Tampilkan postingan dengan label Hotel Murah di bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hotel Murah di bandung. Tampilkan semua postingan

AirBnB Homey Studio Room Near Leather Craft Center, Penginapan Murah dan Nyaman di Bandung

AirBnB Homey Studio Room Near Leather Craft Center - Penginapan di salah satu unit MSquare Apartemen ini aku temukan di aplikasi airbnb. Aku tempati berdua suamiku saat ke Bandung pada tgl. 3-4 Oktober lalu. 

Kamar terletak di lantai 23, tampil dengan desain minimalis modern, lengkap dengan dapur dan perlatan masak dan makan. Bukan kamar mewah, tapi aku suka banget karena bersih dan nyaman. Terasa menyenangkan ketika menempatinya, meskipun satu malam saja, tapi berkesan.

 
Ada yang harus kami kerjakan di Bandung dalam rangka masa depan lebih cerah dan bergelimang harta wkwk, jadi kami keluar dan pergi dari rumah. Kepergian kami jelas bukan untuk liburan, meskipun yang tampak di foto-foto IG ku tak ada beda dengan kegiatan liburan ho ho. Tenang, urusan penting kami tidak tiap saat, tetap ada celah di mana kami bisa menikmati suasana santai dan gembira, tentunya dengan lihat-lihat situasi. 

Sebelum pergi kami sudah rapid test dulu, lumayan abis duit 550 ribu buat dua orang. Pingin yakin aja kalau kami sehat, biar nggak bawa penyakit ke orang yang kami temui. Pastinya, selama pergi kami jaga diri, taat pada protokol kesehatan. Biar lebih aman lagi, kami berkendara naik mobil sendiri, nggak naik transportasi umum.

Kami berencana tinggal 10 hari di Bandung, tapi nggak di satu tempat, jadi aku cari beberapa penginapan berbeda, sesuai jadwal tempat kami berkegiatan. Nah, hari pertama di Kota Bandung. Tadinya mau cari di sekitaran Soreang, tapi nggak dapat yang cocok. Buka-buka situs Agoda kok review tamu pada kurang bagus, akhirnya aku cari di situs AirBnB. Setelah cek-cek lokasi dan kondisi kamar, review rata-rata bagus, dan aku akhirnya sreg di Homey Studio Room Near Leather Craft Center yang terletak di Mekarsari Cibaduyut Bandung. 

Chat dengan host di aplikasi AirBnB
HARGA KAMAR

Rate yang tertera di aplikasi AirBnB adalah USD 14.00 / night.  Metode pembayarannya wajib dengan Credit Card (CC). Nah karena aku sedang berusaha banget untuk tidak menggunakan CC dalam pembayaran apa saja, kecuali terdesak dan benar-benar nggak ada cara lain, aku tanya hostnya apa bisa dengan cara transfer. Ternyata bisa via manual payment, tapi aku mesti hubungi WA Center untuk dapat info dan instruksi.

Dari WA Center aku dibantu untuk pembayaran. Ini harga yang kubayar:

2D1N Air BNB rate Rp 229.750,- 

Security Deposit Rp 100.000,- Deposit ini akan dikembalikan saat kami selesai proses check-out. 

Total pembayaranku Rp 329.750 tapi berhubung aku maunya transfer ke BCA saja, aku dikenakan charge Rp6,500 dan harus ditambahkan dalam pembayaran. Ya sama aja dong ya, kalau aku langsung transfer ke DBS Bank bakal kena charge segitu juga karena aku transfer dari bank berbeda.

Itu sajakah biaya selama menginap? TIDAK.

Ternyata, kami harus bayar parkir. Sebab, unit kamar yang kami pesan ini ada di apartemen. Nah, semua tamu yang parkir kena tarif normal. Kami check-in jam 4 sore, check-out keesokan hari sekitar jam 8 pagi. Total kurang lebih 16 jam kami kena biaya parkir Rp 48 ribu. 

Ternyata, biaya parkir ini bisa dihemat hanya Rp30.000 saja perhari, asalkan lapor ke bagian informasi yang ada di lobby apartemen. Yah, kami ga dapat info itu. Kalau tahu, sejak awal pasti kuurus deh. Lumayan bisa hemat 18 ribu ya kan.

Komunikasi hanya berlangsung via Whatsapp


Self Check-in

Setelah melakukan pembayaran, aku dapat instruksi lanjutan. Begini proses booking selanjutnya:

- Dapat link reservasi, selanjutnya aku mengisi data pada sebuah form online

- Dapat kode konfirmasi via WA, semacam kode booking.

- Dapat instruksi self check-in, berupa petunjuk pengambilan card dan map letak card

- Dapat pin untuk masuk unit (kamar)

- Check-in.

Instruksi self check-in ini berupa informasi tentang letak card untuk akses lantai 23 dan masuk koridor lantai 23. Card-nya kita ambil sendiri di lobby apartemen, letaknya diberitahu via WA. 

Kunci kamar dibuka dengan pin, bukan dengan card. Nah, nomor pin ini kan sifatnya rahasia, hanya diberitahu lewat WA. Pin tersebut sifatnya juga temporary. Hanya bisa digunakan sejak jam 2 siang sampai jam 12 esok hari, selama masa menginap. Setelah jam check-out, pin tidak bisa digunakan lagi.

Keliatannya ribet padahal ini simple sekali. Praktis dan kita tidak perlu lagi check-in yang makan waktu. Semua data dan informasi dikirim lewat WA dan aplikasi, serba digital. Bahkan kunci kamar. Usahakan hp selalu aktif saat proses check in ini ya, kalau lowbat segera isi daya pakai powerbank. Atau buat jaga-jaga, catat semua informasi yang ada di WA supaya kalau HP mati, kita nggak perlu kelabakan susah masuk kamar karena nomor pin kunci nggak ada.


Fasilitas Kamar

Namanya apartemen pasti ada fasilitas publik ya seperti kolam renang dan tempat olahraga. Tapi aku sedang tidak butuh itu semua karena begitu sampai maunya langsung istirahat dan leyeh-leyeh. Lagipula, musim corona gini nggak tertarik untuk mendatangi fasilitas umum. Jadi, aku langsung saja cerita fasilitas kamarnya.

Ohya, unit yang aku tempati ini adalah unit apartemen type studio. Jadi di dalamnya sudah pasti dilengkapi dapur sebagaimana umumnya unit di apartemen.

Pertama Dapur. 

Letak dapur kecil ini tepat di balik pintu masuk. Di sini ada peralatan masak dari wajan, panci, kompor listrik, dan rice cooker. Peralatan makan juga lengkap, ada piring, mangkok, sendok, garpu, pisau, gelas, termos. Semuanya dalam keadaan bersih dan bukan peralatan masak dan makan murahan. Di wastafel sudah disediakan sabun cair, spon, sikat botol, sabun cuci tangan. Lap tangan kering bersih, lap tangan handuk bersih, tisu ukuran besar dalam kondisi penuh, kanebo, juga sudah disediakan. 

Di dapur inilah aku memasak jamu (ramuan herbal) obat suamiku yang rutin tiap pagi aku buat untuknya. Inilah alasan kenapa aku memilih tempat ini untuk menginap, karena ada kompor buat masak. Bisa sih memang bawa kompor sendiri kemana-mana, tapi kalau sudah ada yang lengkap begini kan enak, tinggal pakai. 

Ada 2 botol air mineral buat kami. Gratis.

Kantong plastik hitam berisi buah mangga, cemilan penuh vitamin buat kami sehari-hari di manapun berada 😃

dapur bersih

Tempat Tidur

Single bed dengan storage jadi tempat tidur kami. Spreinya berwarna ungu tua motif polkadot. Selimut berwarna orange membuat tampilan tempat tidur jadi makin ngejreng. Warna anti mainstream, karena biasanya penginapan menggunakan warna-warna seperti cream atau putih. Tapi kusuka karena auranya jadi ceria. Kasurnya empuk, bikin nyenyak tidur. Kondisinya juga bersih, meski nggak wangi-wangi amat. 

Di belakang kasur ada beberapa gambar kartun dengan quote yang menarik. Ya, masuk ruangan ini aku seperti memasuki sebuah kafe penuh sticker. Nuansanya anak muda banget, bikin kami yang sudah berumur ini jadi berasa kembali remaja. Nggak cuma di belakang tempat tidur, di depan juga bederet sticker lucu kekanakkan tapi seru. Jadi ingat kamar anakku di rumah he he



Fasilitas lainnya...

Ada Smart TV dengan saluran Iflix di mana ada drama-drama Korea yang bisa ditonton. Akunya nggak sempat nonton, malah suamiku buka drakor, dia nonton Descendant of The Sun haha. Aku yang rekomendasikan. Pas tahu itu serial, langsung lunglai wkwk. Tapi tetap ditonton sih, dan dia jadi penasaran. Tiap senggang pas di hotel selama kami di Bandung dia pasti nonton DOTS.

Sementara suamiku nonton, aku gunakan waktuku dengan mengedit video dan foto buat konten di IG dan Youtube. Lumayan daripada bengong. Sayang aja udah bawa laptop ASUS ExpertBook B9450 nggak dimanfaatin ya kan. Ngedit dan posting wus wus wus kenceng nggak ada obat. Apalagi di kamar ada WiFi kencang, gratis pula, ya pas banget.

Bandung nggak dingin. Makanya ada AC di kamar dan emang dibutuhkan banget biar nyaman selama di kamar.

Ada pojok dekat jendela yang dipasangi karpet bersih, lengkap dengan meja kecil dan dua bantal. Di sini aku bekerja dengan laptopku, dan di saat lain kujadikan tempat salat. Enak dekat jendela, pas lagi butuh udara segar, tinggal dibuka. Cahaya matahari juga bisa masuk.

Kalau kurang puas dengan udara segar dari jendela, tinggal buka pintu yang ada balkon di luar. Nah dari situ bukan cuma puas dapat udara segar, tapi juga bisa cuci mata lihat indahnya kota Bandung dari atas ketinggian. Apalagi malam hari, bertabur cahaya, oh indahnya.

Pojok buat kerja dan solat

Pemandangan Kota Bandung di siang hari

Ada balkon kecil, cukup buat satu orang saja

Kamar Mandi

Kamar mandinya berukuran sedang, kondisinya sangat bersih. Di antara tempat mandi dan kloset tidak ada partisi. Buat aku yang betah bila menggunakan kloset dalam keadaan lantai kering, ini agak membuatku tidak nyaman. Bisa sih dikeringin sendiri, tapi kan capek. Jadi, kalau aku mau pakai kloset, aku tunggu saat lantai bekas mandi udah kering he he.

Untuk mandi ada standing shower dengan air hangat dan dingin. Lengkap dengan sabun mandi cair dan samphoo bermerek dalam kemasan kecil, sikat gigi dan odol, serta dua handuk besar yang lembut dan bersih. 

Di depan kamar mandi ada beberapa hanger, ada pula rak kecil bisa buat meletakan barang dan baju. 

Ohya, water heaternya dalam keadaan mati. Jadi kalau masuk dan mau mandi, harus dinyalakan dulu. Hal ini tidak diinfo oleh host, mungkin lupa. Jadi pas pertama kali mandi, aku menggigil karena mengira air hangat sudah berfungsi. Ternyata mesti dinyalain sendiri.  Bukan di water heaternya, tapi di MCB yang ada di dapur.




Tanpa Sarapan

Satu hal yang perlu diketahui bahwa menginap di sini tanpa sarapan. Jadi, dengan harga USD 15 itu tidak termasuk sarapan.

Nah, pagi waktu kami di sana, aku gunakan peralatan masaknya buat bikin ramuan herbal suamiku, bikin oatmeal quaker, energen, dan secangkir teh buat menemani roti yang kami jadikan sarapan. 

Kalau ada mie instant bisa aja bikin, tapi kami nggak makan itu, cukup perut diisi dengan roti dan sereal karena kami berencana mau sarapan di Warung Nasi Ibu Imas yang terkenal dengan masakan Sunda-nya.

Kelar masak semua peralatan aku cuci bersih. Meskipun bisa aja kubiarkan karena nanti bakal dibersihkan kembali oleh yang punya, tetap saja nggak enak dilihat. Lagipula nggak nyaman membiarkan kamar bekas pakai berantakan. Kalian ada yang kayak aku nggak?

Pemandangan pagi

Kolam renang apartemen

TV dan dekorasi sticker menggemaskan

Recommended

Murah tapi nggak murahan. Sebagai penginapan dengan tarif murah, unit studio yang aku tempati di MSquare Apartemen ini kusukai karena sangat bersih dan nyaman. Suasanya yang tenang juga jadi nilai tambah.

Feel like home. Enak bisa santai, terasa private nggak ada yang ganggu. Pacaran berdua suami jadi enak he he.

Keluar masuk unit aman karena nggak semua orang punya akses ke lantai 23. Kunci kamar juga pakai pin. 

Punya view kece karena berada di lt. 23, jadi bisa memandang indahnya kota Bandung dari ketinggian.

Host sangat responsif.

WiFi dan Smart TV berfungsi dengan baik.

Proses pesan dan check-in sangat mudah, serba digital.

Lokasi strategis. Ada banyak tempat kuliner di sekitarnya. Minimarket dekat, kafe dekat, mau kemana-mana juga dekat. 

Kalau ke Bandung lagi, aku mau menginap di sini lagi. Jika kubawa 2 anakku pun masih bisa ditempati berempat karena tidak sempit dan tersedia ekstra bed di dalam unit.


Dua Catatan: Listrik dan Pin Kunci

LISTRIK MATI

Pagi hari saat aku masak air untuk bikin sereal, listrik tiba-tiba mati. Sebelum mati sempat bunyi nada peringatan pada meteran. Sepertinya kuota listriknya mau habis, dan benar saja tak lama setelah itu listrik padam.

Aku langsung WA AirBnB dan host. Mungkin karena masih sangat pagi, aku tidak mendapat tanggapan. Sambil menunggu, suamiku mematikan beberapa penggunaan seperti water heater, AC, dan mencabut charge laptop di sumber listrik. Setelah itu listrik kembali menyala. Oh mungkin beban pemakaian terlalu berat ya. Aku cek di meteran tertera angka 12ribu sekian, mungkin kuota listriknya. Aku nggak paham soal kuota listrik ya karena di rumahku pakai listrik paska bayar.

Mengenai kejadian ini, host dan admin WA Center minta maaf. Menurut host, ada kekeliruan cek yang dilakukan petugas unit. Angka yang dilaporkan sebelum tamu masuk tidak sesuai. Makanya terjadi kekurangan kuota. Biasanya, sebelum tamu masuk, katanya sudah dicek dan dipastikan cukup untuk digunakan selama tamu menginap.


PIN MATI

Kami check-out sekitar jam 8 pagi, lewat beberapa belas menit. Kami keluar pagi karena mau langsung berkegiatan, dan pagi-pagi mau ke Warung Bu Imas untuk sarapan. 

Saat akan mengunci pintu, nggak berhasil. Aku ulang beberapa kali info di kunci selalu "fail exceed". Begitu terus setiap aku ulang kunci. Harusnya nggak fail exceed ya karena belum jam 12 sesuai waktu check-out. Entahlah kenapa. Sampai saat ini pun aku nggak tahu sebabnya apa. 

WA center Air BnB dan hostku sudah minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. 

Akhirnya, atas instruksi pihak AirBnB, kamar aku tinggal saja. Aku tutup tapi tidak dikunci. Sebelum kutinggal, isi kamar aku foto, sebagai bukti kondisi terakhir. Kan takut juga kalau ada orang masuk ambil barang-barang di kamar nanti dikira aku yang bawa he he.

Setelah turun ke lobby, card aku kembalikan ke tempat semula. Semua proses check-out aku laporkan via WA dan di ruang chat dengan host di app AirBnB. 

Proses penguncian yang gagal saat mau check out sebelum waktunya

Oke segitu dulu pengalaman pribadiku menginap di AirBnB Bandung di AirBnB Homey Studio Room Near Leather Craft Center. 

Semoga bisa jadi bahan pertimbangan buat siapa saja yang sedang cari penginapan murah tapi bagus di Bandung.

Untuk pemesanan silakan kunjungi situs AirBnb dan klik tautan berikut  AirBnB Homey Studio Room Near Leather Craft Center  (klik).

Kalian bisa gunakan aplikasi AirBNB di android untuk lebih mudah dan cepat.

Untuk melihat kami saat menginap di apartemen ini, silakan tonton videonya pada link berikut ini:  Video Menginap di AirBnB Bandung



Ada Nuansa Masa Lalu di Jalan Asia Afrika Bandung

jalan asia afrika bandung
Jalan Asia Afrika Bandung

Bulan Juli tahun 2019, sewaktu melancong ke Bandung bersama beberapa kawan blogger, saya mencari penginapan di sekitar Jalan Asia Afrika. Alasan saya saat itu tak lain agar mudah bagi kami untuk menikmati suasana Bandung tempo dulu tanpa harus berkendara jauh melintasi ruas jalan padat yang kerap bikin waktu terbuang begitu saja.


Seperti diketahui oleh banyak orang, Jalan Asia Afrika dan sekitarnya, termasuk Braga, kental dengan nuansa masa lalu. Sejumlah bangunan bersejarah bergaya art deco masih berdiri hingga kini, jadi kebanggaan warga Kota Bandung. Nah, jika dapat hotel sekitar Jalan Asia Afrika, tentu lebih mudah buat saya mendapatkan nuansa klasik masa silam yang saya inginkan. 


Salah satu hotel incaran saya waktu itu adalah Hotel Savoy Homann. Hotel tua tersebut merupakan salah satu bangunan cagar budaya Kota Bandung. Saya sangat senang ketika berhasil memesan kamar di Savoy Homann, karena akhirnya bisa merasakan bermalam di salah satu hotel bersejarah yang ada di Bandung. 


Pengalaman saya menginap di Savoy Homman dapat di baca pada tautan berikut (klik) : Savoy Homann Hotel Heritage Tempat Persinggahan Orang-Orang Penting. 


hotel heritage bandung
Hotel heritage di Bandung, Savoy Homann

Memesan Hotel di Bandung


Ada sensasi tersendiri yang dirasakan ketika menginap di hotel heritage. Namun kadang kita bertanya-tanya soal rate. Misalnya Savoy Homann, hotel bernilai sejarah yang berlokasi di tempat sangat strategis. Apakah tarif kamarnya terjangkau di kantong? Lalu jika tidak, cari lagi hotel heritage lain, di kawasan yang sama. Dan ternyata, harganya kurang lebih sama saja. 


Zaman now gampang sekali mendapatkan hotel yang diinginkan. Ada sejumlah OTA (online travel agent) terpercaya yang bisa kita jadikan sebagai tempat pencarian termudah dan mungkin juga murah, salah satunya Pegipegi. 


Mereka yang gemar bepergian tentu tak asing lagi dengan Pegipegi. Online travel agent satu ini merupakan situs online pencarian berbagai kebutuhan perjalanan. Selama terhubung dengan internet, kita tinggal buka hp atau laptop, lalu buka web dan mulai melakukan pencarian.

Nah, untuk mencari hotel murah di Bandung, kita bisa lakukan pencarian melalui situs Pegipegi. Silakan cek link berikut ya. Tampilan halaman web Pegipegi bisa dilihat pada gambar di bawah. Di sana ada pilihan untuk Hotel, Pesawat, Kereta Api, Bus & Travel, Promo, dan Travel Tips. Kita tinggal klik salah satunya dan mulai melakukan pencarian. 

Bagian terpenting yang jangan dilewatkan ada pada "Promo". Fitur ini memberi kita kesempatan untuk mendapatkan harga murah atas apa yang kita cari. Misalnya, promo Diskon Hotel s/d 2 juta yang saat ini sedang berlangsung. Siapa tahu mau cari hotel di Bandung dengan spesifikasi hotel heritage di sekitar Jalan Asia Afrika, bisa manfaatkan harga promo Pegipegi tersebut.  


Baca juga: Hotel Mewah di Bandung Terbaik Untuk Liburan Keluarga
hotel murah bandung
Pencarian Hotel di Bandung di Situs Pegipegi
hotel di bandung
Hasil pencarian Hotel di Bandung

Jalan Asia Afrika Bandung

Jalan Asia Afrika menyimpan banyak sejarah. Ketika melintas di jalan ini, hal pertama yang paling saya ingat, dan mungkin oleh banyak warga setempat, atau pun wisatawan yang rutin ke Bandung adalah Gedung Konferensi Asia Afrika yang  lebih dikenal sebagai Gedung Merdeka. 

Sebagai jalan dengan banyak gedung klasik di tepiannya, Jalan Asia Afrika tidak pernah sepi, baik oleh warga yang sekedar melintas, maupun oleh para wisatawan yang sibuk mengabadikan keindahan gedung-gedung tua. Gedung MerdekaHotel Grand Preanger dan Hotel Savoy Homann termasuk bangunan ikonik di Jalan Asia Afrika yang selalu jadi incaran lensa kamera fotografer. 

Di masa lampau, jalan Asia Afrika merupakan kawasan Groote Postweg, yaitu pusat kota yang merupakan tempat berkumpulnya para pemilik kebun di sekitar Bandung. Mereka menghabiskan waktu untuk melancong dan tentu saja sambil menginap. Kegiatan tersebut kemudian melatari dibangunnya dua hotel berbintang yaitu Hotel Grand Preanger dan Hotel Savoy Homann yang hingga kini masih dilestarikan.

Dalam sejarahnya, Hotel Grand Preanger telah ada di Bandung sejak tahun 1889, didirikan oleh seorang Belanda yaitu Van Deterkom. Pada tahun 1929 hotel direnovasi dengan arsitek Ir. Soekarno. Hotel Savoy Homann dibangun lebih dulu yaitu pada tahun 1880 oleh keluarga Homann asal Jerman yang telah bermukim di Bandung sejak tahun 1870.


Bagaimana rasanya menginap di hotel berusia tua? Saya dua kali berkesempatan menginap di Savoy Homann, pertama bulan April 2019, kedua bulan Juli 2019. Buat saya pribadi, setiap berada di hotel ini, saya seperti terbawa ke masa lalu.  Di masa lalu, selain ditempati oleh para delegasi Konferensi Asia Afrika, hotel ini juga pernah dikunjungi beberapa public figure terkenal. Tapi yang pasti, Hotel Savoy Homann adalah ingatan tentang para pemimpin negara yang menjadi pahlawan bangsa.


Baca juga: Masakan Sunda Warung Bu Imas Bandung
Titik Nol Kilometer Bandung

Tugu Nol Kilometer Bandung 

Senangnya menginap di Hotel Savoy Homann, otomatis dapat melihat Tugu Nol Kilometer Bandung dengan mudah. Ya, bagaimana tidak mudah kalau letaknya sangat dekat, tepat di seberang jalan depan hotel.

Tugu Nol Kilometer terletak di depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Tinggi tugu kurang dari satu meter, bertuliskan BDG (Bandung) 0 (Nol).  Awalnya, saya sama sekali tak menyadari keberadaannya. Sewaktu pertama kali berada di sana, saya lebih sibuk mengamati gedung-gedung klasik yang bertebaran di Jalan Asia Afrika. Lalu, setelah pihak hotel memberitahu, disusul teman-teman blogger Bandung yang hadir di acara Asus Blogger Gathering (April 2019), baru saya ngeh

Dari berbagai sumber yang saya baca, penandaan nol kilometer diberikan oleh Gubernur Jendral Daendels, tepatnya pada tahun 1811. Nah, di tugu ini terdapat mesin giling kuno pembuat jalan yang bernama stoomwhols, menyerupai lokomotif tua. Ketika didekati, terlihat sebuah prasasti yang diberi judul, 'Prasasti Bandoeng "0" (Nol)'. Dalam prasasti dikisahkan, "HW (Herman Willem) Daendels, Gubernur Jenderal (1808-1811) yang ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda, mengemban tugas salah satunya harus membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer (Banten) sampai ke Panarukan (Jawa Timur)".

Banyak kota di Indonesia memiliki titik nol kilometer. Begitu juga Bandung. Titik nol kilometer Bandung merupakan tonggak sejarah berdirinya Kota Bandung. Tugu Nol kilometer dan Monumen Stoomwals didedikasikan untuk ribuan rakyat Jawa Barat yang menjadi korban kerja paksa saat proyek pembangunan Jalan Raya Pos. Di Tugu Nol Kilometer juga terdapat replika wajah dari Daendels, Bupati Wiranatakusumah, Soekarno, dan Gubernur Jawa Barat pada tahun 1945 yaitu Soetardjo Kertohadikusumo. 

Baca juga: Kuliner Khas dan Legendaris di Pontianak

Monumen Mesin Cetak Koran Harian Pikiran Rakyat. 
Mesin cetak koran ini pernah digunakan Pikiran Rakyat mulai tahun 1974-1986

Monumen Mesin Cetak Koran

Masih di tepi Jalan Asia Afrika, tak jauh dari Tanda Titik Nol Kilometer, persis di depan seberang hotel Savoy Homan, terdapat Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat (PR). Nah, di depan kantor tersebut terdapat monumen mesin cetak koran (setter) kuno yang usianya sudah cukup tua. Siapa pun yang lewat di sana bisa menyaksikannya. Bahkan bebas berfoto bila suka.

Tak ada orang berjaga di monumen mesin cetak koran, jadi tidak ada yang bisa ditanya mengenai sejarahnya. Satu-satunya informasi yang bisa saya ketahui lewat prasasti di samping mesin, di sana tertulis mesin pernah dipakai harian Pikiran Rakyat pada tahun 1974 hingga 1986. Mesin terpasang di sana pada 2011. Diresmikan oleh Direktur Utama PR saat itu Joko Hendrarto, bertepatan dengan tanggal berdirinya koran Pikiran Rakyat pada tgl. 24 Maret 2011.

Untuk mengetahui lebih lanjut, saya mencari tahu lewat internet. Menurut artikel yang saya baca,  mesin setter yang dijadikan monumen tersebut buatan Inggris. Pikiran Rakyat menggunakan Linotype model 73 4728. Mesin ini pernah berjaya pada 1960 hingga 1970-an. Mesin linotype menjadi mesin standard untuk koran, majalah dan poster.  

Linotype adalah mesin typesetting yang bisa mengatur karakter dalam satu baris. Bukan huruf per huruf seperti dalam mesin monotype typesetting. Kecanggihannya membuat mesin ini kerap digunakan penerbitan pada jamannya. Mesin Linotype dipatenkan Ottmar Mergenthaler di Amerika Serikat pada 1884. Dia menggunakan mesin ini untuk pertama kali di ruang percetakan The New York Tribune pada 1886. Awalnya mesin ini berukuran tinggi 7 kaki, lebar 6 kaki, dan kedalaman 6 kaki. Mesin ini terdiri dari keyboard dengan 90 karakter. (sumber: Serbabandung.com
Sejumlah bangunan tua di Jalan Asia Afrika yang kece dijadikan spot foto

Museum KAA & Gedung Merdeka

Setelah Tugu Nol Kilometer dan Monumen Cetak Koran Harian Pikiran Rakyat, selanjutnya saya dan kawan-kawan mulai melihat-lihat gedung tua yang bertebaran di sekitar Jalan Asia Afrika. Kegiatan ini tentu saja lebih baik dilakukan dengan jalan kaki, karena mengamati dan memotret, sungguh tak mungkin dilakukan dengan sambil berkendara. Kalaupun berhenti, kendaraan tak bisa berhenti begitu saja. Tempat parkir pun jauh. Lagi pula, jarak antar gedung sangat rapat. Jalan kaki memang lebih tepat.

Sejumlah bangunan tua yang wajib disinggahi di Jalan Asia Afrika adalah Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung Merdeka tempat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 1955. 

Kemudian Gedung Sate, dan Gedung De Vries. Di masa lampau Gedung De Vries dikenal sebagai toko serba ada pertama di Kota Bandung, milik orang Belanda bernama Andreas de Vries. Di masa kini, Gedung De Vries digunakan oleh OCBC NISP. 
Di dalam Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya KAA 1955

Semua gedung tua sarat sejarah yang terletak di Jalan Asia Afrika merupakan bangunan cagar budaya Kota Bandung yang tidak boleh diubah bentuknya. Karena itu bentuk bangunan sampai saat ini masih dipertahankan sesuai bentuk asli. 

Cerita lengkap saya saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut akan saya bagikan pada tulisan yang lain. Silakan melanjutkan membaca pada postingan berikutnya 😘