. Sepertinya dihapus. Emang kenapa coba? Kalau nggak cocok kan tinggal bilang, lalu pamit baik-baik, ngapain hapus DM. Padahal saya sudah memberikan semua yang dia minta, mulai dari mengisi data, sampai screenshot segala macam insight feed dan story IG, bahkan lengkap dengan laporan GA Blog 😅



Rate 10 Juta!


Pernah juga ada yang datang nanya rate begini: "Mbak, rate nya berapa?"
Saya jawab: "10 juta!"


Lalu ngocehlah dia panjang lebar, mengatakan saya kok sok seleb pakai jual mahal banget padahal cuma post foto doang 1x di feed IG. Lha iya lagian ujug-ujug datang nanya rate, nggak ada informasi apapun perihal kerjasama apaan, ya sudah saya kasih aja langsung 10 juta sebagai bentuk penolakan 😂


Omong-omong.....


Saya memang nggak seperti blogger lain yang hampir tiap hari dapat tawaran pekerjaan promosi di IG dan Blog, tapi bukan berarti saya miskin tawaran kerjasama. Ada ajalah pokoknya. Sekalinya ada, pernah sampe ada yang khilaf membayar honor 1o juta untuk promosi produk wisata 😁 *ampuni saya bila ini terbaca sombong ya Tuhan


Jadi ingat pernah dibilang sombong karena nolak job, katanya saya belagu pilah-pilih job. Hehe...gimana dong ya, kalau nggak cocok dan nggak sreg dengan suatu job, masa memaksakan diri untuk mengambilnya. Saya suka duit iya, tapi kalau saya merasa bahwa ada hal lain yang harus saya prioritaskan dulu ketimbang mengerjakan tulisan buat blog, saya pilih nggak dapat duit aja deh, nggak apa-apa. 


Diblokir dari Kegiatan Wisata Daerah

Ini yang paling ekstrem. Seorang blogger yang terprovokasi oleh rekannya melakukan perbuatan tidak menyenangkan secara online dan offline. Berkata kasar dan menghina, serta melakukan penyebaran berita bohong secara berulang kepada para blogger dalam lingkarannya yang juga ada dalam lingkaran saya. Ia sebagai pelaku dan penggiat wisata yang seharusnya hangat dan bersahabat, ternyata "luar biasa" dalam mencederai citra yang melekat pada dirinya sendiri yaitu dengan mengintimidasi wisatawan undangan di tengah acara wisata tingkat nasional yang diliput oleh berbagai media.

Tidak mau diam, saya bekerja sama dengan tim pengacara beranggotakan 5 lawyer bertitel SH, MH, hingga doktor, serta pihak bareskrim cyber crime di Jakarta, kasus tersebut saya bawa dan perpanjang hingga siap dilaporkan ke polisi secepat yang saya mau. 


Dengan alat bukti yang sangat cukup, saya memang sangat percaya diri membawa kasus pencemaran nama baik tersebut ke ranah hukum. Menghasut orang-orang untuk memblokir saya dari segala kegiatan wisata di daerahnya, mengaku mereka punya kuasa atas segala kegiatan kepariwisataan, bahkan sengaja berteriak mengatakan bahwa daerah itu miliknya, sungguh arogan dan penuh kesombongan, tapi saya tidak pernah gentar. 


Tidak ada yang sia-sia dari pengusutan selama beberapa bulan, ybs akhirnya menyerah dan menemui saya minta damai, mengaku bersalah, lalu melakukan permintaan maaf sesuai dengan yang saya syaratkan, yaitu melalui media sosial. Penjara memang ampuh membuat seseorang jadi menyerah, berhenti berlagak dan bertingkah preman!


Kelar urusan tersebut.....


Rejeki sebagai blogger beruntun menghampiri. Hampir tiap beberapa kali dalam sebulan saya bepergian ke banyak daerah, melakukan kegiatan yang membuat saya bertemu banyak blogger, berwisata ke banyak tempat dengan bahagia. Tak ada yang memblokir-blokir dan menzolimi, justru rejeki dan kebaikan membanjiri tanpa henti...


Dibully Jadi Juri, Dicemarkan dengan Sengaja


Yang terbaru dan nggak kalah ekstrem: Jadi juri yang dibully, diintimidasi, dan dihina semena-mena akibat ada seorang blogger yang tidak terima kalah lomba blog. Karena di sini si penghina dan pengancam melakukan pencemaran nama baik secara terang-terangan kepada saya, maka apa yang saya tulis berikut ini adalah sesuai kapasitas saya sebagai diri pribadi dan juri, bukan mewakili pihak penyelenggara. 


1. ADA 4 JURI 


Dalam kasus ini saya merupakan salah satu juri dari 4 juri yang disiapkan panitia lomba. Saya juri dari blogger, seorang juri lainnya jurnalis dari sebuah harian ternama, 2 juri lagi dari pihak panitia penyelenggara. Informasi nama-nama juri dipajang dalam pengumuman lomba di website penyelenggara yang telah diposting sejak pertama lomba digelar. Selain di website, nama juri juga dipajang dalam flyer promosi, lengkap dengan foto juri walaupun hanya 2 foto yang dimuat karena keterbatasan ruang pemuatan.


Masing-masing juri berhak memilih kandidat pemenang dan memberikan poin untuk masing-masing artikel terbaik. Ketika sebuah nama masuk dalam 3 besar, itu artinya para juri memiliki kesamaan pilihan. Mustahil seorang peserta menjadi juara jika ia hanya dipilih oleh satu orang juri saja! 


2. Komplen BLOGGER WA


Seorang peserta lomba menghubungi saya lewat WA pada suatu malam. Sebut saja namanya BLOGGER WADia menanyakan artikelnya kurang apa sehingga belum berhasil menang. Dia juga minta saran/masukan dari saya. Karena sudah malam, saya ingin istirahat, malam itu saya sempatkan untuk menjawab ucapan salamnya saja, lainnya saya tunda. *chat WA masih ada di HP


Semua baik-baik saja sampai akhirnya saya dikejar lagi keesokan hari. Saya jawab singkat bahwa syarat yang dia ikuti sudah lengkap dan dia berhasil masuk 7 besar dari sekian banyak peserta. Saya katakan juga soal saran dan masukan akan saya berikan nanti, karena saat itu saya sedang sibuk mau acara. Namun dia  tidak puas dengan jawaban saya. Lalu, chatnya jadi panjaaaang. Ada emosi bercampur prasangka, ancaman, bahkan tuduhan dalam perkataannya. Ia juga menunjukkan artikel pemenang kedua, katanya ada kesalahan fatal.


Saya, tim juri, dan panitia bertemu di acara, kami sempat bicara serius, mempelajari apa yang menjadi masalah si Blogger WA. Rencananya seusai acara dia akan dihubungi, diberi penjelasan lagi. Oh ya, selain saya, si Blogger WA ini juga mencecar juri dari penyelenggara. Sesuai pengakuan rekan juri, dia sudah memberi penjelasan, tapi Blogger WA tidak puas-puas. Karena sedang sibuk mengurus acara, akhirnya rekan juri fokus ke acara dulu, tapi bagi si Blogger WA, juri tersebut dianggap mengabaikannya. 


Namanya juga nggak puas ya, juri dicecar terus. Blogger WA tak hanya melakukan protes lewat WA, tapi juga IG Story dan FB. Beberapa statusnya yang secara terang-terangan menyebut nama penyelenggara banyak di-screenshot oleh orang-orang, lalu dikirim kepada saya sebagai barang bukti. Intinya, Blogger WA ini memerintahkan kepada penyelenggara termasuk juri untuk minta maaf padanya. Huffft.... 😂


Saya pribadi banyak memilih diam tak meladeni chat Blogger WA bukan menghindari cecaran, hanya memilih tenang agar emosi negatif yang sedang menyerang tak ikut membuat saya meledak. Saya percaya betul, penjelasan apapun tidak akan bisa diterima jika kepala Blogger WA masih panas. Saya menunggu sampai ybs sadar dari emosinya yang berlebihan. 


3. Tidak Ada Pelanggaran dari Pemenang


Tuduhan Blogger WA terhadap artikel pemenang kedua yang dianggap melanggar aturan, sudah dikonfirmasi oleh penyelenggara tidak ada pelanggaran. Produk merek lain yang  disebut dalam artikel pemenang bukanlah produk pesaing.


Ohya, sebelum pengumuman pemenang, Blogger WA ini sempat DM saya mengatakan bahwa si pemenang kedua ngggak lolos syarat lomba karena tidak post IG. Atas kejelian si Blogger WA, saya cuma katakan: "oh blogger itu sudah post IG, tapi di akun IG lain yang kamu nggak tahu." 


4. BLOGGER DM, Brutal dan Kasar


Seorang blogger laki-laki sebut saja namanya BLOGGER DM, dia bukan teman saya, belum pernah jumpa, dan dia tidak ikut lomba, tiba-tiba kirim DM ke saya dan menulis dengan bahasa kasar, menyebut saya brutal. Dia tidak pernah tanya saya soal detail kasus, tapi langsung sembarangan bicara. Tak cuma itu, dia juga mengirim DM kepada pemenang pertama, menulis dengan kalimat merendahkan seolah si pemenang pertama tak layak menang.


Karena saya tidak kenal dia, saya bertanya kepada rekan-rekan blogger. Ternyata si Blogger DM ini adalah blogger langganan juara menulis. Kaget juga sih, kok langganan juara menulis punya kepribadian sejahat itu, sama perempuan pula. Bolehkah saya yang balik sebut dia lancang, kasar, dan brutal? *isi DM nya masih ada, sudah saya screenshot bila sewaktu-waktu diperlukan.


5. BLOGGER FB, Pencemaran Nama Baik


Beberapa rekan blogger mengirim screenshot ke saya, berisi postingan status seorang blogger sebut saja sebagai BLOGGER FB yang menghina penyelenggara, bahkan mengatakan juri tidak kredibel. Seseorang menyelidiki dan bertanya pada BLOGGER FB tersebut dan akhirnya ia mengaku "tidak tahu kasusnya" dan "cuma bantu teman".


Ini menyedihkan! Tidak tahu apa-apa tapi menjerumuskan diri ke dalam lubang berbahaya bernama fitnah akibat menyebarkan hoax dari provokator yang nggak terima kalah lomba.


6. MENGHASUT


Blogger WA, Blogger FB, Blogger DM, semuanya laki-laki. Saya sama sekali tak kenal Blogger FB dan Blogger DM. Mereka juga tidak ikut lomba tapi seperti maha tahu kasus yang terjadi. 

Saya kenal blogger WA, hubungan pertemanan kami di media sosial baik. Dia juga pernah menang lomba di mana saya jadi juri sekaligus panitia lomba, sayangnya saat dia menang dia tidak mengancam dan tidak menuduh saya sebagai juri tidak kredibel. Sebutan juri curang itu baru ada saat dia kalah di lomba yang saya bahas ini.


Sikap sinis dan judes tidak hanya ditunjukkan oleh 3 blogger tersebut, tapi juga oleh 2 blogger lain yang kalah lomba. Saya juga mengenal salah seorangnya karena ia pernah ikut lomba di mana saya jadi jurinya dan ia jadi juara.


Entah ada apa dengan mereka ini, ketika saya memilih mereka jadi juara lomba di lomba lain, mereka bisa nyaman menikmati kemenangan tanpa ada yang protes. Tak pula meragukan hasil penjurian saya. Saat kalah di lomba yang ini, oh astagaaaa 😥


Saya sungguh tidak ingin meladeni mereka yang sama-sama dalam lingkaran pertemanan dekat. Bahkan, ketika tahu salah satu dari dua blogger tersebut akhirnya memblokir saya dari IG nya, ya sudah silakan, tak soal. 


Selanjutnya, satu persatu perbuatan mulai terungkap. Ada yang mengaku "disuruh temen", "bantu temen", "diprovokasi temen". Saya melihat langsung isi DM si provokator ke peserta lomba yang kalah lainnya, mengajak menyerang saya. Astaga...kekecewaan kalah lomba itu teramat dalam rupanya ya, sampai sejauh itu berbuat kepada saya.


Saya tak menggubris suara di kiri kanan yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang star syndrome. Biasa dapat tepuk tangan, sekalinya sepi, egonya terluka. Dan akhirnya, saya jadi sasaran kemarahan. Astagfirullah. Tobat sama-sama yuk bapak-bapak terhormat langganan juara menulis blog.... 


7. UU ITE


Saya tidak pandai berdebat, apalagi meladeni keributan di media sosial. Jadi saya tawarkan kepada pihak-pihak yang tidak puas jika ingin terus perpanjang kasus ini sampai jauh, silakan bawa ke tempat yang lebih tepat yaitu penegak hukum. Saya tidak ingin orang-orang terus bertindak melewati batas, apalagi mengeroyok secara brutal di media sosial, tentu saya butuh payung hukum untuk melindungi nama baik saya.


Saya rasa, bukan saya saja. Pihak lebih besar yang namanya terang-terangan dicemarkan bisa saja melakukan tindakan lebih dahsyat daripada saya, dalam rangka melindungi nama baiknya. 


Sampai pada saat saya mengingatkan tentang UU dan pasal-pasal yang bisa menjerat seseorang supaya bertanggung jawab atas perbuatannya, mereka meminta maaf dan mengakui perbuatannya adalah salah terhadap saya.


Huffft....semoga kesadaran dan kebesaran jiwa yang muncul, menjadi penenang hati dan pembuka jalan rejeki yang lainnya .


Saya sangat mudah memaafkan, namun yang lebih penting dari saling memaafkan adalah tobat dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.


Sesungguhnya, menang atau kalah lomba blog adalah kombinasi antara konten, selera juri, dan rejeki. 


Semoga setiap yang  berlomba, memiliki mental juara sejati 😊


Rejeki Jadi Juri Lagi


Setelah prahara lomba yang mengguncang dunia perbloggeran tersebut 😜, saya kembali fokus pada kegiatan lainnya, menjadi juri Lomba Vlog Festival Tanjung Kelayang 2 yang digelar oleh Dinas Pariwisata Belitung sejak September sampai November 2019. 


Mau tahu "hadiah" dari prahara lomba yang barusan terjadi? Tawaran jadi juri lomba blog dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan!  Apa? Lomba level kementrian?? 😱 Yak, sekarang saya sedang menjadi juri lomba blog lagi. Dapat kepercayaan dari kementrian. Alhamdulillah.


Huhuh....mau nangis rasanya....


Entah kenapa, tiap ada prahara, selalu ada rejeki baru yang datang tanpa terduga. Apakah ia sebuah penghiburan atas kesedihan, atau kah memang rejeki yang sudah Tuhan siapkan? Hanya Allah yang Maha Tahu. Saya hanya perlu bersabar dan bersyukur atas setiap yang terjadi....


Bersambuuuung.....



💚💚💚💚 


Setiap blogger punya suka dan dukanya masing-masing. Saya mengalami begini, yang lain mungkin mengalami begitu. Saya melaluinya dengan cara begini, yang lain mungkin melaluinya dengan cara begitu.

Apapun itu, saya pribadi lebih suka menikmati semuanya sebagai sebuah proses pembelajaran yang amat berharga.


Materi menggiurkan yang saya dapatkan dari blog bukanlah alasan yang membuat saya tetap ngeblog sampai hari ini. 

Bila suatu hari saya tak lagi ada mengisi blog ini, bukanlah prahara yang membuat saya berhenti, melainkan mati.

Tetap ngeblog, tetap berbagi, dan terus ingat saja dua hal ini : KONTEN dan KONSISTEN.


💚💚💚💚

Saya sangat percaya, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar imbalan dan pujian, atau pun makian dari ngeblog. Ada yang tahu itu apa? 😊😉

Selamat Jalan Nita

Yusnita Febri
Wafat Selasa 15 Nopember 2011


KEMATIAN itu, adalah asing kawan sekamar, Tuan

Kita mengenal dia, seperti dia juga mengenal kita
Meski dengannya kita tak ingin saling berbincang

Dia tak bicara, sedangkan kita kerapkali lupa. 

Kematian itu, Tuan, adalah perangkat lunak
Terakit dia ada, sejak awal kehidupan kita

Tuan, kematian itu, adalah panggilan telepon,
yang kita ingin sekali bisa menjawab dengan:
Maaf, Anda sebenarnya mau bicara pada siapa?

Kematian itu, Tuan, diam saja di sudut ruang
Ketika kita berdiri di tengah terang panggung
menjelaskan tentang hidup yang kita hidupkan

Dia tak bertanya. Dia tak acungkan tangannya

Dia tahu kapan kepadanya kita menjawab: Ya!


[Puisi Hasan Aspahani]