Tampilkan postingan dengan label Kuliner Khas Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Khas Nusantara. Tampilkan semua postingan

Berbuka Puasa di Rumah dengan Masakan Warung Tuman BSD

Suatu sore di hari ultahnya suami, saya menawarkan beberapa pilihan menu lauk untuk makan setelah berbuka. "Mangut Pari Asap Warung Tuman BSD aja, Ma," jawab suami. Nah! "Hanya" masakan warung saja gaes yang mas bojoku inginkan 😂 Tapi, warung kayak mana dulu nih?? 🤔
Berbuka puasa di rumah dengan masakan Warung Tuman BSD

Warung Tuman BSD terletak di Jl. Ciater Tengah, RT.4/RW.07, Ciater, Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15317. 

Lokasi warung dekat dari rumah. Meskipun begitu, saya dan keluarga belum pernah datang langsung ke warung. Selama ini, kami menikmati masakan warung ini melalui aplikasi pesan antar makanan alias ojol food saja.

Letak parkiran mobil cukup jauh dari warung, pengunjung harus jalan kaki untuk mencapainya. Melewati rumah penduduk, kebun, bahkan makam warga. 

Jika parkir di bawah nun jauh dari warung wkwk, maksudnya di pinggir sungai, di sisi jalan dalam komplek BSD sektor 12, maka perjalanan ditambah dengan menanjaki bukit. Bukan bukit tinggi penuh jurang gaes, bukitnya masih bisa bikin mendaki dengan manja kok 😂

Jalan menuju warung melewati makam warga 😃[Sumber foto dari blog Fanny www.dcatqueen.com]
 
Area parkir bawah yang saya maksud itu menggunakan jalan yang merupakan fasilitas umum masyarakat sekitar. Kendati ada tukang parkir, dan mobil diparkir dengan rapi, kadang terasa agak mengganggu kenyamanan pengguna jalan, terlebih di situasi sangat ramai. Apalagi di sana terdapat 2 minimarket, gerbang semi cluster 12-4, gerbang semi cluster 12-5, gerbang cluster Chrysant, serta pertigaan arah depag yang jarang sepi, maka deretan mobil terlihat membuat ruang laju kendara menyempit.

Alasan kedua, jalan menanjak setelah menyeberangi sungai, cukup bikin ketar ketir jika berkendara dengan tujuan lebih dekat ke warung. Lagi pula, parkir di atas itu gak lapang, di antara rumah-rumah penduduk. Saya pernah baca komentar tamu yang pernah ke sana (di IG Warung Tuman), pas mau pulang mobilnya sudah baret.

Di musim hujan, masih ada jalan yang belum dilapisi konblok jadi becek, dan mesti banget pakai payung jika tak mau kebasahan. Di saat terik pun perlu payungan! 

Tetapi, perjalanan menuju warung jangan dianggap sebagai penderitaan dunia, karena ada saja hal menghibur yang bikin senang hati melihatnya seperti penjual sayuran, permen, tanaman hias, buah-buahan yang dijual murah. Itu bukan kata saya ya, tapi kata Fanny wkwk, teman online saya yang hobi kulineran dan udah pernah ke sana. Bisa baca ceritanya di blog nya berikut: www.dcatqueen.com

Cara menuju warung dengan kondisi seperti itu, jalan kaki lebih dari 100 meter, membuat beberapa orang yang mudah lelah, pusing, mual, muntah, hidung gatal-gatal, tenggorokan sakit, kulit merah-merah wkwkw lebih baik pesan antar saja daripada repot-repot nanjak dan jalan kaki haha.

Tapi percayalah, banyak orang datang dengan tekat kuat melebihi baja. Pantang mundur apapun yang terjadi, pokoknya harus sampai ke Warung Tuman. Anggap saja hendak kulineran sambil berpetualang.

Dari foto-foto yang saya lihat di IG Warung Tuman, banyak artis terkenal pernah makan di sana. Datang jauh dari Jakarta, hanya untuk menikmati sedapnya masakan warung. Fanny yang tinggal di Jakarta pun sudah ke Warung Tuman. Saya yang dekat malah ketinggalan haha.

Bagi para pencinta kuliner yang tinggal di Jabodetabek, belum afdol disebut tukang jajan jika belum makan di Warung Tuman. Nah lho 😆

Emang sekece apa tempatnya? Ga kece amat kok haha. Tapi tempatnya luas, bersih, adem, tentrem, nyaman dan yang paling penting, makanannya enak-enak! Suasana makan di warung seperti di pedesaan, terkadang dengan ayam yang seliweran. Biar kebayang tempatnya seperti apa, silakan kunjungi instagram Warung Tuman di @warung_tuman_bsd

Suasana makan di Warung Tuman. [sumber foto instagram @warung_tuman_bsd

Makan masakan Warung Tuman di tempatnya. Foto Fanny @fanny_dcatqueen
 
Saya memang belum pernah datang langsung ke Warung Tuman. Niatnya sih udah dari lama, bahkan berkali-kali menjadwalkan ke sana. 

Pernah lho udah sudah siap-siap sejak pagi mau berangkat, eh ada aja urusan mendadak yang menjadi penyebab gak jadi berangkat. Padahal gak jauh dari rumah. 

Itulah ya kadang yang jauh disamperi, yang dekat malah enggak. Pas tahu Fanny ke sana, saya yang kesel wkwk. Dia yang jauh aja udah sempet datang, lha saya? Cuma bisa pesan online haha. 

Yak, saya memang akhirnya pesan online saja via GOFOOD. Waktu pertama kali order, saya nyobain Pari Mangut Asap dan Nila Calabalatuik. 
Menu Warung Tuman di aplikasi GoFood. Semua menu ini saya tandai dengan LOVE karena memang jadi menu favorit kami dan paling sering saya order untuk makan bersama keluarga di rumah. Tampilan aplikasi berwarna hitam putih karena saya screenshot saat warung masih tutup 😄


Masakan Mangut Pari Asap Warung Tuman mengingatkan saya pada masakan khas Sumsel buatan ibu yang saya lupa apa nama masakannya. Rasa kuahnya sama persis, hanya saja ikannya bukan pari asap, melainkan ikan sungai. Nama ikannya pun saya lupa, yang jelas ukurannya agak besar dan agak banyak duri/tulang.

Sedangkan Nila Calabalatuik adalah ikan nila bakar yang dimasak pakai kuah santan dan dicampur daun singkong yang sudah direbus. Dari nama Calabalatuik itu saya langsung ngeh kalau ini tuh masakan Minang. Latuik itu artinya meletup. Jadi ikan nila bakar dimasukkan ke dalam kuah santan yang sedang meletup-letup dalam panci.

Suami dan kedua anak saya menyukai Pari Mangut, sedangkan Nila Calabalatuik nya kurang suka karena selain pedas, juga kurang doyan dengan daun singkong. Kalau saya sih suka semua, hanya agak gak tahan pedas saja.

Gulai Bareh Iga Sapi dan Dendeng Batokok juga jadi menu favorit kami. Anak saya Alief yang paling suka dengan Gulai Bareh Iga Sapi. Masakan daging dengan santan dan rasa pedas memang sangat sesuai dengan selera Alief. Gak heran satu porsi Gulai Bareh Iga Sapi ini bisa habis oleh dia sendiri. Padahal porsinya gede lho. Kalau buat saya sendiri, bisa jadi lauk buat tiga kali makan 😂

Dendeng Batokok jadi kesukaan suami dan Alief, kalau Aisyah hanya Mangut Pari Asap saja yang cocok dengan seleranya.
2 porsi Mangut Pari Asap. Dalam 1 porsi terdapat 2 potong ikan pari asap. Ini adalah menu favorit suami. Saat ultahnya kemarin, suami request ini. Di aplikasi GoFood hari itu harganya Rp 12.800 saja. Padahal normalnya Rp 25.500 / porsi. [Foto Katerina Travelerien.com]

Gulai Bareh Iga Sapi ini favoritnya Alief. 1 porsi potongan iga sapinya banyak. Harga di aplikasi GoFood saat saya order tgl. 9/4/2022 Rp 43.500 / porsi. [Foto Katerina Travelerien.com]

Dendeng Batokok order di GoFood Rp 25.500 / porsi. 1 porsi berisi 2 potong dendeng sapi. [Foto Katerina Travelerien.com]

Sambal merah Rp 6.500 / porsi di aplikasi GoFood. Tak kan lengkap menikmati Mangut Pari Asap, Gulai Bareh Iga Sapi, dan Dendeng Batokok tanpa sambal ini. Kudu banget diorder 😄[Foto Katerina Travelerien.com]

Orderan di hari ultah suami. Mangut Pari Asap nya sedang promo, saya juga dapat diskon dari aplikasi, jadi bayar murah deh buat 4 item pesanan 😄

Tentang Ultah...

Suami ultah kok ga heboh di medsos? Wkwkw. Saya abis digetok berkali-kali oleh orang berilmu pakai nasihat yang akhirnya 2 tahun belakangan ini benar-benar masuk ke ruang kalbu dan saya laksanakan, bahwa ultah itu bukan untuk dirayakan dan diselamati, tapi untuk jadi momen merenung dan berdoa, bahwa bertambahnya usia berarti berkurangnya sisa hidup di dunia 😭

Tahun lalu jelang Alief ultah ke-18, dia ngomong ke saya: "Mama, jangan bikinin aku kue, lilin buat tiup-tiup, dan balon-balon lagi ya." Pas ultahnya yang ke-17, walau kumpul di rumah saja dengan saya, papanya, adiknya, neneknya, saya memang pesan tumpeng, kue (tanpa lilin), dan mendekor ruangan pakai balon dan lampu-lampu. Saya posting pula di IG sambil ngarep dapat ucapan selamat berderet buat Alief wkwkwk. 

Sungguh alay saya kala itu. Nah, Alief tidak mau hal itu terjadi lagi pas dia ultah ke-18.  Alasannya? Sama seperti yang pernah disampaikan oleh para ustad/ustadzah. 

Padahal saya sudah tahu dari lama kenapa sebaiknya nggak usah pakai tradisi merayakan pakai kue dan tiup lilin, tapi kok ya saya tuh kayak tutup telinga dan mata sama hal itu. Hiks sedih deh. 

Karena ituuuu, sejak tahun lalu saya sudah berhenti melakukan hal-hal yang terkesan merayakan ultah. Makan-makan? Ya makan biasa saja kayak sehari-hari. Gak pakai waktu khusus, makanan khusus, atau apalah itu yang dianggap spesial-spesial. 
Tahun depan suami separuh abad. Pengen sih mengabadikan wajahnya di umur 49 saat ini. Tapi sekarang udah gak kepikiran mesti bikin foto keluarga di hari ultah wkwk, ga kepikiran juga buat posting-posting alay di medsos haha. Adanya foto berempat ini aja, foto sebelum puasa, saat jalan-jalan di TWA Mangrove Angke Kapuk.

Tidak merayakan ultah dengan segala perintilan heboh bukan berarti saya gak anggap hari kelahiran sebagai sesuatu yang istimewa, hanya caranya saja yang mulai saya ubah, bahwa ini momen yang seharusnya tenang, khusyuk berdoa, dan hanya berharap agar hidup berkah, bergelimang ampunan, dan menjadi mulia di hadapanNYA. 

Di hari lahir suami kemarin, kami sekeluarga berkumpul di rumah, alhamdulillah lengkap dalam keadaan sehat semua. Kami tidak berencana keluar untuk buka puasa di resto misalnya, atau belanja-belanja gembira beli apa aja. Benar-benar santai, dan hari berjalan seperti biasa tanpa kehebohan.

Sorenya, seperti biasa saya memesan makanan secara online untuk buka puasa. Maka saya menawarkan beberapa pilihan ke suami dan anak-anak. Kalau suami, pintanya ya hanya Mangut Pari Asap Warung Tuman itu, anak-anak pun ikut order menu lainnya. 

Kami juga gak order berlebihan, karena suami paling tidak suka membuat makanan jadi mubazir. Makanya kalau makan di luar rumah, suami selalu berpesan untuk tidak khilaf mata. Pesan sesuai kebutuhan perut, bukan kebutuhan mata.
Hidangan buat berempat, alhamdulilah tidak kurang, tidak pula mubazir.

Buat kalian yang suka menjajal tempat kuliner baru, Warung Tuman BSD ini bisa jadi pilihan yang menarik. Jika belum punya kesempatan untuk berkunjung, bisa order online dulu untuk menikmati menu-menu andalannya. Selama masih dalam jarak yang aman buat dijangkau driver ojol, langsung saja gassss gak usah pakai nunggu. Kalau kejauhan, misal tinggal di Bekasi sana, ya janganlah, kasihan driver-nya 😀

Makan masakan favorit langsung di tempatnya tentu akan beda rasanya dengan makan di rumah saja melalui layanan pesan antar. Jadi, saya berharap suatu hari, insha Allah datang langsung ke Warung Tuman. 

Foto makanannya cukup ya, kalau masih kurang, saya tambahin foto lainnya. Biar makin rame 😁

Selamat berpuasa, teman-teman. Terima kasih telah membaca.

Kurma Sukari



Bolu Gulung Keju Medan When Cake. Cemilan favorit jadi menu buka puasa. Bolu ini ada cerita menariknya lho, kapan-kapan saya tulis pada blogpost tersendiri 😁

Sate Wagyu Maranggi Saus Dabu Dabu, Empuk Dagingnya Bikin Candu

 

Sate Wagyu Maranggi Saus Dabu-Dabu @dapoerdindin [Foto: Katerina Travelerien]

Berburu Daging Untuk Menstabilkan Kesehatan

Kesan sangat positif dari Sate Wagyu Maranggi buatan @dapoerdindin yang saya nikmati baru-baru ini, telah menggerakan saya untuk bercerita tentang meningkatnya aktivitas makan daging yang terjadi pada saya dalam 4 bulan terakhir.

Para pelestari lingkungan, mohon maaf jika cerita ini membuat saya terlihat seperti sedang jauh dari kesadaran untuk menjaga bumi dengan cara mengurangi konsumsi daging merah. Saya melakukannya karena alasan kesehatan. Bila nanti kondisi saya telah stabil, saya akan mengurangi makan daging merah. 

Sate Kambing, Sate Sapi, Sate Ayam, dan Sop Kambing, jadi menu rutin pasca saya dirawat inap di RS karena DBD dan Tipes pada akhir tahun 2021 lalu. Saya pernah cerita soal sakit DBD dan Tipes itu DI SINI. Tensi saya rendah selama dirawat, hingga setelah sehat dan kembali ke rumah. Saya kira kondisi tensi rendah itu sesaat saja, ternyata berlanjut berminggu-minggu bahkan dalam hitungan bulan sepanjang Januari hingga Maret saat saya diterjang badai virus Clavus, Herpes, hingga Omicron.

Suami paling gigih mencari cara agar tensi saya normal. Ia gelisah tiap melihat hasil tensi hanya berkisar di angka 80-90 per 40-60 an saja. Penampakan hasil tensi pernah saya buat kolase dan saya tampilkan dalam tulisan DI SINI. Dokter spesialis penyakit dalam yang menangani, menganjurkan saya untuk meningkatkan konsumsi garam dan daging. Saya menuruti apa kata dokter. Maka, sejak itulah suami rajin berburu daging yang diolah jadi sate dan sop, terutama kambing.

Pernah suatu ketika tensi saya 78/45. Dokter umum di klinik bilang, jika sampai 70 per sekian, saya harus segera ke IGD untuk diinfus supaya tensi saya naik lagi. Perkataan dokter bikin horor. Suami saya cemas. Makin giatlah dia mencari daging untuk saya makan siang maupun malam. Seringkali, hasil makan daging itu berhasil menaikan tensi saya, walau naiknya paling mentok 90an per sekian saja. Tapi tetap alhamdulillah, setidaknya beranjak dari angka 70an.

Pada orang-orang dengan tensi tinggi, 80 atau 90 an, kepalanya sudah pusing, bahkan pingsan. Sedangkan saya, 74 saja masih kuat dan gak merasa pusing. Dokter pun heran, tapi berkata begini: "Ibu biasa tensi rendah ya, makanya segini masih biasa aja. Kalau yang biasa tensi tinggi, segini udah sempoyongan."

Banyak penjual olahan daging di BSD, beberapa sudah saya coba, namun hanya satu penjual saja yang akhirnya paling cocok di lidah kami sekeluarga, terutama bagi saya yang paling membutuhkan yaitu Sate Kambing dan Sop Kambing Madura yang jualan dekat Golden Vienna, BSD. Harga sate 35K, harga sop 30K. Di tempat lain tak jauh beda, harganya berkisar antara 30K hingga 45K. 

Sejak rajin berburu sate dan sop kambing, kami jadi hafal di mana saja kuliner satu ini bisa didapatkan di sekitar BSD 😀

Sate Wagyu Maranggi dibuat dari daging wagyu, disajikan dengan sambal dabu dabu
[Foto: Katerina Travelerien]
 

Sate Sedap Super Empuk Buatan Seorang Banker Profesional

Pengalaman makan sate paling terbaru adalah Sate Wagyu Maranggi dari @dapoerdindin

Ibu Amanda Katili yang mengajak saya berkenalan dengan Sate Wagyu Maranggi  @dapoerdindin. Menurut beliau, chef-nya adalah Bu Dindin, seorang banker profesional yang hobi masak. Bu Dindin ini merupakan sahabat Bu Amanda.

Rumah makan Bu Dindin bernama Teras Jambu, terletak di Bintaro Jaya Sektor 7. Cukup dekat dari BSD, karena itu bisa diorder dengan mudah dan diantar dengan cepat.

Masih tengah hari ketika sate tiba di rumah, kondisinya masih hangat, tak lama kemudian jadi dingin. Karena waktu buka puasa masih lama, saya masukkan sate ke kulkas, dan baru dipanaskan jelang berbuka.

Saya kira, memanaskan akan merubah rasa dan tekstur, ternyata tidak. Tetap menarik dilihat dan tetap empuk di setiap gigitan.

Tiba waktu berbuka, barulah saya mencicipi sate. Saya makan bersama kedua anak saya. Saat itu suami saya belum pulang kerja dan ia berbuka di kantor. Saya kirim satenya ke suami, tapi dalam bentuk foto. Suami saya sumringah, meski hatinya pedih, sebab foto sate itu tak bisa dimakan 😂

Fyi, Bu Amanda Katili adalah seorang pegiat dan pelestari lingkungan, juga pelestari kuliner tradisional Nusantara. Beliau sangat aktif untuk kedua kegiatan tersebut, baik skala nasional maupun internasional. Berbagai event digelar dan saya beberapa kali pernah bekerjasama membantu kegiatan beliau. Sebuah kehormatan bagi saya. Buat yang ingin tahu lebih jauh, silakan gugling dengan mengetik Amanda Katili Niode. Niscaya akan tahu siapa sosok hebat ini.

Kecintaan Bu Amanda pada kuliner asli Nusantara tak perlu diragukan lagi, buku-buku resep dan kuliner telah diterbitkannya dalam bentuk buku fisik maupun digital e-Book. Beliau juga pernah bekerja sama dengan Komunitas Indonesian Food Blogger, dan membuat buku bersama.

Ketika Bu Amanda merekomendasikan suatu kuliner, saya dengan mudah percaya, sebab penilaian beliau terhadap rasa dan semua hal yang menyertai kualitas suatu makanan, tak perlu diragukan lagi.

Sate Daging Wagyu Maranggi. Tebal tapi sangat empuk.
[Foto: Katerina Travelerien]

Sambal Dabu Dabu [Foto: Katerina Travelerien]
 

Sate Wagyu Maranggi Seharga Rp 250.000 / 12 Tusuk

Sate Wagyu Maranggi dibuat dari daging Wagyu, dimarinasi dengan bumbu Maranggi yang khas. Disajikan dengan Sambal Dabu Dabu. 

Satu tusuk berisi tiga potong daging. Dagingnya tebal, nggak pelit dari segi ukuran. Potongannya pun rapi, berbentuk dadu. 

Daging dibakar dengan sempurna tanpa menyisakan mentah tapi nggak sampai bikin daging jadi garing, apalagi keras. Tetap empuk di setiap gigitan, dalam keadaan masih hangat maupun setelah dingin.

Bumbu maranggi yang khas meresap sempurna ke dalam daging, membuat rasa sedap sate seakan tiada dua. Saya hanyut dalam kenikmatan juara, melahap sate tanpa jeda. Tapi jangan khawatir bakal kurang banyak, 12 tusuk itu justru kebanyakan buat dimakan sendiri. Baru 5 tusuk saja saya sudah merasa kenyang, sebab dagingnya bukan secuil. Saat merasa kenyang, saya akan otomatis berhenti, walaupun mulut masih ingin mengunyah lagi dan lagi.

Sambal dabu-dabu nya mantap. Memang paling pas buat menemani sate wagyu bumbu maranggi. Jangan ada sambal yang lain. Saya tak rela.

Anak-anak ketagihan. Ini rada gawat! Sebab harganya nggak murah juga. Tapi buat yang ingin punya pengalaman makan sate daging wagyu enak, abaikan harga, sikat saja satenya. 

Daging wagyu memang tidak murah. Wajar jika 12 tusuk dibanderol 250K.


Tak hanya Sate Wagyu Maranggi, @dapoerdindin juga memiliki sejumlah kuliner khas yang dapat dipesan sesuai selera.

Silakan kunjungi IG @dapoerdindin untuk mengetahui nama-nama menu yang tersedia. Di sana, ada deretan kuliner terpampang nyata, membuat siapapun mudah tergoda. Termasuk saya.

Ada Nasi Bali 250K, Bandeng Palumara 400gram 100K, Siomay Bandung 150K isi 25 pcs, Bandeng Kuah Kecap 400gr 100K, Mie Kocok Bandung 35K, Gulai Kikil/Tunjang, Kepiting Saus Singapore, Lontong Opor Ayam 200K, Sate Wagyu Maranggi 12 tusuk 250K, Bandeng Kropok ala Semarang 100K/ekor.

Saya baru mencoba satenya. Dan itu jadi pengalaman pertama yang berkesan. Selanjutnya, hati-hati makin ketagihan 😆

Berikut ini, menu mana yang membuatmu sangat ingin mencobanya?

Nasi Bali 250K, Bandeng Palumara 400gram 100K, Siomay Bandung 150K isi 25 pcs, Bandeng Kuah Kecap 400gr 100K, Mie Kocok Bandung 35K, Gulai Kikil/Tunjang (instagram @dapoerdindin)

Kepiting Saus Singapore, Lontong Opor Ayam 200K, Sate Wagyu Maranggi 12 tusuk 250K, Bandeng Kropok ala Semarang 100K/ekor (instagram @dapoerdindin)

Terima kasih sudah membaca 💙